Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 12


__ADS_3

Husna baru saja sampai di rumah ketika waktu menginjak pukul 1 tengah hari.


Selesai mengganti baju, gadis itu langsung turun ke dapur. Memasak sesuatu untuk makan siangnya. Serta membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Mikail ketika sarapan tadi pagi.


Setelah lebih kurang 1 jam berjibaku dengan alat-alat dapur. Husna akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Gadis itu berjalan ke kamar untuk membersihkan diri serta melaksanakan shalat dzuhur.


Husna kembali keluar ketika mendengar teriakan dari perutnya yang sudah berbunyi.


Ketika pintu di buka, gadis itu langsung di kejutkan dengan pasangan kekasih yang tiba-tiba saja sudah duduk berdempetan di ruang makan.


Husna menarik nafas lalu melanjutkan langkah.


"Kalau kalian mau bermesraan silahkan saja. Tapi kalau bisa jangan di sini. Karena aku tidak ingin nasiku terkena najis oleh kalian"


Husna berucap sambil menyendok makanan ke dalam piring.


"Sok suci kamu. Bilang aja iri."


Amanda turun dari pangkuan Mikail, ia mendudukkan diri di samping pria itu. Tepat di hadapan Husna.


"Bukan sok suci! Kalau dalam hal berbuat dosa, aku tidak akan iri. Hanya saja, adegan kalian itu membuatku jijik."


Husna menjawab enteng sambil melirik Mikail.


Dan, pria yang sedang di tatap hanya terdiam sambil membalas pandangan Husna dengan tajam, layaknya singa yang bersiap menyerang mangsa.


"Songong banget kamu! Aku yakin kau pasti berharap di perlakukan sama oleh Mikail! Tapi sayang, semua itu hanya bisa kau dapatkan di dalam mimpi. Sampai kapanpun dia pasti tidak akan menyukaimu. Karena dia sudah memilihku, bahkan setelah kau mengikatnya dengan tali pernikahan, dia tetap masih ingin bersamaku."


Wanita itu berucap bangga.


Sebelah sudut bibir Husna terangkat, tandanya senyum penghinaan.


"Kasian sekali kamu, status haram seperti itu saja kau banggakan. Lebih baik kau meminta pria itu menikahimu. Baru setelahnya kau pamer di hadapanku."


Ucap Husna sambil berjalan menuju kamarnya.


"Apa kau yakin masih bisa mengejekku, ketika kelak aku menjadi Madumu?"


Lagi, Amanda memancing.


"Silahkan saja, justru aku bersyukur jika kau mau menjadi maduku. Karena dengan begitu aku jadi mempunyai alasan yang kuat untuk meminta cerai tanpa di salahkan."


Husna kembali tersenyum senang.


Namun, tidak dengan pria yang duduk di meja makan. Dia terlihat mengepalkan tangannya geram.


"Aku juga menunggu hari di mana kau meminta hal itu." akhirnya Mikail membuka suara.


"Bagus mas! Untuk itu, cepatlah nikahi pasangan haram mu itu! Baru setelahnya aku akan menggugat mu di pengadilan."


Husna melangkah masuk, dan mengunci pintu dari dalam.


"Kau lihat itu sayang, inilah akibatnya jika kau terlalu longgar pada wanita itu. Lihat saja kelakuannya! Makin hari makin menjadi-jadi."


Amanda menggerutu.


"Bukankah sudah kubilang supaya tidak mencari masalah dengannya? Dia itu bersikap angkuh karena papa dan mama berada di pihaknya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menyakitinya, walaupun hanya Sehelai rambut."


Mikail berucap sambil menyendok makanan ke piringnya.


Tak tau kenapa ucapan cerai yang keluar dari mulut sang istri sangat membuatnya tak nyaman.


Entah berapa lama mereka berada di rumah itu. Hingga Mikail dan Amanda memutuskan untuk melanjutkan kencan mereka di luar.


"Tok, tok, tok,"


Pria itu mengetuk pintu kamar yang di huni oleh istrinya.


