Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Jika Bulan Belum Ada Yang Memiliki


__ADS_3

Kania membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah lama tak ditunggunya setiap malam. Ia memejamkan matanya sambil merasakan tubuhnya yang sangat letih karena aktifitas seharian mulai malam kemarin di negeri Mesir sampai ke Jakarta melalui penerbangan Singapore airline.


"haaah... Alhamdulillaah, " Kania menguap sembari mengucapkan tahmid, ia ingin sekali langsung tidur namun tampaknya tidak mungkin karena tubuhnya masih kotor dan gaun yang digunakannya masih belum berganti, berhubung tadi langsung ke pondok pesantren Daarul Huda untuk memberi motivasi kepada para santri.


"tok-tok-tok"


Daun pintu itu berbunyi, rupanya emak Kania yang masuk, ia langsung duduk di tepi ranjang dan menyentuh kaki anaknya sembari berkata, " Mandi dulu nak, Emak sudah jerangkan air untuk mandi, letih ya? "


Pertanyaan sayang itu sudah lama tidak didengar oleh Kania, di negeri orang ia harus betah dengan kesendirian dan tetap kuat meskipun tidak ada orang yang memberi belaian kasih sayang seperti Emak kepadanya.


Kania perlahan bangun dan membuka matanya yang sudah mulau merapat namun hatinya masih hidup serta merasakan kebahagiaan atas sikap Emak yang lembut kepadanya.


Kania memeluk Emak sambil berkata, "Makasih ya Mak, udah sayang sama Kania! "


Emak terheran dengan sikap Kania yang sensitif dengan rasa syukur, mungkin karena pengaruh ilmu yang selama ini dipelajarinya. Emak pun balas memeluk Kania sambil menepuk-nepuk punggung Kania, namun diam-diam dalam hati Emak sangat bersyukur memiliki putri seperti Kania.


..............................


Hari berganti pagi, matahari sudah masuk ke sela-sela jendela kamar Kania. Ia sudah lama bangun dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah yaitu sholat subuh. Tidak lupa ia membaca beberapa wirid harian yang selama ini selalu dilakukan setiap hari hingga motivasi dalam dirinya tidak pernah kendur, meskipun beberapa cobaan yang telah menimpanya mulai dari seorang gadis yang diremehkan dulu, hingga kini ketika ia diberi kesempatan oleh Allah SWT mengembangkan ilmu, bakat dan kepribadiaannya sampai ke negeri Mesir.


Doa-doa yang dilantunkannya setelah selesai sholat baik fardhu maupun sunah, membimbing Kania menjadi manusia yang tidak berputus asa ketika terpuruk dan tidak sombong ketika berada di atas.


Kania menyiapkan sarapan kesukaannya, yaitu nasi goreng ikan teri yang selama dua tahun berada di Mesir tidak pernah dijumpainya.


"ehmmm... enak mak, cobalah emak rasa! "


Kania mejulurkan sendok ke hadapan Emaknya sambil mengecap nasi goreng itu dengan kepalanya yang menggeleng-geleng.


"ehmmm... iya enak nak, mantap"


Emak pun mencicipi masakan anaknya itu sambil memberi apresiasi jempol.

__ADS_1


Kania bergegas menyiapkan sarapan karena Abah sudah ngintip ke dapur, benar saja abah sudah lapar, ia menghabiskan sepiring nasi goreng yang disajikan oleh putri kesayangannya itu.


.....................


pukul 9.30 Kania sudah berada di pondok pesantren Daarul Huda, ia mendapat tugas langsung dari Abuya untuk membimbing santri putri yang akan lomba di ibu kota provinsi. Memang waktunya cukup lama untuk persiapan yaitu kurang lebih satu bulan, namun Abuya Husni ingin santrinya yang mengikuti lomba itu mendapatkan hasil yang terbaik.


Kedatangan Kania ke Indonesia setelah belajar kurang lebih dua tahun di negeri Nabi Musa itu membawa harapan baru bagi perkembangan bahasa arab santri-santri yang ada dalam pondok pesantren ini.


"Assalamualaikum..."


Para santriyat itu mulai berdatangan ke kelas yang dikhususkan untuk bimbingan bahasa arab, mereka terkejut juga ternyata ustadzahnya sudah berada di situ.


