Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Hadiah Tanda Cinta


__ADS_3

Irfan baru keluar dari kamarnya, ia sudah bersiap untuk aktifitas kesukaannya, yaitu memanah.


Kegiatan memanah biasanya dilakukan dengan komunitasnya yang ada di kota itu.


" Mi, Irfan berangkat dulu ya, mumpung masih ada dua hari di rumah. "


Sambil mencium tangan Uminya Irfan keluar lewat jalan belakang, ia harus mengambil perlengkapannya yang ada di garasi mobil.


"tunggu-tunggu, kata kamu sisa dua hari? "


Umi Sarah bertanya, seolah belum paham bahwa anaknya sudah hampir pulang ke Amerika.


"Iya mi, siapkan bekalnya ya mi! "


Irfan pun berlalu dari hadapan Uminya, bicaranya cepat karena sudah di tunggu teman komunitasnya di luar.


..................


"Umi mau chec up kesehatan Abi besok, jadi kemungkinan mempersiapkan bekal untuk di bawa ke Amerika enggak bisa janji, gimana fan? "


Umi Sarah bertanya kepada anaknya, yang sedang melahap makanan.


"Terserah Umi sajalah, kalau sempat, kalau enggak pun enggak apa-apa, di sana banyak makanan."


Umi Sarah mengernyitkan keningnya, seperti memiliki ide.


"Ahaa... bagaimana kalau kita minta tolong Kania mempersiapkan bahan-bahannya, pasti dia bersedia."


Irfan senang mendengar bakal ada Kania lagi di rumah ini.


"Mungkin dia sibuk kuliah."


Kata-kata Irfan menahan ide Uminya hanyalah pura-pura saja, padahal ia sangat senang sekali.


"Kita pastikan dulu, "


Umi Sarah langsung menyalib ucapan anaknya.


....................


Minggu yang cerah, mentari menepati janjinya di bumi sungai nil ini, Kania baru bangun dari tidurnya yang kedua setelah melaksanakan sholat subuh.


Kania menikmati hari minggu ini dengan tidur sampai siang, mengganti enam hari yang sibuk.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, diambilnya benda itu karena dekat dengan tangannya.


Suara yang tidak asing lagi dalam sebulan ini, yaitu Umi Sarah.


Kania sangat sungkan dengan ibu yang satu ini, karena sejak ia menginjakkan kakinya di kota Mesir, Umi Sarah itulah yang menolongnya, mulai dari menyiapkan jemputan, mencari tempat kos dan keperluan lainnya.


Oleh karena itu Kania selalu bersedia memberi bantuan apa pun jika Umi Sarah memerlukan pertolongannya, termasuk hari ini Umi Sarah memintanya untuk ditemani belanja bahan-bahan yang akan dimasak sebagai bekal Irfan berangkat ke Amerika.


.....................


"Ini daging yang Umi cari Kania, bagus untuk dibuat rendang. "


Kania ikut memilihkan daging itu dan menunjukkannya kepada Umi Sarah.


"Iya itu, itu bagus, bisa itu, "


Umi Sarah menganggukan kepalanya, Kania menyusun daging itu ke atas keranjang dorong yang dibawanya.

__ADS_1


"Kalau di sini, jarang sekali Umi menumbuk rempah, sudah ada bumbu jadi, "


Umi Sarah menjelaskan kebiasaannya, sambil memilih bumbu yang diperlukan untuk memasak rendang daging.


"Enggak basi mi, sampai Amerika? "


Kania agak ragu dengan keputusan Umi Sarah membekali Irfan rendang daging.


"Dibuat rendang kering, maksudnya sampai kering gitu, enggak kok, enggak akan basi."


Sedikit banyaknya Kania sudah tahu, kalau Irfan sangat menyukai rendang daging. Tapi bukan untuk harapan masa depan, sekedar tahu saja. Dalam hati Kania hanya ada satu nama yaitu Danang.


.................


"Assalamualaikum... !!!"


Dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan tapi bukan suara Umi Sarah, Kania sudah hapal kalau suara Umi Sarah.


"Waa'laikum Salam... ."


Ketika pintu terbuka, Kania kaget, karena yang membuka pintu adalah seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.


"Lalaaaa... !!!"


"Kaniaaaa... !!!"


Keduanya sama-sama merasa suprise.


