
Pagi sekali Danang sudah bersiap pergi ke kantor, Bu Marwan sampai terheran dengan sikap anaknya yang seakan terburu-buru ingin berangkat kerja, padahal hari masih terlalu pagi bahkan matahari pun baru sedikit memberikan sinarnya.
" Makan dulu biar enggak masuk angin! ada acara apa Nang, kok terburu-buru? "
Danang menjawab sambil bersungut mengunyah roti yang digigitnya sambil nyeruput kopi panas buatannya sendiri.
" Hari ini aku mau berangkat awal ya bu! "
Sambil menjawab mata dan tangannya melihat ke berkas yang dibaca dan siap ditanda tanganinya.
"Awal sekali sudah mau berangkat? "
Bu Marwan bertanya lagi.
"Iya bu, jam 09.00 aku mau pergi ke rumah Pak Salim ya bu."
Bu Marwan terbelalak karena tidak menyangka anaknya itu akan pergi ke sana.
"Ada kepentingan apa, ke rumah Pak Salim Nang? "
Danang agak kikuk menjawabnya, tapi ia coba menjawab juga, " Ada keperluan bu sedikit, Pak Salim kan dulu pernah kerja di tempat kita, dia tahu tentang tanaman, aku mau nanya sesuatu."
Bu Marwan mulai puas dengan jawaban anaknya, hingga ia berlalu ke dapur dan tidak bertanya lagi, namun raut wajahnya menunjukkan kecurigaan, sebab kemarin sore ia sempat melihat wajah Danang yang agak kecewa ketika kakaknya menyebut nama Kania.
...............................
Rumah Kania memang sangat asri, depan rumahnya tersusun berbagai jenis tanaman. Sebelah kanan di hiasi tanaman bunga dan kiri sayur-sayuran, sangat menyegarkan mata.
Pagi itu Kania sudah bersiap akan mengajar para santri di pondok pesantren Daarul Huda.
Penampilan yang sangat serasi antara gamis berwarna hitam dengan kerudung coklat yang menutupi punggung dan depan tubuhnya, tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya, justru semakin anggun dan berkharisma.
Siapa pun akan tertarik jika melihat wajahnya, ditambah lagi dengan ilmu yang dimilikin, menambah pesona bagi dirinya.
Kania yang cantik, sholehah dan cerdas tidak pernah ingin lekas ditambat oleh sembarang laki-laki, ia ingin mewujudkan impiannya bersanding dengan cinta pertamanya, yaitu Danang yang hingga sekarang belum ada kabar beritanya.
Keyakinannya kepada Allah SWT akan janjiNya yang akan mengabulkan doa yang dipanjatkan, memperkuat tekadnya untuk menunggu saat indah itu terwujud.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim... "
Kata indah dan mengandung kekuatan itu ia ucapkan ketika memulai langkahnya keluar dari rumah.
"Kania berangkat dulu ya! "
Kania pamit setelah tangannya meminta restu kepada dua orang terkasih hidupnya.
" Ya, hati-hati! "
Emak Kania melepas kepergian anaknya sambil tersenyum dan menatap penuh doa dalam hati.
__ADS_1
Abah mengantar Kania sampai teras, Kania pun berlalu dari pandangan mereka. Abah melanjutkan aktivitasnya menyusun dagangan di warungnya yang sederhana.
................................
SPBU perempatan jalan yang cukup ramai ini agak sepi, hanya terlihat beberapa mobil dan sepeda motor.
Terlihat seorang pemuda tampan nan gagah sedang memberikan uang pertamax yang dibelinya, tak disangka ada seseorang yang menegur dari arah kiri mobilnya.
" Pak Danang!"
Orang itu memanggil cukup keras, hingga sang pengendara yang ternyata Danang menoleh ke arah suara berasal, ia cukup hafal dengan sang penanya yang tidak lain adalah mantan karyawannya yang pernah ditolongnya beberapa tahun yang lalu setelah dipecat oleh kakaknya.
"Hei Dik, apa kabar, sekarang dimana? "
Orang tersebut langsung menjawab, "Bapak masih ingat dengan nama saya? "
Danang tersenyum lebar sambil menjawab, " Akh, kamu ini ada-ada saja, masih lah. "
Didik dengan ramah menjawab singkat pertanyaan Danang, karena antrian mobil di belakang mulai gelisah dengan pertemuan dua orang itu.
Danang melambaikan tangannya, ia keluar dari gerbang SPBU itu lurus sedikit dan akhirnya belok kiri menuju jalan dengan tanda tulisan " Selamat Datang Anda Menuju Pondok Pesantren Daarul Huda."
