Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Telpon Pertama dari Kekasih


__ADS_3

Seorang gadis termangu di depan jendela kamarnya, ia memandang keluar dimana langit yang cerah dan matahari mulai menampakkan sinarnya.


"Uahaa..h "


Ternyata ia ngantuk, sehabis begadang malam tadi, banyak sekali pekerjaan rumah dan tugas-tugas dari ma'had yang harus dikerjakannya.


Sambil memegang cangkir yang berisi kopi yang ditempelkan di pipi kirinya, ia menerawang ke angkasa. Terbang ke suatu waktu dan tempat yang akan selalu ia kenang.


Desa Ratapan...


Desa yang indah dengan tanaman sayur-sayuran yang subur, di sana ia dilahirkan dan dibesarkan, juga di sana ia mengenal perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Rasa cinta kepada seorang laki-laki yang status sosialnya lebih tinggi dari dirinya.


Bahkan orang tuanya adalah buruh di perusahaannya.


Tak mungkin.. itu pikirannya, tak mungkin ia meraih hal yang begitu tinggi , sedangkan dirinya hanyalah gadis biasa.


Yaa.. sudahlah pikirnya.


Angannya pun pergi ke tempat dan waktu yang lain, saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di tanah Nabi Musa as.


Ia tidak pernah menyangka jika dirinya dapat menghirup udara di tempat ini. Tempat dimana Nabi Musa pernah hidup dengan segala perjuangannya menegakan kalimat tauhid.


Nikmat mana lagi yang harus ia dustakan.


Itu pikirnya dalam hati.


Tiba-tiba, pintu kamarnya berbunyi.


"tok-tok-tok.."


Ia pun membuka pintu kamarnya, ternyata laundri bajunya datang.


"Syukron ukhtii. "


Lalu diambilnya pakaian yang sudah rapi itu.


Belum lagi ia sempat memasukkannya ke dalam lemari tiba-tiba ponselnya berdering.


"Waa'laikum Salam, na'am, naa'm. "


Itu saja yang terdengar, ia mengiyakan lawan bicaranya dalam bahasa arab.


Ia bergegas mandi dan beberes untuk pergi keluar.


.................................


"Assalamualaikum.... "


Gadis itu mengucapkan salam sambil mengetuk pintu sebuah rumah.


Tak berapa lama pintu terbuka, ia disambut oleh tuan rumah dengan ramah sambil membuka pintu.


"Waa'laikum Salam.. Kania mari masuk! "

__ADS_1


Ternyata gadis itu Kania, Tak disangka tuan rumah ini pandai berbahasa Indonesia. Tampaknya Kania sudah akrab dengan tuan rumah ini.


"Apa kabar Umi ?"


Kania bertanya kepadanya.


"Baik, kamu enggak capek kan hari ini, Umi nagih janji kamu buatkan sayur asem ya.. "


"Baik Umi, hari ini saya libur enggak ada pelajaran, jadi bisa tunaikan janji saya untuk buatkan sayur asem."


Tuan rumah itu kelihatannya sangat senang sekali, ia menggandeng tangan Kania masuk ke dalam, bahkan langsung ke dapurnya yang sangat bersih dan lengkap dengan peralatannya yang modern.


"Ini bahan-bahannya sudah Umi siapkan Kania, tinggal kamu yang meracik bumbunya, Umi masuk dulu ya ke dalam, Abi mau minum teh hangat tadi."


Kania hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengerti.


Mulailah ia memetiki sayuran dan mencucinya kemudian meracik bumbu untuk sayur asem sesuai permintaan tuan rumah.


Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam dapur.


"Oh Kak Irfan"


Bisik Kania dalam hati, ia hanya mengangguk dan tersenyum.


Rasa aman dalam hatinya karena ia menggunakan pakaian yang menutup auratnya, jadi ia tidak khawatir akan diperlakulan tidak baik,


dan lagi kelihatannya Irfan ini sudah agak kenal dengan Kania, ia juga memberikan sikap yang bersahabat.


........................


" Sudah jadi sayurnya? "


Tangan Kania terkena sayur yang panas tapi tidak ia pedulikan.


"Sudah Umi, ini dicicipi dulu, barangkali ada bumbu yang kurang."


