Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 15


__ADS_3

"Dari mana mas tau tempatku bekerja?"


Husna bertanya begitu duduk di kursi mobil bagian depan. Tepat bersebalahan dengan Mikail.


"Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah lo jelaskan pada gue tentang masalah ini!"


Pria itu melempar HP Nya ke pangkuan Husna.


Husna reflek menangkap benda yang di lempar oleh pria tadi. Matanya langsung membola ketika melihat apa yang di tampilkan layar pintar milik suaminya itu.


"Kenapa bisa ada foto seperti ini di hp-mu Mas?"


Husna bertanya heran,


Sementara, pria yang ditanya langsung menatapnya dengan mata menyelidik.


"Bukankah Seharusnya gue yang bertanya seperti itu?"


"Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaan mu itu?"


Husna kian bingung.


Mikail menarik nafas panjang.


"Yang mengambil gambar ini adalah Mama, tapi yang ingin gue tanyakan ke sini adalah, kenapa lo bisa tidur sambil memeluk seperti ini? Apa lo sengaja ingin mengambil kesempatan ketika gue sedang tidur?"


Pria itu bertanya lantang tanpa segan.


Alis Husna langsung menyatu, ia heran mendengar tuduhan pria di hadapannya ini.


"Kalau saja bisa memilih, aku juga sebenarnya tidak mau menyentuh tubuhmu itu Mas. Tapi tadi malam tiba-tiba saja mama masuk ke kamar. Jadi untuk menyakinkan beliau bahwa rumah tangga kita baik-baik saja, aku membuang guling penghalang dan tidur di sampingmu. Semua itu kulakukan untuk menyelamatkan dirimu dari kecurigaan mama." Husna menjawab lantang.


"Baiklah Anggap saja gue percaya apa yang lo ucapkan. Tapi semua ini jadi rumit karena mama mengupload foto ini ke grup WhatsApp kampus. Dan gara-gara foto ini, gue menjadi viral dalam satu hari. Semua itu juga berdampak buruk pada hubungan gue dan Amanda."


Mikail merebut HP dari tangan Husna.


"Karena semua ini adalah ulah lo, jadi gue ingin lo menjumpai Amanda dan mengatakan apa yang barusan lo ucapkan. Jelaskan padanya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang melewati batas."


Mendengar kalimat yang baru di ucapkan oleh Mikail membuat Husna langsung membulatkan bola mata.


"Apa maksudmu dengan melewati batas Mas? Aku ini adalah istrimu, dan apa yang terjadi di dalam foto ini tidak ada kesalahannya sama sekali."


Husna menatap garang.


"Lagi pula, kenapa aku yang harus menjelaskan pada wanita itu. Apa tidak terbalik? Yang menjadi orang ke 3 di dalam hubungan ini adalah kekasihmu itu. Lalu, kenapa Mas menganggap akulah yang menjadi wanita selingkuhan di sini."


Husna berucap dengan amarah. Tangannya bergerak ingin membuka pintu mobil.


"Itik, tolong. Amanda saat ini sedang marah besar, hubungan kami sedang terancam. Tidak bisakah kau bermurah hati sekali ini saja?"


Mikali menahan tangan Husna.

__ADS_1


"Aku adalah orang yang paling murah hati mas. Jika tidak, aku sudah lama membeberkan hubungan kalian pada orang tuamu. Karena itu, jangan meminta hal lebih dari pada ini. Lagi pula, hubungan kalian memang seharusnya sudah berakhir saat hari dimana dirimu melafaskan ijab dan qabul."


Husna menepis tangan Mikail dari lengannya.


"Jangan bermimpi. Sampai kapanpun gue tidak akan meninggalkan wanita yang gue cintai. Karena dia lah yang gue inginkan, Bukan diri lo."


Mikail berucap kejam.


Kaki Husna yang siap keluar dari mobil langsung terhenti.


"Aku juga tidak menginginkanmu mas. Mari kita hidup berdampingan tanpa menganggu satu sama lain. Jangan mengganggu ku dengan hubungan kalian. Dan, jangan urus urusanku."


Husna tersenyum indah, seakan dia tidak merasa kekecewaan sama sekali.


