Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Rasa Yang Menggoda


__ADS_3

Kehadiran Sinta di perusahaan Pak Marwan akan berakhir besok sore, setelah penandatanganan kesepakatan kerja sama antara hotel Yasmin dengan perusahaan agroindustri milik Pak Marwan.


Meskipun tinggal satu hari lagi, namun kehadiran Sinta di perusahaan membuat sibuk seluruh pekerja.


Tidak heran karena Sinta ingin melakukan observasi pada seluruh unit perusahaan yang ada. Ditambah lagi ia adalah utusan mitra yang dianggap penting.


Anehnya meskipun Sinta melakukan observasi pada unit selain produksi, ia hanya ingin ditemani oleh Danang.


Hal ini membuat Danang harus menyempatkan diri dan mengatur waktu dengan pekerjaan yang lain.


Seperti hari itu, Sinta akan berkunjung ke bagian pengemasan, ia ingin Danang yang menemaninya,


Danang sedang berada di kantor, ponselnya berdering, lalu ditempelkan ke daun telinganya.


" Hallo, iya Sin, oh, iya siap. "


Danang tidak bisa mengelak karena Sinta adalah tamu dan mitra kerja perusahaan ini yang nilai permintaannya terhadap produksi sayur-sayuran cukup tinggi.


......................


Terkadang ada rasa malas dalam hati Danang untuk menemani Sinta, karena ia terlalu banyak keinginan yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan.


Seperti siang ini, sehabis istirahat siang, Sinta minta diajak ke tempat wisata yang ada di desa ratapan, namanya "Haur geulis ". Tempatnya tidak seberapa jauh dari desa ratapan, tapi memang memerlukan perjuangan untuk sampai di sana.


Secara demografi saung Haur geulis ini lebih tinggi dibanding desa ratapan, tantangannya adalah jalan untuk menuju ke sana melalui jalan yang di sisi kanan kirinya berupa jurang yang dalam, namun memang jurang tersebut ditumbuhi tanaman penduduk di sekitarnya. Jika hujan, jalan yang tidak seberapa lebar itu akan licin, karena belum diaspal.


Biasanya wisatawan yang datang adalah kaum muda, itung-itung sambil hicking.


Tentunya untuk mengajak Sinta ke tempat itu, tidak bisa berjalan kaki, selain waktu sudah siang juga mengingat Sinta adalah tamu yang harus dihormati.


Siang itu, Danang pun sibuk mencari akomodasi untuk pergi ke sana, ia tidak ingin pergi hanya berdua, lalu diajaknya 2 karyawan untuk menemani mereka.


.......................


"Huuh.. , " gumam Sinta, sambil meletakkan tasnya di atas saung yang terbuat dari bambu, ia menghembuskan napasnya kemudian duduk.


"Capek juga ya Nang? "


Ujar Sinta, pada Danang yang juga mencari tempat duduk untuk melepas lelah.


"Iya lumayan," jawabnya sambil mengeluarkan ponsel.


"Tidak ada sinyal ya di sini? "


Sinta pun melihat ke ponselnya,


"Sepertinya begitu, punya aku juga enggak ada sinyal."

__ADS_1


Danang meletakkan ponsel di depan tempat duduknya sambil bersila.


"Ok, kita pesan makan saja! "


Sinta dan dua karyawan yang ikut tadi pun setuju, karena sebenarnya mereka sudah lapar.


"Mbak!! "


Sinta memanggil pelayan yang lewat di depan tempat duduk mereka. Kemudian mereka memesan makanan.


"Kamu mau makan apa Nang! "


Sinta menawarkan jenis pesanan kepada Danang, sungguh sangat perhatian sekali, sampai-sampai dua karyawan yang ikut tadi melongo.


"Kamu aja dulu, aku gampang. "


Rupanya perhatian yang diberikan Sinta tidak ada pengaruhnya buat Danang, malah ia asik melempar ikan mas yang berada di bawah saung itu.


"Ok, kalau begitu, aku duluan."


Buku pemesanan diberikan kepada kedua karyawan, setelah mereka memilih jenis makanan, tibalah Danang yang harus memilih.


Sekilas Danang melihat wajah Sinta cemberut karena keacuhannya, akhirnya ia mengalah demi perusahaan.


"Aku ikut kamu aja deh Sin, pesan makanannya.."


Seketika wajah Sinta berubah menjadi cerah kembali.


............................


