Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Husna berjalan sambil melihat-lihat seisi rumah 1 lantai pemberian mertuanya.


Mereka baru saja pindah ke sini tadi pagi dengan di antar oleh kedua orang tua Mikail dan juga Aisyah.


Meski hanya 1 lantai, tapi rumah ini tidak kalah mewah dan memanjakan mata. Lengkap juga dengan perabotan mewahnya.


"Itu yang di pojokan, kamar tidur lo,"


Tiba-tiba sang suami sudah berdiri di belakangnaya sambil menunjuk ke salah satu kamar yang ada di pojokan di dekat dapur.


"Lo, mas. Itu bukannya gudang?"


Husna protes.


"Nggak usah banyak bacot lo. Udah untung gue kasih kamar. Lo mau gue suruh tidur di luar?"


Tanya pria itu, galak.


Husna malas berdebat. Ia memilih berjalan sambil menyeret barang bawaannya ke tempat yang di tunjuk pria tadi.


"Barang-barang lo, taruh di kamar gue. Supaya ntar kalau mama tiba-tiba sidak, sandiwara kita tidak terbongkar."


Ucap Mikail sambil melangkah menuju kamarnya.


Husna menarik nafas, ia tetap menarik barang bawaannya ke dalam kamar pojokan. Ketika pintu di buka, ia sedikit terkejut melihat kamar itu. Kecil dan pengap.


Di sana hanya ada satu kasur lantai kecil dan lemari plastik yang terletak di pojokan.Tidak ada kipas, apa lgi AC.


Husna tetap melangkah masuk, mendudukkan dirinya di sana. Berfikir langkah apa yang akan di lakukannya.


"Eh, bikinin gue nasi goreng."


Tiba-tiba lamunan wanita itu terhenti karena mendengar ucapan ketus dari seorang pria.


Husna hanya diam. Ia bangkit dan berjalan menuju kulkas. Ketika benda itu di buka, ternyata isinya masih kosong melompong.


Gadis itu berbalik, menatap pada pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Bahan makanan tidak ada. Bagaimana aku bisa memasak?"


Tanyanya.


"Masa gitu aja tanya sama gue. Lo beli dong!" Jawab pria itu masih dengan nada tak bersahabat.


"Aku tidak punya uang."


Jawab gadis itu pendek.


Mikail mengerluarkan kartu kreditnya.


"Nih, gunakan untuk kebutuhan rumah ini. Jangan berani memakainya buat barang pribadi lo." Ancam Mikail.


"Aku bisa memenuhi kebutuhan ku sendiri mas." Jawab Husna sambil meraih kartu itu.


Ia masuk ke kamar dan mengganti pakaian. Lalu, ia berangkat ke supermarket menggunakan jasa taksi online.


Tak butuh waktu lama, wanita itu kembali dengan beberapa kantong belanjaan dan sebuah kipas angin kecil.


"Eh itik. Bukankah tadi sudah di larang supaya jangan gunain kartu kredit itu, buat keperluan pribadi lo. Lalu, kenapa lo beli kipas angin segala?" Mikail yang baru keluar dari kamarnya, langsung menyemprot.


Husna mengacuhkan ocehan sang suami. Ia lanjut jalan ke kamar, meninggalkan pria tadi di ruang tamu.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Husna mencolok bemda tadi dan langsung tersenyum saat merasakan angin sejuk membelai wajahnya.


"Itik, lo nggak denger gue ngomong apa?"


Mikail menerobos masuk saat Husna baru melepas Hijabnya.


Gadis itu meraih dompetnya, mencari sesuatu di dalam sana.


"Ini kartu kamu mas! Aku hanya menggunakannya untuk membeli keperluan dapur. Kipas angin yang di kamar itu, aku beli dengan uangku sendiri."


Husna menaruh kartu itu di atas lemari piring yang kebetulan berada di depan kamarnya. Tepat di samping Mikail berdiri.


"Busyet, kok galakan dia dari gue?"


Pria itu terdiam menatap punggung wanita yang mulai berjibaku dengan barang dapur.


Beberapa saat kemudian, Husna telah selesai dengan tugasnya. Ia meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas jus di atas meja makan.


"Tok, tok, tok," Husna mengetuk pintu.


"Masuk."


Husna menarik gagangnya, hal pertama yang dilihat oleh matanya adalah sebuah kamar luas nan mewah, lengkap dengan furniture yang membuat bibirnya berdecak kagum


"Pesananmu sudah siap mas."


Husna segera menguasai gejolak jiwa miskinnya ketika melihat barang mewah. Ia tidak mau Mikail sampai mengejek dirinya lagi.


"Hm.."


pria itu menjawab tanpa menoleh, matanya tertuju pada laptop yang berada di pangkuannya.


Setelah mendapatkan jawaban, Husna pun keluar meninggalkan pria itu di sana. Dia kembali ke kamar kecil tempat dimana dia akan menghabiskan malam.


"Hm.. Masakan itik ini memang tidak ada duanya."


Pujian Mikail lolos, ketika makanan sudah masuk ke tenggorokannya.


"Apa yang dikerjakan si itik di kamar kecil itu? Apa dia tidak merasa pengap?


