
"Silahkan, silahkan... ,"
Pak Marwan menunjuk ke meja yang sudah berisi hidangan makanan beraneka macam, mulai nasi dan lauk pauknya serta buah-buahan sebagai pencuci mulut.
Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, karena perusahaan agroindustri pak Marwan dalam periode tahun ini mendapatkan keuntungan yang banyak.
Sebagai rasa syukur atas bangkitnya perusahaan ini dari keterpurukan, bahkan sempat gagal panen, maka pak Marwan membuat acara syukuran.
Selain para karyawan yang diundang, juga anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa yang ada di desa itu turut memeriahkan acara dan bersama-sama mengaminkan doa yang dipimpin oleh Ustadz Slamet.
Dengan ramah pak Marwan mempersilahkan tamunya menikmati hidangan.
Dalam pembukaan acara syukuran ini pak Marwan mengucapkan banyak terima kasih kepada semua staf dan karyawannya, karena berkat kerja sama semua pihak, akhirnya perusahaan ini bangkit lagi.
Penghargaan spesial dipersembahkan kepada Kania dan rekan-rekannya, karena mereka telah melakukan pendekatan secara personal kepada pengusaha kecil penyuplay pupuk organik yang ada di desa tersebut.
Berkat pendekatan itulah maka dapat terbangun kembali kominukasi yang baik antara pihak perusahaan dan mitra kerjanya.
Ketika pak Marwan sedang berbincang dengan abah Kania, tiba-tiba ada karyawan teman pak Salim bekerja di kebun sayur memanggil, pak Salim lalu pamit kepada pak Marwan untuk menghampiri temannya itu. Karena nampaknya ada hal yang sangat penting.
Terlihat dari cara memanggilnya yang begitu serius dengan intonasi nada bicara yang kuat penekanannya serta frekuensi suara yang cepat.
" Ada apa jang, kaget abah, aya naon?"
"Bah, ada orang cari abah, tuh.. di sana sedang menunggu,"
Temannya pak Salim menunjuk keluar pagar rumah pak Marwan, ternyata memang ada seorang laki-laki yang sedang menunggu pak Salim.
__ADS_1
Orang itu tersenyum sambil mengangguk, pak Salim berjalan agak cepat memburu ke arah orang itu.
" Astahgfirulloh Ala'dziim... kirain siapa, ada yang penting sampai datang ke sini? "
Pak Salim bertanya berturut-turut tidak memberi kesempatan bicara pada orang itu.
"Iya kang, ini penting sekali, ada yang mau dibicarakan,"
Orang itu menjawab dengan nada antusias dan memberi harapan.
Setelah pamit pada pak Marwan, pak Salim membawa tamunya itu ke rumahnya.
.......................
Emak Kania terlihat semakin segar, tubuhnya mulai berisi tidak terlalu kurus seperti setengah tahun yang lalu, hal ini karena adanya pengobatan dan motivasi dari suaminya yaitu pak Salim.
"Diminum ya... cuma ada teh aja, maklum di kampung enggak ada apa-apa, ubi juga belum ada umbinya!"
Emak Kania menawarkan teh yang disajikannya itu.
" jangan repot-repot teh Nena, saya ke sini mau mengabarkan sesuatu yang penting, penting sekali,"
Ternyata tamu iti adik Emak Kania.
"Ada apa Diq, kaget teteh mah,"
Begitu kata ema Kania kepada adiknya itu.
__ADS_1
"Iya akang juga kaget ada apa shodiq sampai ke sini,"
Abah Kania menimpali perkataan istrinya.
Shodiq adik emak Kania menjelaskan maksud kedatangannya, akhirnya mereka mengerti dan bersama-sama memikirkan solusinya.
"Jadi menurut pengacara itu bagaimana kita seharusnya Diq? "
Abah Kania bertanya solusinya, sepertinya ingin cepat-cepat mendapatkan penyelesaiannya
"Gini kang, kita cari dulu alamat kang Toto baru kita musyawarahkan dengan dia bagaimana baiknya."
"Besok kita cari alamatnya dimana rumah kang Toto, kalau rumah yang dulu sudah enggak ada, sekarang rumah kita dulu sudah jadi ruko-ruko."
" Surat wasiat dari bapak kita dulu itu ketemu di mana? "
Selidik pak Salim kepada adik iparnya itu.
"Itulah kang masih rejeki kita, surat itu ada di data bosnya yang sudah meninggal."
"Alhamdulillah Diq, pengacara itu orangnya jujur dan mudah-mudahan masih rejeki kita."
Pak Salim menjawab sambil tersenyum.
Sementara itu emak Kania malah tidak semangat, wajahnya menjadi murung ketika mendengar nama pak Toto.
"Hei.. usah melamun! "
__ADS_1
Pak Salim mengagetkan istrinya. Bu Salim pun kaget lantas pergi ke dapur menyiapkan makan siang.