
"Buk de!"
Aisyah memeluk pinggang adik sepupu dari ayahnya dengan mesra.
Ningsih yang sedikit terkejut langsung menoleh.
"Ih, kamu tu suka bikin buk de kaget ya? Mau buk de ntar jantungan?"
Dia menepuk pelan tangan gadis muda tadi.
"Eps, jangan dong buk de. Ntar kalau buk de jantungan kena struk, trus jalannya bisa kek gini dong?"
Aisyah menyontohkan jalan terpincang lengkap dengan raut wajah yang di buat sejelek mungkin.
"Hahahaha..."
Ningsih yang sudah beberapa hari ini berwajah masam, akhirnya bisa tertawa terbahak-bahak.
Aisyah yang berkarakter humoris, selalu saja mampu membuatnya tersenyum di segala suasana. Gadis itu sedari kecil memang banyak aksi yang akan selalu membuat situasi menjadi hangat. Berbeda jauh dengan Mikhail yang terkenal cuek dan acuh.
"Udah, udah ah. Kamu bikin bukde nangis nih."
Ningsih menghapus bekas air mata yang keluar karena terlalu semangat dalam tawanya.
"Eh bocah. Kamu apain Umma sampai nangis gitu?"
Seorang pria menoyor pelan kepala Aisyah dari belakang.
"Ih, dasar pria sentimen. Orang lagi becanda tau."
Aisyah mengusap kepala yang tak sakit.
"Husyein, jangan kasar gitu ah sama adiknya."
Sang ibu menasehati sambil lanjut melipat kain.
"Benar tu buk de, dari semalam Ica selalu aja di marahin sama mas Husyein."
Gadis itu mengadu.
Pria tadi menatap Aisyah dengan tatapan garang, dia menaik turunkan hidung sebagai isyarat intimidasi.
"Kamu ya, udah gede masih aja nggak berubah. Aisyah itu kan perempuan jangan di marah-marahin, pamali."
Wanita paruh baya tadi mencubit pelan lengan sang anak.
"Maaf umma, habisnya Aisyah yang mulai duluan. Dia semalam me...."
"Oh ya bukde, kalau begitu Ica pamit dulu ya! Ica sama kak Husna pergi ke kebun jalan-jalan, Assalammualaikum...."
Aisyah langsung memotong pembicaraan Husyein. Ia tak ingin ibu dari kakak iparnya tau tentang insiden ketika dia menampar pria itu semalam.
Belum sempat Ningsih menjawab, tapi Aisyah sudah berlari lebih dulu. Membuat ibu dan anak tadi hanya bisa menggeleng melihat tingkah gadis periang itu.
"Kita mau kemana sih Ca?"
Husna bertanya sambil terus mengikuti langkah gadis yang tengah menggandeng tangannya.
"Kekebun kak. Liat cabe, terong, itik dan lain lain."
Jawab Aisyah enteng.
"Tapi ntar sore kalian kan mau pulang ke kota J. Apa kamu nggak capek?"
"Capek apanya? Orang kita jalan, bukan lari."
Aisyah tersenyum.
Husna akhirnya tak punya pilihan selain mendengar ucapan sang ipar. Ia lanjut terus mengikuti kemana kaki gadis itu membawanya.
Tak selang berapa lama, mereka sampai di tempat yang di tuju. Aisyah dengan riang menatap semua tanaman yang ada di sana, Menikmati hasil bumi yang terawat dengan baik. Husna hanya bisa tersenyum melihat betapa riang adik iparnya itum
"Kak, Ica mau ke kandang itik bentar ya! Kakak tunggu di sini aja!"
Aisyah menunjuk bangunan yang di gunakan untuk penangkaran itik, tepat di belakang Husna berdiri.
"Kakak temani ya, ntar kamu kenapa napa lagi."
"Eeeh, stop. Kakak duduk manis aja di sini!."
Aisyah menuntun sang ipar supaya duduk di pintu pondok kebun yang memang sudah terbuka.
"Tapi,"
Husna masih merasa bingung kenapa adik dari suaminya itu ngotot ingin pergi sendiri.
"Udah, Ica bentar aja kok."
Aisyah mulai berjalan menjauh, meninggalkan Husna yang masih dalam kebingungan. Gadis itu terus saja menetap pada punggung adik ipar yang sudah sampai di tempat yang dia maksud.
Hingga tanpa di sadari sesuatu mulai bergerak mendekatinya dari dalam pondok.
