
Hari ini adalah hari minggu. Hari dimana Husna biasa melakukan pembersihan. Wanita itu memang selalu rutin membersihkan rumah lebih ekstra di saat libur seperti ini.
Setelah selesai membersihkan dapur, kini giliran ruang tamulah yang ingin di operasinya. Husna terlihat sedang berdiri di atas sebuah kursi kecil, karena tubuhnya yang mungil tak dapat menjangkau bagian atas lemari.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara besar Mikhail yang tiba-tiba saja datang, membuat Husna kehilangan keseimbangan.
"Akh.."
Tubuhnya oleng hingga reflek memeluk pria di hadapannya.
Mikhail juga terkejut. Ia spontan memeluk pinggang wanita tadi. Mereka saling pandang karena keterkejutan masing-masing.
"Kenapa mas menyentuhku?"
Gadis itu berusaha melepaskan diri.
"Kau lah yang memelukku terlebih dahulu."
Pria itu tetap menahan pinggang sang istri. Ia sengaja ingin berbuat iseng.
"Mas tadi mengejutkanku. Lepaskan!"
Husna masih berusaha menggeliat.
Ia mendorong supaya Mikhail melepaskan pelukannya.
"Kenapa, apa kau berdebar saat berada di pelukanku?"
Pria itu semakin menarik Husna supaya menempel di tubuhnya.
"Bukan berdebar. Aku hanya geli, karena aku bisa membayangkan seberapa sering tubuhmu ini memeluk wanita di luar sana."
Husna berucap sinis.
"Pria tampan seperti ku memang selalu di gilai banyak wanita. Jadi, jangan salahkan aku karena pesona ini."
Jawab pria itu pongah, sambil mendekatkan wajahnya ke arah Husna.
Husna menangkap gelagat lain dari cara Mikhail menatapnya. Dia merasa kian tak nyaman. Saat ini wajah pria itu dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti.
Mikhail semakin mendekat, ia bahkan memiringkan wajah sambil menatap liar pada bibir merona sang istri.
Hingga bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba ...
"Akh,"
Mikhail mengerang kesakitan, karena Husna menendang benda di bawah perutnya.
"Apa kau sudah gila? Ini adalah aset ku yang paling berharga."
Teriak pria itu marah. Sambil memegangi benda tadi.
"Itulah hukumannya jika mas mencoba berpikiran mesum kepadaku."
Jawab gadis itu sambil berlalu meninggalkan pria yang masih meringis di tempat itu.
"Brengsek. Dasar gadis gila."
Teriak Mikhail lagi. Namun Husna tetap tidak mengacuhkannya. Ia justru tersenyum kecil sambil menutup pintu kamar.
Waktu berlalu, Husna yang baru saja selesai memasak langsung tersenyum melihat hasil kerjanya.
Setelah memastika semua sudah bersih dan terhidang. Akhirnya ia pun segera berlalu menuju bilik untuk membersihkan diri.
"Eh, itik. Mau kemana kamu?"
Mikhail yang baru keluar dari kamar, langsung memberi pertanyaaan pada wanita yang sedang berjalan menuju ruang tamu.
Husna menghentikan langkah.
"Aku mau ke supermarket mas. Kebutuhan rumah ini sudah mau habis."
Jawab Husna, kemudian lanjut melangkah.
"Apa benar dia mau berbelanja dengan gaya semodis itu?"
Rasa curiga yang entah datang dari mana mulai menyelimuti hati Mikhail.
__ADS_1
"Tunggu di mobil. Aku akan mengantarmu ke sana!"
Ucapan pria tadi dapat menghentikan laju langkah Husna. Ia berbalik dan menatap dengan mata penuh pertanyaan pada pak suami yang sudah berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa akhir-akhir ini pria itu menjadi aneh? Apa dia berencana untuk mengerjaiku?"
Husna bertanya dalam hati.
"Kemana kita?"
Mikhail bertanya begitu mobil keluar dari pekarangan.
"Bukankah tadi aku mengatakan ingin ke supermarket?"
Husna menjawab heran.
"Aku tau kalau kau ingin ke sana. Tapi, supermarket di sini ada puluhan. Yang mana satu yang ingin kau datangi?"
Mikhail memperjelas pertanyaannya.
"Yang terdekat saja mas."
Husna menjawab cepat.
"Ok,"
Setelah memutuskan, akhirnya mereka pun menikmati perjalanan mereka dengan saling terdiam.
Husna terdiam dengan rasa canggungnya. Sedangkan Mikhail berdiam dengan rasa gugupnya.
Tak lama mereka sampai.
"Aku akan cepat mas. Tapi, kalau mas ada keperluan lain, aku bisa pulang naik taksi. Terima kasih sudah mengantar."
Husna tersenyum, kemudian langsung keluar dari mobil, meninggalkan Mikhail di sana.
"Busyet, emang dikira aku ini supirnya apa? Udah capek ngantar, eh aku malah di usir."
Pria itu bergumam kesal sambil melangkah keluar. Ia berlari kecil mengejar sang istri yang sudah mulai menjauh
"Lo, kenapa mas ikut?"
Husna baru menyadari kehadiran suaminya ketika dirinya sudah berada di dalam.
