Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 6


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Husna nur haziah binti Adam haziah dengan mas kawin tersebut, tunai." Suara Mikail terdengar lantang dalam mengucapkan akad nikah.


"Bagaimana saksi?" Penghulu bertanya.


"Sah." Para saksi dan semua orang yang hadir serentak menjawab.


Dengan adanya kata sah dari para saksi, maka Mikail dan Husna sudah resmi menjadi suami istri. Baik dari badan hukum, maupun agama.


Semua orang mengucap puji dan syukur. Semua juga terlihat genbira, kecuali sang mempelai. Husna berada dalam kerisauan hati, ia masih ingat betul apa yang di ucapkan oleh Mikail padanya tadi malam.


Flashback.


"Itik, lo denger sini ya. Besok kita akan resmi menjadi suami istri. Gue beri lo kesempatan untuk menyelamatkan diri dari penderitaan sebelum saksi mengucapkan kata SAH. Tapi, jika lo tetap tidak mau membatalkan semua ini, jangan salahkan gue atas apa yang akan terjadi pada lo kelak."


Mikail berucap dengan suara setengah berbisik.


"Tapi, mas! Aku tidak bisa, bagaimana mungkin aku membatalkan pernikahan yang sudah di rancang oleh keluarga. Semua orang akan sangat malu. Eyang, mama, papa, Umma dan Abahku juga akan merasa sangat kecewa. Aku tidak akan tega melakukan hal sekeji itu." Jawab Husna, pasti.


"Baiklah, ini pilihan lo. Tapi ingat, setelah menikah nanti jangan mengharapkan apa-apa dari gue. Karena bagi gue, lo bukan siapa-siapa. Dan, jangan berani melarang gue berhubungan dengan Amanda." Tambah Mikail lagi.


"Tenang saja mas. Dosa seorang suami tidak akan ikut di tanggung oleh istri. Jadi, aku tidak akan ikut campur dengan apapun yang mas lakukan. Kecuali 1, aku tidak ingin mas membawa kekasihmu itu kerumah yang ku tinggali." Jawab Husna mantap.


"Ya nggak bisa gitu dong. Rumah yang akan kita tinggali adalah rumah gue, yang di berikan oleh mama dan papa. Lo tidak berhak melarang siapapun yang akan gue ijinkan masuk." Mikail berkacak pinggang.


"Hanya ini syarat yang ku minta mas. Aku melakukan ini karena, aku tidak ingin kebagian dosa kalian. Terserah mas setuju atau tidak, yang pasti jika mas melanggarnya. Maka, aku akan pulang ke rumah keluargamu." Ancam Husna, kemudian berlalu meninggalkan Mikail.


Flashback on


Husna tetap memaksakan senyum ketika mereka bertukar cincin. Hal yang sama juga di lakukan oleh suaminya. Pria itu juga sangat jago berakting. Dia bahkan mengecup kening Husna dengan hangat.


Tangan Mikail terangkat untuk memegang ubun-ubun Husna. Bibirnya juga fasih membacakan do'a yang biasa di panjatkan oleh seorang mempelai pria untuk mempelai wanita.


Husna sempat terharu dan terheran. Ia tak menyangka kalau Mikail juga tau hal seperti ini. Gadis itu berusaha menyembunyikan air mata haru, karena tak ingin Mikail melihat mereka jatuh.


Setelah semua acara selesai, Husna masuk ke kamar. Mengambil baju ganti untuk di kenakan setelah membersihkan diri. Ia melirik jam sekilas, di sana terlihat penunjuk waktu mengarah ke angka 11 malam.


Husna berjalan menuju kamar mandi yang memang berada di dapur. Rumah besar itu hanya memiliki 1 bilik air.


Ketika melewati ruang tamu, Husna sempat melihat Mikail, ayah mertua dan abahnya sedang mengobrol serius.


Husna penasaran, namun tak berani menyapa.

__ADS_1


"Husna!" Terdengar panggilan dari arah kamar eyang.


Husna mendekat. Di sana sudah ada eyang, ibu mertua dan umma nya.


"Iya, ada apa eyang."


