Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Rasa Cinta Yang Dititipkan


__ADS_3

Perusahaan Agrobisnis milik Pak Marwan semakin maju dan berkembang.


Hal ini dikarenakan adanya kebijaksanaan pemerintah provinsi, yang mengembangkan obyek pariwisata di daerah sekitar pantai.


Pantai yang berada sekitar 80 kilometer dari desa ratapan itu, telah dibangun hotel-hotel yang bertaraf internasional.


Dari kemitraan yang dibangun oleh Pak Marwan bersama rekan bisnisnya, hotel-hotel tersebut membutuhkan suplai sayuran secara konsisten.


Oleh karena itu, pada hari ini Pak Marwan akan mengadakan rapat beserta staf inti yang berjumlah sekitar 5 orang termasuk Danang dan Deni.


Berhubung Deni sedang tidak ada di tempat, Pak Marwan berusaha menghubungi anak tirinya itu.


Tetapi tidak ada jawaban dari sana. akhirnya rapat dilanjutkan tanpa kehadiran Deni.


..........................


"Baiklah bapak ibu, Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh."


Anggota rapat pun menjawab salam Pak Marwan.


Kemudian Pak Marwan melanjutkan pembicaraannya,


"Berhubung adanya peningkatan permintaan dari konsumen terhadap produksi sayuran kita, maka diharapkan membuat rencana ulang produksi dengan menambahkan jumlah penanaman."


Demikian Pak Marwan mengawali rapatnya pada hari itu.


Danang mengajukan pertanyaan kepada Pak Marwan,


"Kira-kira sayuran apa saja yang harus ditingkatkan penanamannya pak? "


Pak Marwan mempersilahkan kepada salah seorang stafnya yang kompeten dalam hal ini.


"Silahkan Pak Mustaf, jika ada yang ingin disampaikan? "


Pak Mustaf adalah manajer bagian pemasaran, ia ahli dalam perencanaan produksi karena hubungan dengan para konsumen selalu dijaganya dengan baik.


Tak heran Pak mustaf ini mengetahui sayuran apa saja yang diperlukan oleh hotel-hotel yang menjadi mitranya.


"Jadi, ada 2 jenis sayuran yang permintaannya sangat tinggi yaitu wortel dan bunga kol."


Pak Marwan menganggukkan kepalanya, kemudian Danang bertanya,


"Apakah sayuran yang lain tidak ada peningkatan?"


Pak Mustaf menjawab,


"Yang lain relatif stabil. "


Sementara rapat masih berjalan, tiba-tiba terdengar telpon kantor berdering,


"kriiiing, kriiiiing, kriiiiing... "


Danang bangun dari tempat duduknya,


"Pak ada tamu, dari hotel Yasmin."


Danang berbicara kepada Pak Marwan sambil menutup telepon.


"Ooh.. ya.. "


Pak Marwan bergegas keluar ruang rapat, ia bermaksud menyambut kedatangan tamu tersebut.

__ADS_1


Mungkin orang yang dianggap penting oleh Pak Marwan, sehingga ia berkenan memberi sambutan sehangat itu.


" Selamat datang nak Sinta, apa kabar? "


Pak Marwan menyambutnya dengan ramah.


Kemudian wanita yang disebut Sinta itu dibawanya ke ruangan rapat.


Ketika Sinta masuk ke dalam, semua yang hadir sangat terpesona dengan penampilannya, kecuali Danang ia tidak begitu memperhatikan wanita ini. Meskipun bajunya serasi dengan kerudung dan tas yang dibawanya.


Sepertinya Sinta ini adalah wanita yang sudah mapan.


Danang hanya menganggukkan kepala ketika Sinta masuk ke dalam. Ia asik menulis hal-hal yang penting dan disepakati dalam rapat ini.


" Ok, baik bapak ibu, saya perkenalkan, ini bu Sinta, beliau dari hotel Yasmin, berkunjung ke sini untuk melihat langsung proses penanaman sayuran organik yang diproduksi di perusahaan ini. "


Sinta menganggukkan kepala kepada semua yang hadir dalam rapat itu.


"Untuk mengetahui proses lebih lanjut sebaiknya nanti nak Sinta menghubungi bagian produksi, yaitu anak saya sendiri Danang. "


Sinta menganggukkan kepala ke arah Danang tanda memahami dan menyetujui, begitu juga dengan Danang.


.......................


Hasil rapat kemarin memberi arahan kepada para staf dalam melakukan tugas berikutnya.


Hari ini Danang ada janji dengan Sinta untuk melakukan survey ke kebun sayuran.


