Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 44


__ADS_3

"Aku berjanji akan kembali kesini dan memulai semuanya dengan benar bersamamu."


Mikhail memeluk hangat sang istri ketika mereka akan berpisah di bandara.


"Jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa mas penuhi. Cukup buktikan saja hal itu padaku."


Husna mengurai dekapan mereka, karena merasa kurang nyaman dengan beberapa pasang mata yang kebetulan melihat ke arahnya.


"Ini bukan janji, tapi ini adalah seauatu yang memang akan ku lakukan. Jaga dirimu dan tunggulah aku."


Mikhail membelai kepala berkerudung itu.


Husna mengangguk sambil tersenyum. Matanya mulai terlihat ada genangan, bertanda betapa berat hatinya melepas lelaki di sampingnya ini, untuk kembali ke tanah air.


"Aku mencintaimu Husna. Tolong ingatlah hal ini setiap kali kau memikirkan ku."


Mikhail mengusap genangan tadi yang mulai jatuh membasahi pipi istrinya. Kemudian mendaratkan ciuman hangat di kening.


Mendapat perlakuan manis dari sang suami membuat air mata Husna kian deras. Gadis itu semakin tak bisa berucap sepatah katapun selain hanya anggukan kepala. Ingin rasanya dia membalas ungkapan cinta pria itu, namun rasa takut akan kekecewaan membuat mulutnya terkunci kian rapat.


"Jaga dirimu baik-baik, dan tunggu aku kembali"


Mikhail melepas tangannya dari bahu Husna. Ia meraih tas, kemudian mulai berbalik sambil terus menatap pada wanita yang di cintainya.


Husna melambai, ia berusaha menahan gejolak jiwa yang ingin manahan pria itu pergi. Tak lupa pula terus berjuang mengingatkan hatinya untuk terus membangun benteng yang kokoh.


Supaya tidak terlalu sakit jika ada kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, karena seperti yang ia tahu bahwa pria itu belum utuh miliknya. Dia harus ingat ada satu hati yang masih menjadi penghalang di antara mereka.


Mikhail terus melangkah, sesekali menoleh kebelakang, melihat wanita yang tadi di tinggalkannya dengan berat hati. Hingga tepat di depan pintu masuk, ia menoleh untuk yang terakhir kalinya. Melambai dan tersenyum pada Husna yang masih berdiri di tempat tadi, setelah itu baru lanjut pergi dan menghilang dari pandangan.


***


"Bik, apa semua sudah siap?"


Seorang wanita paruh baya terlihat tengah memeriksa masakan di dapur.


"Sudah nyonya."


Sang asisten rumah tangga menjawab.


"Ting, tong. Ting tong."


Suara bel mengalihkan perhatian 2 orang yang sedang berada di dapur.


"Bibik tolong buka pintu ya! Yang ini, biar saya aja yang lanjutin."


Nani mengambil pisau dari tangan pembantunya.


"Baik nyonya."


Wanita 30 tahunan itu berjalan menuju pintu luar.


"Mah, kok tumben masakannya banyak amat. Ada acara apa ya?"


Aisyah, adik dari Mikhail tiba tiba saja datang dari lantai dua.


"Hari ini kan kakak mu pulang. Kamu lupa ya?"


Jawab Nani sambil terus memotong apel.

__ADS_1


"Oh,"


Aisyah hanya ber oh ria.


"Kok cuma oh? Apa kamu nggak penasaran sama kelanjutan hubungan Mikha dengan Husna?"


Nani terheran melihat reaksi santai sang anak.


"Nggak tuh. Ica lebih penasaran dengan kapan kak Mikha memutuskan hubungannya dengan wanita itu."


Gadis 19 tahun tadi menarik kursi dan mendudukkan dirinya di hadapan sang ibu.


"Kamu tidak usah khawatir, sepertinya hubungan kakakmu dengan Husna sudah membaik. Dan mama yakin, sebentar lagi Mikhail pasti akan memutuskan hubungannya dengan perempuan itu."


"Apa mama percaya kak Mikha bisa putus dengan dia? Kakak kan sudah berhubungan dengan Nya sejak dari bangku SMA. Kakak bahkan selama ini sudah memperlakukan kak Husna dengan buruk. Kasian ma, kalau mereka di paksa terus bersama, yang ada kak Husna malah semakin menderita."


"Brug."


Suara barang jatuh, sontak mengalihkan pethatian dua perempuan dari generasi berbeda yang sedang asik berbincang tadi.


"Hah.."


Mereka serentak membulatkan mata saat melihat siapa yang tengah berdiri di ruang tengah.


"Mas, mbak!"


Pisau yang tengah di pegang Nani refleks terlepas, ia gugup ketika melihat Abah dan Umma Husna sudah berdiri tak jauh dari dirinya.


Suami istri tadi juga tak kalah terkejut. Niat hati ingin mengunjungi besan, namun langsung di sambut dengan berita yang membuat mereka terhenyak.


"Apa maksudmu Ica, kenapa Husna semakin menderita?"


