
Tawa canda yang tiada habisnya di ruangan Abuya Husni, dihentikan oleh suara langkah beberapa santri putra yang membawa nampan berisi masakan yang akan disajikan di ruangan itu.
Umi Dzakiyah dengan ramah mempersilahkan para tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan.
Bu Marwan nampaknya agak malu-malu untuk mengambil makanan, namun Danang sudah terbiasa dengan masakan yang disajikan di pondok pesantren ini.
Danang yang terlebih dahulu mengambil nasi dan lauk pauk yang ada, begitu pun dengan Aki Daud dan dua orang tamu lainnya. Mereka menikmati makanan yang terlihat sangat menggiurkan, berhubung memang sudah saatnya makan siang.
Makanan yang dimasak oleh para santri dan Umi Dzakiyah laris manis tak bersisa, mungkin para tamu itu merasa cocok dengan jenis makanan yang disajikan. Selain itu Abuya Husni selalu menawari tamunya untuk makan lebih banyak.
Tak terasa waktu berlalu, adzan dzuhur pun terdengar dari majid yang ada di sebelah kanan pondok pesantren itu, suasana berubah menjadi hening. Para tamu bersiap untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Umi Dzakiyah mempersilahkan Bu
Marwan untuk mengambil air wudhu di dalam rumahnya, sedangkan yang lain pergi ke masjid.
Perjalanan menuju masjid itu tidak begitu jauh, namun cukuplah untuk membuat segar badan yang kurang bergerak, Danang sangat senang dapat sholat di masjid dekat pondok pesantren itu, dan hatinya lebih senang lagi ketika ia melihat kakaknya Deni sudah ada dalam ruangan masjid.
Seolah ingin berseru, Danang lekas menghampiri kakaknya namun sayang sudah ada jemaah lain yang menempati tempat sebelah kakaknya.
Ingin sekali Danang berbicara, namun suara muadzin beriqomat membuat niatnya ditarik kembali.
....................
Abuya Husni duduk bersebelahan dengan para Asatidz, kebetulan malam ini akan ada acara wisuda angkatan kelima dari santri dan santriyat pondok pesantren Daarul Huda.
Danang dan ibunya ingin sekali melihat acara ini, sehingga mereka belum pulang ke rumah. Tak disangka Pak Marwan datang menyusul istrinya, ia pun bermaksud melihat acara itu sekaligus ingin melihat perkembangan kesehatan anak angkatnya Deni.
Bu Marwan sangat senang dengan perkembangan anaknya yang menunjukkan bahwa pengobatan di pondok pesantren ini memang memberikan perubahan yang sangat signifikan.
__ADS_1
Ketika selesai sholat maghrib tadi, Deni sempat dipanggil oleh Abuya Husni untuk menemui ibunya dan saudaranya. Waktu pertemuan mereka memang singkat tapi sangat berkualitas.
Tidak banyak yang dikatakan oleh mereka karena selesai Sholat Isya acara wisuda akan dimulai. Walau demikian perilaku Deni banyak berubah, nampak dari sopan santun terhadap ibunya yang sangat berbeda dibanding ketika ia masih tinggal serumah.
Rasa haru diantara mereka diganti dengan saling berpelukan satu sama lain. Danang dan Deni berpelukan sangat erat, seolah saudara yang baru bertemu.
...........................
Acara wisuda ini sangat meriah sekali, seluruh santri keluar dari dalam asrama baik yang akhwat maupun yang ihkwan untuk menyaksikan acara wisuda kakak tingkat mereka.
Susunan duduk santri putra dan putri dipisahkan, santri putra di barisan depan semua, dijeda oleh para tamu, baru yang belakang adalah tempat duduk santri putri.
Bu Marwan duduk di bagian tengah, setelah santri putra, otomatis dapat melihat dengan jelas ke panggung. Pandangannya tidak lepas dari melihat anaknya Deni yang hilir mudik membawa kamera dan memoto setiap momen yang ada dalam acara itu.