Karena hotel tempat menginap Sinta agak jauh, Danang berjanji akan menjemputnya dengan menggunakan mobil pribadi.


"Tetet... tetet.... tetet... "


Suara klakson Danang memberikan kode bahwa ia sudah datang.


Lain dengan Danang ia hanya melihat tapi tidak memperhatikan.


Karena yang ia lihat dengan mata batinnya hanyalah "Kania".


Sinta masuk ke dalam mobil Danang, ia duduk di depan, sebelum mobil berjalan Sinta mengajukan suatu permintaan,


" Saya tadi belum sarapan, boleh antar saya untuk sarapan dulu. "


Kata Sinta dengan wajah ke arah Danang.


Danang menjawab,


" Baiklah, saya antar bu Sinta ke tempat langganan saya kalau mencari sarapan. "


Ternyata Sinta protes tidak ingin disebut ibu Sinta.


" Maaf panggil saya Sinta saja, saya belum menikah kok. "


Sambil tersenyum Sinta melirik ke sebelah Danang.


Tiba-tiba ia bertanya,


" Mas Danang sudah menikah? "


Danang menjadi gugup ketika ditanya seperti itu. Sebetulnya Danang tidak ingin membahas tentang pasangan saat sekarang ini, karena ia masih dalam usaha pendekatan yang entah kapan berhasilnya.


Mau tidak mau Danang harus jujur, kemudian ia menjawab,

__ADS_1


"Belum Sin, aku masih mau berkarir dulu."


Sinta sempat melongo dengan jawaban Danang, karena ia heran dengan jawaban Danang tentang berkarir.


Seperti kelihatannya Danang sudah sukses. Tapi mau protes, ia pun belum memiliki pasangan.


Akhirnya mereka terdiam, masing-masing dengan lamunannya.


.......................


Kedatangan Sinta dan Danang ke area kebun penanaman sayuran, disambut ramah oleh para pekerja.


Mereka menyangka Sinta adalah calon istri Danang, sampai-sampai ada seorang pekerja yang berkata,


" Kapan undangannya Den? "


Danang hanya terdiam dan senyum saja, tapi tampaknya Sinta tidak protes malah cenderung senang.


Sinta melakukan observasi dan menanyakan beberapa hal kepada pekerja.


Suasana menjadi ramai, ternyata Sinta pandai bergaul dengan mereka.


Danang duduk di saung yang ada di pinggir kebun, sambil memperhatikan Sinta yang sedang melakukan inspeksi.


Setelah Sinta puas dengan inspeksinya, ia pun menghampiri Danang yang sedang menunggu kliennya itu.


" Bagaimana Sinta sudah selesai?"


Sinta belum mau menjawab, ia mengeluarkan sapu tangannya lalu menyeka keringat yang ada di dahinya, baru kemudian ia berkata,


" Mantap kebun kamu Nang, memang organik semua, pantas kualitasnya bagus."


Danang senang dengan pujian kliennya, lalu Sinta melanjutkan lagi pembicaraannya,


"Apalagi bagian pemeliharaan, sangat keren, pekerjamu tidak berhenti menjaga tanaman-tanaman itu, hingga aman dari hama. "


Danang pun menyahut,


" Jangan terlalu memuji nanti kami jatuh, hehehe.. "


Sinta langsung menjawab,


" Beneran, aku ngomong yang sebenarnya, memang keren para pekerjamu itu. "


Danang hanya tersenyum tidak memberi jawaban.


Kemudian Sinta berkata lagi,


"Ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa membimbing mereka sehingga loyal seperti itu? "


Pertanyaan yang ini membuat Danang berpikir.


"Seperti pada umumnya, membayar pekerja tepat waktu, memberi waktu untuk istirahat, bonus lebaran, tunjangan kesehatan dan pendidikan, itu saja sih sebenarnya. "


Sambil melihat wajah Danang, Sinta berkata,


" Kalau itu sih bukan hal yang biasa, tapi luar biasa."


Sambil mengacungkan jempol kepada Danang, Sinta tersenyum penuh kekaguman dengan manajemen perusahaan Pak Marwan ini.


Hari pun mulai menjelang sore, Sinta mengajak Danang pulang ke hotelnya.

__ADS_1


Sepanjang jalan Sinta tidak berhenti berbicara, nampaknya ia mulai menaruh perhatian dengan Danang.


Tapi Danang tak bergeming, hanya mengiyakan, mungkin ia sudah lelah mengantar Sinta dari pagi tadi.


__ADS_2