
"Apa semua sudah lengkap?"
Nani kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya.
"Sudah ma."
Husna berucap dengan senyum lembut.
"Baiklah, ayo masuk!"
Nani membelai lengan sang menantu, lalu masuk ke mobil lebih dulu.
Husna kembali memandang rumah yang hampir 1 tahun di tinggalinya itu dengan tatapan sedih. Ia berfikir mungkin ini terakhir kali ia berpijak di sini.
Bukan hanya rumah, ia juga sedih mengingat kenangan yang pernah di laluinya bersama Mikhail. Pria itu bahkan tadi pagi berangkat sebelum Husna bangun, seakan tidak mengijinkan dirinya untuk menucapkan kata selamat tinggal.
"Husna, ayo!"
Panggilan dari sang ibu mertua mampu memutus lamunan sedih gadis itu.
"Iya mah."
Dia menarik nafas dan langsung mendudukkan diri di sebelah Nani.
Hanya butuh waktu 45 menit, mereka akhirnya sampai ke tempat yang di tuju. Husna dan ibu mertua berjalan menuju tempat yang bertuliskan keberangkatan luar negeri.
"Abah, Umma!"
Husna langsung berlari dan menghambur memeluk orang tuanya.
"Sayang, Umma sangat merindukan mu."
Ibu dari wanita yang tengah menangis itu membelai dan mengusap punggung Husna.
"Husna juga rindu sama Abah dan Umma. Makasih karena sudah datang."
Husna mencium pipi orang tuanya berkali-kali.
"Abah juga merindukanmu nak."
Ayah dari Husna ikut angkat bicara.
Husna mengangguk, ia melepas pelukan dan mulai mengusap air matanya.
"Eyang mana Umma?"
Tanya Husna sambil melihat sekeliling.
"Eyang tidak bisa datang sayang. Karena semalam vertigo beliau kambuh."
Ucap Tini, ibu dari Husna.
"Ya Allah, lalu siapa yang menemani Eyang di rumah umma?"
Husna mulai cemas.
"Kamu tidak usah khawatir nak! Di rumah ada mang karmin dan bik Asih, beliau akan tinggal di sana sampai kami kembali."
Ucap Adam, abah wanita itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Tolong sampaikan salam Husna pada eyang."
Ucap gadis manis dengan senyum ayu nya.
Setelah melepas rindu pada sang putri, kini giliran sepasang suami istri itu bersalaman dengan sepupu sekaligus besan mereka, Nani.
"Lo, suami kamu mana nduk?"
Tini bertanya heran karena ia tak melihat menantunya ada di sana.
Husna dan Nani saling pandang, mencoba memikirkan jawaban apa yang akan di berikan atas pertanyaan itu.
"Eh, mas Mikha ... anu.. tadi.."
"Asslamammualaikum abah, umma."
Suara dari seorang pria berhasil mengejutkan sekaligus menyelamatkan Husna.
"Waalaikum salam."
Orang tua Husna menerima uluran tangan dari Mikhail.
"Maaf, sayang! Tadi jalan macet, makanya mas terlambat."
Pria itu memeluk lengan sang istri dan mengusap nya lembut.
Husna memaksakan senyum di sela keterkejutan. Ia tidak ingin orang tuanya menangkap aksi canggung mereka.
Semua orang sibuk saling sapa, hanya Husna yang terus memikirkan alasan keberadaan pria itu di sana.
"Bukankah semalam dia mengatakan kalau tidak bisa mengantarkan ku, lalu kenapa dia datang?"
Sambil menunggu panggilan keberangkatan, mereka semua duduk di bangku panjang yang tersedia.
Husna mulai risih karena dari tadi pria yang duduk di sebelah kanan, terus saja memeluk lengannya dengan erat. Bahkan pria itu sekali-kali kedapatan mencium kepala Husna.
"Mas, aku rasa acting mu sudah kelewat batas."
Bisik gadis itu sambil berusaha menurunkan tangan Mikhail dari lengannya.
"Diam lah!"
Mikhail mempererat pelukan. Ia tak mengacuhkan beberapa pasang mata yang mengarah pada mereka.
"Mikha, kenapa kamu tidak ikut mengantar Husna ke sana?"
Adam bertanya pada sang menantu.
"Sebenarnya Mikha memang mau mengantar bah. Tapi di sini ada beberapa pekerjaan yang belum bisa Mikha tinggal. Tapi Insya Allah, bulan depan Mikha akan mengambil cuti lalu berangkat ke sana untuk menemui Husna."
