
Semester keempat akhirnya datang juga, tidak terasa Kania sudah satu tahun setengah tinggal di bumi Mesir. Ada perasaan bahagia di hatinya, karena ia akan segera menyelesaikan studinya di Ma'had Darussalam.
Namun sebenarnya ia ada perasaan kecewa yang menyelimuti hatinya, karena selama studi di negeri Nabi Musa AS ini belum pernah sekalipun Danang berhasil menghubunginya.
Kania pun tidak berani untuk mendahului menghubungi orang yang disayanginya itu, selain malu dan menjaga martabatnya sebagai seorang wanita, ia ragu apakah Danang juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
Sebagai wanita yang sudah memiliki ilmu bagaimana caranya menyikapi keadaan, tidak lantas ia menjadi putus asa atau marah, ia akan mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Sang Pencipta Alam semesta, agar hatinya menjadi tenang.
Seperti pada malam ini, ia bangun di sepertiga malam, bersuci dengan mengambil wudhu, kemudian menggelar sajadahnya seraya memanjatkan doa dengan khusyu.
"Yaa Allah segala Puji untukMu, hamba berterima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Ampunilah segala dosa-dosaku serta dosa kedua orang tuaku, sholawat dan salam untuk NabiMu Muhammad SAW, hamba memohon berilah hamba petunjuk jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi."
Kania berhenti sebentar sambil terisak sedih, disebabkan banyaknya nikmat yang telah ia terima serta seringnya lalai dalam melaksanakan ibadah kepadaNya. Kemudian ia melanjutlan doanya dengan lirih.
"Yaa Allah berilah hamba kesuksesan dalam studi hamba di sini, berilah petunjukMu mengenai jodoh hamba, jika ia adalah calon imamku, maka segera dekatkan kepada hamba dan jika ia bukan jodohku maka jauhkanlah. Lindungilah hamba dari fitnah dunia yang akan membawa kehinaan di dunia dan juga di akhirat. Aamiin... "
Seperti janji Allah SWT dalam
Al-quran bahwa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.
Demikianlah yang Kania dapatkan di malam itu, ketenangan jiwa dan keyakinan bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah SWT.
Tidak ada keraguan lagi, Kania yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya.
.............................
Matahari yang cerah menerangi alam di bumi Mesir pagi ini, Kania bersiap pergi ke Ma'hadnya untuk aktivitas rutin yaitu kuliah.
Semester terakhir ini ia harus membuat karya tulis mengenai pendidikan luar sekolah yang ada di kota itu. Untuk bahan penelitian Kania harus melakukan survey terlebih dahulu agar menemukan tempat yang tepat dalam pengambilan data nantinya.
Tempat yang banyak ditemukan pendidikan luar sekolahnya berada sebelah utara kota itu, di sana terdapat lebih dari dua puluh lima yayasan yang bergerak untuk menghidupkan pendidikan masyarakat dengan basis luar sekolah atau bersifat i non formal.
Sebagai survey awal ia harus pergi ke sana, namun kendalanya adalah ia belum pernah pergi ke tempat dengan jarak sejauh itu. Jadi ia harus meminta tolong kepada orang yang terdekat yang menjadi sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Lala.
Lala dan Kania memiliki dosen pembimbing yang berbeda, jadi Lala pun sebenarnya harus melakukan observasi untuk bahan penelitiannya.
__ADS_1
Seperti hari ini, Kania bertanya pada Lala mengenai kesediaannya mengantar ia ke tempat survey itu.
"La, kamu bisa antar aku enggak ke tempat aku mau survey nih? "
Lala yang sedari tadi sedang membaca, menghentikan bacaannya, lalu wajahnya menghadap kepada Kania seraya berkata, " Apa Kania, survey? "
Lala heran dengan pertanyaan sahabatnya itu, awal sekali Kania sudah mengajaknya survei, karena sebelum itu harus ada proposal awal untuk penelitian.
" Kapan buat proposalnya Kania, aku aja belum? "
Kania menjawab dengan santai, "Aku udah lama nyicil, jadi pas pengumuman minggu lalu, langsung menghadap Mudaris buat pembimbingan."
