Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 25


__ADS_3

"Akh, mas!"


Husna menatap dengan mata memerah pada pria yang mendorong dirinya ke ranjang.


"Apa menggoda pria adalah hobby mu?"


Mikhail berkacak pinggang. Wajah pria itu merah padam. Emosi yang memuncak membuat nafasnya memburu tak beraturan.


"Menggoda apanya mas? Bukankah tadi mas yang meminta ku untuk pulang seorang diri?"


Husna bangkit.


"Aku menyuruh mu pulang. Tapi kau malah ikut dengan duda itu? Apa kau menyukainya?"


Mikhail kian emosi.


"Aku tidak ikut dengannya ke tempat lain. Dia hanya berbaik hati mengantarku pulang karena tidak tega jika aku harus berjalan seorang diri."


"Oh, jadi kau sekarang memuji kebaikan hati pria itu?"


"Ya, karena dia sangat berbeda denganmu."


Husna terdengar membandingkan.


"Hah, hal itu terjadi karena dia ingin mendapatkan perhatianmu. Makanya di bersikap sok baik tapi kau ternyata sangat mudah untuk di rayu."


Mikhail berjalan ke arah luar.


"Aku bisa di rayu atau tidak. Itu bukanlah urusanmu. Bukankah mas sendiri yang meminta supaya kita tidak mencampuri urusan satu sama lain?"


Husna mengingatkan.


Pria itu berhenti.


"Selagi kau masih berstatus istriku. Maka jangan bermain api dengan pria manapun."


Mikhail memperingatkan.


"Apa menurutmu ini adil mas? Saat dirimu menjalin hubungan terlarang dengan selingkuhan mu itu, aku tidak pernah melarang mu. Sedangkan aku hanya berbasa-basi dengan bos tempat ku bekerja tapi mas langsung menuduh ku yang tidak tidak."


Husna yang tak terima dengan tuduhan Mikhail, mulai memberontak.


"Kau adalah seorang perempuan. Akan buruk bagimu Jika ada yang mengetahui bahwa kau dekat dengan pria lain, sementara kau sudah mempunyai suami."


Mikhail terus memberi alasan.


"Lalu bagaimana denganmu? Jangan jadikan jenis kelamin untuk menutupi kesalahan mu Mas."


Husna membalikkan ucapan suaminya.


"Kau dan aku berbeda. Amanda sudah ada sebelum hubungan kita di jalin. Dan aku mencintai wanita itu."


"Apa perlu aku mencintai Pak Andre dulu, supaya Mas membiarkanku dekat dengannya?"


Kalimat ucapan yang diutarakan oleh Husna, kali ini mampu membuat pria itu kembali ke dalam kamar.


Mikhail mengepalkan tangan marah. Entah kenapa ucapan wanita itu kali ini di nilainya sudah terlalu mampu membangunkan emosinya.


Dengan secepat kilat pria itu menahan kedua pipi Husna, ia mendaratkan bibirnya di mulut wanita itu. Mengul*m nya kuat penuh kemarahan.


"Um..uhm."


Husna yang tersentak langsung menggeleng mencoba melarika bibir dari serangan kasar sang suami.


"Akh,"


Mikhail mengaduh.


Tautan mereka terlepas karena Husna menendang tulang kering pria itu.


"Plak"

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di pipi kiri Mikhail.


"Kau pria kotor yang berengs*k."


Ucapnya dengan air mata mulai berjatuhan.


"Uhm..um.."


Lagi, Mikhail merebut bibirnya.


Kali ini pria itu mendorong Husna hingga tersandar ke lemari, ia mengunci kaki wanita itu dengan pahanya. Membuat Husna tak dapat bergerak sama sekali, ia hanya bisa Melarikan wajah supaya bibir pria itu bisa terlepas darinya.


Entah berapa lama waktu yang di butuhkan oleh pria itu dalam membekap mulut sang istri. Husna yang sudah kehabisan tenaga akhirnya hanya bisa pasrah, ia membiarkan pria itu menikmati setiap inci bibir merahnya.


Bukan karena ia menikmati, namun lebih ke rasa frustasi karena tenaganya yang tak begitu kuat jika dibandingkan dengan pria yang tengah menguasainya.


"Apa mas sudah puas?"


Husna bertanya dengan air mata yang berurai. Bukan karena Mikhail merebut ciuman pertamanya, tapi lebih ke cara pria itu melakukannya. Kasar dan menyakitkan.


"Belum, aku akan melakukan ini lagi apabila kau masih tidak mendengarkan apa yang aku katakan."


Bisik pria itu dengan nafas yang tak beraturan.


"Kamu egois mas. Kau pria yang tidak punya perasaan."


Husna mendorong Mikhail. Ia langsung terduduk di lantai, membenamkan wajah di sela lututnya. Bahu wanita itu juga terlihat naik turun sebagai penanda betapa terluka nya ia saat ini.


Mikhail sontak merasa terpukul begitu mendengar isakan yang samar keluar dari mulut istrinya.


Pria itu terdiam di sana, ia tidak tau apa yang harus di lakukan untuk menebus kesalahannya.


