Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Menyambut Kedatangan Abuya Husni dan Umi Dzakiyah


__ADS_3

Ruangan tamu rumah Abuya Husni dan Umi Dzakiyah sudah dibersihkan, karpet pun sudah digelar. Ada beberapa nampan berisi air mineral serta makanan tradisional lengkap dengan buah pisang ciri khas daerah tersebut tertata rapi dalam nampan yang berwarna kuning.


Para santri sudah berjajar di depan pintu rumah Abuya mereka, hari ini pimpinan ponpes Daarul Huda ini akan datang setelah melakukan perjalanan dari negeri Mesir.


Grup Hadrah bersiap melantunkan sholawat "Thola'al Badru A'laina", sebagai penghormatan kepada mursyid mereka.


Memang akhlak seperti ini sudah dibiasakan di pondok pesantren Daarul Huda, agar para santri memiliki mahabbah atau rasa cinta terhadap mursyid atau gurunya.


Maksud dari pembiasaan penyambutan ini adalah untuk mendekatkan hati antara mursyid dan santri, setelah dekat diharapakan ilmu yang akan disampaikan akan lebih mudah.


Suasana semakin riuh ketika iring-iringan mobil yang menjemput Abuya Husni dan Umi Dzakiyah terlihat mulai mendekat ke arah ponpes itu. Suara gendang Hadrah pun mulai ditabuh.


Terlihat ada seorang pria yang turun dari mobil avanza berwarna abu-abu membukakan pintu mobil, setelah dilihat lebih dekat ternyata dia adalah Danang.


Nampaknya Danang sudah dekat dengan keluarga Abuya Husni dan Umi Dzakiyah, terbukti pada hari ini yang menjemput mereka adalah Danang.


Para santri berdiri untuk menghormati kedatangan mursyidnya, Umi Dzakiyah berjalan di belakang Abuya dan Danang. Setelah masuk ke dalam rumah, mereka langsung duduk dan mengambil air minum serta makanan yang sudah disajikan oleh para santri.


Akhirnya lantunan sholawat itu selesai, Abuya mulai memberikan petuahnya serta memberi semangat agar para santri dapat mengikuti jejak Kania dalam menambah ilmu di negeri Mesir.


Ketika Abuya mengatakan tentang kata "Kania", terlihat wajah Danang sumringah dan bahagia. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas sampai detik ini belum ada satu orang wanita pun yang berhasil menggaet hatinya.


Ketika nasehat Abuya akan selesai tiba-tiba ada seorang santri yang tergopoh-gopoh mengabarkan sesuatu. Akhirnya Abuya meminta kepada para santri untuk kembali ke ruangannya masing-masing dan melanjutkan aktivitas.


...........................


Danang mengikuti Abuya Husni dari belakang, wajahnya tampak tegang. mereka menuju ke suatu ruangan khusus.


Setelah sampai di sana , nampak seorang pria yang sedang terbaring berselimut sambil mengigil nampak seperti kedinginan.

__ADS_1


Danang dan Abuya Husni langsung mendekat, lalu berkata kepada orang itu, " Kang Deni sabar ya... ini adalah bagian dari proses penyembuhan," ternyata orang itu adalah Deni yang sedang dirawat oleh Abuya di pondok pesantrennya dari ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang.


Perkembangan kesembuhan Deni cukup maju, menurut cerita santri yang ada di situ kepada Umi Dzakiyah, bahwa selama Umi Dzakiyah dan Abuya Husni ke Mesir, Deni sering sakau dan ingin melarikan diri namun berkat kerja sama dengan para pengurus dan santri-santri yang ada di situ Deni selalu dapat dikembalikan ke kamarnya semula.


Hari ini dia sakau lagi tapi emosinya cukul stabil dan bisa diajak kerja sama.


Abuya Husni langsung mendoakan Deni yang tengah berbaring, ia memijit telapak kaki kakak Danang itu, tubuh Deni pun bergerak, mungkin ia kesakitan tapi itu tanda bagus, artinya ada respon dari tubuh yang di pijit.


Sambil membalikan badannya Abuya Husni berbicara kepada Danang, "sebaiknya nak Danang pulang saja, biar saya yang menangani Kak Deni di sini, "


Danang menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan sambil mencium tangan Abuya Husni.


