
"Jadi, apa rencana kamu setelah ini?"
Aidhil, ayah dari Mikail bertanya.
"Rencana apa maksud papa?"
Mikail terlihat bingung.
"Rencana untuk menghidupi istri kamu. Mika, meski harta kami lebih dari cukup untuk menghidupi kalian. Tapi, alangkah baiknya jika kau bisa bertanggung jawab penuh dengan uang hasil jerih payahmu sendiri. Karena, dia adalah istrimu. Kamu lah yang punya kewajiban untuk memberinya nafkah lahir dan batin."
Ucap Aidhil panjang lebar.
"Pa, bukan Mika tidak mau memberinya nafkah. Hanya saja, papa kan tau kalau Mika masih kuliah. Dan baru akan tamat tahun ini, Mika tidak tau harus mengerjakan apa di waktu sibuk seperti sekarang pa!"
Pria itu memberi alasan.
"Karena itulah, papa ingin membicarakan ini padamu. Mulai sekarang papa akan memotong setengah uang jajan bulananmu, untuk di berikan pada Husna."
Ucapa Aidhil sontak membuat pria yang duduk di atas sofa itu langsung berdiri.
"Nggak bisa gitu dong pah. Mika banyak keperluan, apa lagi di saat terakhir kuliah seperti sekarang."
Mikail berucap dengan nada tak suka.
"Kamu tidak punya pilihan Mika. Jika kamu tidak ingin Uang belanja mu dipotong maka, bekerjalah disini! Tidak perlu seharian penuh, Kau hanya perlu bekerja 3 atau 4 jam sehari. Dan gajimu akan cukup untuk menghidupi istrimu."
Aidhil berucap dengan tangkas.
"Pa, hal inilah yang membuat Mika belum siap untuk menikah. Semua ini adalah kemahuan mama dan papa. Mika sudah menuruti apa pun yang kalian perintahkan. Lalu, apa kalian harus menambah derita Mika dengan hal seperti ini? Tidak cukupkah papa membuat penderitaan dengan menikahkan Mika dengan wanita yang tidak Mika cintai?"
Pria itu berucap dengan nada marah. Ia berbalik dan mulai melangkah.
"Keputusan papa dan mama adalah demi kebahagiaan kamu. Meski saat ini kau belum menyadarinya."
Aidhil berucap dengan sedikit mengencangkan suaranya. Karena, Mikail sudah sampai di depan pintu.
"Entahlah pa, terkadang Mika bertanya. Apa istimewanya gadis itu, hingga kalian selalu ingin menjadikannya yang paling utama."
Pria itu keluar dari ruangan sang ayah dengan amarah.
Mikail terus melangkah menuju ke tempat di mana perempuan yang menjadi sumber masalahnya berada.
"Mbok, apa Husna sudah pulang?"
Mikail bertanya dengan sedikit nada kesal pada mbok Darmi. ART Nya
"Sudah den."
Jawabnya si mbok cepat.
Setelah mendapat jawaban, Mikail langsung berjalan menaiki tangga. Tujuannya tentu saja ke kamar di mana istrinya berada.
Mata Mikail nyalang menyapu seisi ruangan tapi, gadis itu tidak terlihat. Ia pun kembali mengayunkan langkah ke kamar mandi dan balkon namun, tetap saja dia tak menemukan orang yang di cari. Tiba-tiba telinganya samar mendengar suara di ruang ganti, ia pun lanjut memeriksa di sana.
Dan benar saja, Husna ternyata memang berada di situ, is terlihat sedang sibuk memindahkan pakaiannya ke dalam lemari.
Husna sempat melirik ketika Mikail membuka pintu. Namun, ia lebih memilih mendiamkan pria itu tanpa menegur sama sekali.
Mikail yang dari tadi sudah tersulut emosi, langsung berjalan mendekat. Ia mendorong bahu Husna hingga wanita itu terhuyung.
Pria itu pun mengambil pakaian yang tadi telah di susun rapi oleh istrinya, lalu melemparkan ke lantai.
