Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Harapan di Cash Flow


__ADS_3

Usaha pertanian Pak Marwan semakin berkembang, harus menambah karyawan untuk meningkatkan kualitas perusahaannya. Terlebih pada bagian administrasi, harus ada penambahan personil.


Pada musim panen seperti ini diperlukan adanya manajemen yang mengatur berapa banyak sayur yang di panen, jenis sayurnya apa saja dan di distribusikan kemana saja.


Pak Marwan memerlukan seseorang yang bisa mengoperasionalkan komputer terutama program exel.


Sebelum ia menawarkan kepada orang lain, yang pertama ditawari untuk pekerjaan ini adalah Pak Salim.


Kebetulan Kania sudah mahir menjalankan komputer program exel, karena ekstrakurikulernya sewaktu di pondok pesantren adalah komputer.


...........


Hari pertama Kania bekerja


Sebenarnya Kania tidak sepenuh hati bekerja di kebun Pak Marwan ini, meskipun pekerjaannya bagian administrasi. Karena ia sangat berat sekali meninggalkan ibunya. Namun Abahnya mendorongnya untuk bekerja agar tidak suntuk di rumah dan ada pergaulan katanya


Duduk di depan komputer dan laporan dari bagian penimbangan dan penjualan pun sudah menunggunya.


Mulailah ia mengerjakannya satu per satu dengan teliti. Perhatiannya tertuju kepada laporan tersebut. Hingga ia tak mendengar ada suara orang yang memanggilnya.


"Kania, Kania... !"


Kania terkejut,


"Iya apa?"


Ia tergagap sambil melihat ke arah suara, ternyata teman satu ruangan.


Setelah mereka saling pandang, Kania berseru dengan suara kecil.


"Lastri... Lastri.. ya...."

__ADS_1


Lastri menjawab,


" Iya.. aku Lastri".


Lastri adalah teman sd Kania, setelah lulus mereka pun berpisah. Saat ini mereka dipertemukan kembali dalam satu ruangan sebagai pegawai bagian administrasi perusahaan pertanian sayuran Pak Marwan.


"Kania, Alhamdulillah kita bertemu lagi, apa kabar kamu?"


"Aku baik-baik saja, dan kamu bagaimana..? "


Lastri pun menjawab bahagia sambil memeluk Kania.


"Aku udah curiga Kania mana yang suka disebut-sebut sama Pak Danang, ternyata memang kamu."


Deg, jantung Kania berdetak agak menghentak karena bahagia, kaget dan tidak percaya.


"Masa sih.. begitu?"


"Iya....apalagi setelah acara maulud dua minggu yang lalu, kayaknya nama kamu sedang mampir di hati Pak Danang."


" Enggak mungkin... aku enggak percaya, aku aja belum lama kenal dengan dia."


Kania pura-pura menyangkal padahal hatinya senang.


"Idih dia... sejak kapan Pak Danang jadi dia buat kamu,"


Kata Lastri mengejek temannya itu.


Kania menutup mulutnya sambil tertawa kecil.


" Maksudku beliau.. he... he... he."

__ADS_1


"Orangnya lagi tugas keluar kota, pelatihan manajemen perusahaan."


Lastri menjelaskan,


"Dua hari lagi Pak Danang datang, pasti dia senang melihat kamu bekerja di sini."


Hari itu Kania banyak belajar dari Lastri tentang pekerjaan barunya itu. Hari pun mulai beranjak petang. Waktunya istirahat pulang.


....


sementara itu di rumah Pak Marwan


Kondisi Deni semakin membaik, luka di wajahnya sudah mulai hilang.


Namun Pak Marwan dan Istrinya mengkhawatirkan sesuatu pada diri Deni, yaitu akhir-akhir ini semenjak kejadian itu, sikap Deni tidak seperti dulu sebelumnya, kasar, serakah dan terburu-buru. Bukan senang melihat anak sulungnya lebih pendiam, malah khawatir dan sedih.


Deni itu sering terlihat murung dan menyendiri. Seperti tidak memiliki gairah lagi untuk hidup.


Oleh karena itulah Pak Marwan dan Istrinya akan membawa Deni ke rumah sakit yang ada di Kabupaten.


"Senin depan bisa ya pak, bawa Deni ke rumah sakit."


Tanya istri Pak Marwan. Pak Marwan pun menganggukkan kepala tanda setuju.


.....


Dengan langkah yang terburu-buru, Ujang memberi tahu kabar yang mengagetkan.


"Pak.. Pak Marwan... Deni hilang enggak ada di kamarnya."


Pak Marwan pun bangun dari kursinya langsung berlari ke kamar anaknya itu. Ternyata memang benar Deni tidak ada di sana.

__ADS_1


Seisi rumah mencari Deni, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari keluar.


__ADS_2