Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Menghindari Pertemuan


__ADS_3

Begitu kuatnya kharisma Irfan sehingga Kania takut menyukainya.


Ia sudah menguatkan tekad untuk meraih cinta dari Danang, meskipun belum jelas arah kepastiannya.


Sore itu, Kania ditelpon oleh Lala untuk pergi ke Mall yang ada di kota itu, maksudnya mau mencari barang-barang yang diperlukan Irfan praktek lapang dari kampusnya.


Irfan memilih untuk kembali ke negaranya karena satu dan lain hal, terutama ingin mengenal lebih dekat dengan Kania.


Banyak saja alasan Kania untuk menghindar, tapi sore itu ia tidak bisa menghindar lagi karena Lala menjemput ke kosnya dan menunggunya sampai Kania selesai.


Ditambah lagi dua jam sebelumnya, Umi Sarah menelpon agar ia menemani Lala mencari keperluan anaknya Irfan yang akan berangkat ke tempat tujuan ppl.


Kalau Umi Sarah yang meminta rasanya ia sangat tidak mungkin untuk menolak.


...........................


Lala duduk di depan bersebelahan dengan Irfan, sedangkan Kania duduk di tengah, dalam mobil yang menuju ke mall yang terkenal lengkap dengan harga yang miring.


Sepanjang jalan tidak ada pembicaraan yang serius, apalagi topik yang menarik untuk dibicarakan.


Kania tidak bersemangat untuk berbasa basi, ketika naik ke atas mobil pun ia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


Mungkin lain dengan yang dirasakan oleh Irfan, ia sangat senang dengan kehadiran Kania dalam mobil itu. Sampai-sampai Lala berani menggodanya,


"Ehm... banyak mawar berjatuhan dari langit.., " Lala menggoda Irfan, biasanya begitu jika menyindir orang yang sedang jatuh cinta.


Irfan melihat Kania dari kaca mobil depannya, yang dilihat sedang memperhatikan orang yang ada di sepanjang jalan yang dilalui, tidak mempedulikan perhatian khusus yang diberikan oleh pemuda tampan, kaya dan calon dokter spesialis itu.


Irfan tidak mudah putus asa, ia yakin kalau Kania juga menyukai dirinya. Tapi menurutnya memang begitulah seharusnya seorang wanita jangan terlalu berani dalam menunjukkan perasaan.


Rasa malu dan tidak perhatian Kania kepada Irfan, membuat hati Irfan semakin menyukai dan penasaran, keanggunan dari sikap yang menjaga diri menambah nilai kemuliaan pribadi Kania.


"Kania..., Kania...! "


Lala memanggil dengan suara agak meninggi karena dilihatnya Kania asik dengan pemandangan yang ada di sisi kanannya.


"Iya La,"


Kania langsung menjawab, " Irfan tanya tuh, bukunya udah dibaca belum? "


Deg, hati Kania berdetak agak kuat, rupanya Irfan yang membelikannya buku. Padahal buku itu belum juga dibukanya.


"Bukunya bagus, makasih ya udah belikan. "


"Pasti belum dibuka, pasti belum tahu siapa yang ngasihnya. "


Lala tahu saja yang dialami Kania, untungnya Irfan belum begitu paham bahasa Indonesia, jadi ia hanya senyum-senyum saja.

__ADS_1


Kania mengedipkan matanya kepada Lala, membuat Irfan penasaran.


"Limaadza tabastum? "


Irfan bertanya kepada keduanya, mengapa mereka senyum. Lala menjawab spontan sambil bercanda kepada Irfan, bahwa Kania senang dengan buku yang dibelikan Irfan.


Otomatis Irfan sangat senang dengan jawaban itu, lalu badannya membalik ke belakang, memberikan respon positif kepada Kania. Kania hanya tersenyum dan menggelengkan kepala ke arah Lala.


.......................


Mall di pinggiran kota Kairo ini memang sudah banyak dan ramai, sehingga perlu informasi lengkap mengenai harga yang murah.


Lala biasanya yang pandai mencari mall dengan harga murah dan barang yang lengkap.


Mereka menjatuhkan pilihan mall yang bernama "Salwa Mall", di sini barang-barangnya lengkap dengan harga yang terjangkau.


Tapi sayang "Salwa Mall" ini letaknya paling pinggir dan berbatasan langsung dengan sungai nil.


Memang indah pemandangannya, tapi jadi sempit arah jalan keluarnya karena dipagar tinggi dari arah kanannya.


