
Suara kokokan ayam, mampu membangunkan sepasang suami istri yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Bah, abah, subuhan dulu!"
Sang wanita mengguncang pelan tubuh suaminya.
"Iya,"
Jawab sang pria dengan suara serak.
Setelah memastikan kesadaran terkumpul, akhirnya pasangan tadi beringsut menuruni ranjang. Tujuan mereka tentu saja kamar mandi yang berada di ujung dapur.
Sang istri berjalan lebih dulu, ia melangkah gontai sambil menyandang sehelai handuk.
"Hah.. Astagfirullah."
Kakinya tertahan saat melihat sepasang anak manusia yang sedang berpelukan mesra di ruang tamu.
"Abah apa-apaan mereka?"
Ningsih mengepalkan tangan geram. Ia langsung emosi melihat sang anak yang terlihat sangat nyaman tertidur di dalam dekapan pria yang masih berstatus sebagai menantunya.
Ningsih kembali melangkah untuk segera menggerebek 2 anak muda yang masih terus berpetualang di dalam mimpi mereka. Namun suaminya yaitu Shaleh, dengan sigap menarik tangan serta membekap mulutnya.
"Bah, bah."
Ningsih masih berusaha berucap.
"Syut."
Shaleh menarik sang istri kembali ke kamar mereka.
"Kenapa abah menghentikanku?"
Ningsih langsung melayangkan protes begitu pintu kamar mereka sudah di tutup sang suami.
"Syut, jangan keras-keras. Nanti mereka bangun"
Shaleh berucap setengah berbisik.
"Abah ini gimana sih. Liat anaknya tidak sopan begitu malah di biarin"
Protes Ningsih kesal.
"Tidak sopan apanya? Toh mereka hanya tidur, nggak ngapa-ngapain. Ingat mereka masih suami istri, jadi semua masih wajar."
Shaleh tersenyum usil.
"Nggak ngapa-ngapain gimana? Wong mereka itu kan sebentar lagi mau bercerai, jadi tidak seharusnya masih sedekat itu sekarang."
Wanita tadi masih kesal, dia berjalan ke ranjang untuk mendudukkan diri.
"Ningsih, berhentilah mengatakan kata cerai, apa kau tidak lihat bagaimana anakmu memeluk Mikhail? Apa kau tega merusak kebahagiaan putri kita?"
Shaleh mulai berucap serius.
"Abah jangan tertipu, hal ini terjadi pasti karena ulah keponakan mu itu yang merayu anakku untuk tidur dengannya."
Ningsih masih berusaha menolak kenyataan.
__ADS_1
"Jangan menutup mata atas semua bukti yang sudah jelas. Mikhail dari semalam memang tidur di luar, sedangkan Husna tidur di kamar bersama Aisyah. Jika saat ini Husna berada sanping suaminya, maka itu berarti dialah yang telah berjalan pindah kesana. Jadi, jangan terus memojokkan Mikhail."
Mendengar ungkapan sang suami, Ningsih sontak terdiam.
"Pikirkan lagi Umma. Husna sangat mencintai Mikhail, jangan jadikan ego dan bayangan masa lalumu menghancurkan masa depan putri kita."
Lanjut pria tadi.
Ningsih kian terpojok, ia merasa apa yang di ucapkan suaminya barusan benar benar mampu masuk ke relung jiwanya.
Shaleh mendekat untuk duduk di samping sang istri. Pria paruh baya itu kemudian meraih tangan wanita yang sudah mendampinginya lebih dari 20 tahun lamanya.
"Kebahagiaan putri kita ada di sini!"
Dia menunjuk telapak tangan sang istri.
"Pikirkan apa yang akan umma lakukan. Biarkan Husna bahagia, atau hancurkan saja hatinya, dan jadilah penyebab sakit batin yang mungkin akan di bawanya hingga ajal."
Shaleh membelai kepala sang istri, kemudian kembali melangkah keluar kamar. Sengaja ingin memberi waktu pada ibu dari anaknya itu untuk berfikir.
Setelah kepergian Shaleh, Ningsih terdiam. Apa yang di katakan oleh pria tadi sungguh mampu membuat jiwa egois-nya menciut.
