Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 16


__ADS_3

"Apa Mas mau makan?"


Husna bertanya pada pria yang baru saja berdiri di belakangnya.


"Tidak. Gue kesini ingin meminta lo mekakukan hal kemarin"


Ucapnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.


Alis Husna terlihat menyatu.


"Hal yang mana Mas?"


Tanyanya sambil menata piring di atas meja.


"Tidak usah pura-pura lupa. Bukankah dua hari yang lalu gue meminta lo untuk menerangkan pada Amanda Apa yang terjadi sebenarnya?"


Mikail berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di kursi.


"Tapi aku sudah menolak untuk melakukan itu. Jadi kenapa Mas masih memintaku untuk melakukannya?"


Husna mundur menjauh karena Mikail duduk tepat di sebelah lengannya.


"Itik please! Tolong gue sekali Ini saja, sejak kejadian itu Amanda tidak mau menerima komunikasi apapun dari Gue. Tolonglah!"


Pria itu berucap dengan wajah memelas.


"Apapun yang terjadi dengan hubungan kalian. Itu tidak ada hubungannya denganku. Jadi, jangan libatkan aku di dalamnya."


Husna berjalan meninggalkan Mikail.


Pria itu bangkit dan mengikuti Husna ke kamarnya.


"Bagaimana kalau lo melakukan ini tidak gratis. Gue akan mengabulkan apapun permintaan lo, asalkan lo bersedia menolong gue."


Akhirnya pria itu melakukan penawaran.


Langkah Husna terhenti. Otaknya mulai berpikir keras.


"Apa mas janji akan mengabulkan apapun yang aku inginkan?"


Tanyanya dengan senyuman.


"Gue janji dan lo bisa pegang janji ini."


Ucapnya yakin.


"Baiklah."


Husna menyetujui dengan enteng.


"Semudah itu?


Emangnya apa sih yang lo mau? Tas, baju, atau barang branded lainnya?"


Tanya Mikail heran melihat sikap Husna yang langsung berubah seketika.


Gadis itu menggeleng cepat.


"Aku tidak menginginkan materi Mas. Aku hanya menginginkan 3 hal, jika Mas menyanggupi permintaan ku ini, maka aku akan bersedia menjelaskan semuanya pada wanita itu, kapanpun mas menyuruhku,"


Husna menjawab.


Mikail terlihat berpikir sebentar.


"Apa ada yang lebih penting dari pada uang?"


Ia bergumam.


"Baiklah. Katakan apa yang Lo inginkan!"


Pria itu penasaran.


"Pertama, aku ingin pindah ke kamar tamu."


Syarat pertama Husna meluncur


"Baiklah."


Mikail langsung menyanggupi.


"Yang ke dua. Berhenti berucap lo, atau gue. Aku tidak terbiasa mendengarnya."


Lanjut Husna.


"Kacang, lanjut."


Pria itu juga mengiyakan.


Husna tersenyum.


"Yang ke tiga. selamat aku tinggal di rumah ini, aku tidak ingin kekasihmu itu menginjakkan kakinya di sini. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin kebagian dosa karena kalian."


Syarat terakhirnya terucap


Persyaratan yang ini berhasil sedikit mengejutkan pria itu. Mikail terdiam sesaat, mencoba untuk berpikir.


"Kalau aku tidak setuju, maka aku akan gagal berbaikan dengan Manda. Lagian nggak papa juga sih, nggak pacaran di sini. Toh masih banyak tempat lainnya."


Pria itu menimbang.


Karena merasa tidak punya pilihan lain, akhirnya pria itu menyetujui ke 3 persyaratan yang diberikan oleh istrinya.


"Baiklah."

__ADS_1


Ucapnya lemah.


"Oke. Kalau begitu masalahnya selesai. Ingat ya Mas, aku tidak ingin kamu melupakan janji yang telah kita sepakati ini. Jika kedapatan Mas membawa wanita itu kesini, maka aku tidak akan segan-segan membeberkan hubungan kalian kepada kedua orang tuamu."


Ancam Husna.