Husna yang menyaksikan aksi spontan sang suami, terlihat terkejut.
"Mas! Apa yang kamu lakukan?"
Tanyanya heran.
__ADS_1
"Eh itik? Apa tidak cukup lo menguasai Papa, Mama, Aisyah, dan bahkan jatah bulanan gue juga akan di berikan buat lo. Apa semua itu masih kurang? Hingga lemari ini pun ingin lo kuasai?"
Mikail mematap dengan mata penuh amarah.
Husna semakin bingung. Ia tak mengerti apa yang di bicarakan oleh Mikail.
"Apa maksudnya mas? Aku tidak pernah mengambil apa-pun darimu."
Husna berucap dengan wajah terheran.
"Hah, jongan sok polos deh lo. Gue tau kalau lo lah orang yang sudah mengusulkan papa untuk memotong jatah bulanan gue supaya di berikan pada lo. Dasar perempuan matre." Mikail kembali berucap dengan berapi.
"Aku tidak pernah ngomong apa pun dengan papa mas. Aku juga tidak tau menau perihal uang bulananmu. Bisakah kamu tidak menuduh ku sembarangan?"
Husna mulai terpancing.
Mikail mencengkram lengan Husna kuat. Ia membuat wajah gadis itu meringis kesakitan.
"Mana ada maling yang mengaku. Dengar ya! Sebentar lagi, kita akan pindah dari sini. Setelah itu gue akan membuat hidup lo seperti dalam neraka. Hingga lo menyesali hari di mana lo menerima pernikahan ini"
Mikail melepas tangannya dengan dorongan, hingga Husna tersandar ke dinding.
Husna, sedikit menyeringit karena hentakan di punggungnya.
"Malam ini, gue akan meminta ijin papa untuk pindah dari sini. Lo tau kenapa gue ingin pindah?"
Tanya pria itu dengan tatapan sinis.
Ia mendekat dan menaruh kedua tangannya di samping telinga Husna. Membungkuk untuk mensejajarkan tinggi mereka.
Husna kikuk. Ia mencoba mengelak ke samping, tapi tubuh pria itu tiba-tiba menakannya. Hingga ia tak bisa bergerak sedikitpun.
"Gue ingin pindah dari sini supaya gue bisa lebih leluasa menyiksa lo. Gue akan membuat lo menangis darah hingga lo sendiri ya akan memohon untuk dicaraikan. Ingat itu!" Pria itu berucap tepat di telinga sang istri.
"Mas, sebenarnya apa yang membuatmu sangat membenciku?"
Karena jarak wajah yang kian menipis, membuat Mikail sedikit oleng. Matanya tertuju pada bibir merona sang istri.
"Eh sadar brengsek. Gadis ini hanya biang masalah."
Bisikan di telinga pria itu membuatnya tersadar.
"Semuanya, semua yang ada pada lo, itulah yang membuat gue benci,"
Ucapnya lagi, Mikail melepaskan kungkungannya, kemudian berlalu meninggalkan Husna di sana. Ia tak mau Husna mengetahui kegugupannya.
Wanita itu terduduk ke lantai, menahan tangannya yang gemetar karena menahan emosi.
Ucapan kejam pria itu terus terngiang di telinga. Ia mencoba mengatur nafas, beristiqfar beberapa kali, menenangkan hati yang masih di penuhi amarah.
Mikail berjalan menuju ruang tengah.
Otaknya terus mencoba memikirkan cara untuk menjauhkan wanita itu dari hidupnya.
Waktu berlalu, saat ini di rumah besar itu terlihat 5 orang anak manusia sedang menikmati santapan mereka.
Jika di lihat sekilas, semuanya terlihat baik-baik saja, layaknya seperti keluarga yang sangat harmonis.
Namun, tak ada yang tau apa yang tengah di pikirkan oleh pria ke 2 di rumah itu. Dalam setiap kunyahannya mengandung sebuah emosi dan kebencian pada seorang wanita yang sedang melayaninya. Dia menatap Husna dengan tatapan membunuh, tapi tentu saja di saat orang tuanya tak melihat mereka.
