Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 34


__ADS_3

"Ini hasilnya!"


Seorang lelaki yang tengah mengunyah cemilan, memberikan selembar amplop pada Mikhail. Pria itu menerima, kemudian membuka dengan perasaan campur aduk.


Matanya langsung terbelalak saat melihat foto istrinya bersama seorang pria di berbagai kesempatan. Meski tidak hanya berdua, namun di beberapa pose, pria itu tertangkap tengah memandang Husna dengan tatapan yang tak biasa.


"Namanya Hafiz, dia kuliah di tempat yang sama dengan istri lo. Mereka juga mengambil les bahasa Turki di tempat yang sama."


Dodoy menjelaskan.


"Seberapa dekat hubungan mereka?"


Mikhail bertanya dengan geram, tangan pria itu bahkan sudah terkepal kuat.


"Sejauh ini hubungan mereka baru sebatas rekan sesama mahasiswa. Tapi, sumber mengatakan sepertinya lelaki ini mengincar Husna."


Dodoy menyilangkan tangan di depan dada.


Mikhail mendudukkan diri, ia kembali memandang potret tadi dengan lebih teliti.


"Udah lah Mikha, cepat akuin saja perasaan lo. Ini sudah bulan ke 3 sejak istri lo pergi. Tidak ada gunanya terus menyiksa diri dengan rasa rindu yang semakin dalam. Ingat, pria yang sekarang sedang mendekati Husna, bukanlah ptia biasa. Dia adalah anak dari seorang bangsawan dari negeri jiran. Keturunan sultan bro, jangan sampai lo gigit jari ntar."


Dodoy berjalan mendekat , ia menepuk pundak sahabatnya pelan, kemudian berjalan keluar dari ruangan tempat Mikhail bekerja.


Sepeninggal Dodoy, pria itu mengusap kening beberapa kali. Mencoba merenungkan apa yang di ucapkan oleh sang sahabat.


Mikhail mengakui bahwa dia benar benar sangat tersiksa dengan perpisahan mereka. Ingin rasanya ia segera terbang ke sana, dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Husna. Namun, rasa malu dan gengsi masih tetap bisa menguasai hatinya.


Sudah 3 bulan ini, di laluinya dengan berat, hatinya kosong dan dunianya terasa hampa. Tak pernah sehari pun bisa di lewati olehnya tanpa memikirkan sang istri. Namun, ia masih bisa tetap menahan rasa rindu, meski rasa itu hampir membuat kewarasannya menghilang.


Tapi setelah mendengar ada pria lain yang sedang mendekati Husna, hatinya kian tak karuan.


Awalnya, tujuan Mikhail meminta Dodoy mencarikan orang untuk memata matai Husna, hanya sekedar ingin tahu keadaan hidup wanita itu. Karena semenjak Husna berangkat hingga saat ini, ia tak pernah mempunyai keberanian untuk bertanya kabarnya secara langsung.


"Akh,"


Mikhail berdiri, ia mengacak rambut beberapa kali. Rasa khawatir akan kehilangan makin menguasai hati dan akal sehatnya.


"Ayu, tolong keruangan saya sebentar!"


Mikhail berbicara lewat intercom.


Tak lama, seorang wanita sudah terlihat berjalan masuk, setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


Ucap gadis manis itu sopan.


"Apa saja jadwal saya akhir pekan ini?"


"Akhir pekan ini anda ada beberapa undangan pesta dan makan malam dengan beberapa rekan bisnis Tuan."


Sang sekretaris menjelaskan.


Mikhail mengangguk angguk. Terlihat ia sedang menimbang sesuatu.


"Tolong kosongkan jadwal saya selama 4 hari ke depan. Dan pesankan saya tiket ke Istanbul, Turki. Kalau bisa, penerbangan besok pagi."


Ucapan Mikhail, membuat wanita berambut ikal itu mengerutkan dahi. Ada banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan, namun ia sadar akan posisinya. Hingga ia hanya bisa mengangguk menyetujui perintah dari anak sang pemilik perusahaan.


"Baik tuan."


Ucapnya, kemudian berlalu dari sana.


Sepeninggal sang sekretaris, Mikhail tersenyum kecil. Ia mulai membayangkan saat di mana ia bisa melepas rindu pada wanita yang dulu sangat di bencinya.


Pria itu sudah tak kuat lagi menahan gejolak hati antara rindu, dan rasa khawatir kehilangan yang kian membuatnya tak mampu lagi bernafas. Hingga ia mengalah dan membiarkan hatinya mengambil alih.


"Hai sayang!"


Lelaki itu berbalik, menatap ke arah pintu. Di sana, sorang wanita sudah berdiri tanpa permisi. Gadis itu berjalan masuk, ia melenggok dengan senyum manja yang sengaja di tujukan untuk pria di dalam sana.


