
" Ada keluarga pasien di sini? "
Tiba-tiba perawat yang menangani korban kecelakaan itu keluar dari kamar ugd rumah sakit "Harapan Bunda" ini.
"Saya pak.. saya,"
Danang langsung berdiri,
"Ee... sebenarnya saya bukan keluarganya, tapi yang membawa korban ke rumah sakit ini, "
Demikian Danang menjelaskan.
"Kalau begitu... apa anda bisa menghubungi keluarganya?"
Lagi-lagi Danang tak bisa menjawab karena ia tak mengenal orang ini.
"Siapa nama anda pak?"
Suster bertanya cepat, karena dari dalam sudah ada yang memanggil.
"Danang.. sus,"
Perawat itu berlalu tanpa merespon balik dengan jawaban Danang.
Namun sebentar kemudian dia datang lagi.
"Ini ada ponsel di bajunya, bisakah kah anda mencari tahu siapa anggota keluarganya? "
"Baiklah,"
Jawab Danang sambil menerima ponsel itu.
"Untung tak dikunci ponsel ini,"
Bisik Danang dalam hati.
Sementara itu Kania dan Lastri hanya memperhatikan Danang dari tempat duduknya yang tidak seberapa jauh, tanpa terlalu ingin tahu keadaan yang sebenarnya.
Danang tidak ingin orang lain mengetahui mengapa ia membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit.
Hal ini menyangkut harga diri ibunya, orang yang ia bawa itu pernah memberinya surat kaleng.
Wajah Danang mendadak berubah agak pucat, ia melihat caption profil ponsel itu ada poto Seshia bersama 2 orang laki-laki yang tidak dikenalnya. Namun sepertinya laki-laki yang satunya adalah korban yang ia bawa ke rumah sakit ini.
__ADS_1
"Kenapa poto Seshia ada di sini? "
Gumamnya perlahan.
............................
Seshia pun memburu Danang, lantas ia bertanya tentang keadaan korban itu.
"Sudah ada anggota keluarganya?"
Perawat bertanya lagi.
Seshia masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana Seshia?"
Danang seketika Bertanya mengenai keadaan korban.
"Pamanku belum sadar, mau di bawa ke ruang ICU."
Seshia menjawab singkat kemudian berlalu mengejar suster yang membawa pamannya itu.
"Paman!!!??"
......................
"Sst.. Kania... Kania.. !"
Lastri memanggil Kania perlahan.
"Masih lama kah ini, udah malam ni.. "
.Lastri sudah bosan rupanya duduk menunggu.
.........................
Mobil pun melaju dengan kencang karena jalanan mulai sepi, tak satu pun kalimat yang keluar dari mulut Danang. Hanya wajah yang berubah menjadi murung.
Lastri dan Kania tidak banyak bertanya, mereka hanya ingin lekas pulang ke rumah dan beristirahat karena jam yang ada di tangan mereka sudah menunjukan saat lebih dari tengah malam.
...........................
"Bu... ,"
__ADS_1
Danang bicara perlahan kepada ibunya, sambil memegang pundak wanita yang sudah mulai menua itu.
Sebenarnya ia tidak tega, untuk bertanya hal-hal yang sebenarnya disembunyikan oleh ibunya itu.
"Apa nak? "
Bu Marwan menjawab sambil memegang belikat yang ingin dipijit anaknya itu. Danang pun menuruti permintaan ibunya.
"Bu... Danang sebelumnya minta maaf ya bu... ,"
Danang memulai pembicaraannya.
"Ibu.. jangan marah ya bu..! "
Danang merasa risih kalau pertanyaannya nanti akan menyakiti hati ibunya.
"Memangnya kamu mau tanya apa? "
Bu Marwan agak heran dan penasaran.
"Gimana ya bu... Danang juga bingung mau tanya apa? "
Beberapa saat kemudian..
Pertanyaaan ini akhirnya terlontar..
Bu Marwan terdiam... tak bicara apa-apa..
"Beri ibu waktu untuk menjelaskan ya nak"
Bu Danang menahan napas.
.....................
"Bu maafkan Danang ya... karena Danang tensi ibu jadi naik,"
Danang menyesal dengan ucapannya.
"Tidak Danang, ibu memang mau menjelaskan tapi belum saatnya, beri ibu waktu."
Danang berharap meskipun ia harus mengambil ikan, namun tak sampai mengeruhkan airnya.
Ia menyadari seperti apa pun sejarah hidup ibunya di masa lalu, ia tetap panutannya, orang yang memberinya kasih sayang sehingga ia dewasa kini.
__ADS_1
kesabaran tak mesti orang tua kepada anak. Namun ada saatnya seorang anak harus bersabar kepada orang tua.