"Tenang saja! Meskipun aku terlihat seperti ini, tapi aku bukanlah pria yang suka mengingkari janji. Kau bisa memegang apa yang sudah ku ucapkan."


Kali ini Mikail menyakinkan.


"Oke. Kalau begitu, Keluarlah!"


Wanita itu mengusir.


"Kenapa lo ..."


Ucapan Mikail terhenti, karena Husna sudah melotot ke arahnya.


"Kamu dan Aku mas. Bukan lo, gue."


Husna mengingatkan.


"Iya, ya. cerewet." Mikail menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa kamu mengusir ku di rumahku sendiri?" Mikail melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus.


"Bukan mengusir Mas. Tapi Aku mau shalat Ashar, apa mas mau menjadi Imamku di sini?"


Alis wanita itu terangkat menunggu jawaban.


Mikail yang mendapat tawaran seperti itu langsung mundur teratur.


"Tidak usah, Kamu Shalat sendiri aja. Aku akan kembali ke kamar,"


Pria itu keluar dari sana.


Waktu berlalu.


Setelah selesai makan malam, Husna dan Mikail memutuskan untuk pergi ke apartemen Amanda.


"Cepat dikit ngapasih! Kamu itu melangkah atau ngesot? Lelet amat."


Mikail merutuk pada Husna yang melangkah di belakangnya.


"Sabar dong Mas. Kaki ku kan pendek, jadi mana bisa ngejar langkah kamu."


Husna berusaha membesarkan langkahnya.


"Siapa suruh kamu pendek."


"Siapa suruh Mas jangkung."


Husna membalas.


"Auww.."


Husna mundur dengan cepat. Ia terlihat mengusap-usap hidungnya yang terbentur.


"Kamu kalau jalan pake mata. Atau kamu sengaja mau ambil kesempatan?"


Ptia itu menuduh.


"Ih nggak. Pake banget ya mas. Lagian mas ngapain berhenti tiba-tiba kek gitu?"


Dia menatap tajam.


"Aku mau menjitak kamu."


Jawabnya.


"Kenapa, emangnya apa salahku?


Tanyanya bingung.


"Kamu tadi ngatain aku jangkung kan?" Tanyanya.


"La, kan emang kenyataannya begitu, lalu apa yang salah?"


Husna menjawab berani.


"Bukan aku yang jangkung, tapi kamu Nya aja yang terlalu cebol."


Lagi, pria itu membela diri. Tangan Mikail terangkat membentuk huruf O. Bersiap untuk menjitak kepala Husna.


Melihat tangan yang hendak mendarat di keningnya. Reflek membuat wanita itu menutup kedua matanya sambil menyeringit. Bersiap untuk menerima hukuman dari pria itu


"Deg, deg, deg,"


Tiba-tiba saja tangan Michael terhenti saat sudah berjarak beberapa senti dari kening Husna.


Pria itu terdiam menatap wanita yang sedang menutup mata. Fokusnya berpusat pada wajah sang istri. Yang entah kenapa berhasil membuat dadanya berdegup kencang.


"Apa ada masalah dengan jantung ku? Kenapa dia bertalu seperti ini."


Tangan pria itu turun, memegang dada bagian kiri.


Husna yang lama tak merasakan apa-apa mulai membuka mata. Ia menatap heran pada pria yang terlihat bingung di hadapannya.


"Mas, apa kamu baik-baik saja?"


Dia bertanya heran.


Suara Husna berhasil mengembalikan kesadaran pria itu. Dia cepat membuang muka dan menurunkan tangannya dari dada.

__ADS_1


"Aku takut alergi jika menyentuh kulitmu."


Ucapnya kejam.


Husna kian bingung.


"Sepertinya pria ini mempunyai kepribadian ganda. Baru saja dia bercanda denganku, tapi tiba-tiba sudah berubah menjadi pria kejam yang tidak mempunyai hati."


Dia berucap sendiri.


"Baiklah kalau begitu, menjauhlah dari ku. Cepat tunjukkan yang mana apartemen kekasihmu."


