Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 53


__ADS_3

Sebelum baca bab 53 ini, ada baiknya kalian baca bab 52 dulu. Karena kemaren saya sempat up bab itu hingga 2 kali, tapi saya sudah menggantinya dengan bab baru.


Bagi yang belum tau, silahkan baca lagi bab 52 ya...


Selamat berhalu ria.


*****


Waktu terus berlalu, sebulan sudah semenjak kejadian Mikhail di sidang oleh keluarga Husna. Namun, hingga selama itu hubungan mereka masih saja belum ada kemajuan. Husna sudah kembali ke Turki, tempat di mana dia biasa menuntut ilmu. Sedangkan Mikhail menyibukkan diri dengan rutinitasnya di kantor, berusaha menghabiskan hari dengan pekerjaan yang di harapkan bisa mengobati hatinya yang hampa.


"Sore pa."


Mikhail membuka pintu ruangan sang ayah yang tadinya sudah di ketuk terlebih dahulu.


"Sore, masuk!"


Sang pemilik ruangan berjalan menuju sofa sambil memberi isyarat pada anaknya supaya mendudukan diri di sana.


"Makasih pa."


Ucap Mikhail lagi saat menerima botol minuman bersoda yang di berikan pria paruh baya di hadapannya.


"Apa yang membawamu ke sini?"


Tanya sang ayah.


Mikhail menarik nafas dalam sambil mencoba merangkai kata apa yang akan di ucapkan.


"Mikha ingin meminta cuti pah."


Kalimat pertama pria itu akhirnya terangkai.


"Memangnya apa yang ingin kau lakukan hingga meminta cuti?"


Aidhil menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


"Sudah sebulan berlalu pa, dan sejak itu pula Mikha tidak bisa fokus pada pekerjaan."


Pria muda tadi mulai terlihat serius.


Kening Aidhil mengerut, mencoba menerka kemana arah pembicaraan si anak.


"Apa maksudmu, kenapa kau tidak bisa fokus pada pekerjaan?"


"Mikha selalu saja memikirkan Husna, karena itu Mikha ingin berangkat ke Turki untuk menemuinya."


Akhirnya pria tadi sudah tidak lagi memiliki gengsinya yang dulu setinggi gunung.


Mendengar kalimat dari sang anak, membuat wajah Aidhil langsung tersenyum ceria.


"Nah, begitu dong. Cinta jangan di tunggu, tapi di kejar. Kalau tidak nanti bisa di gondol kucing."


Lelaki paruh baya tadi menepuk pelan bahu Mikhail.


"Jadi papa mau ngasih ijin?"


Wajah Mikhail semringah.


"Ambil saja sebanyak apa waktu yang kau butuhkan untuk membawa menantu papa pulang. Pergilah, dan menangkan hatinya!"


Aidhil menjawab dengan wajah yang tak kalah bahagia.


"Makasih pa, makasih!"


Pria tadi spontan memeluk sang ayah karena saking senangnya.


"Jadi, kapan kau berencana berangkat?"


Aidhil kembali bertanya saat Mikhail sudah mengurai rangkulan mereka.


"Besok pagi pa, karena sebelum berangkat Mikha mau meminta ijin mama dulu."


"Ya sudah, kalau begitu nanti pulang bareng papa aja. Biar mobil kamu di antar sopir."


"Baik pa! Mikha lanjut kerja dulu ya, supaya besok papa tidak kerepotan."


Mikhail pamit meninggalkan ruangan dengan wajah bahagia.


"Dasar anak muda, baru di tinggal istri bentar aja udah kelimpungan."


Aidhil menggeleng dengan senyum khasnya.


Sementara itu di tempat lain terlihat seorang wanita berlari dengan sekuat tenaga.


"Uh.. ah.. uh.."


Dia mengatur nafas di depan sebuah pintu.


"Tok, tok, tok."


Setelah nafasnya terkendali, akhirnya gadis tadi mengetuk.


"Masuk!"

__ADS_1


Terdengar suara dari dalam.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Dia mulai menarik gagang.


"Selamat pagi pak"


Gadis itu menyapa pada pria yang sedang menulis di papan.


"Apa menurut mu ini masih pagi?"


Pria tadi menjawab tanpa menoleh.


Gadis muda yang tak lain adalah Aisyah, langsung merasakan ada aura yang tidak enak dari ucapan pria yang masih membelakanginya.


"Eh, ini masih pukul 11 kurang pak. Jadi saya rasa jam segini masih bisa di bilang pagi."


Dia menatap sekeliling dan mulai merasa tak nyaman dengan tatapan teman sekelasnya.


"Aiysah khairun Pahlevi, kalau anda bisa membedakan antara pagi dan siang. Kenapa anda tidak bisa membedakan kapan waktunya kelas anda di mulai?"


Pria itu membalikkan wajah.


"Ahk.. dia, ngapain dia di sini? Apa dia dosen baru yang di ceritakan anak-anak?"


Aisyah sangat terkejut saat mendapati seorang pria yang di kenalnya berdiri di depan kelas.


"Kenapa anda diam, apa anda mempunyai masalah pendengaran?"


Pria tadi yang tak lain adalah Husyein kakak sepupu dari gadis itu, kembali bertanya saat melihat wajah keterkejutan Aisyah.


"Hahaha.."


Rekan gadis itu spontan tertawa, meski terdengar di tahan.


"Ah, tidak pak. Maaf, saya tadi terkena macet."


