Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Gagal Panen


__ADS_3

Bisnis pertanian sayur mayur Pak Marwan boleh dibilang terbesar di Desa Ratapan ini. Bagaimana tidak, jika dilihat dari luas tanahnya saja milik Pak Marwan inilah yang paling luas.


Buruhnya saja mencapai lebih dari 100 orang termasuk Pak Salim ayah Kania. Belum lagi ditambah bagian administrasi.


Karena banyaknya buruh atau pegawai Pak Marwan terkadang menimbulkan banyak masalah yang menyangkut ketidakpuasan gaji dan kesejahteraan lainnya. Ditambah lagi sikap Deni anak sulungnya yang buruk. Tak heran ada saja buruh yang protes atau melawan.


Masalah kali ini lebih hebat dibandingkan beberapa waktu lalu. Tanaman yang siap panen habis, semuanya jadi layu padahal sehari sebelumnya masih segar tetapi menunggu keesokan harinya baru dipanen.


Semua buruh yang akan memanen sayuran tersebut gempar melihat tanamannya layu. Mereka melaporkan langsung kepada Danang yang sedang berada di kantor.


"Maaf pak ada buruh ingin bertemu dengan bapak,"


saat itu Danang sedang berbincang dengan tamunya.


Pertama ia ingin marah atau meninggikan suara tapi setelah melihat ke arah yang berbicara ternyata Kania.


Hati Danang pun berdegup seperti ada darah yang mengalir tiba-tiba dari kepala ke jantungnya.


Antara gugup dan bahagia ia mempersilahkan Kania untuk memanggil buruh yang ingin berbicara padanya.


"Maaf pak.. anu... maaf pak anu...,"


Danang melerai gugup buruh tersebut.

__ADS_1


"Tenang pak tenang... !"


Setelah tenang buruh tersebut memberitahukan bahwa sayuran yang akan dipanen semuanya rusak dan tak bersisa.


Danang langsung menuju lokasi dan Kania pun ikut serta.


Tidak karuan juga ikut pak bos pikir Kania, maklum ia memiliki hati pada Danang.


Dan hal itu ditutupnya rapat-rapat supaya Danang tidak mengetahuinya


Begitulah sifat Kania masih memiliki rasa malu jika diketahui isi hatinya. Sifat yang mulia yang harus dimiliki oleh seorang wanita.


.......................


" Ini pak hpnya."


Ternyata yang memoto adalah salah satu buruh yang ada di situ.


"Makasih ya Kin. "


Nama buruh itu Ikin.


Kali ini Danang terlihat cemas dan serius, dia menuju ke kantor dan ada beberapa hal yang akan dikerjakannya.

__ADS_1


Kania cemas karena gerakan badan Danang menuju ke kantor sangat cepat dan terburu-buru.


Akhirnya Kania tahu Danang akan melaporkan kejadian ini kepada Pak Marwan.


Tak lama kemudian Pak Marwan datang. Dia sangat terkejut dan terpukul dengan kejadian ini. Baru saja Deni masuk rumah sakit dan akan dioperasi kali ini ditambah lagi dengan gagal panen.


Pak Marwan tidak bisa menguasai diri dan akhirnya pingsan.


Kehebohan pun terjadi lagi.


Beberapa buruh mengangkat badan Pak Marwan lalu dinaikkan ke dalam mobil untuk dibawa pulang ke rumah.


Istri Pak Marwan terkejut melihat suaminya pulang dengan kondisi pingsan. Danang Berusaha menyadarkan bapaknya dan perlahan Pak Marwan pun tersadar.


"Aku dimana...?, kepalaku pusing."


Ketika kesadarannya mulai berangsur pulih dia pun mulai termenung dan memikirkan nasibnya.


"Kenapa ada saja kejadian buruk bu..


apa salah kita ..?


Meskipun Pak Marwan laki-laki kalah juga dengan keadaan. Suami istri itu lalu menangis. Kania yang ada di samping istri Pak Marwan melerai tangisnya dengan megusapkan tangannya yang lembut ke punggung istri pak Marwan.

__ADS_1


Danang hanya melihat dengan perasaan yang campur aduk antara marah, sedih, bahagia atau apalah. Ia pun tidak mengerti.


__ADS_2