Makhluk itu kian dekat... dekat, lalu langsung mengalungkan tangannya di pinggang Husna.
"Akh.."
Dia terpekik.
"Syut.. ini aku."
Mikhail segera menutup mulut Husna yang tadi sempat berteriak karena terkejut.
"Mas, kamu bikin aku jantungan tau."
Husna menepuk pelan tangan yang melingkar di perutnya.
"Kamu juga selalu membuat jantung ku tidak aman."
Pria itu mulai mendaratkan kepala di pundak Husna.
"Mas, jangan kek gini ah. Malu sama Aisyah."
Husna berusaha melepas kungkungan sang suami.
"Mana Aisyah?"
Mikhail bertanya.
"Itu, eh.. tadi dia ada di situ lo mas. Tapi sekarang mana ya?"
Husna mulai merasa khawatir saat melihat adik ipar Nya tidak ada di tempat tadi.
"Aisyah udah jauh. Aku yang menyuruhnya membawamu kesini."
Mikhail mengeratkan pelukan dan juga mulai menciumi pipi istrinya.
"Egh, mas. Ini pondok tempat abah berkebun. Jadi nggak enak jika beliau sampai memergoki kita."
__ADS_1
Husna masih berusaha membebaskan diri. Dia mulai merasa ada sesuatu yang mulai tepancing saat merasakan sentuhan dan gesekan dari tubuh suaminya.
Mikhail berdiri, ia menarik pelan tangan Husna supaya masuk ke dalam pondok.
"Nah, apa begini sudah aman?"
Dia menutup pintu.
"Mas, nanti abah...'
"Abah dan papa sedang pergi ke rumah paman Doni. Jadi duduklah, tolong beri aku waktu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Mikhail menekan bahu sang istri supaya wanita itu mau mendudukkan diri.
Husna yang tak punya pilihan akhirnya mengikuti perintah sang suami.
"Baiklah. Sekarang cepat katakan apa yang ingin mas bicarakan!"
Gadis itu masih merasa takut jikalau ada yang memergoki mereka.
Mikhail tersenyum, lalu ikut mendudukkan diri di sebelah sang istri. Tangannya meraih sebuah tas dan terlihat mencoba mencari-cari sebuah benda.
"Happy anniversary sayang."
Pria itu mengulurkan sebuah kotak kecil.
Husna tertegun, dia tak menyangka kalau pria di hadapannya ini akan memberikan kejutan untuk hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Hari ulang tahun pernikahan yang bahkan tak teringat oleh dirinya sendiri.
"Jika saja situasi kita tidak dalam keadaan seperti ini, maka aku akan merayakannya dengan seromantis mungkin."
Mikhail masih mengulurkan benda tadi yang belum di ambil sang penerima.
Tangan Husna terangkat, ia dengan ragu menerima pemberian sang suami yang tak pernah diduga sebelumnya. Jari wanita itu mulai membuka pelan, matanya seketika terbelalak saat melihat apa isi dari kotak yang di terima tadi.
"Waw.. indah sekali."
Pujian langsung terucap dari mulut Husna saat meraih kalung putih dengan liontin berbentuk hati yang terkurung di dalam kristal putih.
Mikhail beringsut, ia mengambil alih kalung lalu berpindah kebelakang Husna. Tujuannya tentu saja untuk membantu sang istri memasang hadiah yang di berikannya tadi.
Husna yang mengerti langsung menarik kerudung, membiarkan sang suami melakukan hal itu.
Mikhail dengan senyum mulai mengalungkannya. Setelah pengaitnya tersangkut, dia mulai kembali memeluk Husna dari belakang.
"Apa kau tau apa arti dari liontin ini?"
Husna masih meraba leher yang sudah tertempel kalung.
"Tidak."
Menggeleng polos.
"Liontin ini memiliki arti bahwa cintaku sudah terkurung oleh dirimu. Aku tidak akan pernah lepas darimu hingga ajal menjemput."
Pria itu menjelaskan.
Husna kian tersentuh, ia terus membelai liontin itu dengan perasaan yang tak terkatakan.
"Apa kau suka hadiahmu?"
Bisik pria itu tepat di samping telinga Husna.
"Iya mas, ini indah sekali. Tapi maaf aku tidak menyiapkan apapun."
Husna merasa bersalah karena ia tidak bisa membalas hadiah dari suaminya. Bukan karena tak mau, tapi karena ia memang tidak ingat hari anniversary pernikahan mereka.
