Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 22


__ADS_3

"Apa kau ingin pergi ke sekolah?"


Mikhail menyapa Husna yang baru keluar dari kamarnya pagi itu.


"Iya."


Jawabnya singkat, sambil berjalan menuju ruang makan.


Pria itu mengikuti langkah sang istri. Dia juga sudah terlihat rapi dengan stelan kantor.


"Apa mas mau sarapan?"


"Hm."


Jawabnya tak kalah singkat.


Husna segera menaruh makanan yang tadi sempat di masaknya. Lalu mereka menikmati makanan dengan kebisuan masing-masing.


Keadaan canggung yang selalu tercipta di saat mereka berdua. Selalu bisa membuat rumah terasa sunyi meski berpenghuni.


"Kau sudah mau berangkat?"


Mikhail membuka kaca mobilnya.


"Iya,"


Husna mengangguk.


"Apa dia akan menawari diri untuk mengantar ku?"


Bisik hatinya.


"Oke"


Mikhail ikut mengangguk. Kemudian menutup kembali kaca mobil.


Tadinya ia berharap Husna akan meminta tolong pada dirinya untuk di antar ke tempat kerja. Namun, sepertinya gadis itu masih jual mahal. Sedangkan Mikhail terlalu gengsi untuk menawari diri.


"Ku pikir sekarang dia sudah agak manusiawi. Ternyata dia masih sama. Apa salahnya membawaku sekalian, bukankah kami satu arah? "


Husna memandang jenuh mobil yang sudah berlalu melewatinya.


"Akh, sebaiknya aku berbalik. Kasian juga jika dia harus berjalan ke halte bis."


Mikhail yang sudah berlalu hingga beberapa puluh meter akhirnya memutuskan untuk berbalik.


Hanya butuh waktu beberapa menit, akhirnya Mikhail sampai kembali di jalan depan rumahnya. Namun sayang, pemandangan tak enak langsung tersaji di sana.


Dimana wanita yang ingin dijemputnya tadi sudah terlihat memasuki sebuah mobil. Dan seorang pria nampak membantunya membuka pintu. Seakan menggambarkan betapa romantisnya mereka berdua.


"Brengsek!"


Mikhail meremas kuat stir.


Tanpa di sadari, pria itu terus mengikuti kemana arah mobil di depannya pergi. Matanya fokus ke depan, hal-hal tak nyaman terus di rasakan oleh hatinya.


Hingga tak terasa, sampailah mereka di sekolah tempat Husna mengajar.


Andre, pria yang tadi menjemput Husna kembali melakukan hal yang sama. Ia membukakan pintu untuk istri dari pria yang sudah panas karena ulahnya saat ini.


Dari kejauhan Mikhail dapat melihat Husna terus tersenyum pada Andre dan gadis kecil di sebelahnya.


"Apa dia menyukai duda itu?"


Mikhail menarik dan membuang nafas dalam.


"Persetan dengan mereka. Bagus jika wanita itu mempunyai kekasih. Jika Mama dan Papa tau, aku bisa langsung menceraikannya tanpa di salahkan."


Mikhail berusaha meyakinkan bahwa hatinya masih baik-baik saja.


Pria itu kembali menyalakan mesin mobil, kemudian berlalu menuju kantor dimana dirinya akan memulai karier yang sesungguhnya.


"Bagaimana kebar istrimu?"


Aidhil, ayah dari Mikhail bertanya begitu pria itu sudah duduk di ruangan nya.


"Husna sehat Pa. Dia sudah mulai mengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak."


"Kami tau, dia sudah meminta ijin sebelum mulai bekerja."


"Dasar si itik. Dia sempat meminta ijin pada orang tuaku. Tapi, denganku dia bahkan tidak mau berbagi cerita."


Mikhail semakin kesal.


"Pa, bagaimana kalau Husna di suruh bekerja di sini saja?"


Kalimat seperti itu tiba-tiba saja muncul di kepala Mikhail.


"Papa dan Mama sudah menawari hal itu. Tapi. Husna menolaknya dengan alasan ingin mandiri."