Begitu juga dengan Danang, yang sangat senang dan kagum dengan perubahan yang ada dalam diri kakaknya setelah berobat di pondok pesantren ini.
Acara demi acara sudah dilalui dengan sukses, para wisudawan sudah mendapatkan ilmu dan motivasi dari asatidznya, mereka boleh berkemas untuk pulang ke rumah dalam waktu seminggu ini.
............................
Tidak ada kata yang lebih berharga untuk dikatakan kecuali ucapan syukur atas Rahmat Allah SWT yang telah diberikan kepada keluarga Pak Marwan.
Seiring perjalanan pulang yang membawa oleh-oleh kebahagiaan, juga ada sebait doa yang dipanjatkan oleh seorang ibu yang menjerit kepada Tuhan Semesta Alam agar anaknya selalu diberikan petunjuk ke jalan yang lurus.
Tiba-tiba Danang bertanya kepada ibunya, "Bu, Alhamdulillah kak Deni sudah sembuh ya... "
Bu Marwan mengangguk sambil menoleh ke arah anaknya yang duduk di depan.
"Iya, kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat yang besar ini, " Pak Marwan memberi respon dari obrolan anak dan istrinya.
__ADS_1
Danang tidak lengah lagi dengan respon yang positif dari bapaknya itu, ia pun memberi ide untuk melakukan acara syukuran di rumah mereka.
Pak Marwan tidak menolak dengan usulan tersebut, malah ia ingin sekali mengundang seluruh karyawan untuk merasakan kebahagiaan yang di dapat oleh keluarganya.
..........................
Ujang adalah sopir sangat setia, apa saja yang diperintahkan oleh majikannya pasti dilakukannya dengan sebaik-baiknya. Termasuk pagi itu ia harus berbelanja bahan-bahan makanan yang akan dimasak untuk acara syukuran besok pagi.
Bik Eroh tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh beberapa karyawaan perusahaan yang mampu memasak, walhasil siang itu sudah ada sekitar lima orang yang membantu bik Eroh menyiangi beberapa sayuran dan bahan makanan lain yang akan di masak subuh nanti serta rempah -rempah yang diperlukan.
Para tamu bermunculan datang ke rumah mewah itu. Mereka langsung diarahkan untuk mengambil makanan. Tak ayal lagi jika makanan yang tersaji cepat habis, karena diserbu oleh para karyawan.
Anak yatim piatu pun diundang untuk memeriahkan suasana dan menambah keberkahan pada acara itu. Namun ada yang kurang dari acara ini, yaitu kehadiran Deni yang menjadi inspirasi awal terselenggaranya acara ini.
Dengan penasaran Danang bertanya kepada ibunya, "Bu, Kak Deni enggak hadir di acara ini? "
Bu Marwan lantas menjawab dengan cepat, " Kakakmu ada tugas mengantar Abuya Husni ke jember, " Wajah Danang kecut dan nampak kecewa. Ia sangat ingin sekali kakaknya hadir.
................................
Setiap peristiwa yang menerpa seseorang tidak terjadi secara kebetulan, tapi sudah ada rancangannya bahkan menurut sebagian literasi dari dustur Ilahi dan kenabian, skenario hidup manusia sudah dirancang lima puluh ribu tahun sebelum alam ini diciptakan.
Demikian juga yang terjadi dengan Deni, sepertinya skenario hidupnya sangat mengecewakan namun setelah semua dapat dilalui dengan penuh kesabaran akhirnya dapat membuahkan hasil yang membahagiakan, yaitu kelembutan hati Deni dan perubahan akhlak yang membuat hati kedua orang tuanya bangga dan terharu.
Setelah melihat perubahan pada diri Deni yang luar biasa di pondok pesantren Daarul Huda, akhirnya Bu Marwan dan suaminya menyadari bahwa segala masalah dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya asalkan ada usaha, waktu dan kesabaran.
Belajar sepanjang hayat adalah suatu keharusan bagi setiap insan karena masalah yang akan dihadapi akan senantiasa ada dan tidak akan berhenti sampai akhir hayat.
...............................
__ADS_1