Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Target Mumtaz


__ADS_3

Kegiatan Kania di Ma'had Daarussalam sangat padat. perkuliahan dimulai pukul 08.00 hingga sore menjelang maghrib.


Pelaksanaannya di kampus utama Ma'had tersebut, karena ada juga kampus 2 diperuntukkan untuk kaum laki-laki.


...............................


Ruangan perpustakaan ini sangat penuh, hingga tak nyaman untuk


membaca di tempat ini, tidak heran karena hari ini adalah hari senin.


Jadwalnya praktik bahasa arab, sehingga banyak mahasiswa yang mencari literatur untuk di presentasikan kepada dosennya.


Begitu juga dengan Kania, ia sibuk mencari bahan untuk pengambilan nilai hari ini.


Selain itu tidak hanya mencari bahannya saja tapi harus mengartikannya, karena akan mempengaruhi terhadap intonasi yang akan diucapkan.


Tiba-tiba ada orang yang bertanya kepada Kania


" Assalamualaikum... "


Kania menoleh ke orang tersebut,


"Masmuk ?"


Kania menjawab


"Waa'laikum Salam, ismii Kania,"


Kania balik bertanya kepada orang yang menanyakan namanya


orang itu menjawab,


"Ismii...Lala. "


Mereka pun bersalaman, yang bertanya menggunakan cadar, sehingga tidak terlihat wajahnya.


Kemudian orang tersebut bertanya lagi


"Min aina anti? "


Kania pun menjawab bahwa ia berasal dari Indonesia.


Setelah mendengar penjelasan Kania dari Indonesia, suasana pun menjadi cair, ternyata perempuan tersebut juga berasal dari Indonesia, namun sudah lama tinggal di Mesir, kewarganegaraannya pun Mesir juga, karena ayahnya orang Mesir tapi ibunya orang Indonesia.


...Mereka mencari tempat yang nyaman di luar perpustakaan, pilihannya adalah taman ma'had tersebut yang ada tepat di sebelah kanan kantin. Meskipun baru kenal satu sama lain tapi terasa sudah akrab terlihat kedekatannya dengan duduk bersama, dan bertukar cerita, tugas hari ini pun dikerjakan bersama-sama....


.................


Sebelum masuk kamar, Kania langsung mengambil jatah makanan hari itu di ruang dapur.


Bibik yang mengurus bagian katering asrama putri ini berasal dari indonesia juga. Orangnya sangat ramah, Kania sangat dekat dengan nya, ia dilayani dengan baik, jadi Kania tidak terlalu rindu dengan rumahnya di kampung, bahkan bik Surti ini seperti emak Kania sendiri.


...................


"Eiiit...kok terburu-buru? "


Bik Surti menegur Kania yang tampaknya cepat-cepat ingin masuk kamar,


"Iya bik, aku mau ke kamar mandi, udah kutahan lama."


Bik Surti terkikik, melihat tingkah Kania yang kebelet pipis.

__ADS_1


Kania tidak menggubris ejekan bik Surti, langsung ia masuk ke kamarnya.


"Aaaah... segar rasanya, "


Wajahnya tidak kusut lagi karena hajatnya sudah tesampaikan.


Tiba-tiba bik Surti mengetuk pintu kamarnya,


"Ooh, iya bik terima kasih. "


Bik Surti memberikan makanan tambahan, memang ia sangat baik, ada saja makanan tambahan yang diberikan kepada Kania.


Tidak heran juga karena Kania pun orangnya baik, suka menolong jika bik Surti sedang ada pekerjaan. Ia tidak acuh tak acuh, tapi ringan tangan untuk membantu.


.....................


Sore itu cuaca agak mendung, Kania hanya ingin tinggal di rumah, sepulang kuliah waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, sangat mepet ke waktu sholat maghrib.


Sebenarnya ia hanya ingin santai - santai di kamarnya, ia ada rencana menelpon orang tuanya.


Ketika Kania akan mencari nomor wa abahnya, tiba-tiaba ada yang menelpon, Kania mengangkat ponselnya dan ternyata ada orang yang menghubunginya.


"Waa'laikum Salam..., iya Umi tidak ada, boleh Umi. "


Ternyata Umi Sarah mengajaknya makan malam di tepian sungai nil, bersama suami dan anaknya Irfan.


.....................


Suasan di tepian sungai nil sangat indah, apalagi di malam hari begini, banyak sekali kegiatan bisnis kuliner di sini, tinggal kita memilihnya.


Dengan diterangi lampu yang berwarna warni, Cafe-cafe itu sungguh kelihatan lebih cantik apalagi letaknya yang strategis yaitu di pinggiran sungai nil.