Pengunjung senang berkunjung ke Mall ini untuk mencari kuliner khas Mesir. Irfan mengajak Lala dan Kania menikmati kuliner di tempat ini.


Angin dari arah sungai cukup kencang menerpa siapa saja yang dilewatinya, pemandangan sungai nil yang menyehatkan mata karena melihat ke arah yang jauh membuat ketiganya betah untuk duduk berlama-lama di sini.


Jangan salah, ada sebuah hati yang mengharapkan sesorang yang hadir pada suasana seperti ini.


Ia tidak ingin orang lain, meskipun di hadapannya hadir seorang pemuda tampan yang memiliki rating tinggi jika dilombakan sebagai pemuda idaman.


"Hei, jangan melamun! "


Lala mengagetkan Kania karena tampak pandangannya kosong, ia tidak menyadari ada orang yang memperhatikannya.


Untung saja suara hatinya tidak terdengar ketika berteriak bahwa ia tidak ingin di sini kecuali dengan orang yang disayanginya.


"Ayo pesan makanan apa, mumpung ada bos yang bayar! "


Lala menggoda Kania, akhirnya Kania memilih makanan yang akan disantapnya, sementara itu Irfan bangkit dari tempat duduknya untuk membeli keperluan yang akan dibawa ke tempat pplnya besok.


...............................


" Irfan pergi jam 01.00 ini Kania, apakah kamu tidak mengantar kepergiannya? "


Tiba-tiba Lala datang dari arah kantor ma'had dan langsung menuju ke tempat Kania yang sedang duduk bersama temannya.


Kania tidak siap menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Lala.

__ADS_1


Dengan yakin Kania menjawab, "aku banyak tugas La. " itulah jawaban Kania.


Lala masih bisa menyanggah, "itu kan bisa nanti, " kata Lala jadi agak sewot, pasalnya ia minta ada yang menemani beberas rumah setelah Irfan pergi.


Melihat Lala agak sewot, akhirnya Kania berubah pikiran, ia mau membantu Lala membereskan rumah budenya, tapi tidak mengantar perginya Irfan.


"Tanggung lah, nunggu jam 01.00, kamu baru datang, baik datang awal supaya kalau Irfan pergi kita pun pergi juga langsung mengunci pintu. "


Lala memberi argumen yang memberatkan hati Kania.


"Tapi, ...."


Lala langsung menyahut, "tapi apa, "


Kania secara spontan menjawab, "iyalah La, aku bantu."


................................


Kaki Kania berat sekali untuk melangkah ke rumah Umi Sarah, bukan apa-apa, karena malas bertemu Irfan yang selalu ramah, bahkan menurut Kania terlalu ramah. Sikap seperti itu membuatnya menjadi risih.


Namun akhirnya akhirnya sampai juga di rumah ini, selepas kuliah pagi sekitar pukul 10.30, Kania datang dengan wajah yang lesu.


Lala yang melihat Kania seperti itu jadi penasaran, lalu bertanya,


" Lesu amat sih wajahnya? " sambil berjalan ke arah ruang keluarga Lala menggoda Kania.


Untungnyabdi situ tidak ada Irfan, ia sedang keluar membeli sesuatu yang ketinggalan dicatatnya sewaktu belanja kemarin.


Karena ingin segera pulang, Kania langsung mengerjakan pembagian tugas yang sudah disepakatinya berdua.


Tak berapa lama berselang rumah pun sudah kelihatan asri, membuat betah orang yang tinggal di dalamnya.


Suara orang membuka pintu pun terdengar, tak heran dengan siapa yang akan datang, Kania dan Lala pun melanjutkan pekerjaannya.


Ternyata memang benar, yang datang adalah Irfan. Dari lantai atas Kania dapat melihat siapa yang datang.


Rupanya Irfan akan menujun ke lantai atas, karena memang kamarnya ada di lantai dua.


Cepat-cepat Kania bersembunyi di balik tiang ruang keluarga pada lantai atas tersebut, setelah Irfan masuk Kania berlari dengan cepat menuruni tangga untuk turun ke bawah.


Kania tidak tahu kalau Lala keheranan dengan langkahnya yang cepat seperti itu.


"Hei, mau kemana cepat benar? "


Kania tergagap tidak bisa menjawab, ia mencari alasan untuk keluar dari rumah itu.


"La, aku pulang dulu ya, nanti aku bantu lagi," tanpa menunggu jawaban dari temannya itu, Kania langsung beranjak pergi keluar untuk pulang ke kosnya.

__ADS_1


__ADS_2