Tidak banyak oleh-oleh yang dapat dibeli di tempat ini, karena lokasinya memang cukup sulit untuk dikunjungi para penjual assecoris.


Yang menjadi andalan sebagai tujuan obyek wisatanya adalah kondisi alam yang masih asri dengan hawa yang sejuk.


Sinta tidak tahu kalau hawa di tempat ini sangat sejuk, akhirnya ia tampak kedinginan. Melihat hal seperti itu Danang tidak tega akhirnya ia meminjamkan jaketnya untuk dipakai oleh Sinta.


"Ini, pakailah, hawa di sini sejuk sekali, "


Sinta sangat tersanjung dengan tawaran itu, mungkin dalam hatinya menganggap Danang menyukai dirinya. Ia pun menjawab dengan kata yang lembut,


" Terima kasih, kamu baik sekali. "


Suasana hati Sinta jadi berubah tak karuan, karena kebaikan Danang, tetapi karena ia adalah wanita dewasa, semua perasaannya masih dapat dikendalikan, hanya perhatiannya kepada Danang semakin bertambah.


"Sebetulnya aku sempat membelikan kamu sesuatu, sewaktu ke mall kemarin."


Sinta akhirnya berani dengan perasaannya.

__ADS_1


"Oh ya? "


Danang heran, karena ia merasa tidak berharap apa-apa dari Sinta.


"Tapi barangnya masih ada di hotel, nanti aku kasihkan ya, " Sinta sangat yakin Danang pasti senang dengan pemberiannya.


"Tidak usah repot membelikan aku hadiah, aku ikhlas kok minjamin jaketnya", tutur Danang seperti tidak setuju dengan yang dilakukan Sinta.


"Enggak, aku juga ikhlas kok, kasih kamu hadiah, " sambil tersenyum, sepertinya Sinta tidak merasa kalau Danang hanya menganggapnya teman biasa.


........................


Saatnya penandatanganan kontrak kerja sama antara perusahaan milik Pak Marwan dan hotel Yasmin disepakati nanti malam, karena Danang dan Sinta baru pulang dari "Saung Haur Heulis" menjelang maghrib.


Penandatanganan itu hanya dihadiri oleh tiga orang, yaitu Pak Marwan, Danang dan Sinta sendiri.


" Silahkan nak Sinta, tanda tangan di sini,!" kata Pak Marwan kepada Sinta yang masih asik berbincang dengan Danang.


"Baik pak, " Sinta menandatangani MOU yang isinya sudah disepakati sebelumnya.


"Terima kasih atas kerja samanya, semoga semuanya lancar, tidak ada hambatan apa-apa."


Sinta menganggukan kepala, kemudian pamit untuk pulang ke hotel.


" Nang, antar Sinta, jangan sama Pak Ali, kamu saja! " Pak Marwan memberi perintah pada Danang, khawatir yang mengantar Sinta Pak Ali sopir perusahaan.


"Tenang pak, beres, " kata Danang sambil berdiri dan mengeluarkan kunci mobil yang ada dalam sakunya


..............................


Suasana dalam mobil yang ditumpangi oleh Danang dan Sinta sepi, tidak ada suara apa pun termasuk musik yang biasanya menghiasi pendengaran penumpangnya.


Sinta protes juga dengan keadaan ini, akhirnya ia berkata,


"Ada lagu lawas enggak? "


Danang mencoba memenuhi permintaan Sinta, akhirnya musik pun memeriahkan suasana.


" Oh ya Nang, aku janji kasih kamu sesuatu, ini barangnya," sambil merogoh tas cantiknya, Sinta menjelaskan kenapa ia memilih barang ini.


" Aku perhatikan kamu dalam beberapa hari ini, selalu memakai baju motif garis, jadi aku belikan motif itu, kamu belum ada warna merah maron kan? " Sinta sangat antusias menjelaskan.


Danang hanya tersenyum, sebenarnya ia tidak berharap pemberian dari Sinta, karena tidak mau mengecewakan, Danang pun mengucapkan terima kasih.


" Terima kasih Sinta atas perhatiannya, semoga kamu banyak rejekinya ya."


Wajah Sinta tampak senang dengan respon Danang. akhirnya mobil pun sampai di hotel dimana Sinta menginap.

__ADS_1


"Oke, sampai ketemu nanti ya," Danang melambaikan tangannya setelah Sinta turun dari mobil.


..........................


__ADS_2