
Perpisahan bu Marwan dengan mantan suaminya Feri, membawa luka dalam hatinya yang tidak bisa dilupakan.
Kesetiaan yang dijanjikan oleh Feri semasa pacaran dulu, hanyalah omong kosong belaka.
Setelah pertengkaran mereka yang terakhir dan berujung di meja pengadilan untuk perceraian, ternyata Feri pulang ke rumah orang tuanya.
Demikian juga bu Marwan pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa Deni yang masih kecil.
Dia ingat percakapan mereka yang romantis ketika belum ada ikatan pernikahan.
"Mega, aku ingin memiliki anak dari kamu, "
Begitu kata Feri sambil memegang tangan kekasihnya.
Dunia terasa indah jika belum syah sebagai suami istri.
Lain halnya ketika mereka sudah menikah, kepedulian Feri terhadap istrinya semakin berkurang. Apalagi pergaulan Feri adalah orang-orang yang suka mengadakan balap motor liar.
Begitulah bu Marwan dulu juga bertemu dengan mantan suaminya itu ketika menonton balap motor liar yang ada di kota tersebut.
"Aduuh... sakit sekali..kepala ibu nih,"
Sambil memegang kepalanya bu Marwan bermaksud bangun dari tempat tidur.
" Bu... ibu kenapa?"
"ibu sakit ya...? "
Deni bertanya kepada ibunya.
Bu Marwan belum bisa menjawab. Ia hanya terdiam dan menunjuk ke air minum yang ada di meja.
"Ibu mau minum? "
__ADS_1
Tanya Deni, bu Marwan mengangguk.
Pintu kamar terbuka, ternyata Danang yang datang. Ia datang dengan Kania dan Lastri.
Mereka mendengar kalau bu Marwan pingsan dari Ujang yang menelpon Danang.
" Bu... sudah enakan? "
Tanya Kania, sambil menyentuh kaki bu Marwan.
Bu Marwan mengangguk.
Suasana pun hening dan tak ada yang bersuara, hanya bisikan hati mereka yang berkata tanpa ada yang mengetahui kalimatnya, yang jelas banyak pertanyaan dalam benak mereka tentang mengapa bu Marwan pingsan lagi.
.............................
" Bu... aku mau bicara bu... ,"
Deni mendesak ibunya agar mau mendengarkan ucapannya.
Kata bu Marwan kepada anaknya itu, sambil berlalu dari hadapannya.
Sepertinya ia ingin menghindar dari percakapan dengan anaknya ini.
"Kenapa ibu tidak mau mendengarkan bu , "
Deni mulai bertanya agak mendetil.
" Bukan begitu... karena ibu masih kurang sehat nak! "
Bu Marwan memberi alasan.
"Sepertinya ibu tidak mau mendengar ucapanku bu, apalagi tentang
__ADS_1
Seshia ? "
Deni mulai menyelidik sikap ibunya.
"Nanti kalau ibu sudah siap, ibu akan bicara sama kamu, sekarang kasih waktu ibu untuk beristirahat."
" Ayo kak!!, sama2 ke kantor! "
Danang mengajak kakaknya berangkat sama-sama ke kantor siang itu selepas mereka istirahat siang.
.........................
Sore itu Danang pergi ke kota kecamatan.
Yang membersamainya adalah Kania dan Lastri.
Hati Kania deg.. deg.. plas juga berada dalam suatu kesempatan seperti ini.
Namun ia tetap memiliki prinsip yang teguh untuk menjaga sikap agar tidak terlihat oleh temannya Lastri bahwa ia sangat menyukai bosnya itu.
Demikian juga dengan Danang, ia tidak ingin mencari kesempatan untuk menunjukkan perasaannya kepada Kania.
Danang memiliki prinsip bahwa kalau jodoh pasti Kania akan menjadi miliknya.
Suasana dalam mobil yang disetir sendiri oleh Danang pun senyap dari obrolan ketiganya, hanya suara lagu yang terdengar dari cd yang ada dari mobil itu.
..........................
Tiba-tiba mobil ini melambatkan jalannya, ternyata di depan ada kecelakaan antara motor dan mobil.
Sepintas Danang melihat yang tergeletak itu seperti orang yang pernah dikenalnya.
Akhirnya Danang menghentikan mobilnya, korban yang tergeletak itu dibawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Rencana mencari pupuk anorganik sore itu terkendala dengan peristiwa ini.