
"Kemana gadis itu?"
Apa dia kesasar? "
Atau terjadi sesuatu yang buruk?
Berbagai pertanyaan melintas di benak Mikhail.
Pria itu dari tadi terlihat mondar mandir di ruang tamu.
Mikhail merasa sangat menyesal karena sudah meninggalkan Husna di jalanan tadi. Sebenarnya dia sempat kembali untuk menjemput. Namun wanita itu sudah tidak ada di sana.
Dia juga sudah berusaha untuk menghubungi ponsel Husna, akan tetapi nomornya tidak tersambung. Hingga membuat kekhawatiran pria itu Semakin menjadi.
"Tidak bisa! Aku harus segera pergi mencarinya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu, maka Mama dan Papa pasti akan menghabisi ku."
Gumam Mikhail sambil berjalan kekamar untuk mengambil kunci mobil.
Setelah mendapatkan benda yang dicarinya, Mikail pun berjalan kembali ke ruang tamu. Namun, ketika ia baru ingin membuka pintu, tiba-tiba pria itu mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Mikail berusaha mengintip dari jendela. Disana terlihat seorang pria turun dari kursi pengemudi. Dia berjalan mengelilingi mobil lalu membukakan pintu untuk wanita yang tadi sempat membuatnya merasa sangat khawatir.
"Brengsek si itik! Aku lagi khawatir di rumah, eh dia malah enak-enak pergi sama pria lain."
Tangan Mikhail mulai terkepal kuat.
Entah kenapa, ia merasa kurang nyaman melihat Andre yang yang memperlakukan Husna seperti itu.
"Kenapa dia belum masuk juga? Apa yang sedang mereka bicarakan?"
Dia semakin tak sabar.
Tak berapa lama, akhirnya mobil yang tadi membawa Husna berlalu. Dan wanita itu pun mulai melangkah memasuki pekarangan rumah.
Mikhail yang melihat Husna sudah berjalan menuju ke pekarangan, langsung berlari menuju sofa, menyalakan televisi lalu berpura-pura bahwa dirinya sedang menonton.
"Ceklek,"
Pria itu mendengar suara pintu di buka.
Ia berusaha tetap cuek, tanpa menoleh pada wanita yang tadi ditinggalkannya di jalanan.
Sementara itu, Husna yang baru saja masuk langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya kembali mendongkol.
Husna tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana bisa pria itu tidak merasa bersalah sama sekali setelah meninggalkannya di tempat seperti itu.
Dia bahkan terlihat manikmati harinya dengan bsrsantai menikmati tontonan layar televisi.
Husna kembali menutup pintu, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa menegur Mikhail.
"Lo, kenapa dia tidak memarahiku?"
Mikhail bergumam sambil menatap punggung Husna yang sedang melaluinya.
Lama pria itu duduk di tempat tadi sambil menatap ke arah pintu kamar sang istri. Hatinya masih saja mengganjal dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Ayolah Mikhail, biarkan saja wanita itu. Jangan peduli dengan apa yang dilakukannya."
Lelaki itu berusaha menenangkan hatinya yang terus saja merasa tidak nyaman.
"Akh."
Mikhail mengacak rambutnya kemudian berjalan menuju kamarnya sendiri.
Ia beranggapan kalau tubuhnya sedang lelah. Hingga ia tidak dapat berfikir dengan jernih. Karena itu lah dirinya merasa perlu merendam tubuh dengan air hangat.
Jam berjalan.
Pagi ini, Mikhail terbangun agak siang dari biasanya. Karena memang pria itu sudah tidak ada lagi jadwal kuliah. Hingga ia bisa bersantai dalam beberapa hari ini sebelum full bekerja di Perusahaan sang ayah.
Setelah membersihkan diri, Mikail berjalan keluar. Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sesosok yang tadi malam bersikap Acuh kepadanya.
"Sepertinya Gadis itu sudah berangkat bekerja."
Mikhail berkata di dalam hati sambil berjalan ke arah meja makan.