Dengan sopan dan ta'dzim para santriyat itu mencium tangan Kania, kemudian mereka duduk membentuk lingkaran.


"Sudah datang semua kah yang bimbingan ni? "


Sepakat semuanya menjawab sudah, dengan segera Kania membuka pembelajaran tersebut hingga tak terasa para santriyat itu terbengong dengan wajah yang melongo karena lancar dan fasihnya Kania dalam berbahasa arab.


Begitu kata Kania sambil memutar spidol hitam di atas white board yang sudah siap sedari tadi di hadapan para santriyat itu. Kemudian Kania menulis sesuatu berupa pertanyaan dengan menggunakan bahasa arab.


"Pertanyaan ini di jawab ya... tapi harus menggunakan bahasa arab! " Kata Kania sambil tersenyum melihat mimik muka ensecure dari para santriyat yang ada di ruangan itu.


.......................


Sembilan puluh menit telah berlalu, tak terasa pembelajaran hari ini bagi santriyat yang akan lomba bulan depan telah selesai, mereka pun bersiap untuk kembali ke ruangannya masing-masing, begitu pun dengan Kania ia tidak ada tugas lagi setelah ini, jadi bisa langsung pulang ke rumah.


Ruangan tempatnya mengajar para santri itu bersebarangan dengan dapur Umi Dzakiyah, sekaligus dapur para santri juga.


Ketika Kania akan beranjak dari ruangan itu untuk pulang, sekilas Kania melihat Umi Dzakiyah memanggilnya dengan lambaian tangan, sontak saja Kania mengurungkan niatnya. Lalu ia pergi menuju ke dapur Umi Dzakiyah.


Untuk menjaga diri dari laki-laki bukan muhrim, Kania sudah siap dengan cadarnya yang akan dipasang ketika bertemu dengan para asatidz.

__ADS_1


Benar saja dapur Umi Dzakiyah yang agak sedikit terbuka dengan ruangan tamu, ternyata memang banyak para asatidz yang hadir. Abuya Husni sedang memberikan pengarahan kepada mereka.


Kania bertanya dalam hati gerangan apa, sehingga Abuya Husni mengumpulkan anak buahnya.


Umi Dzakiyah mempersilahkan Kania duduk di dalam, tapi ia tidak bersedia karena sudah penuh dengan asatidz yang lain, akhirnya Kania agak merapat ke ruangan dapur.


Alih-alih mendengarkan pengarahan Abuya Husni, malah membantu Umi Dzakiyah menyiapkan minuman beserta tambulnya, Kania malah senang dapat membantu Umi Dzakiyah.


..........................


Abuya menutup pengarahannya dengan memberi kesimpulan bahwa pengawasan terhadap para santri harus ditiingkatkan, berhubung banyaknya pelanggaran yang akhir-akhir ini dilakukan oleh para santri.


Dengan penutup Abuya Husni mengucapkan, "Assalamualaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh."


Suasana pun hening, tapi seorang pria bergegas pergi ke dapur, nampaknya ia sudah terbiasa dengan suasana dalam rumah ini.


Tiba-tiba Umi Dzakiyah berseru dengan suara agak pelan, " Ambil Den, minumannya! "


Kania kaget dengan suara Umi Dzakiyah itu, siapa yang dipanggil Den itu?


Tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang memghampirinya saat mempersiapkan tambul ke dalam piring-piring.


Kania baru tahu bahwa orang itu adalah Deni.


Deni yang sudah mengenal sosok Kania meskipun bercadar merasa kikuk juga maklum sekarang ia memiliki perasaan yang lain terhadap gadis ini, perasaan ingin memiliki.


Deni bergegas mengambil minuman dan tambul itu, ia tidak berani menegur apalagi bercanda, ia sadar bahwa dengan ilmu yang sekarang ia miliki, menjaga pandangan dari wanita bukan muhrim adalah syarat bagi kebahagiaannya kelak. Karena dengan menjaga pandangan akan terhindar dari fitnah diri berupa kegelisahan yang akan mengganggu kehidupannya sehari-hari.


Namun ia tak dapat memungkiri jika dalam hatinya sangat berharap jika rembulan yang ada di hadapannya ini belum ada yang memiliki.


..........................

__ADS_1


__ADS_2