"Lebih tepatnya dia ingin kebebasan."


Batin Mikhail berbisik.


"Sudah, biarkan saja dia menikmati masa bebasnya sebelum kalian mempunyai anak."

__ADS_1


Ucap pria paruh baya itu, seakan mendengar apa yang batin Mikhail teriakkan.


Aidhil berdiri dan menepuk ounggung sang anak pelan, kemudian berlalu menuju ruangannya sendiri.


"Ting,"


Dering penanda pesan masuk, langsung menggema setelah sang ayah keluar dari sana.


"Sayang. Nanti kita makan siang di luar yuk!"


Itulah pesan yang tertulis di handphone nya.


"Ok. Tempat biasa ya!"


Balas Mikhail.


"Mungkin efek aku terlalu sering bertemu dengan itik. Makanya pikiran ku jadi kacau seperti ini. Jika aku kembali menghabiskan hari bersama Amanda, maka kewarasanku pasti akan kembali lagi."


Akhirnya Mikhail melanjutkan kembali pekerjaan yang sudah bersiap menunggunya.


Waktu berlalu, tak terasa saat makan siang yang di nanti oleh para pekerja datang juga. Semua orang mendapat masa untuk beristirahat sejenak untuk menikmati makan siang mereka.


Termasuk juga Mikhail. Pria itu sudah terlihat memasuki sebuah Cafe tempat biasa dia menikmati makanan bersama kekasihnya, Amanda.


"Sayang."


Seorang gadis langsung melambai kearahnya.


Pria itu mendekat dan segera mendudukkan diri, malas. Karena mood Nya dari pagi memang sudah tidak baik.


"Kamu kenapa sayang. Lemes amat?"


Gadis itu ikut mendudukkan diri di sebelah sang kekasih.


"Tidak. Aku hanya sedikit lelah."


Jawabnya acuh, Mikhail menyandarkan tubuh, dan memijit pelipis matanya.


"Mikhail?"


Suara seorang pria berhasil membuat lelaki tadi membuka matanya kembali.


Di sana terlihat seorang pria dan 3 orang wanita sudah berdiri di samping mejanya. Dan salah seorang dari mereka adalah sang istri, Husna.


Wanita itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Pak Andre?"


Mikhail menyalami pria yang menyapanya tadi.


Andre bertanya santai.


"Ya."


Mikhail mengangguk ragu. Mata pria itu terus saja mengarah pada sang istri.


"Baiklah. Selamat menikmati!"


Andre dan rombongannya berlalu melewati pria yang masih menatap fokus ke arah wanita yang dari tadi terlihat acuh padanya.


Rombongan itu duduk tepat di sebelah Mikhail. Mereka hanya berjarak beberapa langkah.


"Kenapa mereka jadi makan siang bersama. Bukankah pria itu bekerja di kantor?"


Batin pria itu merasa tak terima saat menatap istri yang tak pernah di sentuhnya. Selalu terlihat bersama duda kaya itu.


"Sayang, kenapa kau terus menatap ke sana. Aku kan di sini! "


Amanda menarik pelan dagu Mikhail yang terus menatap ke sebelah.


"Apakah kau cemburu melihat istrimu berjalan dengan pria lain?"


Bisik Amanda kesal, karena Sejak kedatangan Husna fokus pria itu menjadi teralihkan.


"Tidak, justru itu bagus. semakin dekat mereka, maka semakin cepat pula aku mendapatkan alasan untuk menceraikannya."


Mikhail segera meneguk minuman yang memang sudah ada di hadapannya.


Entah kenapa, kerongkongan pria itu menjadi tercekat saat mengatakan kalimat itu.


Amanda yang mendengar ucapan dari kekasihnya, sontak tersenyum bahagia.


"Silahkan di order!"


Dari meja sebelah, terdengar Andre mempersilakan rombongannya untuk memesan.


"Makasih pak."


"Makasih pak"


Jawab Mereka hampir serentak.


"Apa kau mau mencoba sup ikan di sini? Rasanya enak dan segar."