Di tempat lain, terlihat seorang pria duduk di tepi pintu sambil menyimpulkan tali sepatu. Setelah di rasa rapi dan kuat, akhirnya pria itu mulai berlari. Dia sengaja berolah raga untuk menenangkan emosi yang kembali berkobar ketika melihat sang adik dan iparnya tengah berpelukan di ruang tamu.
"Assalammualaikum mas!"
Suara seorang wanita langsung menahan laju langkahnya.
Husyein menoleh, di sana berdiri seorang wanita cantik berhijab tengah tersenyum padanya.
"Waalaikum salam,"
"Mas apa kabar, kapan pulangnya?"
Tanya wanita tadi.
"Kemarin. Maaf Diana, mas belum sempat mengunjungi mu ke rumah. Tapi Insya Allah sore ini mas akan ke sana!"
Pria itu merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Nanti siang Diana juga akan ke rumahnya mas. Mau ngantar bolu buatan ibuk."
"Ya sudah. Kalau begitu, mas olah raga dulu. Sampai jumpa nanti siang."
Husyein pamit, kemudian lanjut berlari.
Tak jauh dari sana, seorang wanita muda tengah memperhatikan mereka. Dia adalah Aisyah, sepupu pria tadi.
"Apa itu pacarnya?"
Bergumam dalam hati.
"Giliran ama gebetan aja, lembutnya ngalahin kapas. Modus pasti."
Aisyah kembali melanjutkan tugasnya menyirami bunga.
Sementara Aisyah merungut, lain halnya di ruang tamu. Di sana sudah nampak salah seorang di antata 2 insan yang kesiangan tadi menggeliat.
"Astagfirullahal'adzim."
__ADS_1
Husna sontak terduduk saat melihat hari sudah terang.
"Kenapa?"
Mikhail ikut terkejut mendengar teriakan sang istri.
"Mas, sudah siang. Aku belum shalat subuh."
Husna mulai merasa panik.
"Nggak papa, namanya juga tidak sengaja."
Pria itu menjawab asal sambil menggosok mata.
"Bukan itu aja mas, coba liat kita di mana! Kalau sampai di lihat umma, matilah kita."
Husna cepat berdiri, kemudian berlari menuju kamar.
Mikhail masih terdiam di sana. Menyesali apa yang sudah terlanjur terjadi. Dia tidak tau apakah sudah ada yang melihat mereka atau belum.
Sesampainya di kamar, Husna sudah tidak menemukan Aisyah. Itu artinya sang adik ipar pasti sudah menangkap basah mereka.
"Ya ampun.. Ica pasti sudah memergoki kami. Mau di taruh di mana muka ku kalau begini?"
Ia mengusap wajah dengan prustasi.
Husna menarik handuk kemudian mulai berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh ke ruang tamu, tempat mereka tadi malam tertidur. Ada segudang rasa malu yang terasa bersarang di dadanya.
"Gimana Husna, apa tidur kalian nyenyak?"
Suara dari pintu samping langsung menambah merah wajah Husna.
Dengan gugup gadis itu menoleh.
"Iya ma!"
Memaksakan senyum dengan wajah semerah tomat. Dia tak menyangka bahwa ternyata sudah banyak yang melihat mereka.
"Husna mandi dulu ma."
Menunduk malu.
"Iya, jangan lupa keramas."
Suara Nani terdengar mengejek.
Husna yang sudah terlanjur malu, akhirnya tak sanggup lagi untuk menoleh. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi sambil berharap semoga saja ada pintu ajaib Doraemon yang bisa membawanya kemana saja untuk menjauhkan dirinya dari semua orang.
TBC
Maaf readers, akhir-akhir ini mak memang sangat sibuk. Biasa, selain menjadi ibu rumah tangga, mak juga menjalani beberapa bisnis kecil-kecilan. Jadi, harap maklum kalau mak up nya agak lama.
Insya Allah untuk kedepannya mak akan berusaha lebih disiplin lagi, sehingga kalian tidak bosan menunggu kelanjutannya.
Harap maklum ya, karena mak harus kudu usaha lebih ekstra demi masa depan anak anak.
Makasih, salam sayang dari mak author receh.
Jangan lupa terus dukung karya ini dengan cara tekan vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomentar ria.
__ADS_1