Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 28


__ADS_3

"Jadi, kamu sudah memutuskan untuk ikut tes beasiswa itu?"


Nani, ibu mertua Husna bertanya sambil menatap mata gadis berkerudung di hadapannya.


"Iya mah."


Jawab Husna mantap.


"Husna, mama dari dulu sangat ingin membiayai kuliah mu nak, tapi kamu selalu menolaknya. Lalu, kenapa harus sekarang ketika kamu sudah menikah? Bagaimana dengan nasib rumah tangga kalian nantinya?"


Nani menggenggam tangan menantu sekaligus keponakannya itu.


"Mah, jika Husna jujur. Apa mama tidak akan bersedih?"


Husna membalas belaian tangan wanita paruh baya itu.


"Hm, katakan sayang!"


"Ma, Husna sangat menghargai tawaran mama. Tapi maaf, Husna tidak bisa menerima itu karena Husna ingin sukses dengan usaha sendiri."


Gadis 23 tahun itu menjawab dengan nada lembut. Ia tak ingin kalimatnya tadi menyakiti hati sang mertua.


Nani sangat tersentuh dengan kemandirian menantunya itu.


"Tapi sayang, jika kamu berhasil mendapatkan beasiswa itu. Maka kamu akan berangkat ke Turki. Itu sangat jauh Husna, bagaimana dengan nasib pernikahan kalian?"


Nani mengungkapkan kerisauan hatinya.


"Mah, sebelumnya Husna minta maaf. Mungkin apa yang akan Husna katakan akan membuat mama kecewa."


Husna sedikit ragu, namun ia merasa inilah saatnya berbicara dari hati ke hati dengan sang ibu mertua.


Nani menatap Husna dengan tatapan bingung. Ia mencoba menerka apa yang akan wanita muda itu sampaikan.


"Sebenarnya hubungan kami tidak sehangat itu ma, kami sudah menikah hampir 8 bulan, tapi hubungaan ini tetap tidak ada perubahan, Mas Mikha masih tidak menyukai Husna. Mungkin sudah tiba saatnya kita menyerah dengan semua ini ma."


Husna berucap hati-hati.


Nani terdiam, tangannya menjadi layu. Ia tak menyangka kalau keyakinannya bisa salah.


"Tapi mama yakin kalau Mikhail akhirnya pasti akan mencintaimu."


Wanita paruh baya itu berucap dengan mata yang mulai mengandung air.


"Mah, ini sudah 8 bulan. Sudah saatnya kita menyerah. Kenyataannya Mas Mikha masih membenci Husna. Selama 8 bulan serumah, dia bahkan tidak melirik Husna sama sekali. Sampai kapan kami harus saling menyakiti? Mungkin sudah saatnya kita mengalah, dan biarkan mas Mikha mencari kebahagiaannya sendiri."


Husna memeluk sang ibu mertua.


"Lalu bagaimana denganmu nak? Ini semua salah mama. Mama yang sudah memaksa kalian untuk menikah."


Nani makin berlinang air mata. Ia merasa menyesal karena telah membuat keponakannya hidup dalam kesengsaraan.


"Tidak ma. Ini semua adalah takdir yang harus Husna terima. Meski mas Mikha tidak mencintai Husna, tapi Husna sudah bahagia bisa menjadi menantu mama dan papa. Terima kasih karena sudah memilih Husna."


Pertahanan Gadis itu akhirnya runtuh dan air matanya pun ikut jatuh. Mereka saling berpelukan untuk menguatkan, juga saling menangisi kegagalan masing-masing.


Tak lama pelukan mereka terlepas.


"Baiklah. Mama menyetujui keputusanmu, tapi dengan satu syarat."


Nani kembali berucap setelah air matanya bisa terkendali.


"Berikan Mikhail waktu 1 tahun. Setelah kamu pergi, jangan meminta cerai. Biarkan dia mendalami perasannya terlebih dahulu."


Lanjut Nani.


"Ma, satu tahun itu terlalu lama. Mas Mikha tidak akan setuju."


"Dia tidak punya pilihan."


Nani berdiri dan berjalan ke lemari.


Wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu.


"Ini kartu ATM mama. Pergunakan ini untuk membeli keperluanmu. Mama tau kalau kamu tidak akan mau menggunakan uang Mikhail."


