
Deni berjalan lurus ke depan, seolah akan mencapai tempat tujuan. Akan tetapi tepi-tepi jalan kanan dan kiri tak dikenalnya. Ia pun bingung lalu berjalan lagi, kakinya letih namun belum juga ada tempat yang dikenalnya.
Hati Deni menjerit minta ampun, dia lupa jalan pulang. Tak ada satu orang pun yang dikenalnya. ketika hendak bertanya lidahnya kaku, kelu tak dapat mengeluarkan suara.
"Ah, mengapa aku begini?"
Rintihnya dalam hati.
Sambil berpikir dan mengingat kejadian yang telah lalu Deni masih melangkahkan kakinya hingga semakin jauh dari desanya.
Ia semakin putus asa dan mulai keletihan. Disandarkan Badannya ke bangku yang ada di tepi jalan. Sambil berharap sekiranya ada orang yang dikenalnya. Tapi tetap ia merasa asing dengan tempat itu. Deni merasa bahwa dirinya sedang berhalusinasi, namun kebingungannya menemukan jalan pulang memberitahukan bahwa ini adalah kenyataan.
Tiba-tiba..., ada segerombolan preman yang mengerumuninya. Lalu mereka berkata kepada Deni,
" Hei Deni ngapain luh di sini?"
Deni terkejut dan tergagap lalu menjawab,
"Ehm... ehm kalian siapa?"
"Alaaah... sok enggak kenal lagi.. "
Salah seorang dari mereka membentak Deni.
Deni semakin bingung, sebentar kemudian.
"bak... buk... bak.. buk."
__ADS_1
Pukulan mendarat di perut dan muka Deni.
Masalah apa yang terjadi di antara mereka belum juga tersingkap, kejadian yang pertama yang menimpa Deni belum lagi ada laporan dari yang berwajib siapa dalangnya, ini terjadi lagi.
Badan Deni terhuyung jatuh ke tanah lalu pingsan, beruntung ada seorang gadis yang menolong, ternyata Kania yang baru belanja obat-obatan untuk emaknya.
"Kak Deni!!!"
Setengah menjerit Kania lalu meminta tolong pada orang lain. Akhirnya Deni diangkut ke atas mobil avanza milik pengemudi yang berbaik hati menolong mereka.
" langsung dibawa ke rumah sakit saja pak! "
Kata Kania pelan.
"Baik neng, mari ke rumah sakit."
..........................
Sementara dokter menangani Deni, Kania menghubungi orang tuanya.
Pak Marwan terkejut dan langsung menuju lokasi. Danang adik Deni ikut bersamanya.
" Terima kasih sudah menolong kakakku."
Ucap Danang perlahan.
Baru kali ini ia memandang wajah Kania dengan jelas. Wajah seorang gadis desa yang bersahaja namun tetap memiliki semangat walaupun kehidupannya tak seberuntung dia. Selain itu pun ada cahaya yang memancar dari wajah Kania, yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang yang selalu mendekatkan diri kepada Ilahi.
__ADS_1
Dalam hati Danang ingin sekali secepatnya memiliki Kania, agar Kehidupannya lebih baik. Bisa berbagi dalam suka dan duka. Namun apa daya mungkin Kania pun tidak tahu bahwa ia menyukainya menginginkannya menjadi pendamping hidupnya.
Kania membalas ucapan Danang dengan berkata,
"sama2 Kak, ini juga kebetulan saya sedang beli obat untuk emak, dan yang menolong kami ke rumah sakit bapak yang itu.. yang pakai baju batik warna hijau."
Kania menunjuk ke arah seorang bapak yang menolongnya tadi. Danang semakin mengagumi Kania, karena perkataannya yang sopan sikapnya yang anggun dan rendah hati.
Danang menghampiri bapak itu dan mengucapkan terima kasih.
Tiba-tiba pintu kamar pasien terbuka,
" Ada keluarga pasien?"
Pak Marwan menjawab dan langsung di bawa ke ruangan dokter.
" Jadi pak, setelah kami periksa melalui rontgen ternyata ada pembekuan darah di bagian kepala kiri anak bapak."
Pak Marwan terkejut mendengarkan penjelasan dokter tersebut. Dia menyangka jika Deni selalu muntah itu disebabkan masuk angin, ternyata ada masalah di bagian kepalanya.
" Jadi bagaimana dok penyelesaiannya? "
Tanya pak Marwan.
" Yaa.. harus dioperasi pak."
"Baiklah, berikan perawatan yang terbaik untuk anak saya dok! "
__ADS_1