Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Kesedihan Yang Mendalam


__ADS_3

Sore ini nampak kelabu, nampak dari iring-iringan awan yang membawa warna semu hitam yang kelam, mungkin akan turun hujan, namun belum juga turun.


Suasana alam serasi dengan suasana hati bu Marwan yang belum juga tenang sejak pertemuan dengan mantan mertuanya.


Hati yang teriris pilu bukan karena rasa malu atau sedih, justru sebenarnya ia bahagia telah dapat mengungkapkan garis keturunan anaknya Deni.


Namun keresahan hatinya karena sejak siang tadi anak pertamannya Deni belum juga pulang ke rumah.


"Nang, coba kamu cari kakakmu di mana sekarang? "


Suara bu Marwan pelan ketika mendekati Danang.


"Iya bu, sebentar Danang telepon kakak, paling di rumah temannya, "


Danang tidak ingin mengecewakan hati ibunya, dicarinya nomor wa kakaknya lalu berusaha menelponnya. Tapi tampaknya yang disana enggan menjawab telepon dari keluarganya.


"Bisa? "


Bu Marwan penasaran dan berharap Danang bisa menghubungi Deni.


"Belum bu, "


Itu jawaban Danang, tiba-tiba Pak Marwan ikut nimrung dengan obrolan anak dan istrinya itu, sedangkan handuk masih menggantung di lehernya, rupanya ia baru keluar dari kamar mandi.


"Nanti pun pulang bu biarlah dia ingin berjalan dulu. "


Suami bu Marwan tampaknya tidak terganggu dengan terlambatnya Deni pulang ke rumah.


Bu Marwan berlalu ke dapur, ia tidak ingin berdebat dengan suaminya.


..........................

__ADS_1


Suasana makan malam menjadi sepi, tak seorang pun yang berbicara, masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Pak Marwan pun tidak banyak bertanya ia hanya makan hidangan yang disajikan oleh istrinya.


.........................


Malam semakin larut namun mata bu Marwan belum juga terpejam, ia hanya membaringkan badannya.


Hatinya masih hidup, semua gerakan yang ada dalam rumahnya terdengar oleh telinganya, termasuk suara langkah bik Eroh yang sedang membereskan dapur.


Hati bu Marwan masih berharap, barangkali Deni anaknya akan pulang ke rumah meskipun sudah larut malam.


Jam dinding menunjukkan pukul 01.00 malam, bu Marwan terkejut karena ada suara orang yang mengetuk pintu, ia keluar kamar sedang suaminya sudah lelap dalam tidurnya.


Ketika pintu dibuka alangkah bahagia hatinya ternyata yang datang adalah Deni anaknya.


Deni datang masih dengan wajah yang tidak ramah, bu Marwan tidak banyak bertanya ia hanya menyapa.


"Deni!! "


Bu Marwan menyangka anaknya tidak akan keluar lagi, jadi ia masuk ke dalam kamarnya semula untuk melanjutkan tidurnya. Sekarang hatinya sudah tenang.


Ketika suara pintu terdengar olehnya, badannya lansung melompat dan menuju keluar kamar, setelah mengetahui siapa yang membuat suara daun pintu rumahnya, alangkah sedih hatinya.


Kekecewaan yang kedua ini menambah parah keresahan hatinya, ternyata Deni pulang hanya untuk membawa baju ganti.


Tak sempat bu Marwan bertanya mau kemana anaknya pergi. Ia hanya sempat melihat punggungnya dengan motor yang sudah pergi melaju.


Malam itu sangat kelam untuk hati bu Marwan, inilah yang sangat ia takutkan selama ini. Deni anaknya tak mau mengerti perihal peristiwa yang harus dipahami.


..........................

__ADS_1


Pagi itu seharusnya bersuasana manis, karena Bik Eroh sudah menyiapkan teh manis.


Mungkin berbeda dengan hati bu Marwan teh manis pun rasanya pahit, karena kejadian semalam.


Mata bu Marwan sembab, karena terlalu banyak menangis.


Danang anaknya sampai mengkhawatirkan keadaan ibunya, karena dari riwayat kesehatannya bu Marwan ada penyakit tensi yang tinggi.


Pak Marwan sangat perhatian pada istrinya, ia mengetahui penyebabnya. Oleh karena itu ia menghiburnya dengan menjanjikan akan mencari Deni dimana ia tinggal.


"Tenang ya bu, nanti bapak cari dimana si Deni tinggal. "


Wajah bu Marwan berubah agak cerah, timbulah selera untuk sarapan pagi. Namun hatinya masih juga bertanya-tanya dimana sekarang anaknya berada.


"Kalau ibu sedih terus, nanti malah sakit bu,"


Danang menambahkan perkataan bapaknya.


"Iyaa, Deni sudah besar bu.. dia tahu mana yang benar dan mana yang salah, biarlah mungkin dia sedang instropeksi diri, "


Pak Marwan menimpali lagi.


"kakak lagi Healing bu, "


Danang menambahkan,


"Healing...? "


Kali ini bu Marwan terpancing untuk berpikir dan bertanya.


"Healing bu... istilah jaman sekarang, semacam rekreasi gitu.., "

__ADS_1


Danang menjelaskan.


"Mudah-mudahan kakakmu memang sedang healing ya Nang."


__ADS_2