Tuan rumah hanya mengacungkan jempolnya.


Setelah semuanya selesai, Kania pamit pulang dengan alasan ada perkerjaan lain yang harus diselesaikannya.


............................


"Hemmmh, capai juga hari ini."


Bisik Kania dalam hati.


Tapi hari ini ia merasa senang, karena sudah dapat menunaikan janjinya kepada seorang ibu yang dipangilnya Umi Sarah, ia asli Indonesia tapi menikah dengan orang Mesir.


Hari ini Umi Sarah ingin dibuatkan sayur asem, karena sudah kangen katanya dengan sayur itu. Jadi Kania berusaha membuatkannya.


Bahkan anaknya yang bernama Irfan itu, juga yang menjemputnya di bandara ketika ia baru sampai di negeri sungai Nil ini.


Tapi Kania belum sempat bertemu dengan suami Umi Sarah, karena masih harus beristirahat selesai operasi jantung di Amerika.


Beruntung putra Umi Sarah sedang cuti kuliah saat ini. Jadi dapat menambahkan Umi menjemput dirinya.

__ADS_1


Semua kemudahan ini, berkat jasa Abuya Husni yang sangat mengenal Syekh pemilik Ma'had itu.


Kania langsung membaringkan tubuhnya setelah ganti baju dan membersihkan badan.


Memang ia sangat menjaga kebersihan, sesuai dengan ilmu yang ada padanya, ia berusaha mengamalkannya termasuk ilmu mengenai cara menjaga kebersihan.


Matanya terpejam tapi hatinya masih hidup, banyak sekali yang dipikirkannya, emak dan abah, pondok Daar Huda beserta santriwatinya, dan yang masih menggelayut dalam pikirannya adalah seseorang yang bernama "Danang".


Kania sangat penasaran dengan perasaan Danang, ia ingat dengan perhatiannya di tempat pelatihan, ketika acara maulidan dan lain tempat yang sepertinya ada magnet khusus.


"Sepertinya...., Kania, Kania, ".


Ia menertawakan dirinya sendiri, ketika memikirkan orang yang bernama Danang ini.


"Astaghfirulloh Ala'dziim, Yaa Allah lindungilah hamba dari mengharap sesuatu selain kepadaMu, jauhkan hamba dari kegelisahan yang akan membawa kesesatan, hamba ingin fokus pada pencapaian masa depan."


Kania mengusap wajahnya, ketika hatinya benar-bebar berharap. Ia tidak ingin mengharapkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Harapan seperti ini akan membahayakan masa depannya. Akan membuat kecewa hati kedua orang tuanya.


Saat ini ia memang harus benar-benar fokus dan berjuang agar harapan Abuya Husni dan Umi Dzakiyah tercapai, memiliki Mudaris yang kompeten di bidang bahasa Arab.


Ia ingin setelah kembali ke tanah air, dapat membawa ilmunya dan mengembangkanya di pondok Daarul Huda.


Dipotongnya lamunan tentang Danang, agar hatinya menjadi tenang.


Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, belum sempat diambil sesaat kemudian sudah berhenti deringnya, ponsel itu pun ada dalam tasnya yang sedari siang belum dikeluarkannya.


"Sudahlah."


Pikirnya, ia pun ingin memejamkan mata.


............................


"Uahh... mmhh... ,"


Kania menggeliatkan tubuhnya, segar rasanya jika sudah tidur siang, ia pun turun dari tempat tidur dan langsung mengambil handuk yang menggantung di capstok.


Sore ini ada belajar kelompok di rumah teman, ia harus bergegas ke sana, nampaknya hari semakin sore, Kania tidak tahu ini jam berapa.


Tas yang sedari siang diletakkannya belum juga dibuka. Terpaksa ia merapikan isi tas itu, karena ada beberapa buku yang harus dibawa.


Ponselnya yang diletakkan sembarang dalam tas pun disusunnya.


"Wow.. ada notifikasi."


Pikir Kania, ketika dilihat ternyata ada yang menghubunginya tadi siang.


Ia penasaran.


Lalu dibuka chat wanya.


Ternyata


MasyaAllah

__ADS_1


"Kak Danang....Ia berteriak dalam hati, teriakan kegembiraan."


__ADS_2