Mendengar pernyataan suaminya, Husna langsung menyipitkan mata. Ia merasa kalau Mikhail kian pandai berbohong.
Sedang asik mengobrol, akhirnya panggilan keberangkatan Husna terdengar menggema. Gadis itu berpamitan satu persatu pada anggota keluarganya.
Dengan berurai air mata wanita 21 tahun itu, memeluk hangat mereka yang akan di tinggalkan.
Dan, tiba saat ia harus berpamitan pada Mikhail. Suami yang tidak pernah menganggapnya. Husna terdiam sesaat, mencoba membendung perasaan yang kian tak terkatakan.
Tangan wanita itu, terulur untuk bersalaman. Namun, Mikhail menariknya hingga wajah sang istri mendarat sempurna di dada bidangnya.
__ADS_1
Lelaki itu, memeluk Husna dengan penuh rasa cinta, ada banyak kalimat yang ingin di ucapkannya. Namun rasa sesak karena menahan tangis, hingga membuat lidah pria itu tak mampu untuk bergerak. Ia hanya terus memeluk serta mencium kening dan kepala istrinya berkali-kali.
Semua orang yang menyaksikan menjadi kian haru. Termasuk Nani, ibu dari pria itu. Ia terus menatap Mikhail dengan pandangan menyelidik.
"Ternyata kau sudah mencintainya Mikha."
Lirihnya sambil mengusap air mata.
Kesedihan yang tadi di rasakan, kini sudah berubah menjadi kebahagiaan. Bahagia karena ia sudah yakin bahwa anak lelaki yang selama ini memaki sang keponakan, ternyata sudah berbalik mencintainya.
"Jaga dirimu. Tunggu aku datang!"
Hanya itu yang mampu di ucapkan Mikhail. Dia mengurai pelukan mereka.
Husna yang sudah berderai terus menunduk. Meski menurutnya Mikhail hanya ber acting, namun hatinya masih tetap bisa tersentuh.
Pria 26 tahun itu mengangkat wajah sang istri. Tangannya berpindah untuk mengusap air mata Husna yang sudah kian banjir.
Gadis tadi menatap Mikhail dalam, ia dapat menangkap pandangan berbeda yang terpancar dari mata sang suami.
"Pergilah nak. Kau sudah hampir terlambat."
Nani mengingatkan.
Husna mengangguk, ia mencium punggung tangan Mikhail, kemudian berbalik dan melambai pada anggota keluarganya yang lain.
Mikhail menatap kepergian wanita itu dengan hati hancur. Tangannya bahkan sudah terkepal kuat untuk menahan gejolak jiwa.
"Tenang lah Mikha. Ini adalah terakhir kalinya kau merasakan hal seperti ini. Esok kau pasti akan baik-baik saja. Nikmati hari bebas mu dan berbahagialah!"
Batin Mikhail mencoba untuk menenangkan nya.
Sedangkan Nani, sedari tadi masih fokus membaca reaksi sang anak.
Husna mulai menjauh, sekali kali ia terlihat mengusap air mata. Menoleh ke belakang untuk melihat mereka yang di tinggalkan.
"Berhentilah memikirkan pria itu Husna, dan kejar cita-cita mu, dia tadi hanya ber acting. Jadi jangan tersentuh."
Husna juga mencoba menenangkan hatinya yang semakin tak karuan.
Mata mereka bertemu ketika Husna akan menaiki eskalator. Ia menatap Mikhail untuk terakhir kali sebelum menghilang. Meski agak jauh, tapi ia tau kalau Mikhail juga tengah menatapnya.
"*Selamat tinggal mas. Semoga kau bisa bahagia deng*an kepergianku!"
Ucap Husna pelan kemudian melangkah.
Setelah melihat Husna menghilang, Mikhail tanpa permisi segera berlalu dari sana. Ia tidak ingin orang tuanya melihat air mata yang sudah mulai berjatuhan.
"Oh, ya tuhan. Rasa apa ini?"
Mikhail menepuk dadanya supaya ia bisa bernafas dengan lancar. Dia terheran karena dari tadi ia terus merasa kesakitan di dada karena kepergian wanita itu.
"Kenapa kau masih jatuh berengs*k! Bukankah aku sudah memerintahkan supaya kau jangan keluar?"
Ia juga memaki pada air mata yang terus saja berjatuhan. Mikhail merasa kalau akhir akhir ini dia sudah berubah menjadi lelaki yang cengeng.
Meski bukti sudah kuat, pria itu tetap menolak untuk jujur pada diri sendiri. Jujur untuk mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta pada wanita yang baru saja terbang ke negara nun jauh di sana.
TBC
__ADS_1