Lala berdecak kagum kepada temannya itu, memang semangatnya lain kalau orang merantau itu. Lala hanya berkomen, "Wiss, mantaap. "
Sembari mengacungkan jempolnya Lala menepuk punggung Kania, lalu berkata lagi, " Tularkan semangatnya kawan! "
Indah sekali persahabatan mereka, tidak ada kata iri dan dengki, malah saling memberi semangat dan bantuan.
Tidak heran jika Lala sangat mengidolakan Kania, dan ingin mempersatukan sepupunya dengan sahabatnya itu.
Mata Kania terbelalak, ia tidak hendak meminta bantuan pada Irfan, malah kalau bisa jangan sampai bertemu lagi.
Harapan Kania adalah Lala yang ngantar dengan menggunakan angkutan umum.
Sebenarnya benar juga kata Lala, jika Irfan yang ngantar akan lebih nyaman karena menggunakan mobil pribadi.
Kania tidak lantas menunjukkan ketidaksetujuannya dengan suatu jawaban, ia hanya terdiam lalu berucap, "Makasih Lala, nanti aku lihat juga ada enggak teman yang pergi ke arah sana. "
Sebenarnya Kania sudah memantapkan diri untuk menjauhi keluarga Umi Sarah, berhubung feelingnya mengatakan Irfan menyukai dirinya. Mungkin ini waktunya untuk bersungguh-sungguh menjauhi keluarga yang telah menolongnya di negeri Mesir ini.
.............................
Sore yang mendung dengan angin yang kencang, menerbangkan debu dan segala benda yang dijemur di depan rumah.
Kania berlari keluar membantu Bik Minah mengangkat jemuran baju, namun hujan tak bisa diajak kompromi. Air berkah pun mengguyur dengan deras sebelum semua jemuran dapat diangkat semua.
__ADS_1
Bik Minah tergopoh-gopoh mengambil baju yang letaknya agak sulit diambil, beruntung Kania mau membantu. Namun akhirnya mereka berdua berhasil mengangkat semua baju dan barang lain yang dijemur.
"kikkikikik.... "
Suara tawa menghiasi ruangan dapur, Bik Minah dan Kania terkekeh karena bajunya basah kehujanan. Mereka saling menertawakan satu dengan lainnya.
"Kania, minum teh hangat tuh, udah bibik buatkan! "
Bik Minah dengan ramah menyuruh Kania minum teh yang baru saja dibuatnya.
Akhirnya mereka berdua duduk di belakang teras dapur, sambil minum teh hangat dan biskuit khas mesir yang baru saja dibeli Kania kemarin sore.
Kania memulai pembicaraan dengan mengagumi teh buatan Bik Minah, kemudian melanjutkan perkataannya dengan bertanya sesuatu.
"Bik, sudah pernah belum pergi ke kota Tsur yang banyak menghasilkan buah-buahan itu?"
Bik Minah langsung menjawab dengan mantap, "Pernah lah, sebelah utara dari sini Kania, " Bik Minah memang tahu kota itu.
" Bik, dari sini naik apa ya?"
Memang benar Bik Minah tahu persis untuk pergi ke sana. Ia memberi tahu Kania rute untuk menuju ke tempat itu.
Kania sangat senang sekali dengan keterangan dari Bik Minah, ia tinggal mencari teman seangkatannya untuk pergi bersama-sama.
"Makasih ya bik infonya, aku masuk kamar dulu, mau bersihkan badanku. "
Kemudian Kania pun berlalu meninggalkan Bik Minah yang sedang menjemur pakaian di sekitar teras belakang dapur. Sedangkan hujan saat itu masih belum berhenti.
Sementara Kania sedang berada di kamar mandi, ponselnya berderimg namun ia tidak mendengarnya.
Setelah semuanya selesai, Kania pun dengan santai duduk di meja belajarnya untuk murojaa'h muhawaroh dan pelajaran lain yang akan diujikan secara lisan besok.
Matanya tidak sengaja melihat notifokasi telpon, ada yang menghubunginya beberapa menit yang lalu.
"MasyaAllah, " Kania terkejut rupanya Umi Sarah sudah menelponnya beberapa kali.
__ADS_1
.............................