Sedangkan wanita yang sedang di intimidasi Nya, terlihat santai. Ia bahkan tak bergeming dengan raut tak suka sang suami.
"Pa, Ma. Minggu ini, kami akan pindah ke rumah baru."
"Uhuk, uhuk, uhuk,"
Ucapan Mikail langsung membuat Nani, sang mama tersedak.
__ADS_1
"Minumnya mah!"
Aisyah yang duduk bersebelahan langsung menyuguhkan segelas air mineral.
Perempuan paruh baya itu menerima, dan langsung meneguknya.
"Kenapa kau ingin pindah secepat ini?"
Aidhil, papa pria itu bertanya heran.
"Mika rasa, ini lah saatnya Mika belajar hidup mandiri. Mika sekarang sudah punya istri, jadi Mika akan mulai membina rumah tangga kami dengan penuh tanggung jawab. Untuk biaya kami, Mika akan mulai bekerja di kantor papa."
Ucap pria itu, sok dewasa.
Husna hanya terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Sebenarnya ia sangat betah tinggal bersama keluarga besar itu. Karena ia merasa jauh lebih di hargai disini. Jika hanya tinggal berdua maka, sudah dapat di pastikan hidupnya pasti akan penuh dengan penderitaan. Karena memang itulah tujuan suaminya itu.
Namun, Husna tak mampu bersuara. Ia terpaksa hanya mengikuti sampai mana hatinya mampu bertahan. Jika ia mengatakan semuanya sekarang, maka hubungan ini akan semakin runyam. Ia tak ingin menjadi janda ketika baru seminggu mendapat gelar istri.
"Mama tidak setuju."
Nani menolak.
"Tapi kenapa mah?"
Mikail bertanya, ia tak suka dengan penolakn sang ibu.
"Mika, jika di sini saja kamu sudah berani tidak menghargai Husna. Bagaimana jadinya jika kalian hanya tinggal berdua?" Tambah Nani lagi.
"Mah, biarkan mereka pindah."
Kali ini terdengar suara sang ayah.
"Pah, apa papa tau seperti apa Mikail memperlakukan Husna? Mama belum bisa mempercayai Mikail untuk masalah hidup keponakan mama."
Suara Nani sedikit meninggi.
Ucapan sang ibu berhasil membuat pria itu kian emosi. Karena, Mamanya itu terang-terangan mengakui kalau Husna jauh lebih berharga dari pada dirinya.
"Mah, mas Mika sudah berjanji untuk mencoba menerima hubungan kami. Dia juga mengatakan kalau akan berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab. Jadi, mama tidak usah khawatir."
Kali ini Husna yang angkat suara.
"Mah, ijinkan mereka pindah. Beri Mikail kepercayaan, biarkan dia mencoba menjalani kehidupannya sendiri tanpa campur tangan kita."
Aidhil mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi pah..."
"Insya Allah semuanya akan baik-baik saja mah. Toh kita masih bisa menjenguk mereka."
Aidhil kembali meyakinkan.
"Baiklah. Tapi ingat ya Mika! Jika kamu berani menyakiti Husna, maka kamu akan berhadapan langsung dengan mama."
Ancam wanita itu.
"Dengan Aisyah juga."
Gadis yang dari tadi hanya diam, akhirnya ikut bersuara. Dia sebenarnya tidak setuju, tapi dia belum punya hak untuk berbicara.
"Mama, tidak usah khawatir. Seperti yang di katakan oleh Husna tadi, Mika sedang berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab. Juga sedang belajar untuk saling menerima satu sama lain. Jadi mohon doa kan saja supaya kami segera menjadi pasangan harmonis seperti mama dan papa."
Mikail berucap sambil membelai tangan sang istri. Ia memberikan senyuman penuh arti pada Husna.
"Apa kau lihat itik. Pintu neraka mu baru saja terbuka."
Gumam pria itu.
__ADS_1
TBC