Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 13


__ADS_3

"Kenapa kau tidur di situ? Naik!"


Mikail yang baru keluar dari kamar mandi langsung memberi perintah pada istrinya yang sudah berbaring di lantai dengan beralaskan selimut tebal.


"Kita sudah tidak di rumah Mama. Aku rasa beliau tidak punya kunci cadangan untuk masuk ke kamar ini. Jadi, untuk apa kita tidur satu ranjang?"


Wanita itu menjawab sambil memiringkan tubuhnya membelakangi pria yang masih berdiri di tempatnya.


Husna sedikit malu melihat sang suami yang hanya mengenakan handuk.


"Tidak usah membantah! Apa kau pikir Mama sudah percaya sepenuhnya dengan acting kita? Apa kau tidak tau apa tujuannya menginap di sini?"


Mikail berjalan ke ruang ganti, memakai baju lalu naik keranjang.


"Tidur di atas, dan bereskan tempat itu! Kalau kau ingin bukti atas ucapanku. Maka jangan tidur dulu, saksikan dengan mata mu sendiri ketika Mama mengintip kita."


Mikail segera membaringkan tubuhnya.


Husna berpikir sebentar, sebelum akhirnya dia membereskan selimut tadi dan mengembalikan benda itu kelemari.


Barulah gadis itu naik dan tidur bersebelahan dengan suaminya. Namun tetap dibatasi oleh dua bantal guling.


Waktu berlalu,


Terlihat Husna masih bermain dengan handphone-nya. Gadis itu memang sengaja belum memejamkan mata. Menunggu untuk membuktikan sendiri kalimat yang diucapkan oleh suaminya tadi.


Tapi akhirnya Husna menyerah ketika rasa kantuk kian menyerang. Dia melirik sang penunjuk waktu yang sudah mengarah ke angka 1.


Husna pun memutuskan untuk masuk ke alam mimpi. Namun tiba-tiba, samar telinganya menangkap suara seseorang sedang berusaha membuka pintu.


Husna dengan cepat mengambil guling yang tadi membatasi mereka dan memindahkan benda itu ke belakangnya.


Dia pun menghambur memeluk sang suami, berpura-pura tidur seperti pasangan romantis.


"Hm.. syukurlah. Ternyata mereka benar-benar sudah akur."


Gumam Nani sambil mengeluarkan HP Nya. Mengambil beberapa gambar sambil tersenyum.


Tak butuh waktu lama, Nani kembali menutup pintu. Ia berjalan balik ke kamar tamu.


"oh.. Ya ampun.. Ternyata Mas Mika benar. Mama memang sedang memata-matai kami."


Husna pindah kembali ke posisi awal.


Waktu berlalu


Pagi hari di rumah itu terlihat kesibukan. Husna dan sang mama sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah.


"Pagi, pah."


Husna menyapa sang ayah mertua yang baru bergabung di meja makan.


"Pagi. Suami kamu mana Husna?"


Tanya sang ayah.


"Tadi Mas Mika masih mandi Pa. Sebentar lagi mungkin turun."


Jawab Husna sopan.


"Pagi Pah, pagi kakak ipar."


Giliran Aisyah yang menyapa mereka. Dia menarik kursi di samping sang ayah.

__ADS_1


"Hm."


Papanya menjawab sambil minum kopi.


Dan Husna menjawab sapaan Aisyah tadi dengan senyuman. Kemudian kembali melangkah ke dapur.


"Kamu ini gimana sih? Jadi anak gadis malasnya kebangetan. Contoh tu kakak ipar kamu. Ni nggak, masa habis shalat subuh tidur lagi. Jadi kesiangan kan?"


Terdengar omelan sang ibu kepada anak gadisnya.


Aisyah menjawab rutukan ibunya dengan senyuman lebar.


"Iya Ma, maaf! Namanya juga masih anak kecil,"


Jawab gadis itu dengan wajah sok imut.


"Hemm... masih kecil ya, oke! Mulai hari ini kamu nggak boleh pergi sama teman-teman kamu itu. Kalau mau ke mana-mana, harus sama Mama. Kan namanya anak kecil."


Nani mendudukkan dirinya di hadapan sang suami.


Aisyah yang baru saja mendapat kalimat seperti itu sontak berdiri. Dia berlari kecil mengelilingi meja.


"Maaf Mama, Ica cuma becanda. Tadi maksudnya mumpung Icha tidur di sini, Jadi nggak papa dong sekali-sekali Icha tidur agak siangan. Ica janji deh, mulai besok Ica bangun pagi, terus bantuin mama bikin sarapan. Gimana? Jangan marah dong mah, ya, ya!"


Rengek Aisyah sambil memeluk tubuh sang ibu, manja.