"Kenapa kamu ada di sini?"


Kata Kania kepada Lala, lalu Lala pun bertanya,


"Kamu kenapa ke sini?"


Setelah itu mereka berbincang, rupanya, ayah Lala dan Abinya Irfan dua beradik, sedangkan Umi mereka sama-sama berasal dari Indonesia.


Kania baru paham, kalau begitu pantas Lala ada di rumah Umi Sarah.


.................


Sambil mengiris daging yang sudah dibeli kemarin Minggu bersama Umi Sarah, Lala berbisik kepada Kania.


"Kania... Kania...! "


Kania agak terperanjat dari lamunannya sambil fokus mengiris daging.


"Apa...? "


Lala melanjutkan perkataannya,


"Ada yang kirim salam sama kamu."


Kania sepertinya kurang fokus dengan ucapan Lala, lalu ia bertanya lagi,


"Apa? "


Lala mendekat ke arah Kania dan mendekatkan mulutnya dengan telinga Kania.


"Ada yang titip salam."


Kania heran juga, ucapan salam kok dititip-titip.

__ADS_1


Saat itu Irfan lewat di hadapan mereka berdua, wajah Lala agak dinaikkan sedang mulutnya mengarah ke Irfan.


"Iih.....apa sih, dari kemarin aja ketemu, masa kirim salam."


Kania tidak percaya kalau Irfan mengirim salam untuknya, karena ia tidak memiliki harapan apa-apa kepada Irfan.


"Kania... Irfan suka sama kamu, kamu mau ya... nanti kita bisa jadi saudara!"


Lala membujuk Kania, yang dibujuk hanya tersenyum tidak tahu harus menjawab apa.


Kania menjadi bingung, orang yang diharapkannya malah tidak ada aksi apa-apa, sedangkan yang tidak diharapkan malah banyak aksinya.


..........................


Hari keberangkatan Irfan ke Amerika sudah pasti, yaitu hari selasa besok.


Kania diajak Lala dan Umi Sarah untuk mengantarkan sampai bandara. Kania menolak, dengan alasan banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan.


Kania lebih memilih pergi ke perpustakaan, dan lagi ia sudah mengetahui jika Irfan menyukainya. Ia membayangkan alangkah tidak nyamannya berada di dekat orang yang dianggapnya biasa, tetapi orang tersebut menganggap dirinya sebagai kekasih.


Tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya, ternyata Lala.


"Hai, kok cepat sudah datang lagi? "


Lala menjawab pertanyaan Kania sambil menggeser kursi.


"Penerbangan pagi, 06.30 sudah take off. "


Lala pun bermaksud untuk duduk dan membaca buku, nampak dari setumpuk buku yang sudah diambilnya.


Kemudian Lala membuka resleting tasnya, ia mengeluarkan sebuah benda kotak bersampul.


"Nih..... hadiah.. !!!"


Kania melirik tidak memberi respon.


"Dari siapa?"


Lala terkekeh, lalu bicara, "Masa enggak tahu dari siapa? "


Dengan polos Kania menjawab, " Aku memang enggak tahu dan enggak ada gambaran siapa yang ngasih hadiah."


Lala langsung menyambung dengan lantang, "Irfan lah.... "


Kaget juga Kania dibuatnya, untuk apa Irfan kasih dirinya hadiah.


.................


Waktunya istirahat enaknya ada di dalam kamar ditemani buku kesukaan dan makanan camilan, diiringi musik melo kesukaannya Kania menikmati istirahat di tempat favoritnya ini.


penasaran dengan hadiah yang diterimanya tadi siang, Kania membuka hadiah itu.


Unboxing hadiah, berdebar juga hatinnya.


"MasyaAllah...ternyata sebuah buku. "


Kania tidak sadar sampai berucap, yang lebih mencengangkan warnanya pink, penulisnya best seller, judulnya,


" Menjadi Wanita Paling Bahagia "


Kania sebenarnya terharu, tapi ia masih sangsi apakah pantas ia terharu. Karena menurutnya, air mata kebahagiaan itu hanya akan ia peruntukkan kepada kekasih harapannya yaitu Danang.

__ADS_1


"Kak Danang, cobalah kakak yang kasih buku ini, pasti aku akan senang sekali. "


.......


__ADS_2