
Hari ini, Mikail dan Husna kembali ke kota. Sedangkan orang tuanya sudah pulang lebih dulu. Pria itu terpaksa tertahan di sana menunggu surat pindah kerja sang istri.
Sepanjang perjalanan mereka hampir tak bertegur sapa sama sekali, sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Hingga tak terasa mereka sampai tepat pukul 10 malam.
"Kenapa lo masih diam di sana? Lo nunggu gue gendong? Ngayal lo."
Mikail berlalu mendahului Husna. Wanita yang baru di nikahinya 5 hari yang lalu.
Gadis itu masih terpaku, dia tidak menunggu untuk di gendong. Husna hanya tak tau bagaimana caranya membuka bagasi mobil. Karena, barang-barangnya ada di sana.
Tadinya ingin meminta tolong pada sang suami, namun belum sempat bersuara, Mikail sudah mengamuk duluan.
"Loh, Husna. Kenapa kamu masih di situ? Mari masuk!" Sang ibu mertua datang menghampiri.
"Anu ma, Husna mau ngeluarin barang. Tapi, Husna nggak tau gimana cara bukanya." Ucap gadis itu polos, sambil menunjuk ke arah bagasi.
Ibu mertua tadi tersenyum mendengar ucapan sang anak menantunya. Ia kemudian membuka pintu depan mobil, dan menekan salah satu tombol.
"Memangnya suami kamu kemana?" Nani bertanya.
"Mas Mika kebelet mah." Jawabnya bohong.
"Ah dasar anak itu ya. Bisa-bisanya di kebelet di saat yang tidak tepat." Rutuk sang mertua.
Husna tersenyum mendengar ucapan dari wanita paruh baya tadi.
"Namanya juga kebelet mah."
Ucapnya sambil menarik koper masuk ke rumah.
Mendengar ucapan Husna, Nanipun ikut tersenyum.
"Nah, mulai sekarang ini adalah kamar kalian. Istirahat lah! Kalian pasti capek."
Nani membelai kepala berpenutup milik Husna. Kemudian berjalan kembali turun ke lantai bawah. Karena memang lantai ini hanya dihuni oleh Mikail dan Aisyah.
Husna menarik nafas panjang beberapa kali sebelum menarik gagang pintu.
"Iitt..," Suara pintu terbuka.
Mata Husna langsung tertuju ke dalam, hal pertama yang ditangkapnya adalah sebuah kamar luas, lengkap dengan berbagai furniture modern yang pastinya berharga mahal. sangat berbeda jauh dengan kondisi kamarnya di kampung. Husna sempat berdecak kagum dengan apa yang ada di hadapannya.
"Tutup mulut lo, ntar kemasukan lalat."
Tiba-tiba Mikail keluar dari sebuah pintu, dan aksinya berhasil mengejutkan wanita yang masih berdiri di depan kamar.
Husna berjalan masuk.
"Mas, barang-barang ku di taruh di mana ya, dari tadi aku tidak melihat ada lemari pakaian di sini?"
Tanyanya bingung.
"Um..ah.." Mikail terlihat menarik nafas panjang.
"Udik lo kebangetan ya. Kalau lo cari di sini memang nggak ada. Coba lo jalan ke pintu sana. Nah, di situ adalah ruang ganti. Jadi, lemarinya pasti ada di sana." Ucap pria itu dengan nada sedikit kesal.
"Makasih."
Husna tau kalau Mikail tidak suka berbicara padanya. Karena itu, ia mempersingkat obrolan mereka dengan segera berlalu menuju ruangan yang ditunjuk oleh pria itu tadi
Sesampainya di dalam sana kebingungan Husna Kian menjadi. Dia tak mengerti bagaimana caranya membuka lemari itu. Husna sudah mencoba menarik gagangnya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Namun nihil, benda itu seperti terpaku di sana, tak bisa ditarik sama sekali.
Lama Husna berdiri, mencari cara. Hingga ia menyerah, dan memutuskan untuk kembali bertanya pada pria tadi. Meski ia tahu, Mikhail pasti akan menjawab pertanyaannya dengan nada ketus.
"Mas, Aku tidak tahu caranya membuka lemari," Husna yang sudah berdiri di belakang pria yang asik bermain dengan benda pipih nya itu mulai berbicara.
Mikail terlihat mengacak rambutnya kesal, dia berbalik menghadap Husna.
"Ya Tuhan ... Dosa apa gue dapat istri se udik loo ini."
Ucapnya sambil melangkah menuju ruangan tadi.
"Eh itik! makanya lo jangan kelamaan tinggal di kampung jadi makin udikan loh, buka gini aja nggak bisa. Tinggal tekan dan geser gampang kan?"
Ucap Mikail dengan melototkan matanya.
Husna mencoba terlihat biasa saja. Ia tak ingin terprovokasi dengan ucapan pria yang punya hobi suka menghina orang lain ini.
Setelah berucap, pria itu pun berlalu.
Husna masih di sana, melihat lemari itu dengan hati bimbang.
"Mau di taruh di mana pakaian ku. Lemarinya aja penuh gini."
Gumamnya.
Wanita itu berpikir sejenak. Ingin bertanya lagi, tapi dia sudah malas mendengar mulut pedas sang suami. Alhasil, Husna tak jadi memindahkan bajunya ke sana. Ia membiarkan saja benda itu tetap di dalam koper.
Husna hanya mengambil beberapa alat kebersihan dan baju gantinya, lalu berjalan ke kamar mandi. Matanya sempat menangkap sosok sang suami yang duduk di balkon kamar.
