
"Siapa sayang?"
Mikhail sengaja membelai kepala sang istri, seakan menunjukkan pada si saingan, bahwa wanita itu sudah ada yang punya.
Husna yang merasa kelakuan sang suami agak lebay, hanya bisa memaksakan senyum.
"Ini mas Hafiz, dia rekan satu jurusan aku mas."
Memperkenalkan 2 pria yang sama sama terlihat saling tidak menyukai.
"Hai, saye Hafiz."
Pria di hadapan ber inisiatif mengulurkan tangan lebih dulu.
"Saya Mikhail, Suami dari Husna."
Pria itu menerima tangan dari Hafiz.
"Duar,"
Kalimat yang di ucapkan lelaki di samping gadis yang di sukai, langsung mampu membuat dada pria itu serasa mau jatuh.
Hafiz tertegun dan terdiam, ia tak mampu berucap. Matanya langsung menatap pada Husna, seakan meminta penjelasan akan apa yang baru di dengarnya.
"Iya betul. Mas Mikhail ini, adalah suami saya."
Husna menjawab pertanyaan yang sudah terbaca dari sorot mata pria tadi.
"Oh, Kalau macam tu, saya permisi."
Hafiz memaksakan bibirnya untuk terus tersenyum. Ia sudah tidak mampu lagi menahan rasa kecewa setelah mendengar pengakuan dua insan di hadapannya saat ini.
Dengan hati yang hancur berderai, pria itu langsung menarik langkah menjauh dari mereka. Berusaha untuk terus bernafas dalam kekecewaan yang dalam.
Sementara itu, Husan terus menatap kasihan pada punggung pria yang sudah mulai menghilang di dalam keramaian.
"Apa kau merasa kasihan pada gebetan mu itu?"
Pertanyaan Mikhail mampu mengalihkan perhatian Husna.
"Apaan sih mas. Gebetan apanya?"
Husna mulai melangkah.
"Aku tau kalau pria itu menyukaimu."
"Yang terpenting adalah, aku tidak menyukainya."
Husna terlihat acuh dengan serangan sang suami.
"Dia tampan, kaya, dan sepertinya berasal dari keluarga baik baik. Kenapa kau tidak menyukainya?"
Pertanyaan Mikhail membuat langkah Husna terhenti. Ia menatap sang suami tajam.
"Apa mas ingin menyuruh ku untuk menyukainya?"
Tanya Husna sambil memeluk buku yang ada di tangan.
Mikhail terperanjat mendapat pertanyaan seperti itu.
"Tentu saja tidak. Kau sudah menikah. Jadi, kau tidak boleh menyukai pria lain selain dari suamimu."
Ucap Mikhail dengan tegas.
"Lalu bagaimana denganmu. Kenapa peraturan ini tidak berlaku juga pada dirimu mas!"
Husna menatap sinis, kemudian lanjut melangkah.
"Dug,"
Kalimat sang istri langsung menusuk ke jantung Mikhail. Ia terdiam di tempat, mencoba memikirkan apa yang di ucapkan wanita itu.
"Situasi kau dan aku berbeda."
Mikhail mencoba mensejajarkan langkah.
Husna kembali menahan laju kakinya.
__ADS_1
"Berbeda karena kekasihmu sudah ada sebelum kita menikah. Sedangkan pria itu hadir sesudah kita menikah. Apa di situ letak perbedaannya?"
Tanya Husna dengan nada yang sudah tidak bersahabat.
"Salah satunya itu, tapi ada hal lain yang ikut andil di dalamnya."
Mikhail masih membela diri.
"Kalau begitu, untuk apa mas datang menjumpai ku. Silahkan lanjutkan hubungan indah kalian, karena sekarang sudah tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi."
Husna kembali berjalan.
"Aku kesini untuk memperbaiki hubungan kita."
Mikhail masih mengekor.
Husna kembali berhenti.
"Kalau mas berniat memperbaiki suatu hubungan, ada baiknya mas bisa memahami apa yang hatimu inginkan. Karena 1 hati tidak akan bahagia jika di bagi untuk 2 cinta, semua itu terlalu berat. Khususnya bagi ku."
Husna membuka pintu mobil, kemudian masuk terlebih dahulu.
Setelah percakapan pendek tadi, situasi mereka berubah menjadi canggung. 2 orang itu bahkan saling mendiamkan ketika dalam perjalanan menuju ke rumah. Husna turun, ia langsung berjalan menuju ke kamar.
Mikhail masih terdiam di bangku belakang, entah bepara lama waktu yang dia perlukan untuk berfikir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Tuan, bunga anda!"
Suara sang supir, membuat langkah pria tadi terhenti di ujung pintu.
Mikhail berbalik, dan menerima sekardus bunga mawar yang masih belum selesai di bersihkan-nya.
Dia masuk ke kamar, menaruh bunga di atas meja, kemudian merebahkan tubuh di ranjang.
"Karena 1 hati tidak akan bahagia jika di bagi untuk 2 cinta, itu terlalu berat mas. Khususnya bagiku."
Lagi, kalimat itu kembali terlintas di benaknya.
