
Danang memasukkan mobilnya ke dalam garasi, hari pun sudah beranjak senja.
Hatinya sangat bahagia karena sudah bertemu dengan Abah Kania serta menyampaikan amanah perusahaan ke pondok pesantren Daarul Huda.
Lelahnya terbayar sudah dengan kabar baik dari Abah Kania dan Abuya Husni tentang keadaan kekasih hati yang baik-baik saja bahkan mendapatkan prestasi dalam studinya, meskipun masih ada ganjalan mengenai bahwa Kania disukai oleh Umi Sarah. Ia menganggap ganjalan perasaannya itu, hanyalah karena terlalu berharap yang berlebihan.
"Gimana Nang perjalanannya lancar?"
Pak Marwan bertanya ketika anaknya datang, sedangkan ia berada di ruang keluarga.
"Alhamdulillah pak lancar, Danang ketemu langsung sama Abuya Husni. "
Pak Marwan tersenyum sambil menepuk punggung anaknya ketika Danang mencium tangannya.
"Apa kata Abuya? "
Pak Marwan masih belum puas dengan jawaban Danang.
" Beliau sangat senang pak, bahkan mendoakan perusahaan kita supaya lebih maju, " Danang menjawab pertanyaan sambil melepas jaket dan menggantungkannya di atas capstock.
" Bersih-bersih dulu sana, habis maghrib ada undangan selamatan tetangga kita! "
Danang tidak jadi melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, penasaran dengan perkataan bapaknya.
"Selamatan apa pak? "
Pak Marwan langsung menjawab, "pindah rumah Nang, itu yang kemarin ada beberapa mobil yang lewat membawa peralatan rumah tangga."
Danang paham dan tidak bertanya lagi, ia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya.
........................
" Bu.. pintunya dikunci saja, bapak sudah bawa kunci nih! " Pak Marwan mengingatkan istrinya untuk mengunci pintu karena tidak tahu akan pulang jam berapa.
Bu Marwan menyahut dari dalam, "iya pak, nanti ibu kunci. "
...........................
__ADS_1
Pintu rumah juragan sayur ini terbuka, rupanya Danang dan bapaknya sudah pulang dari rumah tetangga yang selamatan pindah rumah.
Suasana rumah sepi tidak terdengar suara apa pun, tetapi setelah masuk ruangan keluarga terdengar seperti ada suara laki-laki dari dalam ponsel.
Danang dan Pak Marwan memburu asal suara, rupanya Bu Marwan sedang berbincang dengan Deni lewat ponsel.
Danang ingin lekas menemui ibunya, kemudian menanyakan keberadaan kakaknya itu, tapi dicegah oleh Pak Marwan agar tidak terjadi suasana yang menegangkan, pasalnya sejak dua bulan ini Pak Marwan dan Danang mencari keberadaan Deni yang sudah lama tidak masuk kantor.
Bahkan beberapa hari yang lalu perusahaan mereka kedatangan orang bank, karena ternyata dalam tiga bulan ini belum membayar cicilan peminjaman uang disebabkan gagal panen tahun yang lalu. Untung MOU yang ditanda tangani dengan hotel Yasmin terlaksana dengan baik, sehingga tunggakkan itu dapat terbayar.
" Sudah Nang, nanti saja bapak yang bicara sama ibu."
Danang mengikuti perintah bapaknya, ia pun langsung masuk ke kamarnya.
.................................
Pak Marwan sepenuh hati mencintai dan menyayangi istri dan anak tirinya itu, namun sepertinya mengikuti pepatah "susu dibalas dengan air tuba".
Meskipun seringkali Deni melakukan kesalahan, ia tetap memaafkan dan memberi kesempatan untuk berubah.
Entah mengapa sikap Deni seperti itu, padahal ia tidak kekurangan kasih sayang. Mungkin saja karena terlalu dimanjakan oleh ibunya.
Setelah tahu bahwa anak tirinya itu memakai uang perusahaan dan tidak membayar cicilan bank, hati Pak Marwan sangat kecewa, ia ingin sekali berkata langsung dan menyalahkan istrinya.
Namun setelah dipikirnya masak-masak mungkin tindakan tersebut tidak akan menemukan jalan keluar malah menambah masalah.
............................