"Eh, mbak. Kapan mbak dan mas datang?"


Nani menyusul, mencoba mengalihkan perhatian.


"Kami sampai tepat saat kalian membicarakan kalau ada perempuan lain dalam hubungan Mikhail dan anakku Husna."


Lanjut Ningsih dengan mata memerah.


"Bukan begitu mbak. Kami bisa jelaskan. Tapi tolong mbak tenang dulu."


Nani kian gugup. Ia mulai mengusap punggung sang kakak ipar untuk menenangkan.


"Nani, kita adalah saudara sepupu kandung. Yang artinya, anakku adalah anakmu juga. Lalu, bagaimana bisa kau membiarkan Husna hidup di dalam penderitaan seperti itu?"


Kali ini pak Shaleh, ayah dari Husna ikut angkat bicara.


"KangMas, tolong dengarkan penjelasan kami. Semua ini tidak seperti yang mas pikirkan."


Nani semakin susah mengelak.


"Pakdhe. Tenang dulu pakdhe."


Aisyah ikut ketakutan. Ia menyesali akan kalimatnya yang sudah terlanjur terucap.


"Penjelasan apa? Penjelasan kalau selama ini Mikhail berselingkuh dan sudah membuat Husna menderita sepanjang pernikahannya?"


Ningsih kian berderai. Dia terduduk karena sudah tak sanggup menahan rasa kecewanya.

__ADS_1


"Mbak, dulu Mikhail memang seperti itu, tapi sekarang dia sudah berubah. Dia bahkan sudah mencoba untuk memperbaiki semuanya."


Nani terus memberi alasan.


"Nani, kalau kau sudah tau semuanya dari dulu. Kenapa kau tidak memberitahukannya pada kang mas?"


Shaleh kembali berucap dengan gusar.


"Tidak kang mas! Aku baru tahu beberapa bulan ini. Tapi saat itu aku masih berharap semua akan baik baik saja. Itulah mengapa aku menyimpan hal itu sampai saat ini."


Nani berucap dengan rasa bersalahnya, air mata wanita itu juga mulai berderai.


"Assalammualaikum."


Suara seorang pria, mampu mengalihkan perhatian 4 orang tadi. Semua orang terdiam saat melihat siapa lelaki yang berdiri di sudut sana. Dialah Mikhail, orang yang sedang mereka bicarakan.


Pria itu baru saja sampai dengan di jemput supir. Dia sedikit terheran melihat raut wajah anggota keluarganya nampak tegang dan penuh emosi.


Ningsih berdiri, lalu berjalan mendekat,


"Plak!"


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mikhail.


"Hah."


Nani menutup mulut karena keterkejutannya. Sedangkan Aisyah hanya terdiam menyaksikan kejadian tragis itu.


Shaleh mendekat, ia menahan bahu Ningsih yang terlihat naik turun karena amarah.


Sementara itu, pria yang mendapat tamparan hanya bisa terdiam tak mengerti. Ia tak paham kenapa sang ibu mertua menyambutnya dengan cara seperti ini.


"Kau, kenapa kau melakukan itu pada anak ku? Dia wanita baik, apa kurangnya Husna hingga kau tega menyelingkuhinya?"


Ningsih berucap dengan berurai air mata. Ia juga mendorong dan menepuk-nepuk dada sang menantu. Mencoba mengalirkan emosi dan rasa kecewanya.


Mikhail yang baru mengerti, hanya bisa terdiam mematung. Dia merasa kalau dirinya memang pantas menerima semua pukulan itu, dan dia menganggap kalau ini masih belum cukup untuk menebus luka istrinya dulu.


"Umma, istighfar."


Shaleh mencoba menahan tangan sang istri yang terus memukul keponakan sekaligus menantunya itu.


"Abah, entah kesedihan seperti apa yang sudah di jalani putri kita. Dia pasti sudah menjalani hari menyedihkan seorang diri. Dan kita.... kita sebagai orang tua bahkan menganggapnya sudah hidup bahagia, hiks.. hiks..."


Ningsih terduduk di pangkuan suaminya, meratap dan menangisi luka sang anak.


Mikhail terus mematung, ia semakin menyesali semua yang sudah terjadi. Hanya air mata yang mulai berjatuhan sebagai penanda betapa dia kecewa dengan dirinya sendiri.


"Mbak, maafkan kami."


Nani ikut duduk di samping sang kakak ipar, ia juga terlihat semakin sesegukan.


Semua yang ada di sana, menangis dalam kesedihan dan penyesalan masing masing. Memikirkan luka yang seharusnya tidak terungkap.


Menyesali semua yang sudah terjadi, menyayangkan hati yang terlambat menyadari kesalahan. Dan memikirkan jalan yang akan mereka ambil untuk mengurai kekusutan yang semrawut.


TBC


JANGAN LUPA SEMPATKAN JARI BUAT NGASIH VOTE, LIKE, BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.

__ADS_1


MAKASIH READERS,


__ADS_2