Memberi alasan.


"Apa anda baru pindah ke kota ini?"


Tanya Husyein sambil mendekat ke arah Aisyah yang masih berdiri di pintu.


"Tidak pak!"


Gadis itu mulai jengkel.


Husyein mampu membuat Aisyah terpojok.


"Maksudnya pak?"


Aisyah mudur selangkah saat merasa Husyein kian dekat.


"Maksudnya, di dalam kelas saya mengajar saya tidak mau menerima jika ada mahasiswa yang terlambat, karena saya tidak akan mau menerima alasan apapun dari kalian. Apa lagi hanya karena jalanan macet yang seharusnya bisa di hindari."


Husyein memberi isyarat mengusir.


Aisyah membelalakkan mata,


"Tapi pak, ini pertama kalinya saya terlambat."


Protesnya.


"Dan ini adalah hari pertama saya mengajar. Keterlambatan anda bisa menjadi contoh yang tidak baik bagi mahasiswa saya yang lain dan saya tidak ingin memberikan contoh yang buruk kepada mereka."


Husyein menunjuk para mahasiswa yang sudah terlihat tegang dengan ketegasan dosen baru mereka.


"Untuk itu nona Aisyah, silahkan anda keluar! Karena anda sudah membuang waktu berharga saya."


Husyein memberi senyum intimidasi.


Husna menatap garang pria itu sesaat, kemudian dengan terpaksa menarik kaki menjauh dari pintu.


"Bruak."


Benda itu pun tertutup kembali.


"Saya ingatkan pada kalian. Saya tidak akan


memberi kalian toleransi jika kalian melakukan hal seperti tadi. Untuk itu, usahakan datang lebih dulu sebelum saya."


Husyein kembali ke papan tulis dan lanjut menulis.


"Ih,,, pria berengsek. Sengaja cari masalah keknya."


Rutuk Aisyah geram sambil berjalan menuju tempat di mana sang ibu berada.


"Tok, tok, tok."


Dia mengetuk begitu sampai di ruangan yang di tuju.


"Masuk."

__ADS_1


Jawaban lembut terdengar dari dalam sana.


"Mah, sejak kapan pria itu menjadi dosen di sini?"


Aisyah langsung menerobos masuk dan seketika mengeluarkan uneg unegnya.


"Kamu kenapa Ca? Masuk ke ruangan mama bukannya memberi salam tapi malah marah marah kek gini?"


Sang ibu menjawab sambil menghampiri anak gadis yang sudah duduk dengan kesal di sofa.


"Maaf mah. Habisnya Ica lagi kesal."


Wajah gadis itu masih terlihat marah.


"Kesal kanapa?"


Nani membelai lengan sang putri.


"Kesal sama mas Husyein. Emangya sejak kapan sih dia ngajar di kampus ini?"


Aisyah meraih air mineral yang ada di atas meja.


"Sejak hari ini. Mamangnya kenapa nak?"


Nani masih terlihat tenang.


"Mah, kok mama nggak bilang kalau mas Husyein itu bakalan jadi dosennya Aisyah?"


Gadis itu membuka botol, lalu langsung meneguk air nya.


"Memangnya kenapa? Bukankah justru bagus."


Nani terlihat bingung.


"Mah, mas Husyein itu jahil. Ica nggak suka di ajar sama dia."


Wajah Aisyah kian kesal.


"Mau siapapun dosen kamu itu tidak penting, yang penting adalah seperti apa ilmu yang akan dia berikan sama kamu. Jadi jangan protes, sana masuk kelas!"


Sang ibu mengusir.


"Masuk kelas apanya, orang Ica di usir karena terlambat 30 menit."


Gadis itu menyandarkan punggung.


"Di usir?"


Sang ibu terlihat terkejut.


"Iya mah, jahat banget kan? Masa Ica baru terlambat dikit aja langsung nggak boleh ngikutin kelas."


Gadis itu merasa ada celah kemenangan.


"Wah, mama suka ketegasan kek gini."


Nani tersenyum.


Kening Aisyah terlihat menyatu, bingung.


"Kok mama malah senang?"


"Ya senang dong. Itu berarti Husyein adalah dosen yang tegas dan berwibawa. Sedangkan kamu aja yang sepupunya di usir, apa lagi siswa lain. Besok besok nggak bakalan ada mahasiswa di kelas yang bakal berani macam macamp."


Nani terlihat bangga.


"Ih mama. Bukannya belain anaknya, malah belain orang lain."


Aisyah berdiri.


"Husyein bukan orang lain, dia anak abang sepupu mama, yang artinya dia adalah anak mama juga."


Nani masih dengan senyum manisnya.


"Serah mama deh."


Aisyah meraih tas dan segera berlalu dengan hati kian kesal.


Kesal pada pria yang membuatnya kehilangan materi pelajaran, serta di perburuk dengan sikap sang ibu yang tidak mau membelanya.


"Ih, dasar pria kejam. Awas aja kamu, kalau aku punya kesempatan maka aku akan membalas semua penghinaan ini."


Aisyah mengepalkan tangan kuat sebagai penanda betapa marahnya dia saat ini.


TBC


Mohon maaf telat ya.. Insya Allah habis ini mak akan up lebih rajin dari sebelumnya.


Mohon terus dukung karya ini dengan cara tekan vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


Makasih...


Salam sayang dari mak Author receh.

__ADS_1


__ADS_2