
"Assalaamua'laikum.... "
Suara Umi Sarah jelas terdengar di telinga Kania. Segera Kania menjawab salamnya dengan anggun dan sopan.
"Umi dengar dari Lala kamu mau ke qoryah Tsur, benarkah itu? "
Deg, hati Kania berdetak agak kencang, menyesal ia berbicara dengan Lala kalau pada akhirnya yang mau menolong Budenya itu.
Bukan apa, sebenarnya Kania senang saja ditolong Umi Sarah itu, tapi pasti Irfan yang akan mengantarnya. Ia kurang senang dengan gestur tubuhnya yang seolah menyukai dirinya. Apalagi pernah memberinya buku sebanyak dua kali.
Ekspetasi Kania tentang masa depan sebagai pendamping hidup bukan putra Umi Sarah, tapi yang ada di tanah airnya, yang pertama memberinya perhatian, dan juga yang tidak pernah menghubunginya selama ini.
Kania senang mengejar harapan tapi kurang senang dikejar kalau masalah rasa cinta.
" Nanti Kania datang ke rumah Umi ya.. ada yang mau ketemu dengan kamu! "
Suara Umi Sarah jelas terdengar, laksana disambar petir Kania tidak bisa menjawab apa-apa, ia hanya menjawab dengan kata "iya InsyaAllah".
..........................
Tidur siang Kania tidak nyenyak, ia memikirkan bagaimana kalau seumpama yang ingin ketemu itu Irfan. Berat sekali mau bangun dari tempat tidur, mandi, sholat dan bersiap ke rumah Umi Sarah.
Tapi apa boleh buat, ia harus mengerjakannya, terlalu banyak jasa Umi Sarah kepadanya.
Akhirnya kira-kira pukul tiga lebih sepuluh menit, Kania bersiap untuk memenuhi undangan Umi Sarah datang ke rumahnya.
"Waa'laikum Salam, " Umi Sarah menyambut Kania di depan pintu masuk rumahnya, nampaknya ia sangat ditunggu dari tadi.
"Hampir Umi telpon kamu Kania, pikir Umi kamu enggak datang, " wow, sangat dinanti rupanya pikir Kania.
Umi Sarah mengarahkan Kania langsung masuk ke dalam rumahnya. Kania sangat terkejut ternyata ada seseorang yang sangat ia kenal.
Tubuh Kania langsung memburu kepada orang itu, sambil membungkukkan badannya Kania menyalami orang itu.
"Umi..apa kabar, Abuya... "
Ternyata yang menunggu Kania adalah Abuya Husni dan Umi Dzakiyah.
Kania beristighfar dalam hati, karena sudah berprasangka buruk terhadap Umi Sarah dan juga Irfan.
Tapi semua nya sudah terjadi, yaa sudahlah lain kali jangan curiga dulu, Imbuhnya dalam hati.
__ADS_1
Kania duduk bersebelahan dengan Umi Dzakiyah. Mereka terlibat dengan percakapan yang serius, maklum hampir dua tahun kurang mereka tidak bertemu.
Tidak lama kemudian Abuya Husni berbicara, "Apa kabar Kania, bagaimana kuliahnya, lancar kah? "
Segera Kania menjawab, "Alhamdulillah Abuya lancar, sekarang sudah masuk penelitian, membuat karya tulis ilmiah."
Abuya dan Umi Dzakiyah berdecak kagum dan mengucap syukur, "Alhamdulillaaah, kalau begitu sebentar lagi kamu wisuda ya," Umi Dzakiyah yang menimpali.
"Santri-santri sudah menunggu tuh ingin diajar bahasa arab sama kamu. "
Abuya Husni menyemangati Kania dengan kalimatnya itu, sementara itu Kania membalasnya dengan berkata Aamiin.
"Oh ya Kania, Abuya sama Umi ke sini sengaja melihat kamu dan ada keperluan juga yang lain, selain itu bersilaturahmi dengan Syeikh Husein. "
Kania mengangguk sopan, dan berterima kasih atas perhatian kedua orang yang sangat dihormatinya itu.
"Ingat sama Pak Danang? "
Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Abuya Husni.
Dada Kania terasa sesak karena terkejut mendengar nama itu. Namun di sisi lain ia merasa bahagia mendengarnya.
"Iya Abuya, beliau mantan bos saya. "
"Masih ingat kakaknya Pak Danang? "
Nampaknya Abuya nih hendak mengetes ingatan Kania.