"Kenapa kau masuk tanpa permisi?"


Kalimat pertama Mikhail keluar dengan nada tak bersahabat.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu?"


Amanda membuka tangan ingin memeluk sang kekasih, namun pria itu segera menepis kedua tangannya.


"Ini kantor. Tolong bersikaplah sewajarnya!"


Mikhail mendudukkan diri di sofa, sengaja ingin menghindar dari Amanda.


Wajah gadis cantik itu seketika menjadi sendu, ia tahu kalau Mikhail sudah berubah. Semua sudah terlihat jelas dari gelagat dan cara pria itu menatapnya setiap bersua.


"Apa yang membawamu ke mari?"

__ADS_1


Mikhail bertanya seperti orang asing.


"Aku merindukan mu. Sudah beberapa bulan ini kau tidak pernah lagi datang ke apartemen ku. Setiap kali ingin bertemu, selalu saja aku yang harus mencarimu. Apa semua baik baik saja?"


Amanda bertanya dengaan segenap keberaniannya.


Mikhail menghela nafas dalam, ia berusaha memikirkan alasan apa yang tepat di berikan pada wanita yang sudah menjadi kekasihnya semenjak dari bangku Sma.


"Aku hanya sedang sibuk."


Hanya itu yang terpikirkan olehnya saat ini.


"Hah, sibuk! Apa kau tidak punya alasan lain selain itu?"


Amanda terdengar tek percaya, karena ia sudah bosan di beri alasan yang sama setiap kali bertanya.


"Manda, aku memang sedang sibuk saat ini. Jadi kita bisa berbicara lain kali."


Mikhail berdiri, ia berjalan menuju pintu dan membukanya lebar lebar.


"Pergilah! Setelah selesai bekerja. Aku akan ke apartemen mu."


Mikhail berucap dengan entengnya. Ia bahkan tak perduli dengan air yang mulai menganak sungai di pelupuk mata gadis itu.


Amanda dengan cepat meraih tas, kemudian berlalu tanpa menoleh. Ia sangat merasa terhina dengan perlakuan Mikhail. Ingin rasanya ia memperpanjang masalah ini, namun rasa takut kehilangan membuat Amanda tidak berani berkata.


Gadis itu sudah lama tahu, kalau cinta Mikhail bulan lagi untuknya. Namun rasa belum siap untuk melepas, membuatnya berpura pura tidak mengerti dan terus saja berusaha mengatakan pada hatinya bahwa semua masih baik baik saja. Meski hal itu mampu menghancurkan diri sendiri.


Setelah melihat Amanda menghilang dari pandangan, rasa bersalah kembali menghantui Mikhail. Ia sebenarnya tidak tega memperlakukan sang kekasih seperti tadi, hanya saja hatinya memang sudah tidak nyaman lagi berada di samping wanita itu.


Ia sudah berencana untuk mengakhiri hubungan mereka, namun rasa tidak tega membuatnya masih berusaha mencari momen yang tepat untuk mengakhiri semua ini, tanpa menyakiti.


"Terima kasih karena sudah pernah singgah di hatiku. Tapi, saat ini kau sudah tidak ada lagi di sini, tempat ini sudah jadi milik orang lain. Aku sudah pernah berusaha membuatnya tetap memilihmu. Tapi, ini semua di luar kendaliku. Maaf, karena kau harus terluka."


Mikhail bergumam seorang diri, ia menyandarkan kepala ke pintu. Mencoba mengingat kenangan selama beberapa tahun yang lalu ketika Amanda masih menjadi wanita yang membuatnya tergila gila.


Namun, kenangan itu saat ini sudah terasa hambar dan samar. Sehambar rasa hatinya yang sudah tidak menginginkan wanita itu lagi. Karena relung jiwanya sudah di kuasai oleh wanita tangguh nan sholeha, yang berada nun jauh di sana.


Wanita pertama yang mampu membuat air matanya jatuh, dan juga wanita satu satunya yang membuat setengah kewarasannya menghilang.


Mikhail sudah memutuskan untuk mengejar dan mengikat kembali wanita yang hampir terlepas dari tangan.


Mempertahankan rumah tangga yang sudah berada di ujung tanduk. Menanam bibit cinta di hati wanita yang pernah di sakitinya dulu.

__ADS_1


Meski sudah hampir terlambat, namun lebih baik mencoba dari pada kehilangan untuk selamanya. Berhasil atau tidak, Mikhail akan membiarkan sang khalik yang akan menentukan arah jodoh mereka. Yang jelas saat ini, ia ingin tetap berada di samping Husna nur Haziah, istri yang dulu di abaikannya.


TBC


__ADS_2