Malam semakin larut, namun mata Pak Marwan belum juga terpejam, berapa banyak ayat suci Al-quran yang dilantunkannya dalam hati, tetapi kantuk belum juga datang.
Kaki Pak Marwan sengaja disentuhkan ke betis bu Marwan, rupanya Bu Marwan belum tidur juga, malah seperti terdengar isak tangis yang ditahan.
Akhirnya Pak Marwan bertanya perlahan, "ada apa bu sepertinya ibu menangis?"
Bu Marwan membalikkan badannya, lantas berkata, "gimana ibu enggak nangis, bapak sibuk terus enggak mau cari Deni. "
Sambil berlinang air mata Bu Marwan menambahkan perkataannya, "Ibu khawatir pak, Deni kenapa-napa. "
__ADS_1
Pak Marwan tidak berkata apa-apa, ia hanya membiarkan istrinya berbicara mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya.
Setelah Bu Marwan puas dengan semua curahan hatinya yang ia pendam selama ini, barulah Pak Marwan berbicara.
"Kalau bapak jadi ibu, pasti bapak pun akan sangat sedih ditinggalkan sama anak, juga bapak akan kesal karena tidak ada yang membantu mencari anak kita itu. "
Setelah mendengar penuturan Pak Marwan, Bu Marwan menghentikan tangisnya, ia merasa ada teman yang mengerti tentang perasaan yang sedang dideritanya.
Sambil mengelus rambut istrinya yang mulai memutih namun masih terlihat cantik di mata Pak Marwan, ia memberikan pertanyaan yang sangat penting untuk keberlangsungan komunikasi selanjutnya, "menurut ibu Deni sudah dewasa belum? "
Bu Marwan yang sudah reda emosinya tapi masih ada sedikit kesal menjawab dengan nada yang agak tinggi, "sudahlah pak, umurnya saja 26 tahun."
Pak Marwan menimpali dan membenarkan jawaban istrinya, " menurut bapak juga begitu bu."
Bu Marwan terdiam, ia berpikir kemana arah pembicaraan suaminya itu.
Melihat istrinya termenung Pak Marwan melanjutkan lagi pertanyaannya, " bu... sewaktu kita dulu masih dengan orang tua dan beranjak dewasa, ada saat dimana kita ingin menentukan kehidupan sendiri ya? "
Bu Marwan menganggukkan kepalanya, Pak Marwan melanjutkan perkataannya lagi, "jadi kita sebagai orang tua tidak bisa memaksakan kehendak pada anak. "
Bu Marwan langsung menjawab, " tapi Deni tinggal di mana pak, kita harus cari dia! "
Pak Marwan tidak kehilangan akal, ia menjawab dengan pasti untuk menenangkan istrinya.
" Begini bu, besok ibu hubungi Deni, bilang kalau kita mau jiarah ke makam ayahnya, bapak yakin dia datang."
Bu Marwan kaget dengan ide suaminya itu, dalam hatinya bertanya mengapa ia mengijinkan jiarah ke makam mantan suaminya.
Seolah-olah Pak Marwan mengetahui isi hati istrinya itu lalu sambil memegang kepala orang yang dikasihinya itu ia menyambung perkataannya, "sudahlah bu, jangan banyak dipikir, bapak enggak apa-apa kita jiarah ke makam ayah Deni. "
Wajah Bu Marwan mendadak berseri, ia senang sekali diijinkan pergi ke makam mantan suaminya itu.
Pak Marwan tidak membuang kesempatan yang baik ini, ia memeluk erat istrinya dan berkata, "bapak sudah cari Deni dua bulan ini, tapi belum ketemu sayang. "
Sambil berlinang air mata Bu Marwan membalas pelukan suaminya. Ia merasa jadi wanita yang paling beruntung.
Buah dari kesabaran Pak Marwan dalam mencari solusi untuk permasalahan yang cukup berat ini, menjadikan bertambahnya rasa cinta Bu Marwan kepadanya.
__ADS_1
Tidak diragukan lagi, Allah pun mengijinkan karuniaNya dinikmati pada malam itu, setelah Dia menutup hijabNya diantara mereka.
Hari pun berganti pagi, mereka terbangun dengan rasa syukur karena Allah selalu memberi petunjuk ketika permasalahan menerpa rumah tangga mereka.