Pria itu bertanya dengan mata nyalang.
"Bukan! Maksudku, apa mas tidak keberatan jika harus berkeliling bersamaku?"
Husna terheran karena Mikhail mau bersamanya di tempat keramaian. Biasanya pria itu paling tidak suka jika terlibat dengan dirinya. Apa lagi di lihat orang banyak seperti saat ini.
"Jangan terlalu percaya diri kamu! Aku kesini karena ingin mencari kebutuhan pribadiku."
Mikhail mengambil alih troli, kemudian mendorongnya mendahului Husna.
"Pria ini sepertinya benar-benar salah minum obat."
Husna terpaksa mengikuti setiap langkah pria yang sudah hampir 6 bulan ini menjadi suaminya.
Di sana, mereka terlihat seperti pasangan normal. Husna terkadang bertanya apa yang di inginkan pria itu. Dan begitu juga sebaliknya.
"Mika?"
Seorang pria menepuk pelan bahu pria itu.
"Eh! Doy, Ron. Kebetulan bertemu di sini."
Mikhail menyapa 2 sahabatnya yang tak sengaja di temuinya di tempat itu.
"Sedang apa lo, tumben mau belanja. Biasanya paling anti."
Dodoy bertanya heran.
"Mas, brokolinya sebelah ..."
Kalimat Husna terhenti ketika melihat Siapa yang berdiri di samping suaminya. Gadis itu pun spontan tersenyum ramah.
"Oh, ada dek Husna toh. Apa kabarnya dek?"
Roni maju mengulurkan tangan.
__ADS_1
Kening Mikhail langsung mengkerut, matanya nyalang menatap pada Roni.
Tangan pria itu pun langsung bergerak untuk menyambut uluran tangan dari sahabatnya yang di tujukannya pada Husna.
"Jangan macam-macam lo ya."
Ancam pria itu sambil berbisik.
Entah kenapa hati Mikail tidak terima ketika ada pria lain yang ingin menyentuh sang istri, meskipun hanya seujung kuku.
Dodoy dan Roni serentak tersenyum melihat sahabatnya mulai over pada wanita yang dulu selalu di hinanya.
"Saya Alhamdulillah sehat mas."
Husna melipat kedua tangan di depan dada.
"Ya Tuhan, melihat yang begini membuat dada serada adem. Suaranya lembut banget bro."
Kali ini giliran Dodoy yang berbisik di telinga Mikhail.
"Brengsek lo."
Mikhail menyikut pelan perut sahabatnya itu.
"Husna, kamu lanjut belanja saja dulu. Ntar kalau sudah siap. Telfon aku."
Husna yang mendengar namanya di sebut langsung oleh Mikhail, sontak terkesiap.
Setelah berpuluh tahun lamanya, selain ijab dan qabul beberapa bulan lalu. Maka inilah pertama kalinya pria itu mau menyebut namanya kembali.
"Egh, iya Mas."
Husna menjawab canggung.
"Permisi, Mas."
Wanita itu berpamitan sambil tersenyum manis pada kedua sahabat sang suami.
Mikhail merasa kian tak nyaman. Dengan cepat ia menarik tangan 2 pria tadi supaya bisa menjauh dari sang istri.
"Ya ampun bro. Sumpah, istri lo makin hari makin cakep aja. Ntar kalau lo da mau cerai kabari gue ya."
Roni berucap ketika mereka sudah menjauh.
"Brengsek lo. Istri teman masih aja lo pengen embat."
Mikhail terlihat kesal.
"Bukankah lo nggak suka sama dia? Lagian, lo kan sudah punya Amanda. Dari pada dia menjanda, kan lebih baik sama gue."
Roni tertawa mengejek. Pria itu sudah mulai curiga dengan gelagat dari sahabatnya.
"Akh, diam lah. Gue stres jika membahas masalah kawin cerai kek gini."
Mikhail kian kesal.
"Lo kenapa sih Mika? Dari yang gue lihat, sepertinya lo sudah tertarik pada ada istri lo itu. Akui saja sebelum terlambat bro. Wanita seperti itu sangat langka. Tapi kalau yang model Amanda, banyak."
Giliran Dodoy yang berucap.
"Benar itu bro. Ingat, istri lo itu perfect, gue rasa di belakang lo sudah banyak pria yang mengantri. Jadi, selamatkan dia sebelum di ambil orang."
Giliran Roni yang menasehati.
"Alah, sok bijak lo berdua."
Mikhail berjalan mendahului sahabatnya tadi. Entah kenapa, apa yang di ucapkan oleh mereka sungguh membuat pria itu terbebani.
Pikiran Mikhail mulai tertuju pada Andre, si duda kaya yang sepertinya tertarik pada istrinya.
Membuat rasa tak nyaman kian besar di dada pria itu
TBC
MOHON MAAF YA READERS, NOVEL INI MEMANG AGAK SLOW UP. KARENA FOKUS SAYA MASIH PADA NOVEL
"SUAMIKU, KEKASIHMU"
JADI DI HARAPKAN PENGERTIANNYA.
__ADS_1
MOHON BANTU VOTE, LIKE, BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.
TERIMA KASIH.