"Mau makan apa Kania? "


Tak berapa lama makanan yang dipesan datang.


"Irfaan... Taa'l! "


Umi Sarah memanggil anaknya, Irfan pun datang, wajahnya tersenyum lalu berkata dalam bahasa arab kepada ibunya bahwa ia sudah dapat pemandangan yang bagus.


"Ku! l"


Umi Sarah menyuruh anaknya makan, Irfan pun menarik kursi lalu makan bersama.


Kania sangat kikuk dibuatnya, karena irfan duduk pas di hadapannya, ia tidak berkutik.


Kania makan makanan yang ada di dekatmya, walaupun Umi Sarah menawarkan segala makanan yang sudah dipesan.


Kelihatannya irfan terkesan dengan sikap Kania yang sopan, terlihat dari cara memandang dan keramahannya.


Umi Sarah pun senang jika anaknya tertarik dengan Kania, selain Kania baik juga karena ia berasal dari Indonesia seperti dirinya.


Kania tidak memperhatikan sikap mereka, ia hanya fokus makan. Sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap dan pikiran mereka.


.................


Hari sudah terang, Kania sudah siap berangkat ke ma'had, biasanya ia naik taksi yang sudah di pesan sebelumnya.


Hari itu adalah hari yang sangat beruntung buat Kania, karena ia bisa menghemat uang sakunya, pasalnya Umi Sarah mengajak Kania ikut dengan mobilnya.


"ayok...!!! "

__ADS_1


Lambaian tangan Umi Sarah mengarah ke tempat duduk Kania yang sedari tadi sudah menunggu di depan teras kosnya.


Kania langsung keluar dan membuka pagar rumah itu, ketika berbalik badan matanya berpapasan dengan wajah Irfan yang sedari tadi memperhatikannya.


Kania menganggukkan kepalanya lalu memberi salam,


"Assalamualaikum... Umi!!! "


Untuk Irfan ia hanya tersenyum.


Umi Sarah membukakan pintu mobil, Kania duduk di bagian tengah.


"Bismillaahirrrohmaanirrohiim.. ."


Bisik Kania dalam hati.


Sepanjang jalan menuju ke Ma'had, banyak sekali yang diceritakan dan ditanyakan Umi Sarah kepadanya. Ia memang sangat ramah, mungkin juga sudah rindu berkomunikasi dengan bahasa Indoneaia.


Tiba-tiba Irfan bertanya,


"Kamu senang di sini Kania, " tapi dalam bahasa arab


Kania menjawab,


"Alhamdulillah senang."


Komunikasi pertama yang diberikan Irfan kepada Kania, tapi buat dirinya itu adalah hal yang biasa tidak ada yang istimewa, di hatinya ada yang sudah dianggapnya istimewa yaitu Danang.


Selain itu kesempatan belajar di Mesir ini bagi Kania suatu hal yang sangat berharga, jadi ia tidak ingin memikirkan hal yang lain kecuali mencapai target mumtaz pada semua mata kuliah yang diambil.


"Kamu masuk jam berapa hari ini? "


Umi bertanya di sela-sela obrolannya yang lain.


"agak siang mi, jam 10.00. "


" Antar Umi belanja dulu ya, ada bahan makanan yang harus dibeli untuk Abi."


"Baik Umi, enggak masalah. "


Kata Kania,


"Sebentar kok, paling 15 menit, tokonya di depan ni, pas belokan. "


Umi menyuruh Irfan untuk berhenti lalu ia turun sendiri, tidak jadi diantar oleh Kania, Kania dan Irfan ditinggalkannya berdua dalam mobil.


Suasana beberapa menit yang kikuk, entah apa yang harus mereka katakan, masing-masing dengan pikirannya sendiri.


Kania memikirkan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk dan harus cepat diselesaikan.


Sedangkan Irfan, sangat senang berada dalam waktu yang sama dengan Kania, tapi ia pun tidak berani banyak bicara, takut Kania malah tidak suka padanya.


"Sebentar kan, ini Abi mau kurma azwa, di rumah sudah habis, nah untuk Kania umi belikan juga. "


Kania menolak,


"Enggak usah Umi, buat Abi saja. "


Tiba-tiba Irfan nyeletuk pakai bahasa arab, dengan wajah mengarah kepadanya.


Umi menerjemahkan "rejeki enggak boleh ditolak. "

__ADS_1


Kania tersenyum pada irfan, manis sekali, membuat Irfan geregetan, tapi setelah itu Kania lekas menguasai diri, tidak baik berkomunikasi berlebihan dengan laki-laki yang bukan mahromnya apalagi baru dikenalnya.


__ADS_2