
Danang tidak mampu menyimpan rahasia ini sendiri, ia mulai merasa bahwa masalah ini harus dipecahkan karena emosi jiwanya mulai terganggu.
Tidurnya mulai tak nyenyak, makan pun mulai tak enak. Sempat ia berpikir bahwa orang yang memberikan surat itu salah alamat.
"Ah..., pada siapa aku berbagi masalah ini, mungkinkah aku bisa berbagi dengan Kania, "
Pertanyaan itu menggelayut dalam pikirannya.
"Tapi, Kania memang orang yang cocok untuk berbagi pendapat bahkan mungkin masalah...,"
Bisik Danang dalam hati.
Suatu saat ketika selesai istirahat siang hari, Danang memanggil Kania ke dalam kantornya.
"Kania... dipanggil Pak Danang! "
Lastri yang menyampaikan pesan.
Kania pun masuk dengan membawa berkas yang hendak ditandatangani bosnya itu.
Setelah dalam ruangan, Kania langsung memberikan berkas tersebut, Danang pun mengambilnya dan memeriksa lalu menandatanganinya.
"Kania..."
Danang memulai pembicaraan,
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu..., tapi ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, apakah kamu tidak keberatan?"
Kania kaget luar biasa, ia curiga jangan-jangan Danang ingin menyatakan cinta. Tapi bisikan hatinya itu tidak sempat membuat mimik mukanya berubah dan sikapnya menjadi berlebihan, ia tetap menguasai diri, pribadinya yang kokoh tersirat dalam jawabannya yang jelas, lugas, pantas namun tetap menjaga kewibawaannya sebagai seorang wanita.
__ADS_1
"Baik pak, jika saya mampu menjawab silahkan,"
Jawabnya dengan suara lembut namun tak berlebihan, sembari menggerakkan ibu jarinya ke arah Danang.
"eeemm... begini.., jika kita mendapat suatu kabar yang tidak jelas, kira-kira apa yang harus kita lakukan, dan ini ada hubungannya dengan ibu kita? "
"Kalau boleh saya berpendapat, sebaiknya bapak mencari tahu dulu masalahnya apa, jadi tidak menebak-nebak, kemudian bapak cari kebenarannya baru bapak cari solusinya."
"Kania... itu aku udah tahu, tapi ini surat kaleng, tentang ibuku..., ahh.. sudahlah dia tidak mengerti.., tapi boleh lah pendapatnya sebenarnya sama dengan aku.. "
Bisik Danang dalam hati.
.........................
Saran Kania hendak diturutinya, nampaknya ia harus membuka surat itu.
Di suatu malam...
Deg... Danang seperti mau pingsan, otaknya tidak bisa berpikir jernih, mengapa nama ibunya ada di sini. Siapa orang ini?, itulah pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari hatinya. Seperti air mengalir dari kran yang bocor. Sangat mengganggu hari-harinya.
.......................
Setelah makan malam di rumah Pak Marwan...
"Bu... minggu depan ada partner kerja bapak mau datang ke sini, bapak ingin ibu menyiapkan makan siang untuk beliau,"
Tiba-tiba pak Marwan bicara pada istrinya yang sedang menyelesaikan makannya.
"siapa pak? "
__ADS_1
Kata bu Marwan bertanya penasaran.
"Suplayer pupuk kita, Pak Toto,"
jawab pak Marwan.
"Bukannya pak Hendra dulu itu? "
bu Marwan balik bertanya.
" Udah ganti bu, ini lebih murah harganya, kita lebih untung dapat supplayer dia,"
Pak Marwan memberi alasan.
" PT. Mulya Perkasa itu milik pak Toto sendiri ya pak atau ada join dengan kawannya?"
Danang bertanya.
"Pak Toto yang Sahamnya paling banyak."
Pak Marwan menimpali pertanyaan anaknya itu.
Ada perubahan mimik muka bu Marwan mendengar obrolan suami dan anaknya itu, apalagi mendengar nama pak Toto. Terlintas wajah yang ngeri, marah dan benci.
Bu Marwan membantu Bik Eroh membereskan piring dan sisa makan malam. Ia hendak memberi Deni makan dan sholat Isya. Namun ada kegelisahan yang mulai menyelimuti dirinya.
"Tidak, tidak boleh terulang dua kali... aku harus kuat, menjaga suami dan anak-anakku."
Bisik hatinya sambil merapatkan kedua tangan yang ditempelkan ke mulutnya.
__ADS_1
"Yaa.. Allah, tolonglah hambaMu ini.. ."
Rintihnya dengan mata yang berkaca-kaca.