Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Semua Bermula dari Keluarga


__ADS_3

Kania langsung ke ruangan dimana sudah banyak santriwati yang berusaha menenangkan seorang gadis yang sedang berjuang mendapatkan udara untuk bernapas.


Semua berusaha untuk membantu menenagkan nya bahkan menyembuhkannnya, namun sayang semua usaha mereka tidak membuahkan hasil, malah sesak napas yang diderita oleh gadis itu bertambah parah karena banyaknya orang yang ada dalam ruangan itu.


Tak berapa lama Umi Dzakiyah datang, beliau membaringkan gadis itu seraya memberikan kata-kata yang lembut untuk menenangkannya.


Kania berusaha untuk membantu gadis itu dengan memijit kaki dan tangannya, tidak lama kemudian datanglah seorang santriwati lain membawa air hangat. Gadis itu pun berusaha untuk meminum air tersebut namun tak bisa banyak karena kondisi pernapasannya masih belum stabil.


Sesaat kemudian gadis itu pun menjadi agak tenang, walaupun napasnya belum begitu lega.


Kemudian Umi Dzakiyah meninggalkan gadis itu dengan Kania dan beberapa orang santriwati.


"Sudah agak enakan napasnya? "


Kania bertanya perlahan dengan suara yang lembut.


" Iya kak, sudah lumayan enak,"


Gadis itu menjawab dengan pelan disertai anggukan kepala.


Tidak banyak yang ditanyakan Kania, karena kondisi gadis itu belum stabil, namun Kania bersyukur karena kondisinya sudah agak tenang, tidak seperti pertama kali ia menemuinya.


Akhirnya gadis itu dibawa ke ruang perawatan yang letaknya dekat dengan kamar pengurus pondok, maksudnya agar mudah dalam melakukan perawatan.


Seminggu kemudian...


Jumat ini Kania tidak piket di ruang resepsionis, ia diminta oleh Abuya Husni dan Umi Dzakiyah melakukan peninjauan terhadap para santriwati yang sedang sakit.

__ADS_1


Ketika Kania masuk ke ruangan isolasi pondok ternyata gadis yang minggu lalu sesak napas itu tidak ada, ia penasaran ada dimanakah gadis tersebut?


Setelah tugasnya selesai melihat santriwati yang dirawat, Kania pergi ke luar untuk mencari gadis itu, ternyata ia sedang makan bersama dengan teman-temannya.


Alangkah bahagia hati Kania, karena gadis itu sudah pulih dan ceria bersama dengan teman-temannya.


"Mamahnya datang ya? "


Kania bertanya kepada gadis itu, dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Ia mengira orang tua gadis itu datang dan membawa makanan yang banyak sehingga dapat mengajak teman-temannya makan bersama.


Namun apa yang terjadi, pertanyaannya malah membuat gadis itu menjadi murung, wajahnya berubah tidak bersemangat.


Kania pun kaget, lalu ia meminta maaf lalu berkata,


" maaf ya dek, kalau pertanyaan kaka membuat kamu sedih, "


Namun tak disangka gadis itu mau berbicara kepadanya.


"Enggak kok kak, enggak apa-apa, memang orang tua saya enggak datang."


"Ooh, ya sudah mungkin mereka sedang sibuk, yang penting kamu fokus aja ya.. belajarnya, supaya sukses."


Gadis itu malah melanjutkan pembicaraannya dan meminta Kania menemaninya duduk di teras asrama.


Kania pun bersedia, namun selama ini ia belum mengetahui siapa nama gadis itu.


"Nama adek siapa? "

__ADS_1


Seketika Kania bertanya karena ia hanya mengenal wajah saja.


"Rina kak, "


Jawab gadis itu cepat.


"Ooh... Rina ya, kalau kaka Kania,"


Kania pun mengenalkan dirinya.


Perbincangan pun berjalan menjadi lebih serius.


"Kak, boleh enggak Rina bertanya sama kaka? "


Gadis itu langsung saja merasa dekat dan ingin mengajukan pertanyaan.


"Boleh lah, masa enggak boleh, memangnya Rina mau nanya apa? "


Kania dengan senang hati merespon gadis itu, tampaknya ada sesuatu yang ingin ia bagikan kepada Kania agar segala beban pikirannya menjadi ringan.


"Begini kak, tapi kaka janji ya enggak dikabarkan ke yang lain! "


Gadis itu memberi syarat.


Ketika gadis itu mulai berbicara tiba-tiba ada seorang santriwati datang menemui Kania.


"Kak, dipanggil sama Umi! "

__ADS_1


Kania pun dengan berat hati meninggalkan gadis itu. Tapi ia berjanji akan mendengarkan kisah gadis itu di lain waktu.


__ADS_2