Tanpa menunggu tanggapan dari Mikalil. Husna langsung keluar dan melangkah menjauh.


"Brengsek! Kenapa jadi dia yang memberi syarat. Apa dia pikir gue suka mencampuri urusannya?"


Mikail memukul stir mobilnya kesal sambil menatap wanita yang melangkah menjauh darinya.


"Buk guru!"


Langkah Husna terhenti saat mendengar suara seorang anak kecil memanggil. Ia menoleh, dan senyumnya langsung terukir saat melihat siapa yang berdiri di depan mobil mewah berwarna hitam, yang terparkir tak jauh dari dirinya.


"Hai Salsa. Kok belum pulang?"


Husna berjalan mendekat ke arah sang anak.


Tanya Salsa dengan nada khas anak kecil.


"Sayang, ini sudah jam pulang sekolah. Buk Guru pasti capek. Besok aja gimana?"


Sang Ayah dari gadis kecil tadi tiba-tiba sudah berdiri di belakang Husna.


"Tapi, Papa.. Caca maunya sekarang ..." Rengek anak itu dengan mata penuh harap.


"Salsa! Kalau papa bilang tidak bisa, itu artinya tidak bisa. Papa sebentar lagi ada rapat, jadi cepat naik ke mobil."


Andre berucap tegas.


Salsa yang mendapatkan sedikit ucapan tegas, langsung menundukkan wajah. Gadis itu terdiam sambil menatap ujung sepatunya.


Husna sontak merasa kasihan melihat gadis yang sedang kecewa di hadapannya itu.


"Maaf Pak! Tolong beri saya waktu sebentar untuk berbicara dengan anak anda."


Husna berusaha menghentikan Andre yang sudah menggendong Salsa.


Pria itu menoleh. Dia menatap Husna tajam. Namun wanita yang ditatap dengan mata elangnya terlihat tidak gentar sama sekali.


"Ternyata wanita ini cukup bernyali juga. Dia bahkan tak bergeming saat aku menatap tajam dirinya." Andre berucap dalam hati.

__ADS_1


Melihat pria di hadapannya diam saja. Akhirnya, Husna memberanikan diri mendekat ke arah mereka.


"Salsa, bagaimana kalau lukisan ini jadi PR saja? Kalau Salsa bisa membuat gambarnya dengan benar. Besok Bu guru akan memberi kamu hadiah. Gimana?"


Ucap Husna sambil membelai kepala si gadis kecil, tak lupa ia memberikan senyuman hangat.


Salsa yang tadinya cemberut. Akhirnya langsung berubah ceria.


"Apa bu guru janji?"


Dia mengulurkan jari kelingkingnya.


"Janji."


Husna pun menyambut dengan menyilangkan jari mereka.


"Baik Bu Guru. Nanti Salsa pasti akan menyelesaikan Nya,"


Gadis kecil itu berucap dengan senyum.


"Apa kau sudah selesai berbicara dengan anakku?"


Andre bertanya dingin pada Husna.


Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa urusannya telah selesai.


Setelah mendapat anggukan dari Husna. Andre pun membuka pintu mobilnya, kemudian masuk kedalam.


Tak lama mobil Mereka pun pergi meninggalkan wanita itu di sana. Husna terlihat masih membalas lambaian dari Salsa.


Namun, di tempat yang tak jauh dari dirinya berdiri. Terlihat seorang pria masih sibuk memperhatikan gerak-geriknya bersama Sang duda dan si anak kecil.


"Siapa Mereka, kenapa sepertinya wanita itu sangat akrab dengan anak tadi?"


Dia mulai penasaran.


"Apa itu salah sati murid asuhnya?"


"Akh, bukan urusanku."


Mikail langsung menginjak padal gas dan berlalu melewati Husna.


TBC


Sampai di sini dulu ya say.. Mak lagi sibuk mendampingi anak ujian online.


SUAMIKU, KEKASIHMU besok UP nya ya. Novel itu sengaja slow UP, karena hanya tersisa beberapa bab saja.


MOHON BANTU NOVEL BARU INI VOTE, LIKE, BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2