Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Kehilangan Cahaya


__ADS_3

Pagi yang cerah dan udara yang segar di desa Ratapan, memberi harapan bagi siapa saja insan yang tinggal di dalamnya, akan kebahagiaan yang di dapat pada hari itu, termasuk Danang yang ingin sekali bertemu dengan Kania, dan memberikan oleh-oleh dari kota dimana ia melakukan pelatihan seminggu yang lalu.


Danang tidak tahu, jika orang yang dikasihinya itu, sudah berhenti bekerja di perusahaannya, tanpa pamit kepadanya. memang Kania tidak berpamitan kepada Danang karena abahnya memberikan kabar tersebut setelah Danang pergi.


Pagi itu wajah Danang terlihat bahagia, dibawanya barang yang akan diberikan kepada Kania, maksud hatinya agar Kania mengerti bahwa ia memiliki perhatian yang lebih kepadanya. Apa boleh buat di tempat duduk Kania, hanya kursi dan meja yang kosong tanpa penghuninya.


Danang melihat ke arah meja Kania, Lastri langsung paham siapa yang di cari Danang.


" Cari Kania ya pak"?


Begitu kata Lastri sambil tersenyum.


"Kania sudah berhenti pak, seminggu yang lalu. Ia pindah ke kota bersama orang tuanya."


Lastri menambahkan perkataannnya.


Alangkah kecewanya hati Danang, sebegitu tidak pedulinya kah Kania kepada dirinya, sampai-sampai pindah rumah dan berhenti bekerja pun tidak memberi kabar.


Semangat Danang langsung turun, ia pun duduk di atas kursinya sambil melihat ke arah jendela.


" Kania.. Kania,"


Bisiknya dalam hati entah apa yang dipikirkan olehnya yang jelas wajahnya menunjukkan kekecewaaan yang sangat dalam.


....................

__ADS_1


"Begiti Nang, makanya pak Salim pindah mendadak, jadi ternyata pak Toto itu kakak tiri bu Salim dan ada satu lagi adiknya namanya tu.. Shodiq, iya Shodiq."


Pak Marwan menjelaskan kepada anaknya yang terlihat gundah gulana dan sedikit marah.


"Kenapa kamu gusar sekali? "


Pak Marwan curiga dengan tingkah anaknya itu.


"enggak pak,"


Danang enggak apa-apa, nanti juga bisa ketemu sama Kania dia kan saudaranya Seshia kan pak?"


Danang menenangkan diri dengan perkataannya itu, namun ia terjebak dengan ucapannya sendiri, pak Marwan tersenyum, ia mulai memahami bahwa anaknya senang dengan putri pak Salim.


cita-citamu terkabul, "


Pak Marwan mengolok anaknya sambil tersenyum kecil.


Danang pura-pura tidak tahu lalu bertanya,


" cita-cita apa pak? "


Kata Danang sambil pura-pura tidak tahu maksud bapaknya itu.


Pak Marwan kembali berseloroh yang amat membuat Danang kaget tapi ia senang mendengarnya,

__ADS_1


" Itu dapat Kania, "


Kata pak Marwan sambil tertawa agak lebar.


Danang senang mendengar bapaknya berbicara seperti itu, nampaknya ada lampu hijau untuk merestui usahanya mendapatkan Kania menjadi istrinya.


Karena tekad Danang sudah bulat ingin mendapatkan Kania maka ia menyimpan hadiah itu di dalam lemari kantornya rapat-rapat dan menguncinya supaya tidak ada satu orang pun yang tahu bahkan mengambilnya.


Danang yakin akan ada satu waktu dimana harapannya mendapatkan Kania akan terwujud.


..........................


Suasana di pondok pesantren Daarul Huda sangat ramai, terutama jika hari jumat, karena hari libur untuk santri dan boleh dikunjungi oleh orang tuanya.


Kania kebagian piket jumat ini, ia harus menyambut orang tua yang akan datang berkunjung, setiap orang tua yang datang harus menunjukkan kartu mahromnya agar tidak ada orang asing yang menyelinap ke dalam asrama.


Keadaan cukup aman hingga Kania cukup hanya berjaga di depan pintu masuk santriwati.


Sampai akhirnya terdengar suara teriakan dari dalam asrama yang membuatnya kaget.


Seorang santriwati datang setengah berlari menghampiri dirinya.


"Kak..kakak ada yang pingsan di dalam. "


Kania pun beranjak pergi menuju tempat kejadian dan ternyata...

__ADS_1


__ADS_2