Perjalanan Danang sudah mendekati lokasi Pondok Pesantren Daarul Huda, tujuannya ke rumah Pak Salim bukan ke ponpesnya. Harapan hatinya ada Kania di situ.
Skenario yang Danang dapatkan adalah bahwa tambatan hatinya itu tidak pernah ada di tempat jika ia berkunjung ke rumahnya. Hingga ia tidak pernah melihat langsung kekasih hatinya atau pun berbicara tentang apa saja. Seakan semua itu hanyalah khayalannya saja.
Sebenarnya hatinya ingin langsung berbicara bahwa ia ingin melamar anak orang yang diajak bicara ini. Ada rasa sungkan, karena ia ingin memastikan apakah Kania memiliki keinginan yang sama dengan dirinya.
Akhirnya waktu dzuhur pun tiba,Danang pamit untuk pulang.
Pak Salim dan emak Kania mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan mantan majikannya itu.
.............................
Masjid Agung yang ada di sekitar rumah Pak Salim letaknya sangat dekat, keluar dari teras rumahnya saja Masjid itu sudah nampak. Jika diukur jaraknya dari Pondok Pesantren Daarul Huda ada sekitar enam ratus meter.
Biasanya para santri jika hari jumat melaksanakan sholat di masjid ini, demikian juga dengan Danang yang kala itu pulang dari rumah Pak Salim ia langsung menumpang sholat dzuhur di Masjid yang bernama Baiturrahman.
Danang bergegas memakai sepatunya, ia ingin lekas kembali pulang karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ketika ia mengangkat tubuhnya untuk bangun sekelebat ada seorang gadis yang lewat masjid itu, Danang ingin langsung memanggilnya, atau ia ingin bertamu lagi ke rumah yang baru dipamitinya.
"Kania..., Kania......!"
Seruan itu hanya dalam hati, ia berusaha meyakinkan dalam dirinya bahwa pada suatu saat, gadis itu akan menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya.
"Yaa sudah, Bismillaah aku harus pulang sekarang juga. "
Danang pun bergegas naik ke dalam mobil dengan doa dan harapan yang ia yakini pasti terkabul.
__ADS_1
............................
Langkahnya bergegas, Kania masuk ke teras rumahnya sambil mengucapkan salam, ia tak melihat abah dan Emaknya di ruang tamu.
Kania tidak mencari mereka namun langsung masuk ke kamarnya seperti hendak mengambil sesuatu.
Ketika ia keluar kamar, abah dan emak baru saja menyelesaikan sholat dzuhur berjamaah. Langsung saja teguran sayang itu terlontar dari mulut kasih emak kepadanya.
" Cari apa, kok terburu-buru?"
Kania langsung menuju ke arah orang tuanya lalu mencium tangan mereka.
"Kania cari kitab muhawaroh jilid dua mak, tadi ketinggalan. "
Emak tidak langsung merespon, tapi ia menuju ke ruangan tamu lalu mengambil sebuah buku.
"Ini kitabnya? "
Kania terkikik dengan kecerobohannya, ternyata jika hatinya bercabang bisa lupa menyimpan kitab.
"Iya mak yang itu, Kania lupa nyimpan ke tempatnya sehabis belajar tadi malam. "
Abah ingin juga memberi nasehat, lalu ia pun berkata, " makanya Kania harus fokus dong ya...! "
Pipi Kania sempat berwarna kemerahan, ia mengakui keadaan pikirannya yang kurang fokus tadi malam, akibat memikirkan Danang.
Tiba-tiba emak berbicara yang membuat jantung Kania menjadi shock, tapi ada rasa bahagianya.
"Tadi ada Pak Danang loh Kania, "
Kata emak sambil berjalan menuju ke dapur.
"Deg!!! "
Jantung Kania seolah bergetar lebih cepat, ia langsung merespon dengan kalimat yang sedikit menyingkap keadaan hatinya.
"Kapan mak, benar kah? "
Emak sampai terbelalak dengan pertanyaan Kania, ditambah lagi wajahnya yang berubah.
"Tadi sekitar jam 11.00 siang, baru saja pulang."
Kania langsung bertanya lagi, "Ada apa mak Pak Danang datang ke rumah kita?"
Pak Salim yang menjawab, " Urusan kebun, tanya-tanya tanaman. "
Hampir saja Kania mengatakan yang ada dalam hatinya, " Kira Kania mau melamar? "
Untung kalimat itu hanya dalam hati saja tidak sempat terucapkan.
__ADS_1