Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 45


__ADS_3

Di sebuah ruang keluarga, terlihat 6 orang sudah duduk di tempat masing-masing.


Mereka berada di sana untuk membicarakan hal yang seharusnya tidak terjadi, yaitu tentang perselingkuhan Mikhail.


"Jadi, apakah kalian masih berhubungan hingga sekarang?"


Dengan berat hati Shaleh, ayah Husna menanyai 2 orang di hadapannya.


Mikhail yang mendapatkan pertanyaan seperti itu terlihat gugup. Ia tak tau harus menerangkan seperti apa.


"Iya pak."


Terdengar jawaban dari sang wanita.


"Manda. Ini bukan waktunya kau berbicara."


Mikhail membentak sang mantan kekasih.


Semua orang menatap dengan amarah pada mereka. Menyanyangkan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.


"Ya Allah Bah."


Ningsih kembali terlihat meneteskan air mata, ia memegang erat tangan sang suami untuk menahan rasa sedih dengan pengakuan yang di dengarnya saat ini.


"Apa kalian selama ini berhubungan di belakang putriku?"


Lagi, ayah Husna bertanya.


"Tidak pak. Husna bahkan sudah tau semenjak dia menikah. Mikhail sudah menerangkan padanya bahwa kami masih tetap bersama meski dia sudah menikahi Husna. Karena Mikhail tidak mencintainya."


Lagi, Amanda berucap dengan lantang.


Mendengar pengakuan dari sang kekasih, langsung membuat emosi Mikhail semakin memuncak.


"Bukankah aku menyuruhmu untuk diam?"


Pria itu berdiri dan manatap dengan mata memerah pada wanita tadi.


"Mikhail...!"


Terdengar suara yang lebih keras dari sebelah kanan. Dialah Aidhil, ayah dari pria itu.


"Ini adalah musyawarah, di mana semua orang di berikan hak untuk berbicara. Jika kau merasa ucapan Amanda salah. Maka kau boleh menyangkal, tapi jangan bersikap seolah kau membungkam-nya."


Tambah Aidhil dengan nada emosi.


Mikhail terdiam. Dia kembali mendudukkan diri dengan rasa frustasi.


"Apa kalian tidak sadar bahwa tindakan ini sudah menghancurkan hati putri ku? Di mana rasa kemanusiaan kalian?"


Ningsih berucap di sela tangis.


"Tidak Umma, ini tidak seperti yang Umma pikirkan. Sudah beberapa bulan belakangan ini aku tidak pernah menjumpai dia lagi."


Mikhail berusaha membela diri.


"Kau tidak bisa mengelak Mikhail. Ini adalah saatnya di mana kita bisa membicarakan rencana kita. Katakan saja kalau kau ingin menceraikan Husna dan segera menikah denganku."

__ADS_1


Amanda terus berusaha memanasi.


"Tidak! Kali ini kau berbohong. Aku memang masih menjalin hubungan dengan mu, tapi aku tidak pernah menjanjikan untuk menikahimu dan menceraikan istriku."


Mikhail menjawab.


"Plak."


Satu tamparan di dapat pria itu dari Nani, ibunya sendiri.


"Anak kurang ajar. Di mana hatimu saat melakukan itu? Apa kau tidak pernah memikirkan hati 2 wanita ini? Jika kau tidak berencana menikahi Amanda. Maka lepasakan dia dan perbaiki hubungan mu dengan Husna. Lalu kenapa kau masih mempertahankannya?"


"Mah, tenang dulu."


Aidhil menarik pelan tangan istrinya untuk kembali duduk di tempat semula.


"Mikha memang ingin membereskan semuanya begitu sampai ke Indonesia ma. Mikha awalnya memang sempat ragu dan tidak menyadari siapa yang hati ini inginkan. Tapi setelah kepergian Husna, Mikha baru menyadari kalau Mikha memang tidak bisa hidup tanpa Husna."


"Tidak! Kau berbohong. Mikha, dia hanyalah wanita yang hadir beberapa bulan belakangan. Sedangkan aku sudah bersamamu sejak sekolah menengah. Bagaimana bisa tempatku di gantikan oleh wanita itu?"


Amanda terdengar histeris.


"Tapi ini memang kenyataannya. Aku sudah merasakan ini semenjak 3 bulan pernikahan kami. Perlahan lahan, Husna memang sudah berhasil merebut hatiku. Kau sudah tidak ada lagi di sini Manda."


Mikhail memegang dadanya.


"Kuharap kau bisa menerima keputusanku ini. Hubungan kita sudah berakhir."


Akhirnya kata itu keluar dari mulut Mikhail.


Amanda berdiri, ia berjongkok di hadapan Mikhail.


Amanda berusaha membelai wajah pria di hadapannya, namun Mikhail terus menepisnya kasar.


Semua orang menyaksikan dengan perasaan masing masing. Mereka sengaja membiarkan sepasang kekasih itu menyelesaikan masalahnya.


"Tidak ada yang tertekan. Aku memang sudah merencanakan ini beberapa bulan lalu. Di hatiku sudah tidak ada lagi cinta untukmu. Yang tersisa hanyalah rasa kasihan."