Husna yang baru selesai shalat Maghrib segera bangkit tanpa sempat membuka mukenahnya, Karena pria di luar sana mengetuk semakin kuat.


"Eh lo budek atau gimana sih?"


Pria itu bertanya marah.

__ADS_1


"Aku sedang Shalat Mas!"


Husna menjawab.


"Alasan lo." Mikail berkacak pinggang.


"Gue sama Amanda ada acara di luar. Gue bawa kunci sendiri. Jadi, jangan coba-coba melakukan hal yang sama seperti tadi malam."


Pria itu memperingatkan.


"Baiklah."


Jawab Husna tak perduli.


"Kenapa dia tidak bertanya aku pergi ke mana? Atau pulang jam berapa?"


Mikail bergumam.


"Kenapa masih di sini Mas? Pergi lah!"


Husna terheran melihat suaminya masih terpaku di hadapannya.


"Tentu saja Gue mau pergi. Apa lo pikir, Gue betah memandang lo lama-lama."


Ucap pria itu sambil memutar badan, kemudian berlalu meninggalkan Husna.


"Brengsek! Kenapa jadi gue yang sakit hati?"


Mikail menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah memastikan mobil keluar dari pekarangan rumah. Barulah Husna beranjak dari kamar.


Sejak Mikail dan Amanda ada di rumah. Husna lebih memilih tinggal di sana seharian. Ia tak ingin terlihat seperti wanita bodoh ketika menyaksikan suaminya bermesraan dengan wanita lain.


Begitu sampai di ruang tamu, mata Husna langsung tertuju pada sampah makanan ringan dan gelas yang berserakan di mana-mana. Juga abu dan putung rokok yang tumpah ruah di lantai. Membuat seisi rumah penuh dengan aroma tak sedap.


Husna menarik nafas, menenangkan kekesalannya pada 2 orang manusia yang tak punya perasaan tadi. Namun tetap saja dia membersihkan kekacauan yang terjadi meski dengan hati yang kesal.


Saat Husna selesai berurusan dengan sampah. Samar telinganya menangkap bunyi deru mesin mobil memasuki pekarangan.


"Apa mereka kembali lagi?"


"Ya Allah."


Wanita itu dengan cepat berlari ke kamar gudangnya. Menarik paksa koper berisi pakaian yang memang sengaja tak di keluarkannya dari sana.


Dengan tergopoh ia menyeret tas berat itu menuju kamar utama, sambil terus mengindahkan bunyi bel yang mulai bernyanyi.


Kemudian secepat kilat berlari menuju ruang tamu sambil memakai kembali hijab instan. Menyemprotkan parfum ruangan berkali-kali supaya aroma rokok bisa terkendalikan.


Setelah itu barulah ia berjalan menuju pintu sambil mengatur nafas.


"Assalammu'alaikum, sayang.."


Pelukan hangat di dapat Husna begitu ia membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam, Mama."


Husna membalas pelukan sang mertua tak kalah hangat.


"Pah."


Gadis itu juga mencium punggung tangan sang ayah mertua.


"Malam Kakak."


Kali ini giliran Aisyah yang menghambur memeluknya.


"Silahkan masuk Ma, Pa, Aisyah juga. Mari!"


Gadis itu memberi jalan pada keluarga sang suami.


Semua orang masuk dan mendudukkan diri di kursi ruang tamu.


"Husna, suami kamu mana?"

__ADS_1


Sang ayah mertua bertanya dengan mata liar melihat sekeliling.


"Husna yang sedang berjalan dengan membawa nampan yang berisi minuman yang baru di ambilnya dari dapur, sedikit tergagap mendapat pertanyaan itu.


"Aduh! Bagaimana bisa aku lupa menelepon pria itu."


Husna bergumam dalam hati. Ia sengaja tersenyum untuk menutupi kegugupannya.


"Mas Mika sedang belanja di minimarket Pah."


Jawabnya bohong.


"Apa? Kamu yang benar saja Mikail pergi berbelanja. Biasanya dia paling anti jika di suruh belanja ke sana. Bahkan keperluannya saja, Mama yang membelikan."


