Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Menyambut Pak Toto Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Pagi sekali Deni sudah terbangun dari tidurnya, ia tidak berkeinginan untuk sarapan bersama keluarganya. Hatinya masih merasa tak nyaman karena perbincangan kemarin pagi.


Setelah menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya yang sudah dibalut kemeja warna coklat, ia pun membuka pintu kamar segera beranjak keluar.


"Awal kak perginya? "


Danang bertanya kepada kakaknya yang kelihatannya terburu-buru.


Deni menjawab singkat,


"Awal,"


Itu saja yang keluar dari mulutnya


Bu Marwan yang baru keluar dari kamar tak sempat menyapa anak sulung nya itu, karena ia hanya melihat punggung Deni yang cepat menuju ruang tamu.


Pak Marwan pun hanya melihat dan memberi isyarat kepada Danang dengan kerlingan matanya.


Danang mengangkat kedua tangannya tanda tak tahu.


Suasanan sarapan pagi menjadi tidak nyaman tanpa kehadiran Deni, terutama bu Marwan yang kelihatan sangat sedih. Ia memang sangat menyanyangi anak sulungnya itu namun tidak tahu harus bagaimana merubah sifat anaknya.


Bu Marwan kelihatan sedang memikirkan hal yang lain, sementara tangannya memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.


"Heii, jangan melamun,"


Kata pak Marwan kepada istrinya itu.


"Sudahlah buu.., nanti tensi ibu naik lagi,"


Kata Danang kepada ibunya.


.......................


"Kring...kring... kring... !!!"

__ADS_1


Suara ponsel pak Marwan berdering.


Segera ia mengangkat ponsel yang ada dalam sakunya.


"Iyaa. , ada apa Seshia...?"


Dari jauh Seshia menjelaskan maksudnya.


"Ooh, baiklah.. nanti kami sekeluarga pergi ke sana.. "


Rupanya Seshia mengundang pak Marwan sekeluarga datang ke rumahnya karena pak Toto Opanya, sudah datang dari Amerika.


........................


Suasana makan malam dihadiri oleh keluarga yang lengkap, termasuk Deni juga hadir. Namun wajahnya tidak bersahabat, ia hanya semangat mengambil makanan dan memakannya.


Tak ada yang berani menegur prilakunya, termasuk bu Marwan, ia hanya melirik dan menahan kesabaran karena prilaku anaknya itu.


"Eehmm..."


Kemudian pak Marwan melanjutkan dengan berbicara perihal undangan Seshia


Seketika wajah Deni berubah menjadi sumringah.


"Kita pergi semua ya..! "


Kata Deni dengan hati yang berbuga-bunga.


Lain halnya dengan bu Marwan hatinya malah menjadi lesu dan jantungnya berdegub lebih kuat, karena adanya pemberitahuan undangan itu.


"Harus... harus pergi semua, ini undangan dari mitra kerja kita nomor wahid, jadi kita harus datang ke rumahnya. "


Danang malah nyeletuk,


"Jadi bapak enggak ikhlas dong datangnya, kalau niatnya karena beliau mitra kita."

__ADS_1


Pak Marwan baru menyadari, kalau kalimat yang keluar dari mulutnya mengandung kontroversi.


" Bukan begitu.. ikhlaslaah...ini kan karena beliau baru pulang berobat dan Alhamdulillah sembuh, jadi kita harus menjenguknya."


Alasan yang dapat meyakinkan dan tak ada lagi protes.


.............................


Kabar malam tadi membuat sikap Deni menjadi berubah. Bu Marwan menjadi senang tapi agak sedikit terganggu dengan undangan Seshia.


"Bu... ibu ikut ya... !"


Deni merayu ibunya yang kelihatan tidak bersemangat.


"Iya, InsyaAllah... ."


Bu Marwan menjawab pertanyaan anaknya, sambil berlalu ke arah dapur. Tak berapa lama bik Eroh datang ke meja makan untuk membersihkan sisa makanan.


Deni pun lekas beranjak dari tempat duduknya, karena semua anggota keluarga sudah melakukan aktivitas yang baru.


..........................


Kamar bu Marwan dan suaminya sangat luas, di dalamnya dilengkapi dengan sofa, televisi dan kamar mandi yang bersih.


Yang paling menarik adalah suatu ruangan yang berada di teras kamar yang menghadap keluar, tempat itu berisi kolam ikan dengan dinding yang dihiasi oleh pahatan batu berbentuk pemandangan alam di pegunungan. Belum lagi suara air mengalir seperti berada di tempat aslinya. Seharusnya bu Marwan menjadi wanita yang paling bahagia, karena hidupnya sudah berkecukupan dan memiliki suami yang sangat menyayanginya.


Namun kebahagiaan itu nampaknya masih belum mendekat sepenuhnya, karena adanya masa lalu yang kelam dan sangat mengganggu kenyamanan rumah tangganya.


Ia menyadari bahwa kekeliruan dalam mendidik anaknya yang pertama, mengakibatkan karakter yang buruk pada anak itu.


Prilakunya tidak bisa di rubah cepat, selalu cepat emosi, tidak mau mendengarkan dan duduk bersama mendiskusikan masalah yang sedang dihadapi, serta menganggap bahwa otang tuanya tidak memahami keinginan dirinya.


Pak Marwan memang luar biasa, cintanya memang tulus. Ia tidak pernah meminta perhatian yang lebih dari istrinya. Apalagi hanya karena wajah istrinya yang sering murung dan tidak bersemangat, baginya kehadiran bu Marwan merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya, apalagi dengan adanya kehadiran Deni dan Danang.


"Sudahlah... bu...jangan banyak dipikir... lebih baik siap-siap ke rumah pak Toto memenuhi undangan mereka."

__ADS_1


__ADS_2