Berbagai pertanyaan muncul di benak Mikail ketika matanya mengarah ke pintu kamar yang di berikannya kepada Husna.


"Wanita itu tahan banting banget sih? Udah dikasih kamar kecil, tapi dia sepertinya betah-betah saja. Kenapa gue merasa kalau aksi gue untuk membuat Dia menderita akan gagal. Karena sepertinya dia tidak ada masalah meskipun ditempatkan di gudang sekalipun."


Mika masih sibuk berbicara dengan dirinya sendiri.


"Oke gue akan pikirkan cara lain untuk membuat lo lebih menderita lagi. Hingga lo sendiri yang akan merengek untuk meminta cerai dari gue,"


Mikail mempercepat kunyahannya.


"Dert, dert, dert,"


Suara getaran HP membangunkan Husna dari tidur singkatnya.


Ia segera mengambil benda pipih untuk melihat penunjuk waktu.


"Astagfirulahaladzim!"


Husna agak terkejut karena hari sudah maghrib, ia bangkit dan segera mencari handuk sekaligus baju ganti. Kemudian berjalan ke kamar mandi yang memang terletak di luar kamarnya.


Ketika pintu terbuka, hal mengejutkan lain sudah menunggunya di meja makan.

__ADS_1


Yaitu dua anak manusia yang sedang berciuman mesra.


Husna mengepalkan tangannya, kemudian lanjut melangkah melewati dua orang itu tanpa menoleh, ataupun menegur. Seakan-akan ia tak melihat aksi panas yang sedang terjadi dihadapannya.


Entah berapa lama ia membersihkan diri di dalam sana hingga ia kembali keluar. Dan 2 orang tadi masih ada di sana, hanya saja adegan panas mereka sepertinya telah selesai.


"Gimana rasanya tinggal di gudang?"


Ucapan dari kekasih suaminya tadi dapat menghentikan langkah Husna.


Gadis itu berbalik dan menatap Amanda dengan wajah yang menampilakan senyuman indah.


"Aku bukanlah tipe wanita yang tidak tahu bersyukur. Meskipun kekasihmu memberiku gudang kecil ini, tapi aku tetap bersyukur karena aku masih punya tempat tinggal untuk ku berlindung dari panas dan hujan. Lagi pula tempat ini gratis. Jadi aku nikmati saja."


Husna menjawab enteng.


Jawaban Husna membuat Mikail yang tadinya sok sibuk meminum kopi. Akhirnya melirik sekilas.


"Tentu saja kau menikmatinya, karena tinggal di tempat mewah seperti ini saja sudah menjadi sebuah keberuntungan. Gadis miskin sepertimu memang paling cocok tinggal di gudang sempit seperti itu. Tapi aku heran, kenapa kau masih terlihat percaya diri sementara suamimu memperlakukanmu dengan buruk."


Amanda kembali mencaci.


"Meskipun dia memperlakukan ku dengan buruk, aku tetap menjalaninya dengan ikhlas. Karena semakin kekasihmu itu mendzolimi diriku, maka akan semakin diangkat lah derajatku oleh yang diatas. Dan doa orang yang sedang teraniaya, pasti akan dikabulkan. Berhati-hatilah sebelum aku mengutuk dua orang setan seperti kalian." Husna berucap lantang.


"Uhuk, uhuk, uhuk."


Mikail tersedak kopinya hingga Minuman itu masuk ke dalam hidung, membuat nyeri di sekitar kepalanya.


"Sayang, kamu nggak papa kan?"


Amanda dengan cepat mengambil tisu dan langsung membantu kekasihnya membersihkan mulut dan daerah dada.


"Kau lihat itu? Meskipun aku belum meminta Tuhan untuk membalas kalian, tapi kekasihmu itu sudah merasakan sedikit balasannya."


Husna tersenyum, kemudian berlalu. Dia masuk kekamar dan mengunci pintunya dari dalam.


Meninggalkan sepasang kekasih tadi dengan wajah yang kian kesal.


"Brengsek! Aku akan memberinya pelajaran."


Amanda mengepalkan tangan, kemudian melangkah menuju kamar Husna.


"Amanda, jangan cari masalah. Biarkan saja dia." Mikail menahan tangan sang kekasih.


"Apa maksudmu membiarkan Nya? Apa kau tidak lihat wajahnya tadi menghina kita?"


Wanita itu kian tersulut emosi.


"Tidak ada gunanya kita ribut dengannya malam ini. Biarkan saja, besok aku akan membalasnya. Lebih baik kita pergi keluar dan menikmati waktu kita. Ayo!"


Mikail menarik tangan kekasihnya menuju ruang tamu.


"Tunggu lah di sini! Aku akan mengganti baju dan mengambil kunci mobil."


Mikail berjalan masuk ke kamarnya.


"Terbuat dari apa hati wanita itu? kenapa dia terlihat biasa saja meskipun Dia melihatku berciuman mesra dengan wanita lain,"


Mikail bergumam di sela membuka baju yang tadi terkena tumpahan kopi.


Dia melihat bekas memerah di dadanya yang putih. Semua itu terjadi kerena kopi tadi masih terlalu panas. Hingga membuat dadanya nyeri dan rasa terbakar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2