Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Cobaan Berat Keluarga Pak Marwan


__ADS_3

Kabar tertangkapnya Deni sudah sampai kepada keluarga Pak Marwan. Tentu kabar yang mengejutkan ini membuat seisi rumah menjadi kecewa, apalagi Bu Marwan yang sangat menyayangi Deni.


Untuk beberapa saat selepas kabar datang kepada keluarga Pak Marwan, tidak ada respon yang membuat hati menjadi pedih , namun sebenarnya Bu Marwan sedang mengatur emosinya supaya tidak stress dan jatuh sakit.


Pagi itu, Pak Marwan sudah siap dengan baju yang rapih, ia duduk di ruang keluarga sambil minum kopi dan membaca koran, lalu ketika istrinya berlalu menuju kamar, ia berkata,


"Gimana buk ikut tidak jenguk Deni? "


Bu Marwan tertegun sebentar tapi tidak menjawab apa-apa, lalu melanjutkan jalannya menuju kamar.


Di dalam kamar ia menangis tersedu, tidak mampu lagi menahan air mata. Tapi kemudian ia membuka lemari pakaian dan mengganti baju yang dipakainya untuk ikut bersama menjenguk Deni.


"Ayo pak, ibu sudah siap! "


Pak Marwan menghentikan membaca korannya, kepalanya menghadap ke sumber suara.


"Loh, ikut kah? "


Bu Marwan tidak ingin melayani ejekan suaminya, ia terduduk di kursi sambil berkata,


"Mumpung masih awal ni pak cepat lah, nanti keburu macet! "


Pak Marwan pun bangun dari tempat duduknya sambil tersenyum kepada istrinya yang masih cemberut, lalu ia berkata,


"Enggak boleh cemberut bu, kalau mau berjalan nanti kesambat setan! "


Bu Marwan tidak mempedulikan perkataan suaminya, ia ngeluyur ke belakang mengambil payung untuk persediaan jika hujan.


Bik Eroh bertanya kepada majikannya, "mau berangkat kemana bu? "


Bu Marwan tidak menjelaskan secara detil, ia hanya berkata, "jalan dulu sama bapak, kalau Danang tanya bilangkan enggak usah nyusul!"


Bik Eroh hanya menganggukkan kepala.


...........................


Benar saja perkiraan Bu Marwan hari ini turun hujan, payung yang dibawanya dari rumah sangat bermanfaat.


Di setengah jalan sampai ke tempat tujuan, mereka singgah di super market, untuk membeli barang untuk kebersihan badan seperti sabun mandi dan lain sebagainya juga makanan dan minuman yang sekiranya diperlukan oleh Deni.


Pak Marwan menunggu di mobil, hanya Bu Marwan yang belanja.


Ketika Bu Marwan selesai belanja di super market itu, tiba-tiba ada yang menegurnya dari belakang,


"Mega!! "


Bu Marwan terkejut, lalu menoleh ke belakang, ternyata kawan sdnya dulu yang sudah lama tidak bertemu.


"Yaa Allaaah, apa kabar, mana keluarganya? "


Wanita itu menunjuk ke arah mobil warna putih yang ada di sebelah kanan super market.

__ADS_1


Entah apa yang mereka perbincangkan, hingga akhirnya mereka berpisah.


.........................


Pak Marwan membukakan pintu mobil, ia heran melihat istrinya tersenyum keluar dari super market itu, mungkin dapat diskon pikir Pak Marwan.


"Sukanya bapak lihat, ibu keluar dari super market tuh, ada apa rupanya, boleh dibagi gak sama bapak? "


Pak Marwan menggoda istrinya, ia tahu kalau istrinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.


Bu Marwan tersenyum lagi lalu berkata, "ibu bertemu teman lama pak, teman sd. "


Ketika akan menunjuk ke arah mobil warna putih yang terparkir tadi, rupanya mobil itu sudah tidak ada.


"Yaah, mobilnya udah enggak ada. "


Pak Marwan menolehkan kepalanya bersamaan dengan telunjuk Bu Marwan, tapi memang mobil itu sudah tidak ada.


.....................


"Di sini kah pak tempat Deni


di tahan? "


Bu Marwan mulai bertanya ketika mobil mereka mulai memasuki daerah yang mulai agak sepi.


Pak Marwan menjawab, " menurut share loc sih begitu buk, " jawabnya singkat.