Husna duduk di karpet sebelah eyang.


"Sini nduk!"


Sang nenek menarik Husna kepelukannya.


"Nduk, sekarang kamu sudah jadi istri dari seseorang. Pandailah membawa diri dan jadilah istri yang taat kepada suami. Karena setelah akad tadi, surgamu sudah tidak lagi berada di telapak kaki ibumu. Namun, sudah berpindah pada ridho dari Mikail. Suamimu." Ucap wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.


"Iya, nak. Mikail memang agak sedikit keras. Tapi, yakinlah jika dia sebenarnya adalah pria yang baik. Mama harap kamu bisa bersabar dalam menghadapi sifatnya." Sang mertua menimpali.


"Pesan dari Umma. Jadilah istri yang baik dan patuhi setiap perintah suamimu. Kecuali hal yang melanggar agama."


Kali ini Ummanya yang ikut berbicara.


Husna hanya bisa mengangguk sambil menahan air mata. Ia tak tahu hal seperti apa yang akan menantinya di masa depan.


Lama ia mengobrol di sana. Gadis itu baru bisa kembali ke kamar ketika penunjuk waktu mengarah ke angka 1 dini hari.


"Hum... hah..." Husna menarik dan membuang nafas panjang beberapa kali.


Setelah memastikan gugupnya berkurang. Barulah wanita itu menarik gagang pintu.


"Assalammualaikum."


Ucapnya pelan.


Tak ada jawaban. Mata Husna liar menyapu kamar pengantin itu. Dan terlihatlah di bawah kelambu, seorang pria sudah terlelap di sana.


Husna mendekat dengan jantung berdebar. Melihat ke arah mata pria itu. Memastikan bahwa suaminya telah tertidur.


"Alhamdulillah,"


Husna merasa lega karena pria itu sudah menutup mata. Dan ia pun berjalan menjauh.


"Ah.."

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang menarik tangannya, hingga Husna terjatuh terlentang di atas kasur. Dengan cepat, orang yang menarik tadi menaiki tubuhnya. Dan langsung mengunci Husna di bawah.


"M..mas.. Tolong lepaskan aku."


Husna membuang wajah ke samping karena wajah Mikail hanya beberapa senti di atasnya.


"Kenapa aku harus melepaskanmu? Bukankah kau sudah sah untuk aku gauli?"


Ucapnya dengan tangan menyentuh pipi Husna.


Gadis itu semakin gemetar. Ia benar benar belum siap untuk ini.


"T..tapi. A..aku belum siap."


Ucapnya ketakutan. Ia menepis tangan Mikail dari pipi.


"Hahaha.."


Pria itu tertawa terbahak-bahak. Mikail bangkit dan berjalan menuju kursi kecil yang ada di depan meja rias. Wajah pria itu berubah menjadi raut meremehkan.


"Apa yang lo pikirkan itik? Apa lo pikir gue akan menyentuh lo malam ini. Hah, hayalan lo makin tinggi aja."


Pria itu menyalakan rokoknya.


"Ingat ini baik-baik, semua yang ada pada diri lo itu, tidak membuat gue berselera. Jadi, jangan mencoba untuk mendekatkan diri pada gue. Karena, semua usaha mu itu akan sia-sia." Ucapnya kasar.


Husna yang sudah duduk, menatap marah pada Mikail.


"Merokoklah di luar. Aku tidak suka aroma asapnya."


Husna bangkit. Ia menarik tikar yang ada di bawah tempat tidurnya. Kemudian menggelarnya di lantai.


"Dan satu lagi mas, aku juga tidak berencana untuk mendekatkan diriku padamu. Karena, aku sama sekali tak mengharapkan sentuhan dari pria kasar dan tak berperasaan seperti mu itu. Selamat malam."


Husna berbaring lalu menarik selimut hingga kedadanya.


"Brengsek! Kok jadi gue yang merasa di tolak. Sombong amat ni itik."


Tangan Mikail terkepal kuat. Ia terus menatap tajam ke arah punggung wanita yang sudah menutup matanya itu.


TBC

__ADS_1


Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomentar ria.


__ADS_2