"Masih Abuya, beliau juga dulu bos saya, " sambil tersenyum Kania menundukkan wajahnya.
Umi Sarah menghentikan obrolan mereka dengan menawarkan teh hangat yang sudah disajikannya.
"Silahkan diminum dulu, nanti dilanjut ngobrolnya! "
Umi Sarah pun ikut duduk bersama dengan Kania dan tamunya itu, mereka larut dalam obrolan yang seru.
"Jadi Kania, Deni itu sudah ada di pondok Daarul Huda selama dua minggu ini."
Kania terkejut dengan pernyataan Abuya Husni, kemudian ia bertanya, "memangnya beliau ada urusan apa dengan pondok Abuya, kalau boleh tahu? "
Kania terlepas dengan ucapannya yang terasa sangat kepo, padahal ia merasa bahwa Abuya adalah orang yang sangat dihormati.
__ADS_1
Namun Abuya sudah percaya dengan akhlak Kania, sehingga beliau terbuka dengan informasi dalam pondok pesantrennya.
Dengan ringan Abuya Husni menjawab, " Deni ingin mendalami ilmu agama di pondok kita, jadi mungkin untuk beberapa lama ia akan berada di pondok kita. "
Itu saja informasi yang disampaikan oleh Abuya Husni terkait Deni, namun ada lagi informasi yang menggembirakan hati Kania.
"Itulah Kania sudah dua minggu ini Danang beberapa kali menjenguk kakaknya, " Kania terheran dengan kalimat terakhir Abuya, masak kakaknya Danang dijenguk, memangnya orang sakit dijenguk.
Berbagai macam pertanyaan dalam hati Kania, bermunculan namun tidak berani diungkapkannya, khawatir Abuya tidak berkenan.
"Oh ya Kania, salah satu sponsor yang mendanai ibu ke Mesir adalah Danang, ia ingin Abuya pergi ke sini bersilaturahmi sekalian menyemangati kamu dalam studi."
Bagaikan ada air sejuk yang mengalir ke dalam hatinya, bahagiaa... sekali mendengarnya, meskipun kalimatnya belum begitu pasti tentang harapan yang selama ini dinantinya.
Perhatian yang bagi orang lain tidak berarti atau mungkin hanya fatamorgana, namun bagi Kania kalimat itu sangat berharga. Tumbuh lagi harapannya kepada Danang setelah sekian mengalami distraksi akibat tidak adanya komunikasi.
"Kenapa kamu melamun Kania," Kania tersentak ketika Umi Dzakiyah menegurnya, mungkin ia melihat raut muka Kania yang termenung dan kosong.
"Oh enggak Umi, Kania hanya ingin menanyakan kabar semuanya, " Kania menjawab agak tergagap, karena tidak ada ide untuk
menanyakan perihal keadaan Danang.
"Emak dan Abah kamu sehat kok, sebelum kami berangkat ke Mesir, sempat ke rumah kamu dulu, barangkali ada yang mau dititipkan."
Kania tidak menyangka ternyata Abuya Husni dan Umi Dzakiyah sebaik itu.
"Oh, terima kasih Abuya dan Umi, " sambil mengangguk Kania berterima kasih kepada keduanya.
"Ini titipan dari Emak kamu," sambil merogoh tas tangannya, Umi Dzakiyah mengeluarkan sepucuk surat dari Emak Kania.
Tentu Kania sangat senang sekali, matanya berkaca-kaca hingga terlihat seperti akan menangis.
"Sudahlah Kania ya, kamu tidak boleh sedih, nanti juga kalau lulus pulang ke tanah air."
Kania mengusap matanya lalu tersenyum seolah ingin melupakan kesedihannya.
Surat itu pun dimasukkannya ke dalam tas, lalu ia berusaha untuk mendengarkan penuturan dari Abuya Husni yang masih ingin berbagi cerita.
Sampai pada suatu ketika, kalimat itu keluar dari mulutnya, "Oh ya Kania, Danang juga titip salam untuk kamu, dia bilang kamu yang semangat belajarnya."
Kania serasa ingin terbang atau apalah, sementara denyut punggungnya sampai terasa ke dadanya, menandakan jantungnya sedang berdetak lebih keras.
__ADS_1
Ia malu untuk mengucap kata "Alhamdulillah " secara verbal, namun alam bawah sadarnya sudah mengucapkan berulang kali.
.......................