"Tau takut.. hem, jangan buat lagi."


Nani membelai kepala sang anak.


"Baik bos."


Aisyah memberi hormat. Kemudian berjalan kembali ke kursinya.


"Pagi Pa, Mah."


"Pagi,"


Mama.


"Hem.."


Papa.


"Kamu nggak kuliah hari ini?"


Lanjut sang Ayah.


"Kuliah Bentar Pah. Tapi cuma nemuin dosen aja. Palingan cuma sejam."


Ucap pria itu sambil menarik kursi di samping Aisyah.


"Mas mau sarapan apa?"


Husna yang baru datang langsung bertanya, sambil membawakan jus dan menaruhnya di depan sang suami.


"Apapun yang kamu kasih, pasti mas makan."


Jawab Mikail dengan senyuman sok mesra.


Husna yang mendapat senyuman seperti itu merasa bulu kuduknya mulai berdiri. Bukan karena dia tersentuh, namun lebih ke arah geli. Ia merasa tak mengenal pria sok imut di hadapannya ini.


Husna dengan terpaksa membalas senyuman sang suami. Ia pun langsung menyendokkan mie goreng beserta telur dan aneka sayuran, lalu naruhnya di depan pria itu.

__ADS_1


"Makasih sayang!"


Ucapnya sambil memeluk pinggang wanita itu.


Ingin rasanya Husna segera melayangkan sendok nasi yang dipegangnya ke wajah pria dihadapannya ini. Karena dia sudah berani terang-terangan menyentuh tubuhnya. Tapi aksinya terhenti Karena disana ada keluarga pria itu. Jadi dengan terpaksa, dia tersenyum menerima perlakuan Mikail dan dia tahu sang suami sengaja melakukan itu untuk mengerjainya.


Sang ibu yang sedang memperhatikan mereka dari tadi, langsung menyunggingkan senyuman lebar. Dia bersyukur karena Mikail bisa menjadi selembut itu pada Husna, sang keponakan.


Akhirnya mereka semua fokus menikmati santapan pagi ini.


Setelah itu Papa, Mama dan Aisyah berpamitan. Mereka kembali ke rumah lama.


Dan Mikail juga pergi ke kampus.


Husna sendiri pun mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah tempat wanita itu akan mengajar. Meski hanya sebuah sekolah TK, tapi sekolah ini bukanlah sekolah biasa. TK ini adalah sekolah tempat dimana anak-anak elite dari keluarga kaya raya berada.


Mikail yang baru sampai di kampusnya dengan percaya diri melangkahkan kaki memasuki gerbang Universitas terkenal itu.


Namun, baru beberapa langkah, ia melihat semua orang yang dilewati memandangnya dengan tatapan aneh. Bahkan sebagian dari Mereka terlihat berbisik-bisik sambil tertawa.


Mikail merasa risih, pria itu pun memeriksa tubuhnya beberapakali. Memastikan Kalau tidak ada ada yang salah dengan pakaiannya pagi ini.


Akhirnya Mikail memutuskan untuk pergi ke toilet untuk becermin, memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang memalukan dirinya


"Sepertinya tidak ada yang salah denganku. Lantas kenapa mereka menatapku seperti itu?"


tanyanya dalam hati.


"Alah, palingan mereka terpesona melihat ketampananku pagi ini."


Ucapnya narsis.


Setelah itu, Mikail pun melanjutkan langkahnya menuju tempat di mana dia dan teman-temannya biasa berkumpul.


"Hai."


Pria itu menepuk punggung Dodi, sahabatnya.


"Wah, akhirnya orang yang lagi viral nongol juga!"


Ucapan Dodi di sambut riuh tawa para teman-temannya yang lain.


"Maksud lo apa?"


Mikail bertanya biungung.


"Lo belum liat, grub WA kampus?"


Arif, teman yang lain bertanya.


Mikail segera mengeluarkan HP Nya. Yang memang dari semalam berada dalam mode diam. Ia sengaja menghindari telfon dari Amanda yang sedang mengamuk. Karena kepergiannya tadi malam.


"Ya ampunn"


Mikail langsung menepuk jidat ketika melihat foto dirinya yang tengah tidur dengan saling berpelukan bersama Husna.


Di bawah foto itu tertulis Caption "BERSAMA YANG HALAL MEMANG LEBIH MEMBAHAGIAKAN."


"Aduh mampus gue."


Pria itu segera berdiri, ia berjalan menuju kelas di mana sang kekasih berada.


Dia was-was karena, foto itu terkirim lewat HP Nya. Dan dia tau siapa dalang di balik ini semua.

__ADS_1


Dan pastinya tak lain dan tak bukan orang itu adalah ibunya.


TBC


__ADS_2