Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Mengobati Rindu


__ADS_3

Pagi yang cerah di hari minggu, mengusik panghuninya untuk bangun lebih awal, olah raga atau pun mengurus tanaman sangat cocok sebagai pengisi waktu.


Demikian juga dengan Danang, ia tidak ingin melewatkan hari minggu ini dengan bermalas-malasan. Setelah membuat kopi kesukaannya sendiri tanpa bantuan bik Eroh, ia langsung ke teras belakang untuk menyiram tanaman.


Keterampilan tangannya dalam merawat tanaman diakui oleh ibu dan bapaknya, mereka sangat mengandalkan tangan dingin Danang dalam memelihara tanaman yang ada di rumah itu.


"Nang, anggrek yang berwarna ungu sudah keluar bunganya ya? "


Bu Marwan bertanya pada anaknya yang sedang asik menyiram dan menyiangi daun-daun yang sudah menguning.


" Iya bu, semenjak dikasih obat perangsang pertumbuhan, bunganya mulai keluar, " Danang menjelaskan, kemudian ia beranjak dari tempat menyiram tanaman yang lain ke area tanaman anggrek.


"Wuih... Alhamdulillah bu... banyak bunganya, " Danang sangat senang sekali, terlihat dari wajahnya yang sumringah.


Bu Marwan sangat beruntung memiliki anak seperti Danang, meskipun laki-laki tapi pandai dalam menanam dan merawat tanaman.


Tidak heran jika rumah bu Marwan terlihat asri dan segar.


Kemampuan Danang ini berawal dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian.


Tiba - tiba ada yang masuk ke teras belakang. ternyata Ujang. Biasanya hari minggu ujang masuk kerja setelah dzuhur, Pak Marwan memberi keringanan kepada pembantunya itu, agar bisa menikmati hari libur bersama keluarganya.


Berbeda dengan hari minggu ini, Ujang datang cepat sekitar jam 08.00.


"Gimana den, jadi enggak? "


Danang membalikkan badannya, lalu menjawab, "jadilah, sudah siapkah? "


Dengan mantap Ujang menjawab, "ini sudah rapih. "


Bu Marwan yang sedang berada di situ merasa tidak diajak dalam rencana anaknya dan Ujang, lalu ia bertanya, " mau kemana nih, kok ibu enggak tahu? "


Yang menjawab malah Ujang, " ini


mau datang ke calon mertua bu. "


Seketika Danang membentak Ujang, "husss..., sembarangan! "


Bu Marwan malah terkekeh, " bener Nang? ibu sih setuju aja... yang penting kamu bahagia. "


Danang pura-pura tidak mendengar, ia membereskan perlengkapan perawatan tanamannya.


........................


"Jang, kita ke super market dulu yah!"


Danang membelokkan mobilnya di sebuah super market, ia langsung turun dan memburu ke dalam dan Ujang juga ikut masuk ke dalam super market itu.

__ADS_1


"Ambil Jang!, kue untuk anak-anak di rumah, aku traktir, " Ujang pun sangat senang, ia langsung mengambil beberapa kue untuk anak-anaknya.


"Banyak pak beli kuenya, untuk siapa saja kue ini? " tanya Ujang berdecak keheranan.


"Adalah Jang nanti yang makan," itu jawaban Danang kepada Ujang.


.......................


Setelah melewati rute jalan yang sudah dikenalnya, akhirnya sampailah Danang di rumah Pak Salim abah Kania.


Hati Danang tak karuan, maklum ia mempunyai harapan dengan keluarga ini.


"Assalamualaikum.. "


Tak berapa setelah ucapan salam, terdengarlah suara orang membuka pintu, kebetulan warung Pak Salim saat itu masih tutup. Beruntung tuan rumahnya masih ada di rumah, sebenarnya mereka hendak belanja ke kota untuk mengisi dagangan yang sudah mulai menipis.


"Ooh, silahkan den masuk! " Pak Salim mempersilahkan Danang untuk masuk ke dalam.


Danang dan Ujang tanpa ragu masuk ke ruangan tamu, sebentar kemudian Emak Kania muncul, terlihat berpakaian rapih dan siap pergi keluar rumah, kemudian Danang bertanya,


" nampaknya Bapak sama Ibu mau keluar rumah, kalau begitu kami mengganggu ya? "


Seketika Pak Salim menjawab, "enggak kok, kami cuma mau belanja dagangan warung, nanti siang juga bisa. "


Danang merasa tidak nyaman juga kalau terlalu lama, akhirnya ia mengemukakan maksud kedatangannya ke rumah ini.