Di sana seperti biasa sudah terhidang sarapan untuk dirinya. Karena memang bagaimanapun hubungannya dengan Husna, wanita itu pasti tetap melaksanakan kewajibannya.
"Baiklah untuk menebus kesalahanku hari ini, maka aku akan menjemputnya di sekolah."
Mikhail duduk lalu mulai menikmati apa yang sudah terhidang di meja.
Siang menjelang, dan pria yang semalam sedang bertikai dengan istrinya itu, sudah terlihat bersantai di dalam mobil.
__ADS_1
Dia sengaja mau menjatuhkan sedikit harga dirinya demi menebus kesalahan yang tadi malam dilakukannya.
Entah berapa lama Mikhail duduk sambil di iringi musik. Hingga ia mulai melihat wanita yang sedang ditunggunya sudah berjalan keluar dari gerbang.
"Untung Cepet. Kalau masih lama, ku tinggal kamu."
Pria itu berkata seorang diri.
Mikhail membuka pintu, berencana segera mendatangi Husna. Namun, tiba-tiba pria itu mengurungkan niatnya ketika melihat siapa yang lebih dahulu mendekati istrinya.
Dia adalah pria sama yang mengantarkan istrinya tadi malam pulang. Dia juga terlihat sedang menggandeng serta putrinya.
Mikhail segera menutup pintu kembali, sengaja ingin memperhatikan pria yang sedang berdiri di hadapan istrinya itu dengan leluasa.
Lama mereka berbincang sambil tersenyum. Membuat Mikhail merasa kian tak nyaman, ia bahkan belum pernah bercengkerama dengan istrinya sehangat itu.
Tangan pria itu mulai terkepal, hatinya sudah tak karuan. Ada sebentuk rasa tak terima saat menyaksikan wanita yang selama ini di bencinya, tertawa bersama pria lain.
"Ayolah Mika. Tidak usah pedulikan wanita itu."
Mikhail mencoba untuk manahan gejolak hatinya yang panas.
"Ahk..."
Akhirnya pertahanan pria itu runtuh. Dia segera membuka pintu, kemudian berjalan menuju tempat 3 orang yang sedang bercengkerama tadi.
"Sepertinya obrolan kalian seru. Apa aku boleh bergabung?"
Ucapnya begitu sampai.
"Mas!"
Husna sedikit tersentak dengan kedatangan tiba-tiba suaminya.
"Aku kesini untuk menjemput mu."
Mikhail berucap pada Husna.
"Mimpi apa dia?"
Husna bergumam.
"Baiklah, tunggu sebentar aku ingin mengambil barangku di ruang guru."
"Salsa, buk guru permisi dulu ya."
Husna pamit pada anak murid yang bercanda riang bersamanya tadi.
Gadis kecil itu menjawab dengan anggukan serta senyum manis.
"Tuan Andre, sepertinya anda punya banyak waktu luang di saat jam sibuk seperti ini."
Mikhail berucap sambil menoleh pada Arloji yang melekat di tangannya.
"Salsa, masuklah ke mobil. Tunggu papa di sana."
Pria itu berucap sambil membelai rambut sang anak.
Setelah memastikan gadis kecilnya aman. Andre pun lanjut manjawab ucapan Mikhail.
"Saya kesini untuk menjemput putri saya. Apa anda mulai cemburu tuan Mikhail?"
Andre menatap pria itu dengan pandangan mata menyelidik.
"Hahaha.. hubungan kami tidak semesra itu tuan Andre. Jadi, saya tidak merasa terusik sama sekali."
Jawab Mikhail gengsi.
"Baiklah. Kalau begitu, berarti tidak apa-apa jika saya berteman dengan istri anda. Karena putri saya sangat menyukainya."
Andre bertanya dengan penasaran. Ia dapat menangkap ada kegelisahan di mata pria di hadapannya itu.
"Silahkan saja. Selagi kalian masih barada di jalur aman. Saya tidak akan melarang."