Nani memberikan kartu itu pada Husna.


"Tidak perlu ma, Husna punya uang kok."


Tolak Husna halus.


"Ini mama berikan bukan sebagai ibu dari Mikha. Tapi mama berikan ini sebagai adik sepupu dari ayahmu. Jadi, kau tidak boleh menolaknya."


Nani memaksa Husna menerima benda hebat itu.


Husna yang tak punya pilihan akhirnya menerima dan menyimpannya ke dalam tas kecilnya.


Tak lama, Husna berpamitan. Ia kembali ke rumah di mana ia biasa tinggal.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di luar sana? Bukankah seharusnya kau sudah sampai rumah dari pukul 2 tadi?"


Kalimat pertama yang di terima Husna begitu dirinya baru membuka pintu.


"Aku lelah mas. Aku istirahat sebentar dulu, setelahnya aku akan memasakkan mu makanan."


Husna berlalu, ia malas meladeni pria itu berdebat, di tambah lagi adegan sedih di rumah mertuanya tadi sangat menguras tenaganya.


"Saat kau berkeliaran di luar sana, kau tidak merasa capek. Apa kau sudah lupa dengan kewajibanmu di rumah ini?"


Mikhail berdiri dari duduknya. Ia menatap Husna nyalang.


Gadis itu berhenti.


"Ayolah Husna, sabarkan dirimu untuk sebulan ini."


"Um....huh.."


Gadis itu menarik dan membuang nafas untuk menstabilkan emosinya.


"Baik. Apa mas lapar? Aku akan mengganti pakaian dan memasakkan mu makanan."


Setelah berucap, Husna berlalu masuk ke kamarnya.


"Kenapa dia mengalah semudah itu?"


Mikhail mulai terheran dengan sikap Husna.


Ia masih berdiri di hadapan kamar yang sudah di tutup oleh penghuninya tadi.


Dengan perasaan tak enak Mikhail berjalan kembali ke ruang tamu, menunggu Husna keluar dan memasakkan dirinya makanan.


Sebenarnya pria itu sudah makan, dia menyuruh Husna hanya karena tak punya alasan lain untuk bisa mengobrol dengannya.


Saat bersama dengan wanita itu ia merasa selalu menjadi kikuk, entah sejak kapan mendengar ocehan Husna adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.


"Cekrek."


Lamunan Mikhail terhenti. Mata pria itu langsung mengarah pada pintu yang baru di buka.


Husna keluar dari kamar dan langsung melajukan langkahnya menuju dapur tanpa menyapa pria di ruang tamu.


"Apa yang kau masak?"


Mikhail yang juga mengekor mencoba untuk mencairkan suasana.


Husna menjawab tanpa menoleh.


"Aku tidak suka ikan."


"Sejak kapan dia tidak suka ikan?"


Husna menatap pria itu sekilas dan menaruh kembali ikan tadi ke lemari pendingin. Tangannya gadis itu berpindah pada ayam, dan udang.


"Nah, kalau udang aku suka. Masakkan aku udang asam manis."


Mikhail mendudukkan dirinya di kursi.


Husna dengan cekatan mulai meracik bumbu tanpa mempedulikan pria yang terus menatap padanya.


"Jangan terlalu asin. Aku takut tekanan darahku jadi naik."


Mikhail kehabisan bahan obrolan.


Husna menaruh pisau yang tadi di gunakannya untuk memotong bawang.


"Mas, bisakah mas menunggu makanannya di luar saja? Nanti kalau sudah selesai aku akan memanggil mu."


Husna yang mulai jengah mengusir.


"Berengsek! Sok jual mahal amat ni cewek. Baru kali ini ada cewek yang nggak suka berdekatan denganku."


Batin pria itu memberontak.


"Oke, emang kamu pikir aku suka liatin kamu kerja. Aku nungguin karena terlalu lapar."


Pria itu bangkit dan berjalan kembali ke ruang tamu dengan hati mendongkol.


"Dasar si itik. Makin lama dia makin sok. Tapi tadi itu ngapain aku nungguin dia kerja? Sepertinya otakku mulai tidak waras."