Kemudian Danang berkata lagi, " ini juga ada bingkisan untuk santri-santri."


Pak Salim termenung sebentar, lalu berkata, " apa... tidak sebaiknya Aden saja yang menyampaikan ke sana? "


Danang langsung menjawab, "tidak masalah Pak, jika tidak merepotkan saya minta diantar menemui Abuya Husni. "


Pak Salim tidak keberatan dengan permintaan Danang, tetapi ketika mereka berdiri, tiba-tiba Emak Kania datang membawakan minuman.


"Eeh.. mau kemana, minum dulu tehnya? "


Akhirnya mereka duduk kembali untuk meminum sajian teh hangat yang disajiksn oleh Emak Kania.


Suasana pun menjadi santai dan tidak terburu-buru. Sebenarnya Danang ingin berlama-lama di rumah ini, ingin bertanya tentang banyak hal mengenai keadaan Kania di sana, tetapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk itu, selain malu juga Pak Salim belum membuka pembicaraan tentang Kania.


...........................


"Waa'laikum Salaam, silahkan Pak Salim masuk!" Abuya Husni mempersilahkan tamunya masuk.


Ruangan tamu Abuya Husni cukup besar, maklum selain dijadikan ruang tamu juga untuk santri-santri mengaji.


"Ada perihal apa Pak Salim sudi mampir ke pondok kami? "

__ADS_1


Sebelum berbicara Pak Salim membetulkan posisi duduknya dan agak maju ke depan.


" Begini Abuya, saya mengantar saudara saya ini, Pak Danang untuk suatu keperluan, " sambil mengarahkan jempolnya, Pak Salim menganggukkan kepala kepada Abuya Husni.


Abuya Husni tersenyum kemudian berkata dengan resmi, "sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya, jika ada yang ingin disampaikan kami persilahkan."


Danang memulai petmbicaraannya dengan mendehem, ia berpikir apa sekiranya yang akan disampaikan.


"Kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan amanah perusahaan berupa bantuan untuk keperluan para santri, namun jumlahnya memang tidak seberapa, semoga bisa bermanfaat. "


Demikian penuturan Danang, belepotan juga jika berbicara dengan Abuya Husni.


Abuya Husni sangat berterima kasih dengan uluran tangan perusahaan Pak Marwan ini, memang selain makanan yang cukup banyak juga uang tunai yang jumlahnya cukup banyak.


"Mohon doa juga Abuya, mudah-mudahan perusahaan kami lebih berkembang! "


Abuya Husni menganggukkan kepalanya, kemudian ia manggut-manggut. "


"InsyaAllah, perusahaannya lebih berkembang, Aamii..n. "


Tiba-tiba, Abuya Husni membicarakan tentang Kania,


" kemarin saya telponan dengan Kania, ia bertanya sesuatu tentang pelajaran."


Yang antusias untuk mendengar cerita selanjutnya bukan hanya Pak Salim tapi juga Danang, terlihat dari perubahan wajahnya yang lebih cerah.


"Apa kabar anak saya Abuya? "


Kata Pak Salim langsung bertanya.


Hati Danang berharap semoga ada kabar selanjutnya tentang orang yang dikasihinya itu.


"Kania baik-baik di sana, malah ia dapat nilai mumtaz (sangat memuaskan)," Abuya menjelaskan sambil tersenyum bahagia.


Danang bersyukur, Kania lancar dalam studinya, tapi ia masih berharap kabar selanjutnya.


" Umi Sarah sangat senang dengan Kania," Abuya Husni melanjutkan pembicaraannya.


Deg...


Hati Danang agak bergetar dengan kabar ini, siapa itu Umi Sarah, pikirnya, tapi ia menghentikan pemikirannya yang berlebihan.


Namun Abuya Husni masih ada yang ingin dikabarkan lagi mengenai Kania.


"Waktu Umi Sarah telponan dengan saya, ia bercerita Kania sempat membuatkan sayur asem, ha-ha-ha. "


Abuya tertawa menceritakan kabar yang satu ini.

__ADS_1


Kabar yang satu ini nampaknya ancaman buat Danang, ia takut Kania diangkat menantu oleh Umi Sarah.


__ADS_2