Sang ibu mertua mematahkan alasan yang di berikan Husna.


"Iya ma, tadi Husna mau bikin mie goreng. Tapi bahannya kurang. Nah, Mas Mika lah yang menawari diri untuk pergi membelinya."


Jawab Husna meyakinkan.


"Wah kakak hebat. Tak butuh waktu lama, kakak sudah bisa merubah kak Mika. Mama aja kalah lo."


Aisyah mengambil jus yang sudah di taruh Husna di atas meja.


"Syukur Alhamdulillah akhirnya anak itu bisa berubah menjadi lebih lembut dan bertanggung jawab," Sang Ibu mengucap syukur.


"Ya sudah Silahkan di minum dulu. Husna menelpon Mas Mika sebentar."


Ucapnya dengan sedikit senyuman.


Setelah mendapat anggukan, Husna kemudian berlalu naik ke lantai atas. Gadis itu buru-buru mengambil handphonenya. Memencet nomor sang suami dan menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah.


Pria yang tadinya sedang enjoy bersama teman-teman dan kekasihnya. Tiba-tiba saja menjadi kalang kabut. Dia segera berpamitan pulang tanpa mempedulikan Amanda yang terlihat marah.


Tak lupa Mikhail terlebih dahulu berhenti di sebuah minimarket untuk membeli beberapa bungkus mie instan. Supaya alasan yang di berikan Husna pada orang tuanya. Bisa terbukti kebenarannya.


Tak Butuh waktu lama, Mikail sudah sampai di halaman rumah. Pria itu berkaca sebentar untuk merapikan rambut, menarik nafas dan menenangkan dada yang berdegup kencang. Baru setelah itu, Ia pun melangkah masuk dengan senyum cerah. Seakan tidak ada yang salah dengan dirinya.


"Malam Pah, Ma."


Mikhail menyalami orang tuanya satu persatu. Tak lupa menjentik pelan telinga sang adik. Hal biasa yang dilakukannya setiap kali bertemu dengan wanita itu.


Setelahnya, Ia pun berjalan mendekat kearah sang istri. Mendaratkan satu kecupan hangat di kening Husna. Membelai kepalanya dengan lembut, kemudian memberikan bungkusan yang tadi dibawanya.


"Sayang, ini mienya!"


Ucap pria itu dengan senyuman hangat.


Husna menerima bungkusan yang diberikan oleh sang suami sambil berkata dalam hati.


"Apa-apaan dia? Apakah harus berakting selebay ini?"


Rutuknya sambil terus berusaha memberikan senyuman manis.


"Wah kalian jadi tambah mesra aja. Mama senang kalau melihat kalian akur seperti ini." Ucap sang mama.


"Iya Mah. Setelah kami tinggal berdua beberapa hari ini. Akhirnya kami semakin dekat dan mulai bisa menerima satu sama lain. Lagipula Husna adalah istri yang baik, dia juga pandai memasak dan membersihkan rumah.


Ucap Mikail memuji istrinya.


"Iya dong, siapa dulu tantenya?"


Ucap sang mama pongah dan disambut ketawa seisi ruangan kecuali Husna.


Wanita itu mulai risih dengan tangan Mikail yang terus saja menempel di pundaknya, bahkan sekali-kali tangan itu membelai dan meremas lembut di sana. Membuat wanita itu merasa sensasi aneh yang tidak di kenali.


Lama mereka berbincang, hingga tak terasa hari sudah pukul 10 malam. Nani berdiri, juga diikuti oleh sang suami dan anak perempuannya.


Tadinya Husna berpikir bahwa sang ibu akan segera pulang. Namun tanpa disangka wanita itu berucap sesuatu yang mengejutkan.


"Ya sudah, mana kamar Mama. Malam ini, kami akan tidur di sini."


Ucapan Ibu mertuanya langsung membuat Mikail dan Husna tersentak.


TBC

__ADS_1


Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


MAKASIH


__ADS_2