"Dia benar. Sudah saatnya aku mengakhiri hubungan ku dengan Amanda. Dia adalah wanita yang seharusnya lebih berhak atas diriku."
Mikhail meremas batang hidung untuk mengusir rasa pusing yang mulai melanda.
"Dret, dret, dret."
Getaran handphone mampu membangunkan Mikhail dari tidur singkat. Dengan sigap pria itu meraba kantong, dan melihat siapa yang tengah mengganggu waktu istirahatnya.
"Ya."
Mikhail menjawab dengan nada malas.
"Mikha, lo kapan balik ke Indonesia?"
Terdengar suara dari seorang pria di seberang sana.
"Ini baru hari ke 2. Bukankah gue sudah cerita, kalau gue di sini selama 4 hari."
Jawab Mikhail masih sambil menutup mata.
"Iya gue cuma mau mastiin. Tapi kalau bisa, lo cepetan balik deh. Amanda kacau banget nih."
Mata Mikhail langsung melek saat mendengar nama Amanda di bawa.
"Manda, emang dia kenapa Doy?"
Mikhail bertanya dengan penasaran dan sedikit rasa khawatir.
"Dia setiap malam mabuk mabukan di club. Dan sudah 2 malam ini dia terus nyari lo ke rumah gue."
Jawab Dodoy lagi.
"Ya ampun. Kenapa lagi sih dengan dia?"
Mikhail mengacak rambutnya kesal.
"Nah, lo aja nggak tau. Apa lagi gue. Sudah 2 malam dia nginap di sini, gue takut ntar gue di tangkap satpam kompleks."
Dodoy mengungkapkan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Ya sudah. Ntar gue hubungin dia deh."
Mikhail berucap dengan rasa bersalah, atas kelakuan pacarnya.
Setelah itu, ia menutup panggilan dan mulai memencet nomor gadis yang tadi mereka bicarakan.
"Halo, sayang."
Terdengar suara manja dari ujung sana.
"Manda, kenapa 2 hari ini kamu selalu mendatangi rumah Dodoy?"
Mikhail langsung ke intinya.
"Apa hanya gara-gara itu kamu menelfon ku?"
Suara manja tadi berubah menjadi ketus.
"Bukan itu saja. Aku juga ingin tahu kenapa kau selalu ke club dan membuat orang lain merisaukanmu."
Ucap Mikhail lagi.
"Siapa, siapa yang merisaukanku? Kau bahkan sudah tidak menelfonku selama hampir 2 minggu ini. Kau juga bahkan tidak meminta ijin untuk pergi menjumpai wanita itu."
Suara Amanda mulai terdengar serak, bertanda kalau dia sudah meneteskan air mata.
"Aku kesini karena ada urusan bisnis. Jadi aku rasa, aku tidak butuh ijin darimu."
Mikhail mencoba memberi penjelasan.
"Kau berengsek Mikha. Apa ini pembalasan atas setiaku setelah 9 tahun kita bersama? Kau ingin membuang ku seperti ini, ha..? hiks, hiks, hiks."
Tangis Amanda kian laju.
Mikhail terdiam, ia menjadi tidak tega. Bagaimanapun, Amanda adalah wanita yang dulu pernah mengisi hari harinya.
"Kenapa kau menjadi seegois ini Mikha? Kau sama seperti ayahku, yang sudah meninggalkanku demi wanita lain. Kau pria biadab. Ingat hal ini, jika kau mengakhiri hubungan kita. Maka aku akan mengakhiri hidupku!"
"Tut.. tut.. tut.."
Sambungan terputus.
"Halo, Amanda, Manda.. Halo."
Mikhail menjadi semakin khawatir. Ia tahu betul kalau Amanda adalah gadis yang nekad.
Pria itu terduduk, ia seketika menatap ke arah pintu, dan ternyata Husna sudah berdiri di sana.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?"
Mikhail bertanya dengan wajah pucat.
"Sejak awal percakapanmu mas."
"Husna aku.."
"Pergilah mas. Nyawanya lebih penting dari pada kehadiranmu di sini."
Husna berucap dengan santai. Tangannya terkepal kuat menahan rasa sakit di dadanya.
Kening pria itu menaut, ia baru tersadar kalau tadi handphone Nya ter loudspeaker.
Pria itu mendekat, ia meraih tangan Husna.
"Tolong, tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya. Aku berjanji akan membuatmu tidak menyesal karena menunggu ku."
Ucap pria itu penuh keyakinan.
"Jangan mengucapkan janji yang belum tentu bisa di tepati mas. Karena janji adalah hutang, dan mas akan berdosa jika tidak menepatinya."
Husna menarik tangannya cepat, kemudian berjalan kebali ke kamar. Ia tidak ingin pria itu melihat air matanya jatuh.
Bagaimanapun gadis itu tetap berusaha terlihat kuat, meski hatinya sudah terlajur hancur. Ia tidak ingin sang suami melihat dirinya yang menyedihkan karena menangisinya. Karena, harga dirinya sangat penting saat ini.
Mohon sempatkan jarinya buat ngetik Vote, like, beri hafiah dan silahkan berkomen ria.
MAKASIH
__ADS_1
TBC