Dari apa yang di dengar telinga, ia tau kalau pria itu sedang bertengkar dengan seseorang melalui sambungan telepon. Namun, Husna lebih memilih cari aman. Ia tak ingin mencampuri urusan pria itu.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Wanita itu berdiri di depan cermin. Ia sedang menimbang antara kaluar atau tidak. Dia merasa canggung bila harus keluar tanpa kerudung.
"Eh itik! Apa lo berencana tidur di dalam sana. Kalau iya, keluar dulu! Gue kebelet."
Teriakan Mikail membuat Husna terlonjak kaget. Ia bahkan menjatuhkan handuknya kelantai. Hingga benda itu menjadi basah.
"Cepetan. Lo budek atau pingsan?"
Lagi teriakannya kembali bergema.
Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya gadis itu mengambil handuk tadi dan melemparnya ke keranjang kain kotor. Kemudian barulah ia membuka pintu.
Ketika benda itu terbuka, Husna sudah berdiri sejajar dengan Mikail. Karena pria itu sedang berjongkok memegang perutnya yang sedang kebelet.
"Maaf mas." Ucap Anet.
"Lo tu...." Ucapannya terhenti seketika saat melihat wajah Husna yang tanpa kerudung.
"Busyet! Itik ini cantik banget."
Mikail sempat terpana manatap wajah sang istri. Rambut hitam penjangnya terlihat indah bergerai, wajah kecil mungilnya menambah kesan ayu wanita ini.
Husna yang mendapatkan tatapan seperti itu, malah terlihat bingung.
"Ada apa dengannya?"
"Krut, krut."
Suara perut pria itu berhasil mengembalikannya ke alam nyata.
"Minggir lo!" Ia mendorong sedikit bahu Husna supaya wanita itu memberinya jalan.
__ADS_1
"Gawat ini. Kok dia bisa tambah cantik tanpa kerudung.Tadinya ku kira rambut wanita itu jelek."
Mikail bergumam di sela aksi bongkar mesin.
"Tunggu, tunggu! Kenapa tiba-tiba aku berpikir kalau wanita itu terlihat cantik. Apa dia sudah memberiku guna-guna?"
Tambahnya lagi.
Sementara itu, Husna masih duduk di atas sofa. Dia bingung mesti tidur dimana.
Beberapa saat kemudian, Mikail keluar dari kamar mandi. Ia berjalan naik kembali ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di sana. Lalu menarik selimut hingga ke dada, mengacuhkan wanita yang masih terduduk di atas sofa tadi.
Husna semakin bingung, ingin bertanya tapi ia malas berdebat. Akhirnya wanita itu ikut merebahkan diri di sofa kecil sambil meringkuk. Karena benda itu masih kalah panjang jika dibandingkan tubuhnya.
"Eh itik, naik ke sini!"
suara Mikail mampu mengejutkan wanita yang hampir masuk ke alam mimpi.
Husna duduk, ia bingung dengan perintah yang baru di dengarnya.
"Kok masih bengong. Lo budek atau gimana? Naik? Lo nggak denger perintah gue?" lagi Pria itu mengeluarkan perintah yang sama.
"Tapi mas. Bukankah hari itu mas mengatakan kalau kita tidak akan melakukan hal itu?" tanyanya ragu dan takut.
"Kepedean Lo ya. Gue nyuruh tidur di sini, bukan karena gue ingin menyentuh lo. Tapi, karena nyokap punya akses kunci untuk semua kamar. kalau sampai dia memeriksa kita malam ini, maka kebohongan kita akan terbongkar. Dan bisa di jamin kalau besok hidup lo dan gue nggak akan tenang. Karena itu, tidur di sini! Tapi Ingat, jangan menyentuh kulit gue meskipun hanya secuil,"
Mikail memberi peringatan.
" ih Kepedean banget. Siapa juga yang mau nyentuh dia."
Husna hanya berani protes dalam hati. Bukan karena takut, hanya saja malam ini ia terlalu lelah untuk berdebat dengan pria itu.
Husna bangkit, berjalan ke arah ranjang. Dia ikut merebahkan tubuh di samping sang suami yang sudah terbaring membelakanginya.
"Ini daerah lo, dan ini kawasan gue. Ingat jangan lewati garis keramat ini. Kalau sampai ketahuan, awas lo."
Ancam Mikail tiba-tiba sambil meletakkan guling di sisi Husna.
"Tapi mas. Kenapa bagian ku hanya sekecil ini, bukan kah di sana masih lapang?"
Akhirnya suara protes wanita itu keluar juga.
Ia merasa tak terima, karena Mikail hanya memberinya ruang selebar tubuhnya saja. Sementara pria itu memiliki 3/4 bagian kasur untuk dirinya sendiri.
"Nggak usah protes deh lo. Sadar diri aja, lo kan cuma numpang di rumah ini. Jadi, nggak usah banyak bicara."
Mikail berucap dengan kejam tanpa menoleh.
Hati Husna merasa sangat teriris mendengar ucapan suaminya barusan. Gadis itu mencoba menguatkan hati agar air matanya tak keluar. Berusaha tetap terlihat baik-baik saja.
"Tunggu saja! Aku akan membalas semua penghinaan mu ini mas."
Gumam wanita itu sambil meremas bantalnya, menahan gejolak hati.
TBC
Mohon maaf readers, novel ini masih slow up ya. Karena fokus mak masih pada SUAMIKU KEKASIHMU.
Tapi mak janji, bahwa novel ini akan tayang hingga tamat. Insya Allah.
Hanya saja, harus sabar menunggu novel yang SK tamat dulu.
Mohon bantu vote, like, jadikan favorit dan silahkan berkomentar ria.
__ADS_1
Terima kasih.