Mikhail mulai memciumi leher sang istri.
Husna semakin terbuai dengan semua ucapan manis suaminya. Dia berbalik dan mulai membelai wajah pria itu.
"Terima kasih karena masih mencintai ku."
Ucapnya dengan tatapan manja.
"Jangan meragukan cintaku. Meski aku harus menunggu seumur hidup, maka aku akan tetap mencintaimu."
Mikhail mencium tangan Husna dan gadis itu mulai memejamkan mata untuk menikmati sensasi liar yang di timbulkan karena ulah pria tadi.
Ciuman Mikhail berpindah ke kening, lalu pipi dan menuju ke bibir. Tepat beberapa senti sebelum penyatuan, kesadaran pria itu datang melintas.
Husna sudah menutup matanya dengan rapat sambil menantikan bibir pria itu mendarat. Ia bahkan dapat merasakan hembusan nafas sang suami di pipinya.
"Maaf, tidak seharusnya kita begitu sekarang"
Pria itu menarik diri.
Mendengar ucapan dari sang suami, Husna lalu kembali membuka matanya, kening wanita itu menyatu bertanda kalau ia sedang bingung.
"Kenapa mas?"
Tanyanya heran.
"Situasi kita tidak memungkinkan. Aku takut jika aku tidak bisa mengontrol diri."
Jawab pria itu sambil menjauhkan tubuh dari sang istri, dia mengusap wajah supaya pikiran yang sudah mulai panas dapat kembali mendingin.
"Kalau begitu, tidak usah mengontrolnya. Lepaskan saja."
Husna mendekat dan memberanikan diri memulai ciuman mereka lebih dulu.
Dan aksi wanita itu sontak membuat mata Mikhail membulat, dia tak menyangka bahwa wanita selugu Husna bisa melakukan hal seperti itu. Dan tentu saja Mikhail langsung terpancing, ia mulai menutup mata dan mulai membalas lum*t*an sang istri dengan penuh gelora.
Husna juga tak kalah diam, wanita itu juga berangsur mengalungkan tangan di leher sang suami, tubuhnya beranjak dan dengan berani mendudukkan diri di paha pria itu, membuat Mikhail kian kalap.
Nafas mereka mulai tak terkendali, tangan Mikhail juga sudah beringsuk mencari sesuatu yang terbungkus indah. Membuka kancingnya dengan penuh semangat.
Husna spontan menutup dada dengan tangan karena kemeja longgarnya sudah terlepas, sehingga gunung indahnya hanya berbalut sepang kaca mata buram.
"Apa kau malu?"
Bisik pria itu sambil terus menciumi leher sang istri.
Husna tak bisa menjawab, ia masih sibuk mengendalokan kesadaran dari hasratnya sebagai wanita dewasa.
"Bulankah semua ini adalah milikku, maka tolong beri aku kesempatan untuk merasakannya!"
Ciuman Mikhail berpindah ke dada, tangan pria itu juga sudah berhasil membuka pengait sang kaca mata buram.
"Mas, ah.. Apa tidak apa apa kita melakukannya di sini?"
Tanya Hisna di sela kenikmatan yang baru di kenalnya.
"Tolong jangan menolak ku, karena aku sudah tidak mampu lagi manahannya."
Ucap pria itu dengan tangan yang sudah menempel sambil memeras sesuatu yang indah. Membuat wanita yang duduk di pangkuannya semakin menggeliat kepanasan.
Sementara itu di tempat lain Aisyah mulai bertarung melawan nyamuk, dia menanti dengan sabar sambil memainkan gawai.
__ADS_1
"Eh, bocah! Ngapain kamu di sini?"
Suara bariton seorang pria berhasil mengejutkan gadis manis tadi.
"Dug."
Jantung Aisyah langsung berdebar kencang. Bukan karena jatuh cinta, tapi lebih ke rasa khawatir akan kakak dan iparnya yang sedang berduaan di pondok sana.
"Eh, a... aku, aku sedang mengambil foto kebun."
Jawabnya tergagap sambil pura pura mengangkat handphone.
Husyein mulai menatap dirinya dengan tatapan selidik.
"Bukankah kau tadi pamit untuk pergi bersama Husna? Lalu, mana dia?"
Tanya pria itu sambil melihat sekeliling.
"Aduh, mati aku, bisa gawat kalau gorilla satu ini menangkap basah kakak."
Aisyah mulai meratap dalam hati.