Tangan Pak Marwan membelokkan setir ke suatu kantor dengan area memanjang, namun nampaknya sepi dan tertutup, hanya ada satu orang penjaga saja yang nampak dari luar dengan seragam khasnya.


........................


Pak Marwan dan istrinya masuk ke dalam lapas itu dan menunggu di ruang tunggu.


Sementara keduanya hanya terdiam dan saling memandang, tiba-tiba keluarlah seorang penjaga lapas yang lain dari lorong gang sebelah kiri ruang tunggu tersebut, disusul oleh seorang laji-laki yang telah lama dikenal oleh sepasang suami istri itu.


"Deniiiii.... !!"


Bu Marwan tidak bisa mengendalikan perasaannya, ia memanggil anaknya sambil bangkit dari tempat duduknya.


Pak Marwan memegangi tangan istrinya kemudian berkata, "sudah bu, biar dia sampai di sini dulu! "


Memang jarak antara ruang tunggu dan lorong tempat keuarnya Deni agak jauh, Pak Marwan khawatir malah istrinya jatuh karena berlari.


Deni tertunduk, ia tidak berkata apa-apa hanya terlihat ada butiran air mata yang menetes di sela-sela matanya.


"Den, ibu bawakan keperluan kamu nih," untuk sementara hanya itu yang keluar dari mulut Bu Marwan.


Lain lagi dengan Pak Marwan, ia mencari informasi tentang kejadian ini langsung kepada kepala penjara.


"Begitulah pak kejadiannya."

__ADS_1


Kata kepala penjara dan Pak Marwan pun manggut-manggut.


"Apa sudah ada pengacara yang menangani kasus anak saya? "


Pertanyaan Pak Marwan langsung dijawab, "sudah pak, bahkan ada psikolog yang akan membantu.


"Baiklah kalau begitu."


Pak Marwan pun keluar dari dalam kantor itu dan menuju ke tempat dimana Deni dan istrinya sedang berbicara.


Setelah berhadapan dengan anak dan istrinya, Pak Marwan menepuk-nepuk punggung Deni sambil berbicara,


"Semangat ya nak, bapak sama ibu akan bantu kamu, segala perbuatan yang sudah kamu lakukan harus dipertanggung jawabkan. "


Deni tertunduk, ia hanya menganggukkan kepala, tak terasa air mata membasahi pipinya.


Bu Marwan melihat anaknya sedih seperti itu, menangis juga ia tak kuasa membendung air matanya yang sedari tadi ditahannya.


"Ya sudah, kamu harus istirahat, bapak sama ibu pulang dulu, nanti kami datang lagi jenguk kamu. "


Deni mencium tangan ibunya dan Pak Marwan, lama sekali tangan Deni lepasnya dari tangan Bu Marwan.


Ketika Deni akan masuk lagi ke selnya, Pak Marwan berbicara lagi,


"Satu pesan bapak jaga pergaulanmu di sini ya, jangan lupa sholat lima waktu. "


Kemudian mereka berpisah dengan hati yang sedih dan pilu.


...........................


Suasana kantor Pak Marwan tampak sepi, pantas saja sebab semua stafnya naik ke tingkat dua gedung itu untuk mengikuti pelatihan.


Pak Marwan pun baru saja turun dan masuk ke dalam kantornya, ia hanya memberikan sambutan pembukaan saja.


Pak Marwan hendak menghubungi seseorang yang sudah dijanjikannya untuk dihubungi.


"Yak, halo... Alhamdulillah dapat juga tersambung dengan bapak ni.., " Pak Marwan tampak senang ketika mengangkat ponselnya. Rupanya orang yang dimaksud sudah menghubunginya duluan.


"Baik pak, saya tunggu kapan sempatnya kita akan bertemu. "


Demikianlah perbincangan yang terdengar diantara keduanya.


Tiba-tiba pintu kantornya ada yang mengetuk,


"Tok-tok-tok, "


Pak Marwan dengan cepat mempersilahkan tamunya masuk,


"Silahkan pak dusuk! "


Rupanya ada tamu yang hendak mengharap Pak Marwan.

__ADS_1


Dengan sabar Pak Marwan mendengarkan perkataan tamunya itu, hingga akhirnya Pak Marwan hanya mendengarkan dan kemudian memberikan instruksi Kepada sekretarisnya untuk mengurus segala keperluan tamunya itu.


.........................


__ADS_2