Mikhail mendudukkan diri di sofa. Sesekali matanya masih mencuri-curi pandang ke arah wanita tadi. Meski bibirnya menolak namun hati pria itu terus ingin menatap wajah ayu yang terus menari di benaknya saat ini.


"Mas, makanannya sudah siap."


Husna berucap sambil berjalan menuju kamarnya.


"Mau kemana kamu?"


Mikhail kembali menghentikan langkah sang istri.

__ADS_1


"Aku mau istirahat mas."


Husna menoleh sekilas dan lanjut melangkah.


"E...eh, eh tunggu! Enak aja kamu main kabur. Ambilin aku makan dan bawa ke sini! Film nya lagi nanggung nih."


Pria tadi masih berusaha.


"Hum..ah.."


Husna menarik nafas panjang. Ia berjalan ke dapur dan langsung menghidangkan apa yang di inginkan pria tadi.


"Itik. mau kemana lagi?"


Mikhail kembali menahan langkah Husna yang ingin kembali ke dalam kamar.


"Mas, aku lelah. Tolong jangan menggangguku!"


Husna tetdengar memohon.


"Aku tidak suka makan sendiri. Sini temani aku!"


Mikhail menepuk sisi sofa di sebelahnya.


"Ada apa dengan pria gila ini. Apa masih belum puas juga dia menyiksaku?"


Husna yang memang sudah lelah akhirnya mendudukkan diri di sofa. Ia sedang merasa tidak ada tenaga untuk ribut dengan pria itu.


Mikhail memulai makannya dengan lahap, hingga ia hampir menghabiskan seluruh makanan yang tersaji.


"Itik, apa kau tidak makan?"


Mata pria itu berpindah pada gadis di sebelahnya, dan ternyata Husna sudah terlelap.


"Apa dia ketiduran? Berarti dia benar-benar sedang lelah."


Mikhail menaruh sendok dan menatap wajah lelap itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kau gadis baik, tapi aku tidak boleh mencintaimu. Karena jika itu terjadi, maka seumur hidup orang tuaku akan selalu ikut campur dengan urusanku. Aku ingin mama menyadari kalau pilihannya menikahkanmu denganku adalah suatu kesalahan. Supaya kedepannya beliau mempercayaiku untuk membuat keputusan sendiri."


Tangan Mikhail terangkat, ia membelai kepala wanita itu lembut. Pria itu berdiri, ia mengangkat kaki Husna untuk naik ke sofa. Pria itu berjongkok untuk menaruh bantal dan di kepala istrinya.


"Deg, deg, deg."


Jarak wajah mereka yang sangat dekat, membuat pandangan pria itu tertuju pada bibir ranum wanita yang masih terlelap di sampingnya, membuat jantung Mikhail berdebar tak karuan.


"Glek."


Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah.


"Sadar Mikha, tahan.. tahan.."


Bisikan halus mencoba menyadarkan pria itu dari pesona sang istri.


"Coba dikit nggak papa kali. Toh dia tidak akan tau."


Mikhail mendekat, ia semakin mendekat hingga jarak antara mereka hanya tersisa beberapa senti.


"Dret, dret, dret."


Suara getaran handphone yang berada di kantong celana nya mampu menyadarkan pria itu.


Mikhail segera berlari menjauh. Ia memegang dadanya yang sedang berlompatan.


"Uh, hampir saja."


Pria itu memeriksa benda pipih yang tadi bergetar. Dan nama sang ibu ada di sana.


"Iya ma."


"Datang ke rumah sekarang. Sendiri saja, ada yang ingin mama bicarakan denganmu."


Sang ibu langsung mematikan sambungannya kembali.


Mikhail bingung, ia terheran karena tak biasanya sang ibu menelfon tanpa salam seperti tadi.


"Ada apa dengan mama?"


Mikhail langsung berjalan ke kamar untuk mengambil kunci mobil.


Ia sempat menoleh sesaat pada wanita yang masih terlelap di sofa. Senyum tipisnya terangkat dan lanjut melangkah menuju tempat mobilnya terparkir.


Pria itu pun langsung pergi menuju tempat dimana wanita yang sudah melahirkannya sedang menunggu.


TBC.


Mohon bantu vite, like, beri hadian dan silahkan berkomen ria.


Terima kasih, salam hangat dari mak Author receh.

__ADS_1


__ADS_2