Husna mempersingkat obrolan mereka.


Tanpa menjawab ataupun menoleh, akhirnya Mikail berjalan mendahului Husna. Pria itu masih terus bertanya di dalam hati.


Ia bertanya kenapa dadanya bisa tiba-tiba berdegup kencang saat memandang wajah wanita di belakangnya itu.


"Ting, tong. Ting tong.."


Pria itu memencet bel begitu sampai di tempat yang di tuju.


"Mau apa kalian kesini?"


Amanda bertanya garang, begitu baru membuka pintu.


"Sayang, kami kesini untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya."


Mikail melangkah masuk mengikuti Amanda.


Ia juga memberi kode supaya Husna mengikutinya.


"Apa yang ingin kalian jelaskan. Apa kalian ingin mengatakan kalau kalian bersenang-senang ketika malam itu?"


Tanya wanita itu lagi. Ia pun mulai mendudukkan diri di sofa.


"Kau salah paham, dengarkan penjelasan kami dulu."


Pria itu ikut duduk di samping Amanda.


"Mas Izinkan Aku berbicara berdua saja dengan Amanda."


Giliran Husna yang berucap. Dia sudah merasa muak melihat drama yang terjadi di hadapannya.


"Kenapa kau ingin berbicara berdua dengannya? Apa kau ingin menghasutnya agar segera memutuskan hubungan denganku?"


Mikail menyelidik.


"Aku bukanlah wanita licik Mas. Aku tidak akan menyerang musuhku dari belakang, jadi tidak usah khawatir."


Husna berucap sambil ikut mendudukkan dirinya di seberang pasangan itu.


"Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian, Aku hanya ingin meyakinkan kekasihmu bahwa malam itu tidak ada apa-apa yang terjadi di antara kita, semuanya hanya salah paham belaka."


Tambah Husna lagi.


"Benarkah?"


Amanda bertanya pada Mikail.


"Iya sayang. Aku tidak mungkin menyentuh wanita itu, bahkan meliriknya saja aku tidak sudi."


Ucapnya pada Amanda.


Mendengar ucapan kejam dari suaminya, tangan Husna terkepal kuat.


"Bagaimana mas? Apakah kau masih belum mau meninggalkan kami berdua?"


Husna meminta kembali.


"Baiklah."


Pria itu membelai rambut kekasihnya, kemudian berlalu keluar dari apartemen.


Sepeninggal pria tadi, Amanda berdiri dan mengambil rokok lalu menyalakannya.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang tidak dihargai"


Amanda bertanya dengan senyum mengejek.


"Di bagian mana Aku tidak dihargai?" Tanya Husna.


"Semuanya. Lihatlah betapa bodohnya dirimu yang berstatus sebagai istri sah. Tapi kau datang ke sini untuk menjelaskan bahwa kalian tidak melakukan sesuatu yang seharusnya terjadi. Apa kau tidak malu?"


Amanda mulai memancing emosi lawan.


"Hahaha.. Kau hanya melihat dari satu sisi. Harusnya kau bertanya kenapa aku mau ke sini untuk menjelaskan itu padamu. Apa yang di berikan kekasihmu itu hingga aku mau datang?"


Ucapan Husna mampu membuat wanita itu penasaran.


"Apa maksudmu?"


Amanda bertanya.


"Aku datang kesini setelah berhasil membuat kekasihmu memblokir jalanmu ke rumah kami. Jadi, mulai hari ini. Kau tidak akan di ijinkan untuk datang ke rumah yang aku tinggali bersana kekasihmu. Terima kasih atas kesalahpahaman kalian. Karena ulahmu, aku tidak perlu repot mengusir pelakor sepertimu dari kediaman Ku"


Husna langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan Amanda dengan amarah yang tak terlampiaskan.


"Brengsek! Niat ku memaksa Mikail untuk membujuk wanita itu, agar aku bisa menghinanya. Tapi, ternyata dia sangat licik dan cerdik."


Amanda meninju sofa, geram.


TBC

__ADS_1


__ADS_2