Amanda berdiri, dan ...


"Plak."


Satu tamparan lagi di dapatkan pria itu di tempat yang sama, namum dari wanita yang berbeda.


"Kau pria berengsek! Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan mu ini. Aku juga bersumpah tidak akan membiarkan kalian hidup tenang. Ingat itu!"


Amanda berucap dengan penuh emosi dan air mata. Ia meraih tas kemudian berlari keluar dari sana.


Semua orang terhening seketika. Mikhail mengusap pelan wajah yang kini semakin memerah akibat tamparan panas yang di terimanya siang ini.


"Meski kau sudah meninggalkan wanita itu. Tapi pengkhianat, tetaplah pengkhianat. Sekali kau berbuat maka seumur hidup kau akan terus di curigai."


Ningsih berucap.


Mikhail berdiri, ia berjalan mendekat ke sofa di mana kedua mertuanya duduk. Lelaki itu lalu bersimpuh untuk meminta pengampunan.


"Umma, Abah. Meski ini sudah terlambat. Tapi Mikha benar benar sudah menyadari dan juga sangat menyesali apa yang sudah Mikha lakukan. Tolong, tolong beri Mikha satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

__ADS_1


Pria itu berucap dengan segenap kesungguhan dan mata berlinang.


Shaleh sebenarnya merasa sedikit tersentuh dengan perkataan sang menantu sekaligus keponakannya. Tapi tidak dengan Ningsih, wanita paruh baya itu terlihat masih emosi.


"Apa kau pikir dengan meminta maaf kau bisa mengobati luka putriku? Apa kau bisa merasakan seberapa besar sakit yang sudah kau torehkan di hatinya?"


Dia bertanya dengan air mata yang terus berguguran.


"Mikha tau Umma. Untuk itulah Mikha berjanji akan menebus semua luka itu hingga Husna tidak akan mengingatnya lagi."


Mikhail berucap dengan mantap.


"Karena kau yang menyakiti, maka pasti sangat mudah bagimu untuk meminta maaf dan berjanji. Tapi yang tidak kau tau adalah jalan di depan masih panjang dan godaan akan semakin berat."


Ningsih masih kekeh dengan pendiriannya.


"Mikha tau Umma. Tapi akan Mikha pastikan bahwa tidak akan ada lagi air mata yang akan keluar dari mata Husna."


Ningsih semakin kesal meski Mikhail sudah memohon. Ia meraih tangan suaminya,


"Ayo abah kita pulang. Kita akan membicarakan hal ini lagi setelah Husna dan Husyein pulang."


Sepasang suami istri itu berdiri.


(Husyein adalah kakak dari Husna, yang baru saja menamatkan gelar S2 nya di Maroko)


Dan aksi mereka sontak membuat semua orang terhenyak.


"Kangmas, mbak. Tolong beri kesempatan pada Mikhail. Dia benar benar sudah berubah mbak."


Nani ikut memohon.


"Maaf, kami tidak bisa mengambil keputusan. Mari kita tunggu Husna dan kakaknya pulang. Karena kami ingin mendengar pendapat mereka terlebih dahulu."


Shaleh ikut berbalik, mereka meraih tas dan berjalan menuju pintu keluar yang di susul oleh kedua orang tua Mikhail.


Sedangkan pria itu masih terduduk di sana, ia merasa tak memiliki tenaga untuk sekedar berpindah tempat. Rasa khawatir akan kehilangan sang istri semakin membuatnya tak berdaya.


Ia merasa separuh nyawanya sudah di bawa pergi oleh ibu dan ayah dari wanita yang sangat di cintainya itu. Ia hanya terus terdiam dengan wajah di tekuk.


Ia tak lagi menghiraukan sekitar, hingga tak menyadari sebuah pelukan sudah mendarat di bahunya.


"Tidak apa apa kak. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kakak sudah berusaha, sisanya serahkan saja pada yang kuasa."


Aisyah berucap dengan bijak. Wanita yang dari tadi hanya berdiri dari balik pintu, akhirnya keluar untuk menenangkan kakaknya yang sedang terpuruk.


Mendapat ucapan seperti itu, akhirnya tangis Mikhail pecah. Ia terduduk sambil meraung. Maratapi kebodohan dan keterlambatan hatinya yang sangat lama menyadari rasa cinta.


"Hiks, hiks... Ica, kakak benar benar mencintainya. Kakak tidak akan bisa hidup jika Husna tidak bersama kakak lagi. Tolong beri tahu Umma bahwa kakak benar benar sudah menyesali semuanya. Hiks.. hiks.."


Mikhail terus memohon dengan sepenuh hati, ia mengeluarkan rasa yang membengkak di dada, yang membuatnya kesusahan bernafas.


Aisyah ikut menangis, ini adalah pertama kali seumur hidup dia melihat Mikhail sehancur itu.


Dia hanya bisa mengangguk sambil terus memeluk tubuh kakaknya. Berusaha memberi pria itu ketenangan.


Di sudut lain, sepasang suami istri juga ikut berderai saat melihat betapa besarnya penyesalan sang anak. Hingga membuat mereka yakin kalau Mikhail benar benar sudah mencintai Husna, menantu pilihan mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2