Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 27


__ADS_3

"Duduklah! Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Mikhail berucap begitu Husna baru keluar dari kamarnya.


Gadis itu menoleh, meski merasa aneh namun dia tetap mengikuti arahan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Husna mendudukkan diri tepat di seberang Mikhail.


"Apa ini?"


Pria itu menaruh lembaran kertas yang tadi di ambilnya dari kamar Husna.


Husna meraih dan matanya langsung nyalang mengarah pada pria di hadapannya.


"Apa mas masuk ke kamarku tanpa ijin?"


Tanyanya dengan nada tak bersahabat.


"Itu tidak penting, yang penting aku ingin kau menerangkan apa sebenarnya yang kau pikirkan tentang kertas itu."


Mikhail berucap dengan entengnya.


"Ini adalah beasiswa kuliah yang di adakan oleh yayasan di tempatku bekerja."


"Lebih tepatnya, itu adalah yayasan pria yang menyukaimu."


Mikhail memotong.


"Mas, bisakah mas memandangnya secara profesional?"


Husna yang tak suka dengan penilaian Mikhail langsung mengajukan protes.


"Itu adalah kenyataannya. Pria itu menyukaimu. Itulah kenapa dia memberikan beasiswa ini, tujuannya adalah untuk menjauhkan mu dariku."


Mikhail menjelaskan apa yang di rasakan nya.


"Untuk apa dia berusaha menjauhkan 2 orang yang tidak pernah dekat?"


Husna mematahkan.


"Aku tau kalau kau mengerti apa yang ku maksud. Pria itu menginginkanmu!"


Mikhail memperjalas.


"Mas, aku adalah istrimu. Dan meski aku tidak mencintaimu, tapi aku tetap tidak akan memikirkan pria lain sebelum kau menceraikan ku."


Husna menjelaskan caranya berfikir.


"Tapi dia tidak peduli meski kau adalah istriku."


Mikhail tak mau kalah.

__ADS_1


"Semua itu terjadi karena kesalahanmu yang membuat pria itu memandang rendah ikatan kita. Karena itu lah ia bisa merasakan hal lain terhadapku."


Husna memandang Mikhail kesal.


"Jangan menyalahkan orang lain atas sikap sok ramahmu itu. Kau lah orang yang terlalu akrap dengan putrinya, itulah yang menyebabkan dia menyukaimu."


"Jadi, apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku selalu cemberut pada anak murid yang sedang aku bimbing?"


Husna kian menaikkan nadanya.


"Bukan harus cemberut, tapi kau cukup memberi batasan." Mikhail ikut terpancing.


"Mas, stop. Sebenarnya apa yang akan kita bicarakan. Bisa langsung saja ke intinya?"


Husna mulai jengah dengan obrolan yang mulai membuat panas dadanya.


"Aku tidak ingin kau mengikuti ini."


Mikhail menjawab dengan ringkas dan padat.


"Apa alasan mu tidak mengijinkanku?"


"Jika kau mengikuti ini, maka kau akan pergi keluar negeri dengan waktu bertahun. Aku tidak ingin hidup dalam ikatan ini selama itu."


Duar, ucapan Mikhail kembali berhasil menyayat hati wanita itu.


"Baiklah, kalau mas mau. Mas boleh menceraikanku sebelum aku berangkat."


"Dug,"


Hati pria itu ikut merasa sakit saat mendengar wanita tadi berucap kata cerai.


"Apa kau pikir aku menyukai hubungan pernikahan kita ini? Aku jauh lebih menderita hidup satu atap denganmu."


Mikhail berdiri dan menyusul Husna. Ia tidak ingin harga diri dan egonya terkalahkan.


"Kalau begitu silahkan talak aku. Karena kau punya hak untuk itu mas. Kalau kau semenderita itu hidup denganku. Maka sebelum aku berangkat, jatuhkan saja talakmu dan setelahnya urus saja surat cerai kita."


Husna menatap nyalang. Tak terlihat keraguan di dalam mata bening itu.


Mikhail menatap Husna dalam, mencari sedikit celah penyesalan di matanya.