"Kenapa kau diam, mana adikku?"
Husyein mulai merasa ada yang sedang tidak beres.
"Eh, hm.. kak Husna tadi pulang ngambil minum, tapi dia nanti akan kesini lagi kok."
Aisyah semakin gemetar.
"Oh.. kalau begitu ngapain kamu berdiri di sini, bukankah di situ ada pondok? Ayo duduk di sana sambil menunggu Husna datang!"
Husyein mulai melangkah ke tempat 2 anak manusia yang sedang bermesraan tadi.
"Aduh.. gimana ini. Ayolah Ica pikirkan cara supaya kakakmu selamat."
Gadis tadi semakin gelagapan, ia mulai memukul pelan kepalanya sebagai bentuk rasa frustasi.
Sementara gadis itu berfikir, Husyein berjalan semakin jauh.
"Akh.. mas tolong!"
Aisyah berteriak sekeras mungkin untuk memberi sinyal pada pasangan yang ada di pondok cinta.
Husyein yang mendengar teriakan keras di belakang sontak menoleh. Ia langsung berlari mengejar sang sepupu yang sudah terduduk di tanah sambil memegang pergelangan kakinya.
Dan teriakam keras Aisyah bukan hanya mengejutkan Husyein, tapi dua anak manusia yang sedang bermesraan di dalam sana pun sontak menghentikan aksi mereka.
Dengan sigap Mikhail membantu sang istri memungut kembali pakaian yang sudah berserakan di lantai. Gagal sudah aksi belah duren yang sudah hampir terjadi.
"Sepertinya itu suara mas Husyein."
Husna dengan tangan gemetar mulai memasang kembali kancing bajunya.
"Sebenarnya kenapa kita harus takut, bukankah kita adalah suami istri?"
Mikhail tersadar, ia merasa kalau apa yang di lakukannya tadi bukanlah sesuatu hal yang salah.
"Iya, tapi semua akan semakin menjadi semrawut jika mas ku menangkap kita di sini. Dia adalah pria yang tempramen."
Husna mencoba menjelaskan.
"Iya tapi aku..."
"Mas, tolong mengalah saja."
Husna membelai pipi sang suami yang terlihat kecewa.
Dan ketika 2 manusia tadi masih sibuk memakai pakaian mereka kembali. Di sudut lain Hisyein sudah nampak memegang kaki sepupunya.
"Kamu kenapa?"
Tanya Nya khawatir
"Mas, tolong mas. Kakiku sepertinya terkilir."
Erang Aisyah yang sengaja di buat sesedih mungkin.
"Terkilir? Makanya kalau jalan itu liat liat, jangan kaki melangkah tapi mata kamu perginya kemana."
Husyein memgomel sambil mengurut kaki sang sepupu.
"Aduh, duh duh. Bisa nggak sih, mas ngomelnya nanti aja? Aku lagi sakit tau, bukannya di bantuin malah di marahin."
Aisyah masih ber acting.
"Ya udah, nyusahin aja kamu. Berdiri cepat!"
Husyein membantu Aisyah berdiri.
"Akh. Nggak bisa mas, kakiku kalau di gerakin makin sakit."
Ia kembali mendudukkan diri.
"Trus gimana dong?"
Husyein bingung.
"Gendong...."
Aisyah membentangkan tangan seperti bayi kecil yang meminta di angkat. Tak lupa pula suara khas manjanya."
"Ih, kamu nyusain aja ya. Kita bukan mahram, jadi tidak boleh bersentuhan."
Husyein menolak.
"Tapi ini kan darurat mas. Masa mas tega ninggalin aku dengan keadaan seperti ini. Ntar kalau ada macan, atau beruang gimana?"
Aisyah membuat wajah semakin sedih.
Husyein berfikir sebentar.
"Ya sudah, cepat naik."
Dia mengalah dan mulai membungkuk untuk mempersilahkan sang sepupu naik di punggungnya.
Aisyah langsung menyunggingkan senyum kemenangan,
"Nah, rasain kamu! Emang enak di kerjain. Encok, encok deh tuh pinggang."
Senyum usil langsung terkembang sebagai penanda kemenangan ada di pihaknya saat ini.
Husyein dengan hati mendongkol terpaksa terus menggendong wanita itu.
" Dasar si biang rusuh, kalau saja kau bukan sepupu ku, maka aku akan membiarkanmu menjadi santapan binatang buas."
Pria itu masih memaki dalam hati.
__ADS_1
TBC