
Saat matahari baru saja tenggelam, terlihat seorang perempuan duduk di atas sajadah yang terkembang sebagai alas untuk dirinya berserah diri pada Sang Khalik, ia terus melantunkan ayat suci sebagai penyejuk hati yang tengah kacau.
"Shadaqallahul-'adzim..."
Husna menutup lantunan-nya dengan mencium Kitap Suci.
"Apa kamu sudah selesai nak?"
Ningsih membelai kepala gadis yang di lahirkannya 21 tahun lalu.
"Sudah umma."
Husna meraih tangan sang ibu, lalu menciumnya.
"Kalau begitu, bolehkah Umma berbicara?"
Tanya wanita paruh baya tadi dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan dari sang ibu, Husna langsung mengangkat sudut bibir.
"Boleh umma. Katakan saja!"
Ningsih menarik nafas, mencoba mengukir kata supaya bisa menjadi kalimat yang dapat di mengerti, tapi tidak menyakiti hati sang anak.
"Begini nak. Umma sebenarnya ingin meminta maaf karena membuat mu harus memilih keputusan yang sulit."
Sang umma memulai wajah serius.
Husna masih diam, ia ingin mendengar lebih lengkap tentang hal apa yang akan di katakan oleh ibunya itu.
"Husna, mungkin umma terlihat sangat egois karena umma tidak bisa memaafkan Mikhail. Tapi, semua umma lakukan hanya untuk melindungi mu dari pria tak setia seperti suami mu itu."
Ningsih meraih tangan sang anak, lalu mulai membelainya lembut.
Husna masih tersenyum teduh, ia membalas belaian sang ibu dengan mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Husna tau umma. Husna juga paham kalau umma pasti menginginkan hal yang terbaik untuk Husna. Jadi, umma tidak seharusnya meminta maaf."
Ningsih tersentuh mendengar betapa pengertiannya sang anak. Ia juga tak paham kenapa ada lelaki yang tega menyakiti wanita sebaik anaknya.
"Umma takut jika nasib mu sama seperti ketika umma mengandung kakak mu, Husyein."
Suara Ningsih mulai terdengar berat.
"Umma terkadang hidup itu sama seperti sinetron. Meski jalan awal cerita terlihat sama, tapi belum tentu akhirnya akan seperti itu juga."
Gadis itu memberi contoh yang dapat di pahami sang ibu.
"Ya kau benar, tapi umma hanya masih merasa trauma. Umma masih belum bisa memaafkan pria yang meninggalkan Mas mu ketika dia masih berada di dalam kandungan. Di mana ayahnya memilih wanita yang lebih kaya dan tidak pernah mau mengakui Husyein sebagai anaknya."
Ningsih mulai sesegukan.
Melihat sang ibu yang mulai berurai air mata, Husna segera menarik wanita itu kedalam dekapannya. Membalai dan mencium kening sang ibu.
"Ikhlas umma. Hanya itu kunci supaya umma bisa memaafkan kesalahan orang lain. Semua sudah menjadi jalan takdir dari sang khalik, kita hanya bisa menjalani sambil terus tawakal kepada Nya."
Wanita itu membisikkan kalimat itu lembut.
__ADS_1
Sementara, di sudut lain terlihat seorang pria juga sudah mengepalkan tangan geram. Meski kisah ini sudah di dengarnya beberapa kali, tapi tetap saja darahnya akan kembali mendidih saat telinganya menangkap kisah itu lagi.
Dan pria itu adalah Husyein, lelaki yang ibu dan anak tadi ceritakan.
Pria itu berjalan menuju halaman depan, kemudian mulai berlari kecil mengelilingi rumah untuk menenangkan hati yang terasa sakit.
"Pantas saja mas menjadi pria yang kasar, aku rasa semua itu terjadi karena pola hidup mu yang tidak beraturan."
Suara seorang wanita berhasil menghentikan laju langkah Husyein. Pria itu menoleh ke arah sumber bunyi dan terlihat seorang wanita duduk di gazebo samping rumah.
"Eh, bocah. Bisakah kau mengabaikan ku saja?"
Ucap Husyein, lalu mulai melanjutkan langkah. Ia kembali berlari mengelilingi rumah.
"Ber-olah raga lah pagi atau sore hari. Fungsinya agar jantung bisa memompa darah dengan stabil, supaya otak bisa berfikir dengan positif."
Aisyah menyidir saat Husyein kembali berlari di hadapannya.
Mendengar kalimat sang sepupu, pria itu merasa terpancing. Ia berhenti dan berbalik. Berniat ingin membalas ucapan pedas wanita tadi.
"Anak kecil seperti mu tau apa ha?"
Tanyanya dengan mata garang.
"Setidaknya anak kecil seperti ku bisa berfikiran terbuka. Dari pada pria tua seperti mas, yang hanya bisa pikiran sempit."
Aisyah berdiri, kemudian berjalan masuk kerumah. Meninggalkan Husyein yang semakin kebakaran jenggot.
"Berengsek tu bocah, makin besar makin kurang ajar aja, nggak pernah makan bangku sekolahan apa tu mulut."