Pria tadi berbicara dengan Husna.

__ADS_1


"Boleh."


Husna mengangguk.


Telinga Mikhail dapat menangkap percakapan yang terjadi di sebelahnya. Namun, ia berusaha tetap tak peduli meski nafasnya mulai sesak.


"Pak Andre, apa cuma buk Husna yang di tawari sup ikannya?"


Ejek Bu Tika, rekan sesama guru Husna.


Andre tertawa.


"Bukan begitu buk Tika. Husna baru pertama ke tempat ini, makanya saya menawari makanan khas yang ada di sini."


Andre segera meluruskan kesalah pahamaan yang terjadi.


Husna jadi salah tingkah. Ia tidak ingin rekannya menganggap kalau dia dan sang pemilik yayasan ada hubungan khusus.


"Mari lanjut makan."


Bella, rekan yang lain memecahkan suasana canggung yang terjadi.


Setelah kejadian itu, tidak terdengar lagi kalimat yang membuat Husna atau pun Andre menjadi sasaran kesalahpahaman.


Mereka akhirnya menikmati makanan sambil berbincang ringan tentang masalah pekerjaan atau masalah biasa lainnya.


Mikail terus menyuap makanan tanpa bisa menikmatinya. Mata pria itu terus saja mengarah pada Husna, setiap gerak-gerik sang istri dan Andre terasa terus menusuk dadanya.


"Terima kasih traktirannya pak!"


Tika dan rekan yang lain serentak berterima kasih sebelum mereka berpisah.


"Sama-sama. Selamat berakhtifitas kembali! Maaf, saya harus pergi duluan."


Andre menatap satu persatu wanita yang ada di sana. Dan pandangannya terhenti pada Husna.


Andre tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan 3 wanita yang masih duduk di meja tadi.


Pria itu juga terlihat sempat menyunggingkan senyuman pada pasangan di sebelah.


"Husna. Sepertinya pak Andre menyukaimu."


Tika kembali membuka obrolan.


"Apa?"


Keningnya mengerut.


"Keknya iya deh. Dari tadi kami perhatikan, mata beliau terus saja tertuju padamu."


Giliran Bella yang menimpali.


"Apa sebangga itu dia mendengar kalau ada yang menyukainya?"


Tangan Mikhail terkepal karena melihat Husna tersipu malu.


"Aku sudah menikah. Jadi, pak Andre tidak mungkin menyukai istri orang seperti ku."


Husna mengakui statusnya dengan gamblang.


"Apa kau tidak pernah mendengar istilah istri orang lebih menggoda?"


Tambah Tika lagi.


"Wah, kamu hebat. Sudah menikah saja. Masih ada saja orang yang menyukaimu. Apa lah daya kita. Jomblo yang tak dilirik."


Santi, rekan lainnya menimpali dengan membuat wajah sok mengiba.


Mikhail makin geram. Ia langsung berdiri, kemudian menarik paksa tangan Amanda. Mereka segera berlalu meninggalkan 3 wanita yang masih asik mengobrol.


"Ada apa denganmu. Tanganku sakit Mika."


Amanda terheran karena Mikhail menarik paksa tangannya keluar dari restoran.


"Aku harus buru-buru ke kantor. Papa ku tadi mengirim pesan."


Jawabnya bohong.


"Sampai jumpa lagi."


Mikhail melepas tangan Amanda. Kemudian masuk ke mobil dan berlalu dari sana. Ia bahkan lupa menawari diri untuk mengantar sang kekasih pulang.


"Ada apa dengan pria itu?"


Amanda terheran.


Gadis itu memang tidak mengetahui apa yang terjadi, karena ia dari tadi tengah sibuk sendiri dengan Handphone nya.


TBC


Mohon maaf readers. Sekali lagi mak ingatkan, bahwa novel ini memang slow UP. Jadi, mohon sabar dan terus ikuti ya.


Tolong bantu vote atau like. Supaya mak rajin UP. Hehehehe...


Makasih..

__ADS_1


__ADS_2