Mikhail mengepalkan tangan karena entah kenapa ia merasa tak rela mengucapkan kalimat itu.
"Terima kasih. Akan saya jamin kami terus berada di jalur yang anda maksud."
Mikhail menatap Andre tajam. Seakan dia tak terima dengan ucapan terima kasih pria itu.
Dan Andre juga membalas tatapan tajam yang di tusukkan oleh Mikhail.
"Ayo mas!"
__ADS_1
Husna tiba-tiba sudah berdiri di samping sang suami.
Dan kehadirannya mampu membubarkan perang tatapan yang tengah terjadi tadi.
"Saya permisi dulu Pak."
Husna pamit pada atasan beserta ayah dari salah satu murid kesayangannya itu dengan memberikan senyuman manis.
Mikhail yang merasa semakin kesal karena melihat Husna terlalu ramah pada Andre, akhirnya menarik tangan wanita itu supaya cepat melangkah menuju mobil mereka.
"Mas, lepas! Tanganku sakit."
Husna mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Mikhail.
Namun pria itu tetap terdiam. Dia terus saja menarik kasar tangan wanita itu hingga sampai di depan pintu mobil.
"Masuk!"
Perintahnya dengan wajah sangar.
"Ada apa dengannya? Tadi sepertinya baik-baik saja."
Husna menatap penuh tanda tanya pada Mikhail.
"Apa kau tidak punya telinga?"
Tanya pria itu masih dengan nada yang sama.
Husna menatik nafas, kemudian mengikuti perintah suaminya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan pria tadi."
Mikhail berucap setelah mobil mereka keluar dari pekarangan sekolah.
"Apa maksud mas adalah pak Andre?"
Husna merasa heran.
"Iya."
Jawabnya singkat.
"Tapi kenapa mas?"
Rasa penasaran Husna kian dalam.
"Tidak usah di tanya kenapa. Yang penting ikuti saja perintahku. Karena aku suamimu."
Pria itu akhirnya mengeluarkan kalimat keramatnya.
Sudut bibir Husna terangkat.
"Mas, seharusnya kalimat seperti itu Mas pakai ketika dirimu bermesraan dengan wanita lain."
Jawaban Husna mampu membuat Mikhail terpukul.
"Ini masalah kita, tidak ada hubungannya dengan Amanda." Mikhail tak terima dengan jawaban sang istri.
"Ya Mas benar. Ini adalah masalah kita, tapi diantara kita juga ada Amanda. Karena itu lah, sebelum melarangku melakukan sesuatu, mas harus ingat seperti apa posisimu saat ini."
Husna menjawab tegas.
"Aku punya hak untuk melarangmu melakukan apa yang menurutku tidak benar."
Sergah Mikhail dengan nada yang mulai meninggi.
"Sebelum membicarakan hak. Ada baiknya mas mengingat kewajiban terlebih dahulu."
Lagi, ucapan Husna mampu membuat Mikhail kalah telak.
"Jangan memutar-mutar kalimat ku, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Karena bagaimanapun hubungan kita, aku tetap punya hak untuk melarangmu."
"Iya, tentu saja Mas masih punya hak untuk melarang ku melakukan hal yang tidak benar. Tapi yang kulakukan saat ini adalah hal yang benar. Aku tidak melakukan kesalahan, jadi jangan melarangku dengan alasan sebagai suami. Karena di antara kita, hal seperti itu masih sangat jauh."
Jawaban yang di berikan Husna, mampu membuat Mikhail terdiam. Dia kehabisan kata, karena kalimat apapun yang diucapkannya Husna pasti akan mematahkan semuanya.
Akhirnya pria itu memilih untuk fokus dalam mengemudi, sambil memikirkan cara untuk menjauhkan istrinya itu dari pria di sekolah tadi.
Karena memang Mikail sudah mengetahui bahwa Andre adalah seorang duda dengan 1 anak.
Hal itulah yang membuatnya tidak nyaman saat melihat Husna beramah tamah dengan pria itu.
TBC
__ADS_1