.........................


Kondisi kesehatan Bu Marwan sering menurun, seperti sore ini ia baru saja pulang dari dokter ketika Danang anaknya yang kedua datang dari pondok pesantren Daarul Huda.


Mobil mereka datang bersamaan, pas bertemu di depan pagar rumah mereka namun dari arah yang berlawanan.


Nampaknya bu Marwan sangat bersemangat dengan kedatangan anaknya itu, ia pun langsung turun dari mobilnya lalu kakinya melangkah ke arah mobil yang baru saja diparkirkan.


" Nang, gimana kabar kakakmu Deni? "


Pertanyaan itu tak bisa ditahannya dalam hati bu Marwan, meskipun ia tahu anaknya masih lelah seusai perjalanan yang cukup jauh.


Sebagai anak yang berbakti Danang tidak ingin mengecewakan ibu yang sangat dicintainya itu, langsung dijawab dengan senyuman dan acungan jempol, tanda semuanya baik-baik saja.


"Mari bu kita masuk dulu, kakak di sana baik-baik saja kok, nanti saya ceritakan setelah ibu istirahat, " pemaparan itu memberikan rasa nyaman dalam hati Bu Marwan, ia pun menyusul suaminya yang masuk lewat pintu garasi mobil.


..........................

__ADS_1


Suasana makan malam diramaikan dengan kedatangan dua orang tamu yang baru saja datang.


Bu Marwan dan suaminya sangat senang dengan kedua orang tamu tersebut, mereka diajak makan malam bersama. Obrolan yang terdengar sangat menyenangkan.


Terutama Danang yang sering berbicara kepada keduanya sehingga suasana kekeluargaan diantara mereka terasa sangat akrab.


Sementara itu Bu Marwan sibuk membungkus baju-baju yang masih layak pakai dan beberapa jenis makanan untuk diberikan kepada kedua tamunya itu.


Bungkusan baju dan makanan pun dibawa ke ruang tamu, dimana kedua tamu itu sudah bersantai selepas makan malam bersama keluarga ini.


Pak Marwan sedang berbincang dengan mereka ketika istrinya membawa baju dan makanan yang akan diberikan kepada mereka. Namun setelah Bu Marwan mendekat ternyata suaminya itu sedang menanyakan adik Sukma dan kakaknya.


" Jadi berapa jumlah saudara Sukma itu pak? " tanya Pak Marwan kepada lelaki yang ada dihadapannya itu, yang ternyata adalah ayahnya Sukma.


"Jumlah saudara Sukma ada enam, jadi tujuh orang anak kami jika ditambah dengan Sukma."


Pak Marwan manggut-manggut, lalu melanjutkan pertanyaannya, " Sukma yang pertama ya?"


Ayah Sukma pun menganggukan kepalanya, lalu ia mulai bercerita mengenai kelebihan anak sulungnya itu dan cita-citanya menjadi seorang pembalap tingkat dunia.


Pak Marwan dan istrinya tidak dapat menahan kesedihan, dengan suara terbata-bata Pak Marwan meminta maaf kepada keluarga Sukma atas tragedi kecelakaan yang terjadi saat lomba balap motor beberapa bulan yang lalu.


Pak Marwan dengan khusus pula berterima kasih atas kebaikan keluarga Sukma yang telah menarik segala tuntutan hukum terhadap Deni anaknya.


" Saya ucapkan banyak terima kasih kepada bapak dan ibu dan seluruh keluarga yang telah menarik segala tuntutan hukum terhadap anak saya, semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak dan ibu diberi dengan yang lebih baik lagi. "


Bapak Sukma menjawab permohonan maaf itu dengan hati yang ikhlas, ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut apalagi menjadi permusuhan dan dendam keluarga.


Oleh karena itu pembebasan tuntutan diharapkan dapat memberikan tempat yang lapang bagi almarhum Sukma di alam barzah sana.

__ADS_1


Dengan rendah hati Bapak Sukma menjawab, "kami sudah memaafkan dan melupakan semua peristiwa itu, dan kami pun berterima kasih atas semua bantuan yang telah bapak dan ibu berikan kepada keluarga kami. "


.........................


__ADS_2