Aisyah berjalan ke dapur, membantu sang ibu dan Husna yang sedang menyiapkan makanan untuk keluarga mereka. Setelah selesai, semua orang berkumpul dan menikmati hidangan dengan canggung.
Sebelum pertikaian terjadi, biasanya momen berkumpul keluarga seperti ini selalu menjadi hal yang menggembirakan. Berbeda jauh dengan hari ini, di mana hanya terdengar percakapan dari Aidhil dan Shaleh. Sedangkan yang lain hanya memilih fokus dengan makanan mereka.
Termasuk Mikhail dan Husna, mereka hanya sesekali saling pandang sambil memberi senyum kecil dan terus berusaha menahan rasa cinta yang menggelora.
Setelah acara makan malam, semua orang kembali ke kamar. Aisyah dan Husna tidur satu kamar, Aidhil dan istrinya tidur di kamar belakang. Sedangkan Mikhail tidur di ruang tamu.
Biasanya setiap pulang kampung dia akan menginap di kamar Husyein. Namun karena sang pemilik kamar dan dirinya baru saja bertikai, maka dia memilih untuk memghindari perselisihan yang bisa saja terjadi andai mereka berada di tempat yang sama.
Sudah 1/3 malam, tapi mata Mikhail masih belum bisa terpejam. Meski sudah berusaha berguling kesana kemari, namun panca indera penglihatannya masih saja betah terbuka.
Hingga samar telinga pria itu menangkap suara desiran air dari kamar mandi yang ada di dapur. Mikhail mulai bergedik ngeri. Dia mengangkat selimut hingga wajah, mencoba menyembunyikan tubuh dari hal menakutkan yang ada di pikirannya.
Mikhail yang terkenal galak itu sebenarnya adalah pria yang sangat penakut dengan hal hal gaib. Itulah yang menyebabkan dia tidak bisa memejamkan mata. Bagaimana tidak, dia diharuskan tidur di ruangan besar yang gelap, membuat jiwa penakut-nya semakin menggila.
Bahkan meski tubuh sudah tertutup rapat, namun telinganya masih dapat menangkap suara langkah kaki berjalan mendekat. Makin dekat, dekat, hingga akhirnya pria itu merasakan sebuah tangan yang memegang lengannya.
"Akh.."
Dia mulai berteriak ketakutan.
"Mas, mas. Ini aku, Husna."
Husna berusaha menarik selimut supaya Mikhail bisa melihat dirinya.
"Oh, maaf. Aku pikir kau siapa."
__ADS_1
Pria itu sontak merasa malu saat melihat wanita yang berjongkok di hadapannya.
"Mas kenapa berteriak? Takut ya?"
Husna mengejek sambil tersenyum usil.
"Hahaha.. siapa yang takut. Tadi aku, aku sengaja ingin mengerjaimu."
Pria itu tergagap, lalu mendudukkan diri.
Husna tersenyum lebar, ia tahu betul kalau sang suami hanya beralasan.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke kamar dulu." Dia berdiri.
"Tunggu,"
Mikhail menahan tangan sang istri.
"Aku dari tadi tidak bisa memejamkan mata. Maukah kau menemaniku sampai aku tertidur?"
Nada dan wajah pria itu sedang memohon.
"Kenapa mas tidak bisa tidur?" Dia mulai prihatin.
"Entahlah, mungkin karena hatiku yang sedang merisaukan hubungan kita."
Mikhail mengusap pelipis mata yang mulai terasa perih karena rasa kantuk.
Setelah mendengar pengakuan menyedihkan pria di lantai, sontak membuat hati Husna kian terenyuh. Karena bukan hanya Mikhail, tapi dia pun sebenarnya malam ini tidak bisa tidur, dan penyebab gadis itu tak dapat memejamkan mata adalah karena hal yang sama.
"Baiklah, aku akan duduk di sini sampai mas tidur."
Husna mendudukkan diri di sebelah sang suami.
Saat melihat istrinya berada di samping, Mikhail langsung mengalungkan tangan di pinggang Husna lalu menarik wanita itu supaya berbaring.
Husna yang mendapat perlakuan seperti tadi sontak menggeliat untuk melepaskan diri.
"Mas, kita sedang di ruang tamu. Tidak enak jika ada yang melihat." Ucapnya khawatir.
"Sebentar saja, aku masih sangat merindukanmu, lagi pula ini masih tengah malam dan semua orang pasti sudah tertidur."
Mikhail mulai membenamkan wajah di tengkuk sang istri untuk mencari kenyamanan.
"Tapi mas."
Husna masih berusaha membuka kuncian sang suami.
"Aku hanya memeluk mu hingga tertidur, setelah itu kau boleh pergi. Tolonglah, aku sangat mengantuk."
Mikhail mulai memejamkan mata.
Husna menjadi tak tega, ia akhirnya membiarkan pria itu mencari kehangatan dengan memeluknya di malam nan dingin. Toh ia bisa pergi ketika suaminya itu sudah tertidur.
Jam terus berputar, entah berapa lama Husna berusaha menahan kesadaran, hingga akhirnya gadis itu pun jatuh ke alam mimpi menyusul pria di sebelah. Mereka tertidur dengan posisi yang tentunya akan membuat iri para kaum jomblo di luaran sana.
TBC
__ADS_1