Lama ia hanya menatap sampai akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan sang istri di sana. Ia kembali ke kamarnya dan langsung masuk kekamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap hawa panas yang mengusai otaknya bisa segera menurun.


Entah berapa lama pria itu berdiam diri di dalam sana. Hingga bunyi benda pipihnya yang sedari tadi berdering tak dapat di tangkap oleh telingannya.


Membuat wanita di seberang sana semakin kesal.


Amanda mengepalkan tangan geram.


Gadis itu kesal karena Mikhail mengingkari janji untuk menemaninya ke bar tidak di penuhi.


Amanda memasukkan HP kembali ke dalam tas kecilnya. Ia mengeluarkan kunci mobil kemudian berlalu dari sana. Dan tujuannya tentu saja ke rumah sang kekasih.


"Ting, tong. Ting, tong."


Husna yang baru saja mulai merebahkan tubuh di buat kembali duduk saat mendengar bel rumah berbunyi.


Wanita itu menoleh ke arah penunjuk waktu, dan benda itu sudah mendarat di angka 12 malam.


"Siapa yang datang selarut ini."


Husna penasaran.


"Ting, tong, Ting,tong. Ting, tong."


Lagi dan lagi. Kali ini justru terdengar makin semangat.


Husna turun dan berjalan ke arah pintu, namun ketika baru membuka sedikit, samar telinganya menangkap suara keributan tengah terjadi di luar.


"Apa kau sedang bermesraan dengan wanita kampung itu? Hingga kau melupakan janjimu padaku?"


Suara seorang wanita yang di kenal Husna terdengar berapi.


"Amanda, pulanglah. Aku sedang capek, ini bukan waktunya untuk menanggapi rasa cemburu mu yang berlebihan itu."


Mikhail terdengar mengusir.


"Apa, berlebihan? Mikha, bukan aku yang berlebihan. Tapi kaulah yang sudah berubah."


Amanda semakin emosi.

__ADS_1


"Amanda tolong. Ini sudah larut, semua orang sedang beristirahat."


Mikhail menahan tangan Amanda yang memaksa dirinya membuka pintu.


"Aku tidak peduli, mana wanita itu? Biarkan aku masuk! Aku akan memberinya pelajaran."


Amanda mendorong kekasihnya supaya minggir.


"Apa orang tua mu tidak pernah mendidik mu tentang adab bertamu?"


Husna akhirnya kehilangan kesabaran. Ia menyilangkan tangan di depan dada dan menatap marah pada 2 anak manusia yang sedang bersitegang di depan pintu.


Amanda yang dari tadi memang sedang tersulut emosi, akhirnya kehilangan akal sehatnya. Ia mendorong sang kekasih hingga pria itu tersandar kepintu.


Dengan penuh kekesalan, gadis itu mengangkat tangan untuk mendaratkan tamparan ke pipi kiri Husna. Namun sayang, ketika hanya tinggal beberapa senti, tangan Husna dengan sigap menangkapnya.


Dan...


"Plak."


Satu tamparan akhirnya mendarat.


"Kurang aj*r"


Amanda memegang pipi kirinya yang terkena jari 5.


Gadis itu tidak terima, ia kembali melayangkan tangan, namun kali ini juga gagal. Husna memutar tangan wanita itu, lalu mendorong tubuhnya hingga terjerembab ke lantai.


Mikhail yang menyaksikan peristiwa tadi menjadi merinding. Ia tak pernah melihat Husna segarang itu.


"Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali. Jika kau mau bertengkar dengan kekasih mu silahkan saja. Tapi jangan mengganggu waktu istirahat orang lain."


Husna berpindah menatap pada Mikhail.


"Bawa perempuan ini keluar, atau aku yang akan pindah ke rumah mama di tengah malam seperti ini."


Husna berucap dengan mata berapi.


"Mak, galak bener."


Pria itu membatin.


"Ba, baik."


Mikhail tergagap, ia berjalan menghampiri Amanda dan membantunya berdiri.


"Mika, kamu kenapa diam saja? Kamu liat kan tadi dia memukulku?"


Amanda berucap dengan nada memelas.


"Kau lah yang mulai duluan. Dia hanya membela diri."


Ucapan Mikhail berhasil merubah raut wajah Amanda. Dia menepis kasar tangan sang kekasih dari lengannya.


"Kenapa kau masih membelanya? Kalian berdua sama-sama berengs*k!"


Gadis itu langsung berjalan keluar dari rumah.


Mikhail yang baru menyadari kalau dirinya sudah menyakiti sang kekasih, akhirnya berlari mengejarnya keluar.


"Amanda, buka pintunya! Manda!"


Pria tadi mencoba menggedor kaca mobil.


Meski Mikhail sudah berusaha, namun Amanda yang sudah terlanjur kecewa tetap tak menghiraukan nya. Gadis itu berlalu dengan semua kekesalan dan rasa sakit di hatinya.


"Akh, berengsek. Seharusnya aku tadi menghiburnya."


Mikhail menggaruk kepanya yang tak gatal.


TBC

__ADS_1


__ADS_2