
Hari itu Kania tidak pergi ke pondok Daarul Huda, karena sudah meminta ijin kepada Abuya Husni dan Umi Dzakiyah untuk membantu abahnya pergi ke kota membeli barang-barang dagangan mengisi warungnya yang mulai kehabisan stok.
"Neng, ini catatan belanjaan yang harus kita beli."
Kata abah Kania, sambil mengulurkan tangannya memberikan kertas catatan belanjaan.
"Iya bah."
Kania menjawab singkat sambil memasukkan kaos kaki warna coklat berajut kesayangannya.
" Sudah lengkap semua bah? "
Kania memastikan tidak ada stok warung yang tidak terbeli, karena bulan lalu masih ada barang-barang yang lupa dicatat, akhirnya para pelanggan lari ke warung yang lain.
"Sudah semua, "
Kata abah, yakin dengan catatan yang dibuatnya.
........................
Kania memarkirkan mobil yang dibawanya di sela-sela mobil yang lain, agen tempat ia akan membeli barang-barang ini memang tempat parkirnya tidak luas, jadi harus hati-hati memarkirkannya.
Abah sudah duluan turun, ia menunggu putrinya memarkir mobil.
Suasana dalam toko agen ini ramai sekali, harus pandai -pandai mencari perhatian pelayan supaya bisa didahulukan.
Tiba-tiba, ponsel Kania berdering..
"Ooh...Abuya, "
Bisik Kania dalam hati.
"Iya.. Abuya... selepas belanja saya pergi ke pondok. "
Itu saja yang terdengar, Abuya Husni meminta Kania datang ke pondoknya selepas selesai membantu abah.
........................
"Pergilah, belanjaan pun sudah lengkap, nanti abah yang bereskan."
Demikian kata abah Kania ketika Kania meminta ijin untuk pergi ke pondok Daaru Huda.
__ADS_1
..........................
Suasan pondok sepi, tidak ada santri putra atau santri putri di luar asrama karena mereka sedang belajar.
Kania langsung masuk ke rumah Abuya Husni.
"Assalaamua'laikum.. !"
Dari dalam terdengar suara seorang wanita, ternyata Umi Dzakiyah sudah menunggu sedari tadi.
...........................
"Begitu...Kania, kesempatan ini tidak datang dua kali, jadi Umi sama Abuya berharap kamu menerima tantangan ini untuk pergi belajar di pondok Syekh Husein yang ada di Mesir, supaya bahasa arab kamu lebih mahir dan ilmu yang yang lain menjadi lebih mantap dan mendalam"
Kania termenung sebentar, sebenarnya ia kaget dan senang, tapi banyak yang dipikirnya termasuk emak dan abahnya.
"Umi... saya sangat senang dengan kesempatan ini, tapi saya akan ijin dulu dengan emak sama abah. "
Itulah yang Kania ucapkan ketika mendengar berita yang baik ini.
"Baiklah kalau begitu, Umi tunggu tiga hari, jangan lama-lama, supaya dapat ditawarkan ke orang lain jika kamu tidak bisa. "
............................
Warung abah sedang ramai oleh pembeli, Kania langsung membantu abahnya ketika baru datang dari pondok Daaru Huda.
Anak-anak sangat senang dengan jajanan yang baru dibeli Kania dan abah tadi pagi di agen langganannya di kota.
Setelah sepi Kania memburu ke dapur untuk membantu emaknya yang sedang memasak hidangan makan siang.
"Masak apa mak hari ini?"
Emak menoleh ke belakang, suara yang tidak asing didengarnya, yaitu putri semata wayang kesayangannya.
" Ini tumis oncom kesukaan kamu, he-he-he, "
Emak menjawab dibarengi derai tawa karena makanan ini selalu hadir di meja makan, sebagai pelengkap sedap-sedapan ketika makan.
"Hmmm.. nyamaan... ."
Kania mencium aroma tumis oncom tersebut, dan memang mengundang selera untuk makan.
__ADS_1
"Mau makan dulu atau cuci piring dulu?"
Emak menawarkan pekerjaan pada putrinya.
"Kayaknya Kania makan dulu ya mak udah lapar nih. "
Emak mengangguk tanda setuju.
........................
Makan siang yang nikmat sudah tersaji ada tumis kangking, tumis oncom, sambal terasi, goreng tempe dan kerupuk. Nasi yang masih panas menambah selera untuk makan.
"Alhamdulillah hari ini lancar,"
Abah berkata sambil mengambil nasi.
"Lengkap semua bah barangnya? "
"Alhamdulillah lengkap, tidak ada yang ketinggalan langsung di serbu anak-anak. "
Emak manggut-manggut sambil tersenyum bahagia.
............................
Suara piring yang dicuci Kania terdengar sampai ke teras belakang, sepertinya ia ingin mencuci dengan cepat.
Abahnya sampai khawatir ada barang yang pecah.
"Pelab-pelanlah mencucinya, jangan terburu-buru! "
Kepala abah nongol dari pintu belakang, melihat anaknya yang bekerja seperti orang yang dikejar sesuatu.
"Kania ingin cepat-cepat bah, mau cari syarat-syarat. "
Abah kaget, lalu bertanya lagi
"Syarat-syarat apa? "
Tanya abah.
Ternyata Kania belum membicarakan perihal penawaran Umi Dzakiyah tentang pergi belajar ke Mesir tadi siang, karena terlanjur sibuk membantu abah dan emak.
__ADS_1