"Keputusan ada di tanganmu mas. Ijinkan aku pergi, atau hidup bersama selamanya dengan keadaan saling membenci seperti ini."


Husna kembali berucap.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Apa kata orang jika mereka mengetahui kalau kau kuliah dengan rasa kasihan dari pria lain. Harga diri keluargaku di pertaruhkan di sini."


Mikhail berbalik. Ia tak ingin Husna menangkap kegelisahan dan kekecewaan di matanya.

__ADS_1


"Ini bukan uang pribadi pria itu, ini adalah dana yang selalu di kucurkannya setiap tahun tanpa memandang siapa yang akan di bantu."


Husna berusaha menjelaskan.


"Aku tetap tidak mengijinkannya. Keputusanku sudah bulat. Jika kau ingin kuliah, aku bisa membiayai mu."


Mikhail menarik gagang pintu kamarnya.


"Tapi aku tidak ingin berangkat menggunakan uangmu mas. Karena aku tau suatu saat kau pasti akan menuntut ku dengan perkataan mu yang pastinya akan merendahkanku. Aku bahkan tidak berani membeli sepasang sendal dengan uangmu itu."


"Deg,"


Lagi, ucapan Husna kali ini mampu memukul telak ulu hati pria tadi.


"Benarkah ia sejauh itu menilaiku, apa aku memang sekejam itu?"


Mikhail ternganga.


"Aku hanya berani menggunakan uangmu untuk makan 2 kali sehari mas. Karena nafkah adalah tanggung jawabmu. Untuk hal lain aku tidak akan pernah menggunakannya. Karena aku bukan wanita matre, seperti selama kau tuduhkan."


Husna berbalik dan berjalan kembali kedapur.


Meninggalkan Mikhail dengan rasa yang sulit untuk di ungkapkan.


"Pantas saja selama ini pengeluaran kartu ATM nya sangat sedikit. Apa hatinya memang sejauh itu dariku, hingga ia tak berani menyentuh uang yang sudah ku berikan untuknya?"


Mikhail terduduk di ranjang. Ia kembali memikirkan setiap kalimat yang pernah di ucapkannya pada Husna.


"Apa dia pikir aku wanita matre? Aku akan membuktikan padamu Mikhail, kalau uangmu tidak ada artinya bagiku."


Husna meminum air mineral nya hingga habis. Ia berusaha mendinginkan hatinya yang masih terasa panas.


Sebenarnya Husna memang sudah membulatkan tekat untuk mengejar beasiswa itu. Ia tetap akan berangkat dengan atau tanpa ijin dari pria di dalam sana.


Husna merasa bahwa ini lah saatnya ia memulai hidup untuk dirinya sendiri. Karena gadis itu tidak ingin terus hidup dalam bayangan suami yang tak menginginkannya. Suami yang mempunyai wanita lain di hatinya.


Cukup sudah rasanya ia menjadi seorang istri yang tak di anggap. Istri yang tak di pandang dan tak di cintai oleh suaminya sendiri.


Husna bahkan sudah memikirkan resiko apa yang akan di alami jika perceraian nya dan Mikhail terjadi. Ia akan berusaha mendapatkan maaf dari keluarganya jika mereka kelak menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.


Yang terpenting, ia ingin pergi memulai hidup dengan suasana yang baru, tanpa bayangan harga diri yang terus di permainkan.


Namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ini bukanlah satu-satunya alasan ia harus pergi. Alasan terbesarnya ialah, ia tak ingin menerima kenyataan kalau selama ini dia sudah mulai terpengaruh pesona pria kejam itu. Karena itulah sebelum rasa itu kian berkembang. Husna lebih memilih pergi dan menguburnya dalam dalam.


Membunuh perasaan yang tak seharusnya bertunas di hatinya. Pria yang membenci dirinya dari kecil, pria yang sama yang selalu menghinanya. Bagaimana bisa perasaan suka itu bisa tumbuh?


Itulah yang terus berusaha di simpan oleh Husna. Menyimpan rasa yang seharusnya tidak ada. Karena rasa itu hanya akan menyakiti hati dan menghancurkan jiwanya.


TBC

__ADS_1


Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


Terima kasih.


__ADS_2